AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 45 KEBAHAGIAAN


__ADS_3

  Keesokan harinya Agreta terbangun dengan kondisi tubuh yang semakin segar. Sedangkan Patria masih setia dengan mimpinya.


    Agreta melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri yang sudah menjadi kebiasaannya di pagi hari. Agreta kembali menyiapkan keperluan Patria sebelum berangkat kerja. Berupah pakai kerja Patria. Kegiatan ini merupakan hal rutin yang di lakukan oleh Agreta sejak menikah dengan Patria, suaminya.


    Sesudah menyiapkan baju Patria, Agreta segera turun ke lantai satu menujuh dapur rumahnya. Di sana sudah ada pembantu kesayangannya yaitu mbo Nem dan Yeyen. "Selamat pagi mbo ,Yeyen," sapa Agreta.


"Pagi juga non," jawab mbo Nem dan Yeyen bersamaan. "Non mau sarapan apa pagi ini?" tanya mbo Nem.


"Em..aku roti aja sama susu mbo,"  jawab Agreta. "Kalo tuan sarapan apa?" mbo Nem kembali bertanya. "Nasih goreng aja mbo, seperti biasa. Hari ini Patria akan ke kantor." Agreta.


"Baik non," jawab mbo Nem lagi.


      Setelah itu mbo Nem menyiapkan menu sarapan yang sudah di minta oleh majikannya. Sedangkan Agreta kembali ke kamar utama untuk membangunkan suaminya.Patria.


   Patria yang masih saja memeluk erat bantal guling masih merasa enggan untuk bangun. Dengan suara lembutnya Agreta membangun Patria.


"Sayang bangun, katanya ada janji ketemu klien pagi-pagi." "Memang jam berapa sekarang? tanya Patria dengan suara kantuknya. "Ini udah jam 06 lebih 5 menit," jawab Agreta. "Boleh lima menit lagi ya yang aku tidurnya?" tawar Patria. "Boleh, aku siapin air buat kamu mandi ya?" tutur Agreta.

__ADS_1


    Seketika Patria terbangun dari tidurnya. Patria baru tersadar kalau Agreta tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat dulu, apalagi sampai kecapean. "Geta apa yang lakukan?" tanya Patria sambil beranjak dari tempat tidurnya. "Aku lagi nyiapin air buat kamu mandi," balas Agreta. "Stop, Geta kamu jangan lakukan ini dulu ya. Ingat kata dokter kalau kamu tidak boleh cape," hjar Patria mengingatkan Agreta. Patria meraih tangan Agreta dan membawanya ke sisi tempat tidur. Patria mencegah agar Agreta tidak menyiapkan keperluan mandinya. "Tapi..." Belum selesai kata-kata Agreta keluar dari bibirnya langsung di potong oleh Patria. "Sayang, nanti kalau kamu sudah sembuh benar kamu boleh lakukan apapun yang kamu mau." Ucap Patria sambil tersenyum menatap Agreta. "Beneran kalau aku udah sembuh,aku bisa lakukan apapun yang aku mau?" tanya Agreta antusias.


"Ya, kamu bebas melakukan apa pun yang ingin kamu lakukan." Sekali lagi Patria menegaskan jawabnya. "Jadi aku boleh pergi setelah sembuh." Agreta dengan wajah sumringah.


Deg....


Hati Patria langsung berubah tak nyaman setelah mendengar ucapan Agreta. "Pergi..? tapi kamu bilang sudah memaafkan ku. Kenapa sekarang bilang mau pergi?" Tanya Patria dengan nada gusar. Raut wajahnya berubah sendu.


    Agreta yang mendengarkan ucapan Patria dan melihat perubahan raut wajah suaminya itu, langsung menangkup wajah Patria dengan kedua tangannya sambil berkata,


"Pat, Maksud ku pergi itu untuk kita berdua jalan-jalan, menghabiskan waktu berdua. Bukan seperti yang ada dalam pikiran mu sayang," tutur Agreta sambil tersenyum kecil menatap manik boleh mata Patria.


Patria Melepaskan nafas kelegaannya.


"Kau tahu Geta sayang, aku takut kehilangan dirimu." Patria berucap dengan kesungguhan hatinya.


    Agreta memeluk suaminya dengan erat. Agreta merasakan kebahagiaan di sudut hatinya. Agreta percaya bahwa cinta Patria untuk dirinya sesungguhnya tak pernah berubah. "Sayang ini sudah tambah siang, kamu jadikan ke kantor?" tanya Agreta yang masih memeluk tubuh suaminya. "Iya, aku ke kantor hari ini. Tapi aku tak bisa kekantor kalau kamu masih terus memeluk diriku sayang" ucap Patria sambil tersenyum menggoda. Dan Agreta pun hanya tersenyum simpul sambil melepaskan pelukannya.

__ADS_1


    Patria langsung menuju kamar mandi untuk kelakuan ritual bersih-bersih. Mandi. Setelah selesai mandi Patria mengenakkan pakaian kantornya yang sudah di siapkan oleh Agreta, berupa setelah jas tak lupa juga dengan dasinya. Agreta membantu Patria untuk memakaikan dasi.


  Setelah Patria rapi dengan pakaian kantornya, Patria dan Agreta pun langsung keluar dari kamar sambil bergandengan tangan. Wajah kedua terlihat sangat bahagia. "Ayo sayang kita turun mbo Nem sudah menyiapkan sarapan nasi goreng kesukaan mu," ucap Agreta. "Pasti kamu yang memintanya, iya kan?" Patria. "Ayo, nanti kamu kesiangan," ajak Agreta manja.


     Kedatangan Patria dan Agreta di sambut senyum bahagia oleh mbo Nem dan Yeyen. "Tuan mau mau minum apa, teh atau kopi?" tawar mbo Nem, setelah Patria dan Agreta tiba di ruang makan. Patria segera duduk di kursi biasanya, Agreta pun ikut duduk di samping suaminya. "Teh aja mbo, makasih ya." jawab Patria. Mbo Nem dengan sigap menyiapkan teh untuk tuannya.Patria dan Agreta menyantap sarapan pagi mereka dengan suasana hati yang senang.


Setelah selesai sarapan Patria segera bersiap untuk berangkat ke kantor. Agreta ikut mengantarkan Patria sampai ke pintu depan. Sebelum berangkat Patria mengecup kening istrinya. "Aku jalan dulu ya," pamit Patria. Tak lupa mengingatkan kembali agar istrinya tidak melakukan aktivitas yang berlebihan. Pesan itu pun di sampaikan kepada mbo Nem agar menjaga istrinya.


Setelah berpamitan Patria segera menujuh mobilnya yang sudah di tunggu oleh supir.


   Agreta masih berdiri di depan pintu menunggu mobil  Patria pergi meninggalkan halaman rumah. Agreta sempat melambaikan tangan ke arah Patria. Setelah mobil Patria menghilang dari pandangannya barulah Agreta masuk ke dalam rumah.


     Agreta masuk menuju, di sana mbo Nem sedang membereskan meja makan bekas sarapan tadi. "Mbo nanti siang mau masak apa?" tanya Agreta. "Non mau di masakin makanan apa?" mbo balik bertanya. "Aku ingin makan makanan yang berkuah, masakin sup aja mbo," jawab Agreta. "Beres non." mbo Nem membalas sambil mengacungkan jari jempolnya. Agreta tersenyum melihat tingkah mbo Nem.  Setelah itu Agreta kembali ke kamarnya untuk mandi. Karena tadi belum sempat mandi hanya cuci muka dan gosok gigi.


     Sementara itu di perjalanan menuju ke kantor, suasana hati Patria diliputi oleh rasa bahagia. Tak butuh waktu yang lama Patria sampai di gedung tempat dia berkantor. Setelah selesai memarkirkan mobilnya Patria segera masuk ke dalam gedung miliknya.


    Patria tiba di kantor jam 08 lewat 15 menit. Patria sengaja datang lebih awal karena ingin memeriksa berkas yang akan gunakan untuk pertemuan pagi ini. Patria ingin mempelajarinya sekali lagi, agar tidak ada kesalahan nantinya.

__ADS_1


     Patra sempat bertemu dengan beberapa pekerja kantornya, kondisi dalam gedung tersebut memang masih agak sepi karena belum sepenuhnya para karyawan datang. Hanya ada beberapa staf saja yang sudah ada. Para staf yang bertemu dengan bosnya sedikit merasa lega, setidaknya pagi ini bosnya tidak datang dengan wajah sangar seperti belakang ini terjadi. Mereka melihat ada senyum di wajah Patria. 


Bersambung


__ADS_2