AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 71 KEBENCIAN YANG SEMAKIN DALAM


__ADS_3

    Pembicaraan Patria dan Gafin terputus di karenakan putrinya Gafin memangil Gafin ayahnya untuk bermain dengannya.Gafin pun pamit pada Patria untuk memenuhi keinginan putri kecilnya.Dan Patria pun segera berbalik dan pergi hendak menemui istrinya Agreta.


     Dari kejauhan Patria melihat bahwa Agreta istrinya sedang berbicara dengan seseorang terlihat sangat akrab. Semakin dekat Patria menujuh ke tempat Agreta Patria pun bisa melihat siapa yang sedang berbincang dengan Agreta. 


    Sesampainya di samping Agreta dengan sikap protektifnya Patria langsung merangkul pinggang Agreta hingga tak menyisakan jarak antara mereka berdua.


"Apa yang kau lakukan,dan apa yang kau katakan pada istri ku?" tanya Patria dengan suara juteknya.


"Tenang Patria aku dan Agreta istri tercinta mu sudah berteman baik," jawab wanita itu, jauh dari jawaban atas pertanyaan Patria.


Patria pun langsung menatap wajah Agreta mencari pembenaran atas wanita itu. Agreta pun langsung mengangguk kepalanya sambil tersenyum.


"Sudah dulu ya Agreta, nanti kita sambut lagi ngobrolnya. Harimau mu sudah datang," ucap wanita itu dengan santainya. setelahnya dia pun langsung pergi.


    Patria yang mendengar ucapan wanita itu langsung memasang wajah garangnya. Dalam hatinya Patria ingin rasanya Patria menelan hidup-hidup wanita tersebut. Agreta pun tertawa melihat tingkah suaminya.


Agreta menatap Patria dengan bahasa isyarat, Agreta meminta agar Patria merubah raut wajahnya. Sungguh tak enak jika wajah garang Patria di saksikan oleh orang-orang yang menghadiri acara amal tersebut. Agreta tak ingin orang lain nantinya akan salah menilai terhadap suaminya.


      Acara amal hari itu berjalan dengan lancar. Para tamu pun mulai meninggalkan tempat tersebut. Begitu juga dengan Patria dan Agreta. Mereka berdua pun pamit pulang setelah bertemu dengan panitia acara tersebut.

__ADS_1


    Dalam perjalanan pulang karena hari belum terlalu sore, Patria mengajak Agreta untuk mampir di sebuah restoran. Patria ingin menikmati waktu berdua dengan Agreta. Tak lupa Rizal pun ikut bersama dengan mereka berdua,  tapi dengan jarak yang tidak begitu jauh. Sebelum mampir di restoran Patria sudah terlebih dahulu mengirimkan pesan kepada Rizal, agar Rizal juga bisa ikut bersama dengan Patria dan Agreta masuk kedalam restoran.


       Sesampai di di dalam restoran Patria dan Agreta menjari meja untuk mereka berdua tempati. Rizal duduk sendiri, posisi duduknya tak jauh dari pintu masuk restoran tersebut. Rizal sengaja memilih duduk tak jauh dari pintu masuk, fungsinya agar Rizal bisa melihat siapa saja tamu yang datang. Tugas Rizal untuk menjadi pengawal Agreta masihlah berlanjut.


      Setelah mendapatkan meja, Patria dan Agreta langsung di di datangi oleh pelayan restoran tersebut. Dengan ramahnya pelayan itu memberikan daftar menu dari restoran tersebut.


"Selamat datang bapak ibu." Sapa pelayan restoran. 


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan tersebut dengan senyum ramah.


    Patria dan Agreta pun mulai memilih menu apa yang akan mereka pesan. Tanpa menunggu lama-lama, akhirnya Patria dan juga Agreta segera menujuk ke arah daftar menu mereka, meminta pelayanan mencatat menu apa saja yang mereka pesan. Tak lupa juga Patria meminta kepada pelayanan tersebut memasukan tagihannya nanti di satukan dengan sorang pria. Patria pun langsung menunjuk kearah pria yang di maksud.


    Pelayan itupun mengerti apa yang di katakan oleh Patria. Setelah mencatat semua menu yang di tunjuk oleh Patria dan Agreta, pelayanan itu pun pergi menghampiri mejanya Rizal. Tentunya ingin mencatat menu yang akan di pesan oleh Rizal. Setelah selesai mencatat pesanan Rizal , pelayan tersebut langsung menuju meja tempat pemesanan makanan kepada koki dapur.


"Selamat menikmati makanannya bapak dan ibu, jika masih memerlukan yang lainnya, silahkan panggil saya. Nama saya adalah Fitri." Pelayan itu memperkenal kan namanya kepada Patria dan Anggie.


"Terimakasih mba," balas Agreta.


"Terimakasih kembali. Kalau sudah tidak ada lagi yang di butuhkan saya permisi dulu, selamat menikmati menu masakan kami." Setelah mengatakan hal itu diapun langsung pergi meninggalkan Patria dan Agreta agar bisa menikmati makanannya segera. 

__ADS_1


      Sementara Patria dan Agreta menikmati makanannya, tiba-tiba ponsel miliknya Patria berbunyi. Sebuah pesan dari Rizal baru saja masuk. Isi pesan tersebut untuk menyampaikan kepada Patria bahkan Anggie baru saja masuk kedalam restoran. 


   Mata Patria bagai elang yang berada di udara memantau dari atas untuk mencari dan melihat target yang di inginkan. Mata Patria pun langsung melihat Anggie.  Patria berusaha bersikap biasa-biasa saja,tak ingin membuat istrinya Agreta merasa tak nyaman.


     Anggie masuk ke restoran tersebut dengan gayanya yang angkuh, dagu di naikan sedikit keatas wajahnya tidak memancarkan keramahan terkesan sombong.


       Langkah Anggie terhenti setelah matanya melihat sosok yang sangat ingin ditemuinya, laki-laki yang selalu di tunggu kehadirannya oleh Anggie dan dia adalah Patria. 


    Anggie langsung tersensenyum cerita, akhirnya dia bisa bertemu dengan Patria lagi. Dengan langkah lebih sedikit lebih cepat Anggie menghampiri Patria. Tapi belum juga Anggie sampai di tempat Patria duduk langkah kakinya terhenti setelah melihat ada sosok wanita yang sedang duduk manis bersama dengan Patria yang sedang menikmati makanannya. Sontak saja senyum Anggie yang tadi sudah mengembang indah mendadak menjadi kaku. Dan langkah kaki Anggie pun langsung terhenti.


     Anggie berdiri di tempatnya untuk sesaat, berharap Patria akan memalingkan wajahnya untuk melihat kearahnya. Harapan tinggal harapan, nyatanya Patria tidak sedetik pun memandang ke arah Anggie berada. Justru arah mata Patria selalu tertuju menatap Agreta tanpa berkedip. 


       Anggie yang melihat kemesraan antara Patria dan Agreta membuat hatinya terasah terbakar, apa lagi setelah melihat bagaimana sikap Patria memperlakukan Agreta penuh dengan kelembutan. Anggie yang tadinya mulai bisa menerima bahwa dirinya tak bisa memiliki Patria kini, niat untuk memiliki Patria hadir kembali. Seiring dengan keinginannya itu kebenciannya kepada Agreta justru semakin bertambah.


      Karena merasa di abaikan oleh Patria Anggie segerah membalikkan badannya,Anggie melangkah pergi dari restoran itu dengan menghentakkan kaki di setiap langkahnya. Hal itu menimbulkan suara yang sangat nyaring. Para pengunjung restoran tersebut langsung mengarahkan matanya langsung ke arah Anggie menatapnya sambil mengerutkan alis karena merasa heran dengan tingkahnya.


         Perasaan marah dan sedih kini bersarang di hati Anggie. Anggie keluar dari restoran rasa laparnya mendadak pergi begitu saja, yang dia rasakan kini adalah rasa kesal yang amat sangat.


     sesampai di parkiran Anggie segerah masuk kedalam mobilnya, pintu mobil kini menjadi sasaran pertama amukannya. Anggie menutup pintu mobil tersebut dengan cara di banting, bukan hanya itu stir kemudi pun di cengkeramannya dengan sangat kuat. 

__ADS_1


 "Awas kau perempuan sialan, akan ku buat hidup mu menderita!" ucap Anggie dalam hatinya. Anggie lupa apa yang pernah di katakan oleh Patria kepadanya.


Bersambung 


__ADS_2