
Anggie memeluk erat tubuh Yuke, Anggie menangis menyesali perbuatannya.
"Yuke maafkan aku yang tidak mendengarkan nasehat mu, maaf sudah membuat mu kecewa." Anggie mengatakan isi hatinya dan penyesalannya.
"Anggie kamu tetap akan menjadi sahabat ku sampai kapan pun. Sudah saatnya aku membalas kebaikan mu pada ku. Maafkan aku jiga belum bisa menjadi sahabat yang baik untuk mu." Tutur Yuke sambil membalas pelukan Anggie.
Anggie dan Yuke berpelukan untuk beberapa saat, berbagai perasaan berkecamuk dalam hati Anggie. Takut cemas sedih dan terutama rasa penyesalan yang paling besar di rasakan oleh Anggie. Kesombongannya dan keangkuhannya membawa dirinya dalam kehancuran, Karir dan masa depannya kini terhenti.
Setelah selesai berpelukan Yuke meminta Anggie mengatakan apa keputusan yang sudah di ambil oleh Anggie.
"Anggie apa keputusanmu?, pikirkan baik-baik keputusan mu itu."
"Aku sudah siap menyerahkan diri ke kepolisian." Jawab Anggie.
"Kamu benar sudah siap jika kamu masuk dalam penjara?" tanya Yuke untuk memastikan bahwa Anggie tidak akan merubah pikirannya.
"Aku yakin Yuke, jika aku terus di luar Patria bisa saja menangkap ku dan aku tahu jika itu terjadi Patria akan menyiksaku habis-habisan. Patria pernah hampir membunuh ku ketika aku pernah mencoba menyakiti istrinya." Anggie mengatakan apa yang sudah pernah di lakukan Patria kepadanya. Yuke terkejut mendengar perkataan Anggie, Yuke tidak menyangka jika Anggie sudah pernah merasakan kemarahan Patria.
Setelah selesai berbicara Yuke dan Anggie segerah menujuh mobil Yuke yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berada.Yuke sudah siap mengantarkan Anggie ke kantor polisi sedangkan Anggie kini semakin memantapkan keputusan untuk menyerahkan diri. Anggie memilih menyerahkan dirinya ketimbang hidup dalam persembunyiannya.
Tapi sebelum sampai di kantor polisi Anggie meminta Yuke untuk membelikan dirinya makanan kesukaannya. Yuke pun menyetujui permintaan Anggie. Anggie menikmati makanannya di dalam mobil Yuke. Hal ini di lakukan agar Anggie bisa menikmati makanannya tanpa ada perasaan was-was.
Selesai menikmati makanannya Anggie meminta Yuke untuk segera mengantarkannya ke kantor polisi.
"Yuke aku sudah siap sekarang, antara kan aku ke kantor polisi." Tanpa ragu Anggie mengucapkan kalimat itu.
"Beneran sudah siap?" Tanya Yuke.
"Aku siap Yuke, aku tak ingin hidup dalam ketakutan." Balas Anggie, Anggie meremas kedua tangannya kepalanya tertunduk dalam. Buliran bening keluar begitu saja dari sudut mata Anggie. "Baiklah Anggie, maafkan aku," ucap Yuke sambil meraih tangan Anggie.
__ADS_1
"Maafkan aku yang meminta mu untuk menyerahkan diri ke kepolisian, aku lakukan ini agar kamu lebih aman." sambung Yuke lagi.
"Tak apa Yuke, aku bisa mengerti kekhawatiran mu. Aku juga bersalah jadi kamu tidak perlu minta maaf," jawab Anggie sambil menghapus air matanya yang sudah mengalir deras.
Yuke memeluk erat tubuh Anggie Sahabatnya, janji Yuke kembali terucap bahwa dirinya tidak akan pernah meninggalkan Anggie sendiri, Yuke berjanji akan selalu mengunjungi Anggie di dalam penjara.
Dengan perasaan sedih Yuke mengantarkan Anggie ke kantor polisi, selama dalam perjalanan ke kantor polisi Anggie dan Yuke sama-sama diam tak ada yang mengucapkan sepatah kata pun. Hanya pikiran mereka berdua yang berkelana entah kemana. Rasa tegang Anggie semakin terasah ketika mobil Yuke memasuki halaman kantor polisi.
"Anggie kita sudah sampai, kamu sudah siap?" ucap Yuke setelah memarkirkan mobilnya di halaman kantor polisi.
"Siap Yuke," jawab Anggie sambil menarik nafas dalam-dalam.
Dengan langkah pasti Anggie dan Yuke memasuki kantor polisi, Anggie menggenggam tangan Yuke dengan erat. Yuke pun membalas genggaman tangan Anggie tak kalah eratnya. Yuke seolah-olah sedang menyalurkan kekuatan kepada Anggie.
Setibanya di dalam kantor polisi Yuke dan Anggie langsung di sambut oleh polisi yang bertugas. Polisi itu pun langsung membawa Anggie ke ruang interogasi. Sementara itu Yuke tetap setia menunggu Anggie di depan ruang tersebut.
"Bagaimana sudah ada kabar tentang Anggie?" tanya Patria ke salah salah satu anak buahnya melalui sambungan telepon.
"Maaf pak, kami belum menemukan keberadaan Anggie," jawab anak buahnya Patria.
"Apa saja yang kalian lakukan selama ini, mau makan gaji buta? Mencari satu wanita saja kalian tidak becus." Omel Patria.
"Maafkan kami pak, kami akan bekerja lebih keras lagi untuk menentukan Anggie," balas anak buahnya Patria.
"Jangan cuma janji, buktikan hasil kerja kalian!" tutur Patria dengan nada suara galaknya. Setelah mengatakan kalimat itu Patria langsung mematikan panggilan tersebut.
Tak berapa lama kemudian hanphon miliknya Patria berbunyi,tanda panggilan masuk. Patria segera membaca tulisan yang tertera di layar handphone miliknya. Patria pun langsung memencet tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Ya Rizal, apa sudah ada kabar tentang Anggie?" tanya Patria langsung pada intinya.
__ADS_1
"Aku sudah tahu di mana Anggie tinggal tapi Anggie tidak berada di tempat saat ini," tutur Rizal
"Bagus, pantau terus tempat tinggalnya. Jangan lengah, jika sudah tertangkap bawah dia ke hadapan saya," ucap Patria sambil memberikan instruksi berikutnya kepada Rizal.
"Baik Patria, kalau begitu aku tutup dulu telponnya," ucap Rizal.
"Ok,Zal aku tunggu kabar selanjutnya." Ucap Patria, setelahnya Patria memutuskan panggilan Rizal.
Di ruang kerjanya Patria duduk dengan tenang. Posisi tangannya di letakkan di atas meja kerjanya. Jari telunjuk Patria sedang mengetuk-ngetuk meja tersebut, kondisi ini menunjukkan bahwa Patria sedang menahan amarahnya. Wajah Patria yang tanpa ekspresi dan rahangnya yang terkatup tegang siapa pun yang melihat Patria saat ini bisa di pastikan akan gemetaran karena ketakutan. Tapi untunglah Patria saat ini hanya sendirian.
Sementara Patria sedang merancang hukum yang tepat yang akan diberikan oleh Patria kepada Anggie, hanphon miliknya Patria kembali berbunyi membuyarkan pikiran Patria. Patria mengerutkan keningnya setelah melihat satu nomor panggilan yang tidak di kenalnya. Tapi Patria segerah menerima panggilan tersebut.
"Halo." sapa Patria setelah menekan tombol hijau dan meletakkan benda pipih tersebut di samping telinga.
"Selamat siang, dengan pak Patrai? Saya dari kantor ke polisian." tutur pemilik nomor telepon tersebut. Orang yang menghubungi Patria adalah pihak kepolisian.
"Ya pak, saya Patria," balas Patria.
"Kami dari kepolisian ingin menyampaikan bahwa nona Anggie saat ini sudah berada di kantor polisi." Tutur polisi tersebut.
"Benarkah Anggie sudah di tahan?" Tanya Patria ragu.
"Iya benar pak Patria, nona Anggie saat ini sedang di ruang interogasi," jawab polisi.
"Terimakasih pak, saya akan segera kesana bersama dengan pengacara saya," ucap Patria. Panggilan tersebut pun berakhir setelah Patrai mengatakan akan segera datang ke kantor polisi untuk bertemu dengan Anggie.
Bersambung
__ADS_1