AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 76 DIA YANG PERGI KINI KEMBALI


__ADS_3

Selesai pertemuan itu, kini Anggie tinggal menunggu waktu persidangan. Begitu juga dengan Patria dan Agreta. Setiap pertemuan sidang Anggie selalu mengucapkan permohonan maafnya kepada Patria dan Agreta. Permohonan maafnya Anggie benar-benar keluar dari isi hatinya. Anggie ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dan Yuke sahabatnya Anggie selalu datang di setiap persidangan, Yuke selalu memberikan dukungan dan semangat untuk Anggie.


      Sampai saatnya sidang putusan pengadilan, Anggie akan memulai kehidupan barunya setelah sidang putusan di bacakan hakim untuk dirinya. Anggie terbukti bersalah dan di jatuhi hukum penjara selama delapan tahun lamanya. Anggie menerima hukum itu tanpa sedikitpun ada niat untuk banding, Anggie merasa itu adalah hukuman yang layak dia terima atas perbuatannya selama ini. 


      Patria tidak merasa puas dengan keputusan pengadilan tapi setelah melihat perubahan dari sikap Anggie akhirnya Patria bisa menerima keputusan tersebut. Di luar ruang sidang Patria bertemu dengan Gafin mantan suaminya Anggie. Gafin sengaja datang ke persidangan karena ingin bertemu dengan Anggie. 


    Sebelum Anggie di bawah keruang tunggu para tahanan Anggie di berikan kesempatan untuk bertemu dengan Gafin.


"Gafin aku benar-benar minta maaf, aku janji akan berubah. Aku mohon setelah aku selesai menjalani hukuman ku ijinkan aku bertemu dengan putriku," ucap Anggie kepada Gafin.


"Semua tergantung dengan keputusan mu, jika kamu benar-benar berubah mungkin aku bisa mempertemukan Kamu dengan putriku," ucap Gafin.


"Terimakasih Gafin, aku janji akan benar-benar berubah," balas Anggie. Anggie pun menjalani hukumannya dengan lapang dada. 


    Bukankah setiap orang memiliki kesempatan untuk bertobat, hanya tinggal kita yang harus memilih. Akankah menerima panggilan tobat tersebut dan menjalankan kehidupan yang lebih baik, atau justru memilih untuk mengabaikan kesempatan untuk bertobat dan terus hidup dalam dunia semu tanpa bisa untuk memperbaiki diri lagi. Dan Anggie memilih untuk menerima panggilan tobat tersebut.


       Dua bulan setelah persidangan Anggie, kehidupan Patria dan Agreta Kembali seperti dulu lagi. Rizal pun kini tinggal di rumah yang di belikan oleh Patria yang letaknya tak jauh dari rumah Patria.


     Hari ini Agreta sedang mencari sesuatu di dalam lemari bajunya, tanpa sengaja sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu jatuh dari dalam lemari pakaiannya. Akibat terjatuh terlalu keras isi dalam kota tersebut pun ikut keluar dari dalam kota tersebut. Agreta segera memungutnya dan merapikannya kembali. Patria segera menghampiri Agreta dan melihat isi kotak tersebut. Mata Patria langsung tertuju pada sebuah foto yang berukuran sedang. Di dalam foto tersebut terlihat beberapa anak perempuan yang sedang berpose.


       Mata Patria tertuju ke salah satu anak yang ada dalam foto tersebut.


"Sayang ini siapa?" tanya Patria ragu-ragu sambil menunjuk ke arah gadis kecil yang ada dalam foto tersebut.


"Itu aku,jelek ya?" ucap Agreta malu-malu. Agreta tidak memperhatikan raut wajah Patria yang berubah serius memandangi foto-fotonya.


"Ini beneran kamu?" tanya Patria memastikan. 

__ADS_1


"Iya itu aku, ini foto di ambil saat di panti asuhan," jawab Agreta.


"Boleh aku melihat foto-foto ini?" Sekali lagi Patria bertanya.


"Boleh,liat aja tapi janji ya jangan merusaknya,itu  foto kenang-kenangan ku," tutur Agreta.


   Setelah mendapatkan ijin dari Agreta Patrai segera memeriksa foto-foto tersebut dengan seksama. Patria merasa bahwa dirinya pernah melihat foto Agreta masa kecil dulu alis Patria segera mengkerut setelah ingat dimana dirinya pernah melihat foto Agreta kecil.


"Benarkah Agreta itu adalah...?" Patria bergumam dalam hatinya.


Diam-diam Patria mengambil salah satu gambar foto Agreta dengan menggunakan handphone miliknya. Sebuah foto gadis kecil yang sedang memeluk boneka kelinci.


      Setelah puas melihat foto-foto tersebut Patria segera mengembalikan kotak tersebut kepada Agreta. Dengan sangat hati-hati Agreta kembali menyimpan kotak tersebut ke dalam lemari.


      Setelahnya Patria segera menghubungi Rizal, Patria ingin agar Rizal menjaga Agreta kembali.Patria ingin bertemu dengan seorang orang yang pernah menolongnya dulu.


    Patria sebenarnya ingin bertemu dengan pak Mun,pria setengah baya ini dulu pernah menolong Patria. Bukan hanya sekedar menolong tapi berkat dari nasehat dari pak Mun Patria tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Nasehat yang di berikan oleh pak Mun Nasehat yang di berikan oleh pak Mun sungguh sangat bermanfaat untuk Patria.


    Patria mengendarai mobilnya menuju ketempat pertama kali Patria bertemu dengan pak Mun, yaitu di tepi jalan raya dengan pemandangan sawah yang membentang luas.


      Setelah tiba di lokasi Patria sudah bisa melihat wajah pak Mun yang sedang duduk dalam sebuah gasebo yang sederhana. Dengan suara lantang Patria memanggil pak Mun.


"Pak Mun...!" 


Pak Mun yang mendengar namanya di sebut langsung menoleh ke arah Patria.


"Aden?" icap pak Mun spontan. Pak Mun terkejut melihat kedatangan Patria.

__ADS_1


"Iya ini aku Patria." Patria segera menghampiri pak Mun sambil tersenyum bahagia.


"Aden apa kabarnya, kok bisa ada disini?" tanya pak Mun setelah benar-benar yakin dengan penglihatannya.


"Kabar ku baik, aku kangen makanya aku kesini," ucap Patria.


"Ayo duduk Den, wah istri ku pasti senang lihat aden datang," ucap pak Mun sambil menepuk pundak Patria.


    Patria segera duduk bersila di dalam gasebo milik pak Mun, Patria menghirup udara segar dalam-dalam mengisi paru-parunya dengan udara yang belum terkontaminasi dengan polusi udara. 


    Melihat tingkah Patria pak Mun tersensenyum simpul, ada rasa bahagia yang di rasakan oleh pak Mun. Pria kota yang dulu pernah mampir ke rumahnya tidak melupakannya tapi kini kembali menemuinya dirinya.Bukan hanya rada bahagia yang di rasakan oleh pak Mun tapi juga ada rasa bangga dalam dirinya. Pak Mun merasa bahagia dan bangga di karenakan ada pria kota yang kaya-raya datang berkunjung ke rumahnya yang sederhana. 


Patria diam sejenak menikmati pemandangan yang membuat hati dan matanya terasa damai. 


"Aden sudah makan?" tanya pak Mun membuyarkan lamunan Patria.


"Belum pak," jawab Patria jujur.


"Makan bareng yuk, tapi lauknya cuma ikan goreng sambel sama kangkung di tumis." tutur pak Mun sambil membuka rantangan yang baru saja diantarkan oleh istrinya.


"Pak Mun tahu saja kalau saya udah kelaparan," balas Patria sambil terkekeh.


"Ini sudah waktunya jam makan siang den," balas pak Mun sambil memberikan piring yang terbuat dari bahan plastik kepada Patria.


      


Bersambung

__ADS_1


     


__ADS_2