AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 27 SISKA


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 10 ;lewat 14 menit.patria terbangun karena bunyi dering telepon genggam miliknya.setelah Patria melihat nama yang tertera di layar ponselnya Patria langsung menjawabnya.itu panggilan dari jeje yang menyatakan bahwa akan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Agreta sekaligus untuk mengantarkan dokumen yang harus di tandatangani oleh Patria.


  Telpon Patria kembali berbunyi.Patria langsung melihat layar handphonenya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya ternyata itu merupakan panggilan dari Anggie.


Tanpa keraguan Patria langsung menekan tombol  merah pada layar ponselnya.ya Patria menolak panggilan dari Anggie.saat ini Patria hanya ingin fokus menemani istrinya.


   Sementara itu Anggie yang melihat bahwa panggilan teleponnya langsung di tolak oleh Patria membuat hatinya merasa marah.


"Sial,dia menolak panggilan dari ku!" umpat Anggie tak terima. "Aku harus melakukan sesuatu supaya Patria tidak kembali dekat dengan istrinya itu!" Anggie kembali mengomel sendirian di kamar apartemen miliknya.


Semua barang yang ada di atas meja riasnya Anggie kini sudah berpindah tempat.lebih jelasnya semua alat kosmetik surah berserakan di lantai kamar.


    Anggie menumpahkan kemarahannya pada meja riasnya.


"Awas kamu Agreta ,aku pasti bisa merebut suami mu lihat saja nanti." ucap Anggie dengan nada marah.


   Sementara itu di rumah sakit Jeje sekretaris patria sudah tiba di ruang perawatan Agreta.Jeje terkejut melihat kondisi istri bosnya.


"Pak,saya doakan semoga ibu cepat sadar.Ibu orang baik." ucap Jeje mendoakan Agreta dengan tulus hati.


"Makasih ya Je.Oh iya dokumen yang harus saya tandatangani ada dimana?" Patria meminta dokumen yang harus dia periksa dan di tanda tangani.

__ADS_1


"Ini pak dokumennya,oh ya pak masalah meeting dengan klien bagaimana?" ucap Jeje karena memang ada beberapa meeting penting yang harus si hadiri oleh Patria. "Soal itu kita lihat saja nanti Jika memungkinkan saya untuk datang say pasti datang tapu jika tidak bisa maka kita akan adakan meeting virtual saja!."jawab Patria lagi.


"Baik pak kalo begitu saya permisi dulu.Sekali lagi saya doakan semoga ibu cepat sembuh." Setelah mengatakan itu Jeje langsung pamit kembali ke kantor.


    Mbo Nem yang melirik jam segera mengingat tuanya untuk jam makan siang. "Tuan Ini sudah waktunya jam makan siang." Patria yang mendengar ucapan mbo baru tersadar hari sudah siang. "Mbo mau  sudah lapar?" Patria


"Saya belum begitu lapar, kalo tuan ingin makan biar saya yang menjaga non Agreta lebih dulu." ucap mbo Nem


"Baiklah mbo,atau mbo pingin nitip makanan biar saya belikan sekaligus." tawar Patria. "Saya nanti makan di kantin saja tuan," tolak mbo halus karena tidak ingin merepotkan Patria. "Baik mbo saya pergi dulu,tapi jika ada apa -apa segera hubungi saya." Patria.


"Baik tuan," mbo menjawab sambil menganggukkan kepalanya.


   Patria hanya mencari restoran yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Patria sengaja memilih tempat makan yang berdekatan dengan rumah sakit dengan alas jika ada kabar dari rumah sakit Patria bisa segera tiba dengan cepat.


     Mbo Nem yang menjaga Agreta saat ini kembali duduk di samping Agreta.mbo kembali bercerita dengan Agreta. mbo Nem juga pelan-pelan memijit tangan Agreta. Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka.mbo langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu. "Halo mbo," sapa Siska.


"Eh non Siska, masuk non," ucap mbo Nem setelah melihat siapa yang datang.


"Mbo ini aku bawakan makan siang buat mbo dimakan ya." ucap Siska sambil menyerahkan bungkusan yang di bawahnya. "Aduh non jadi ngerepotin,tapi makasih ya non." balas mbo sambil tersenyum.


"Mbo gimana Kondisi Agreta?" tanya Siska. "Baik non, kata dokter sudah lebih baik lagi," ucap mbo.

__ADS_1


"Syukurlah." Ucap Siska merasa senang mendengar ucapan mbo tadi, "Mbo apa sudah pulang ke rumah?" Tiba-tiba siska kembali menanyakan keberadaan suami sahabat nya itu.Patria.


"Sudah non, saat ini tuan sedang mencari makan siang di luar "jawab mbo Nem Nem. Siska langsung menatap wajah mbo Nem dengan mengerutkan keningnya. "Tuan baru tahu semalam tentang kondisi non Agreta." Mbo nem memberikan jawaban atas tatapan Siska. "Maksudnya mbo?" Siska bertanya lagi dengan raut wajah orang binggung. "Iya non,baru semalam tuan tahu kalo non Agreta masuk rumah sakit,pesan yang mbo kirim waktu itu tuan tidak menerimanya bahkan telpon dari mbo pun tidak ada di daftar panggilan." ucap mbo menjelaskan.


Siska semakin penasaran atas penjelasannya si mbo.


"Kok bisa, berarti pesan yang aku kirimkan juga tidak di terima oleh Patria gitu mbo?" Ucap Siska lagi yang masih tidak percaya. "Iya non, semalam saya lihat tuan menangis pas tahu kondisi non Agreta," mbo Nem menceritakan apa yang dia lihatnya. "Tapi kok bisa ya pesan yang kita kirim Patria tidak menerimanya? ada yang aneh.Tapi mbo nomornya Patria masih samakan nggak berubah?" Siska bertanya lagi semakin penasaran. "Nomor telepon tuan tidak berubah, nomornya masih sama." ucap mbo Nem lagi.sejujurnya mbo Nem pun bertanya dalam hatinya kenapa pesan yang dikirimkan waktu itu tidak di terima oleh tuannya. "Ya udah mbo,sekarang mbo makan dulu ya,nanti makanannya keburu dingin." Siska mengingatkan mbo Nem tentang bingkisan yang baru saja di bawahnya. "Makasih ya non," mbo Nem langsung membuka isi bungkusan tersebut. "Saya ketemu dulu dengan dokter Freya dulu, nanti saya balik ke sini lagi." Siska pamit karena memang sudah janjian dengan Freya.


    Setengah jam kemudian Patria sudah kembali dari makan siangnya.


"Mbo mau makan ?,!ini saya belikan makan siang buat mbo." Patria menyerahkan kantong plastik yang berisikan makanan. "Makasih tuan." ucap mbo sambil menerima kantong pemberian tuannya. "Sekarang mbo makan.Saya akan menemani istri saya." Patria mempersilahkan mbo Nem untuk makan. "Maaf tuan, tapi saya tadi sudah makan siang.tadi, non Siska ke sini dan membawakan makanan untuk saya" mbo Nem memberikan penjelasan sebelum Patria bertanya.


"Oh....hanya kata itu yang keluar dari mulut Patria.


   Selang beberapa lama kemudian Siska kembali keruang Agreta bersama dengan Freya.


Ketika melihat Patria emosi Siska langsung terpancing.dengan nada sinisnya Siska berucap,


"Akhirnya kamu datang juga, sudah puas kamu melihat Geta kaya gini!" kalimat pedas terucap dari Siska. Patria hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Siska. "Kemana aja kamu selama ini? oh iya.apa kamu sudah puas bersenang-senang dengan perempuan itu?" sindir Siska lagi. Patria langsung bereaksi setelah mendengar ucapan Siska.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2