AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 83 KEMBALI PULANG


__ADS_3

Agreta dengan sangat gugup turun dari dalam mobil, walaupun Patria sudah meyakinkannya tapi tetap saja ada rasa yang berbeda dalam diri Agreta. Pemikiran bahwa dirinya dulu di buang kini kembali menghantui hatinya. 


    Agreta berdiri mematung di samping mobil dan tak berani bergerak maju. Patria yang sudah turun dari dalam mobil memandangi Agreta yang berdiri mematung dan tak bergerak sedikitpun. Patria pun segera menghampiri Agreta menggenggam tangan istrinya dengan erat, seolah memberikan keyakinan dan dukungan akan apa yang akan terjadi nanti.


      Sementara itu pak Mun dan istrinya masih berdiri di depan teras rumah sambil terus menatap kearah Patria dan Agreta. Ada rasa yang aneh di sarankan oleh bu Mun dan suaminya setelah melihat sosok wanita yang kini sedang berjalan kearah mereka.


"Den Patria!," sapa bu Mun.


"Malam bu pak, maaf kami datang malam-malam begini," ujar Patria setelah tiba di teras rumah pak Mun.


"Aden kenapa tidak memberi kabar kalau mau kesini?" tanya pak Mun kepada Patria, tapi mata pak Mun dan istrinya terus menatap kearah Agreta.


"Saya kesini dadakan pak, makanya nggak kasih kabar lebih dulu," jawab Patria. Agreta yang masih diam tak bersuara sedikit pun kini semakin merasa gugup. Agreta semakin meremas tangan Patria untuk menghilangkan rasa gugupnya.


     Sementara itu mata bu Mun semakin menatap wajah Agreta lebih lekat lagi. 


"Annya...?" Tiba-tiba bu Mun berucap.


    Ucap dari bu Mun sontak saja membuat Patria, pak Mun terkejut. Apalagi Agreta. Agreta tak menyangka jika dirinya langsung di kenali oleh ibunya. Ada rasa haru menyelimuti perasaan Agreta saat itu juga.


     Perasaan seorang ibu dalam mengenali anaknya tak pernah salah. Meskipun sudah terpisah sangat lama tapi bu Mun dengan naluri keibuannya masih bisa mengenali anaknya yang telah hilang selama bertahun-tahun lamanya.


"Ibu....ini aku Annya," balas Agreta. dan langsung mengakui siapa dirinya. Buliran bening kini menggantung di pelupuk matanya Agreta.


     Secepat kilat bu Mun pun langsung memeluk tubuh Agreta setelah mendengar ucapan Agreta.


"Benarkah ini putri ibu, putri ibu yang hilang dulu?" ucap bu Mun, sambil mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Ini Annya bu, aku pulang," ucap Agreta sambil membalas pelukan ibunya.


     Agreta pun ikut menagis dalam pelukan bu Mun. Sementara itu pak Mun pun langsung ikut memeluk tubuh Agreta bersama dengan istrinya. Pak Mun dan istrinya larut dalam suasana haru. Begitu juga dengan Agreta. Kebahagiaan yang dulu sempat menghilang kini kembali hadir kedalam keluarga kecil pak Mun dan istrinya.


"Putri ayah sudah kembali, maafkan kami nak yang sudah membuat mu terlantar," ucap pak Mun di sela  tangis bahagianya.


"Ayah aku sangat merindukan mu dan juga ibu," ucap Agreta. 


"Maafkan kami nak, kami tak sengaja membuat kamu hilang," ucap bu Mun sambil menagis haru.


"Ayah ibu aku sudah memaafkannya, lupakan kejadian itu. Aku tahu ayah dan ibu tidak sengaja melakukannya," balas Agreta yang masih dalam pelukan orang tuanya.


"kami sangat merindukan mu nak," kata pak Mun lagi.


"Aku juga sangat merindukan ayah sama ibu," balas Agreta sambil mempererat pelukannya.


     Patria yang melihat pertemuan antara istrinya dengan ayah dan ibunya pun  ikut merasakan keharuan. Patria mengusap air matanya yang sempat menetes tadi karena ikut merasakan kebahagiaan yang tercipta saat ini.


"Masuk dulu ya, di luar banyak nyamuk. Kasian anak kita nanti di gigitin nyamuk," ucap pak Mun. Pak Mun dan bu Mun pun langsung menggiring Agreta untuk segera masuk kedalam rumah sambil terus memegangi tangan putrinya dengan erat. Seolah takut untuk kehilangan lagi.


"Den ayo masuk, kenapa diam di luar,?" tanya pak Mun setelah melihat Patria masih setia berdiri di teras rumah.


   Patria pun langsung masuk ke dalam rumah setelah mendengarkan ucapan pak Mun. Patria duduk di kursi yang biasanya di tempatnya saat berada di rumah pak Mun. Sedangkan Agreta duduk bertiga bersama dengan ayah dan ibunya, tentunya Agreta duduk di tengah di apit oleh pak Mun dan istrinya. 


     Rasa rindu yang sudah bertahun-tahun terpendam akhirnya bisa terbebaskan dengan berkumpulnya kembali Agreta dan orang tuanya. Agreta memandangi setiap sudut rumah tersebut,tak ada yang berbeda semuanya masih sama seperti dulu saat dirinya masih kecil. Foto-foto dirinya terpasang di dinding rumah dan masih ada foto lainnya yang tersimpan dalam lemari kaca yang sederhana. Agreta percaya dengan apa yang sudah di ucapkan oleh Patria.


    Sementara bu Mun yang masih saja membelai kepala Agreta, pak Mun justru merasa heran. Pasalnya Patria hanya datang berdua bersama dengan Agreta. Sambil terus menggenggam tangan Agreta pak Mun pun mengajukan pertanyaannya kepada Patria.

__ADS_1


"Den maaf, tapi apakah aden cuma datang berdua dengan Anya?" tanya pak Mun.


"Iya pak, kami cuma datang berdua saja," jawab Patria sambil tersenyum kecil.


"Tapi apakah istrinya aden tidak keberatan jika aden hanya berdua saja dengan putri ku,?" tanya pak Mun, pak Mun merasa tak enak hati jika kedatangan Patria dan putrinya ke rumahnya justru akan menimbulkan masalah untuk Patria. Pak Mun masih ingat jika Patria baru saja berbaikan dengan istrinya.


     Patria yang mendengar pertanyaan dari pak Mun pun terkejut begitu juga dengan Agreta. Agreta pun memandang ke arah Patria dengan tatapan meminta agar Patria memberikan penjelasan kepada kedua orang tuanya perihal siapa Agreta sebenarnya untuk Patria.


     Dengan perasaan gugup Patria memberanikan diri untuk memperkenalkan siapa dirinya dan mengapa hanya datang berdua saja dengan Agreta tanpa di dampingi oleh istrinya.


"Maaf pak, sebenarnya saya ini..." Patria terdiam sesaat mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkannya. 


     Belum lagi Patria melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba pak Mun langsung memotong perkataan Patria.


"Den makasih banyak sudah menemukan dan mengantarkan putri kami Annya pulang ke rumah, tapi Aden juga harus ingat. Aden itu baru saja berbaikan dengan istrinya, jangan sampai hal ini membuat aden sama istrinya bertengkar lagi," ujar pak Mun menasehati Patria panjang lebar.


    Mendengar perkataan pak Mun yang panjang tadi membuat Patria semakin binggung bagaimana cara menjelaskan bahwa Agreta atau Anya itu adalah istrinya. Patria menggaruk kepalanya yang tak gatal. Agreta justru tersensenyum simpul memandangi Patria yang salah tingkah. Agreta bukannya membantu Patria untuk menjelaskan perihal hubungan mereka tapi justru Agreta menikmati momen di mana Patria sedang di landa kekalutan. 


     Agreta terus saja berlaku manja di pelukan sang ibu tanpa ada niat sedikitpun untuk membantu Patria.


"Bagaimana menjelaskannya kalau begini,?" ujar Patria dalam hatinya. Wajah Patria terlihat seperti orang kebingungan saat ini. Baru kali ini Patria merasa kehilangan kata-kata di depan orang, biasanya Patria bisa mengeluarkan jurus mautnya untuk membungkam mulut orang lain tapi kini dirinyalah terdiam tak bisa mengucapkan sepatakata pun.


Bersambung


# Terimakasih masih setia membaca novel ku 🙏❤️🌹


terimakasih masih mendukung novel ku,

__ADS_1


makasih untuk 👍🏻❤️🎁-nya


   


__ADS_2