
"Pak den Patria mana,? Kenapa bapak duduk sendirian," tanya bu Mun setelah tiba di depan rumah.
"Patria lagi kedalam sebentar." jawab pak Mun.
"Ibu belanja apa?" tanya pak Mun setelah melihat kantong plastik yang terisi penuh belanjaan.
"Ini buat nanti ibu masak makan siang," ujar bu Mun sambil meletakkan belanjaannya di kursi kayu. Bu Mun duduk sejenak di samping suaminya untuk beristirahat.
Tak lama kemudian Patria keluar.
"Bu..." Sapa Patria setelah melihat ternyata bu Mun sudah kembali.
"Aden sudah sarapan?" tanya bu Mun.
"Sudah bu tadi bareng bapak," jawab Patria.
"Aden masih mau nginap atau balik ke Jakarta?" tanya bu Mun.
"Nanti siang saya balik Jakarta bu." Tutur Patria.
Mendengar jawaban dari Patria ada sedikit rasa kecewa di hati bu Mun, bu Mun masih berharap jika Patria akan tinggal lebih lama lagi. Patria yang melihat perubahan raut wajah bu Mun langsung mengerti apa yang ada dalam benak wanita paruh baya itu.
"Nanti secepatnya saya balik lagi kesini bu, dan nanti istri saya juga akan saya ajak," ucap Patria. Patria sengaja mengatakan hal itu untuk menghibur hati bu Mun.
"Beneran Den?" ujar bu Mun dengan wajah kembali ceria.
__ADS_1
"Iya bu, saya janji akan segera balik ke sini setelah urusan saya selesai," balas Patria lagi. Mendengar janji yang di ucapkan oleh Patria bukan hanya hati bu Mun yang merasa senang tapi hati pak Mun pun ikut merasa bahagia.
Setelah selesai berbincang sejenak dan Patria dan suaminya,bu Mun pun segera menujuh dapur untuk menyiapkan makanan makan siang mereka bertiga. Sementara itu Patria dan pak Mun Kembali berbagi cerita.
Saat ini bu Mun memasak menu untuk makanan siang adalah sayur asem sambel terasi ikan asin dan tak lupa pelengkapnya tahu dan tempe goreng. Jangan di tanya berapa banyak Patria makan, sudah di pastikan Patria makan nambah beberapa kali. Menu makanan yang sederhana tapi sungguh Patria jarang menu seperti ini di rumahnya.
Jam menunjukkan pukul satu siang, waktunya untuk Patria kembali ke Jakarta. Sebelum pulang Patria Kembali mengucapkan janjinya untuk segera kembali lagi kali ini Patria akan datang bersama dengan Agreta. Setelah berpamitan Patria segerah memacu mobilnya kembali pulang ke Jakarta.
Dalam perjalanan pulang Patria beberapa kali melirik sampel rambut yang di berikan oleh pak Mun kepadanya, ada perasaan cemas. Patria takut jika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang dirinya harapkan. Jika hasilnya menunjukkan Agreta benar putri dari pak Mun dan istrinya, Patria tentunya akan bahagia. Tapi jika hasilnya sebaliknya Patria juga akan merasa sedih Karena sudah memberikan harapan palsu kepada pak Mun. Sungguh suatu pilihan yang sangat dilema buat Patria.
Sebelum tiba di rumah Patria mampir terlebih dahulu untuk bertemu dengan dokter Freya. Maksud dari Patria ingin meminta tolong agar dokter Freya mau membantunya untuk memuluskan rencana tes DNA tersebut.
Tapi sebelumnya Patria terlebih dahulu menceritakan tentang apa yang di ketahui oleh Patria kepada dokter Freya. Freya pun bersedia membantu Patria untuk segera melakukan tes tersebut.
Setelah menyerahkan sampel rambut Agreta yang di ambil Patria sebelum ke rumah pak Mun, Patria juga menyerahkan sampel rambut milik pak Mun dan istrinya. Patria meninta kepada Freya untuk merahasiakan hal ini dari Agreta, nanti jika hasilnya sudah ada dan terbukti bahwa Agreta adalah anak dari pak Mun dan istrinya, barulah Patria akan mengatakan yang sebenarnya kepada Agreta.Dan untuk mengetahui hasilnya Patria di minta untuk menunggu selama empat hari ke depan.
Sebelum tiba di rumah Patria mampir sejenak di sebuah toko kue untuk membeli kue kesukaan Agreta. Patria segerah menuju rumah karena Patria tahu saat ini Agreta sudah menunggunya pulang. Ada rasa hangat dalam hati Patria. Patria memang sebelumnya sudah menghubungi terlebih dahulu Agreta mengabarkan jika dirinya saat ini sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
Benar saja setibanya di rumah Patria mendapati istrinya sudah menunggu di depan pintu. Patria pun segera menghampiri wanita yang paling di cintai nya itu dan langsung memeluknya erat untuk melepaskan rasa rindunya.
Waktu terus berjalan,hari yang di tunggu oleh Patria pun tiba. Sudah empat hari dari waktu yang di berikan oleh pihak rumah sakit untuk memberikan hasil tes DNA. Sejak semalam Patria sudah merasa gelisah apa lagi pagi ini, Patria beberapa kali terlihat berbeda dari biasanya. Berkali-kali Patria mondar-mandir seperti setrikaan di dalam kamar.
"Pat kamu kenapa, apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Agreta setelah melihat sikap Patria yang aneh.
"Ha..." Hanya kata itu saja yang bisa di ucapkan oleh Patria,Patra terkejut mendengar Agreta tiba-tiba bertanya padanya.
__ADS_1
"Pat kamu kenapa?" Agreta pun kembali bertanya.
"Aku...aku sedang gugup," ucap Patria spontan.
"Gugup kenapa?" Agreta Kembali bertanya karena penasaran.
"Hari ini aku sedang menunggu kabar, ada proyek besar yang akan segerah di lakukan jika kerja sama ini bisa mendapatkan kontrak dari perusahaan dari Belanda," ujar Patria bohong.
"Sudah aku siap-siap dulu untuk kekantor," sambung Patria lagi, Patria tidak ingin Agreta bertanya lagi pada dirinya prihal proyek tersebut.Patria takut jika obrolan mereka terus berlanjut nantinya akan menimbulkan kecurigaan dari Agreta dan Patria menghindari hal itu terjadi.
Agreta pun segera menyiapkan keperluan Patria. Mulai dari baju dan juga mengecek sarapan pagi yang di buat oleh mbo Nem. Setelah berganti pakaian Patria pun segera turun ke bawah untuk sarapan pagi sebelum berangkat kerja.
Agreta memperhatikan sikap suaminya itu yang masih terlihat aneh menurutnya, tapi Agreta tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi karena tadi Agreta sudah mendapatkan penjelasan dari Patria. Setelah selesai sarapan Patria segerah berangkat ke kantor.
Setibanya di kantor Patria tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi, pikirannya bercabang antara kantor dan rumah sakit. Patria berulang kali melirik jam tangannya. Patria seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, waktunya untuk ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA. Patria pun segera menghubungi Jeje sekretarisnya sebelum berangkat ke rumah sakit.
"Jeje jadwal hari apa saja?" tanya Patria dari balik telpon yang ada di ruang kerjanya.
"Hari jadwalnya hanya ada rapat dengan bagian pemasaran," jawab Jeje
"Jam berapa, apakah bisa di tunda besok Je. Hari ini saya ada keperluan mendesak," ujar Patria.
"Baik pak, nanti saya akan hubungi bagian pemasaran untuk menunda rapat," jawab Jeje.
__ADS_1
"Terimakasih Jeje, tolong hubungi saya segera jika ada keperluan mendesak," ujar Patria. Setelah itu Patria segerah memutuskan percakapan tersebut dan langsung bersiap-siap untuk ke rumah sakit.
Bersambung