
Sesungguhnya Patria tidak puas saat ini, meskipun Anggie sudah di tahan oleh pihak kepolisian tapi Patria belum bisa menerima hal tersebut. Patria inginkan adalah Patria-lah yang berhasil menangkap Anggie terlebih dahulu. Patria ingin memberikan pelajaran secara langsung kepada Anggie. Wanita yang sudah berani mencoba mencelakai istrinya. Patria pun langsung menghubungi pengacaranya dan Rizal. Mereka bertiga janjian untuk langsung ketemu di kantor polisi.
Patria segera menujuh ke kantor polisi tempat Anggie kini di tahan. Di sana kedatangan Patria sudah di tunggu terlebih dahulu oleh Rizal dan pengacaranya Patria. Setelah saling menyapa mereka pun langsung masuk ke dalam kantong polisi. Pengacara Patria langsung menemui polisi yang bertugas dan meminta ijin untuk bisa di pertemuan dengan Anggie.
Di dalam ruangan interogasi Anggie mengakui semua perbuatannya tanpa ada yang di sembunyikan. Anggie juga kini sudah berganti pakaian menggunakan baju tahanan. Wajah pasrah dan lelah kini terukir di wajahnya Anggie.
Patria yang sudah mendapatkan ijin untuk bertemu dengan Anggie, setelah melewati beberapa prosedur. Patria menunggu kedatangan Anggie dalam satu ruangan khusus. Patria menunggu Anggie dengan kemarahan yang tertahan. Kebencian terhadap Anggie jelas tergambar di raut wajah Patria.
Selang beberapa menit kemudian Anggie datang sambil di kawal oleh petugas. Dengan kepala tertunduk dalam Anggie berdiri mematung di hadapan Patria. Patria melihat kedatangan Anggie segera bereaksi dengan suara gemetar menahan amarahnya Patria menghampiri Anggie. Tapi langkah Patria terhenti setelah di tahan oleh pengacaranya Patria.
"Lepaskan tanganku,." ucap Patria geram karena langkahnya di hentikan.
"Sabar Patria, ini kantor polisi," kata pengacara tersebut mengingatkan Patria.
"Biar ku berikan pelajaran untuk wanita itu!" balas Patria. Ingin rasanya Patria mencekik leher Anggie saat ini. Kemarahan Patria sudah sampai di ubun-ubun.
"Patria sabar kita tidak bisa sesuka hati saat ini, ini di kantor polisi," ucap pengacara sekali lagi mengingatkan Patria.
Sementara itu Anggie yang melihat reaksi dan kemarahan Patria membuat Anggie mundur dua langkah ke belakang. Anggie berdiri di balik punggung polisi yang mengawalnya. Jelas Anggie sangatlah ketakutan.
Dengan suara gemetar Patria meninta kepada petugas agar mengijinkan Patria menghampiri Anggie. Setelah mendapatkan ijin Patria segera maju berdiri di hadapan Anggie, dengan sangat cepat tangan Patria langsung melayang ke udara setelahnya terdengar seperti suara tepukan.
Plaak
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya Anggie. Anggie yang tak siap menerima pukulan tersebut tubuhnya terhuyung ke belakang.
"Perempuan sialan, karena ulah mu rumah tangga ku hampir berantakan!" ucap Patria geram.
"Maafkan aku Patria, sungguh aku menyesal." Balas Anggie sambil berurai air mata.
"Maaf katamu!, Karena perbuatan mu istri ku sampai di rawat di rumah sakit. Dan karena fitnah mu aku kehilangan anak ku!" Teriak Patria geram.
__ADS_1
"Patria aku sungguh menyesal,aku benar-benar minta maaf," ucap Anggie lagi.
"Kamu akan membayar semua perbuatan mu dengan tinggal di dalam penjara," balas Patria.
"Aku menerimanya sebagai hukuman ku, tapi aku minta maafkan aku," tutur Anggie. Air matanya Anggie terus mengalir membasahi pipinya.
"Sebaiknya kamu mempersiapkan diri mu untuk tinggal dalam waktu yang lama dalam penjara," balas Patria.
Setelah melampiaskan kemarahannya Patria memilih untuk pulang ke rumah. Patria ingin segera memberi tahukan pada Agreta bahwa Anggie sudah di tahan oleh pihak kepolisian. Meskipun Patria tidak merasa puas karena belum sepenuhnya memberikan pelajaran kepada Anggie tapi setidaknya Agreta kini sudah lepas dari bahaya, hal ini membuat hati Patria sedikit merasa lega.
Sesampainya di rumah Patria sudah di sambut oleh Agreta di depan pintu ruang mereka. Agreta segera memeluk tubuh Patria. Mereka berdua pun segera masuk ke dalam rumah. Setelahnya Patria dan Agreta duduk di sofa yang berada di ruang tengah.
"Tumben jam segini sudah pulang?" ucap Agreta setelah menyambut kedatangan suaminya.
"Ya kerjaan di kantor tidak begitu banyak dan aku tadi habis dari kantor polisi." kata Patria.
"Kantor polisi, Tapi kenapa?" tanya Agreta cemas.
"Maksudnya Anggie?" balas Agreta mencoba menebak siapa orang yang di maksudkan oleh Patria.
"Iya Anggie sudah di tahan, dia sendiri yang menyerahkan dirinya ke kantor polisi," tutur Patria lagi.
"Syukurlah, terus melangkah selanjutnya apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Tanya Agreta lagi
"Kita hanya tinggal menunggu sidang nanti, Anggie sudah mengakui semua perbuatannya," balas Patria.
"Boleh aku bertemu dengannya Patria?" Sekali lagi Agreta bertanya, lebih tepatnya meminta ijin untuk di ijinkan bertemu dengan Anggie.
"Untuk apa kamu bertemu dengannya?" Patria balik bertanya kepada Agreta karena ingin mengetahui alasan Agreta ingin menemui Anggie.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya, aku juga ingin tahu mengapa dia bisa berbuat senekat itu," kataAgreta memberikan alasannya.
__ADS_1
"Kamu bisa bertemu dengan Anggie tapi dengan syarat, kamu janji tidak akan menarik tuntutan hukumnya," ucap Patria. Patria mengajukan syarat tersebut karena Patria tahu sifat dari Agreta yang tidak tega melihat orang lain bersedih. Hati Agreta yang mudah tersentuh membuat Patria mengajukan syarat tersebut.
"Baik aku janji tidak akan menarik tuntutan tersebut." Agreta pun berjanji kepada Patria.
"Besok kita baru bisa kesana ya, sekarang aku ingin istirahat dulu," balas Patria sambil mengecup kening istrinya. Agreta membalas kecupan Patria dengan sebuah pelukan erat.
Keesokan harinya Patria memenuhi janjinya pada Agreta untuk mengantarkan istrinya bertemu dengan Anggie di kantor polisi. Setelah mendapatkan ijin dari pihak kepolisian, Patria dan Agreta pun bisa bertemu dengan Anggie yang tentunya pertemuan tersebut di bawah pengawasan polisi.
Anggie kini berdiri di hadapan Agreta, penampilan Anggie kini benar-benar berbeda tak ada lagi kesombongan yang biasanya melekat di wajah Anggie. Yang ada kini hanya wajah lusuh dan pasrah.
Perlahan Agreta menghampiri Anggie, dengan senyum ramah yang mengembang di bibir Agreta. Tak tampak sedikit kebencian dan kemarahan di wajah Agreta. Melihat senyuman Agreta membuat Anggie merasa senang, Anggie yakin Agreta bisa memaafkannya.
Setelah jarak antara Agreta dan Anggie begitu dekat, tangannya Agreta langsung mendarat di pipinya Anggie.
Plaak..
"Tamparan itu untuk anakku." ucap Agreta setelah memberikan tamparan tersebut.
Patria kaget melihat apa yang baru saja di lakukan oleh Agreta. Belum selesai keterkejutan Patria tiba-tiba terdengar lagi suara yang sama, yaitu suara tamparan.
Plaak
Sekali lagi Agreta menampar wajah Anggie. Anggie hanya diam tak melawan ataupun mengelak dari tamparan Agreta. Anggie sadar rasa sakit yang di terimanya saat ini tak sebanding dengan rasa sakit yang di alami oleh Agreta.
"Tamparan itu karena karena kamu sudah berani mencoba merebut apa yang aku punya," ucap Agreta lagi menyambung kalimatnya.
Mata Patria langsung membulat sempurna,Patria tidak menyangka jika Agreta istrinya mampu melakukan hal itu. Patria tidak menyangka jika Agreta bisa juga menampar wajah Anggie.
Patria selama mengenal Agreta istrinya,tak pernah sekalipun Patria melihat kemarahan Agreta. Yang Patria tahu selama ini istrinya itu memiliki hati yang begi lembut dan pemaaf. Ini untuk pertama kalinya Patria melihat Agreta bersikap kasar terhadap seseorang.
Bersambung
__ADS_1