
Dengan santainya orang itu ikut masuk mengekor di belakang Anggie. Dia adalah orang yang sudah menjadi kurir pribadi dari Anggie selama ini.
"Kemana barang itu akan saya antar?" Kurir itu langsung bertanya setelah duduk di sofa.
"Ketempat yang kemarin," sahut Anggie dengan santai.
"Baiklah," jawab kurir itu sambil mengangkat bahunya.
Anggie segera masuk kedalam kamarnya dan mengambil amplop berwarna coklat yang semalam dia terima. Anggie juga mengambil beberapa lembar uang untuk di gunakan membayar jasa kurir tersebut.
Anggie keluar kembali dari kamarnya dan langsung menyerahkan amplop coklat tadi kepada kurir suruhannya.
"Ini segera antara kan di alamat yang sama, pastikan bahwa amplop ini di terima oleh bosnya. Jika sudah beritahu saya, mengerti!" tutur Anggie.
"Ok, saya bisa jamin barang ini akan tiba dengan selamat, bayaran untuk saya?" Kurir itu langsung menengadahkan tangannya meminta amplop coklat yang akan dikirimkannya beserta uang sewa jasanya.
Sesudah menerima amplop coklat dan uangnya kurir itu langsung pamit dan siap mengantarkan kiriman yang di suruh Anggie.
Sesudah kurir itu pergi Anggie menghembuskan nafas lega.
"Saat ini aku hanya tinggal menunggu hasilnya saja,dan kali ini saya yakin Patria tidak akan bisa lagi memaafkan istrinya." Anggie berbicara sendiri sambil tersenyum bahagia.
Sementara itu di tempat yang berbeda. Lebih tepatnya di rumahnya Patria dan Agreta.
Pagi itu rumah itu menjadi ramai saat sarapan pagi. Keluar kecil Rizal yang kemarin tiba di rumah Patria menambah suasana baru di rumah itu. Apa lagi dengan di tambah kehadiran putri kecil Rizal yang lincah dan cerewet itu membuat Agreta tak berhenti tertawa.
Sebelum Patria berangkat ke kantor, Patria mengajak Agreta untuk berbicara. Patria ingin mengatakan situasinya saat ini, bukan untuk menakuti Agreta tapi supaya Agreta tahu bahwa ada orang lain yang berniat jahat terhadapnya.
"Geta sayang, ada hal yang haru saya katakan pada mu," ucap Patria sambil memandang wajah istrinya dengan mimik serius.
"Ada apa Patria?" tanya Agreta.
__ADS_1
"Kau tahu, sebenarnya Rizal tinggal di sini untuk menjaga mu," kata jujur Patria.
"Tapi kenapa harus menjaga ku, ada apa sebenarnya?" tanya Agreta penasaran.
"Ada orang yang ingin mencelakakan mu, dan kemarin saat di mall dia hampir saja mencelakai mu Geta." Patria berujar sambil terus menatap Agreta.
"Tapi siapa dia, apa alasannya ingin melukai ku?" Agreta bertanya kembali. Ada kepanikan yang terpancar dari sinar matanya.
"Tenang ya, aku bisa pastikan dia tidak akan pernah bisa menyentuh mu. Untuk itu Rizal akan selalu bersamamu kemampuan kamu pergi." Patria meyakinkan Agreta.
"Tapi dia itu siapa?" Sekali lagi Agreta bertanya mencari tahu siapa orang tersebut.
"Maaf kan aku Geta." Patria mengatakan kata-kata itu sambil kepalanya tertunduk.
"Ada apa Patria, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" Kembali lagi Agreta mengajukan pertanyaannya meminta penjelasan lebih lagi. Wajahnya kini terlihat sedih dan cemas.
"Seandainya aku tidak masuk dalam perangkap wanita itu Semua ini tidak akan terjadi." Patria berucap sambil menyalakan dirinya.
"Wanita yang kamu lihat bersama ku saat itu, dialah yang ingin menyakiti mu, bukan hanya itu saja wanita itu jugalah yang sudah memfitnah mu dengan mengirimkan beberapa foto kepada ku seolah-olah kamu sudah mengkhianati ku," tutur Patria.
"Haah?
Kata itu yang keluar dari mulut Agreta. Mata Agreta membulat sempurna.
"Ya wanita itu berusaha untuk memisahkan kita berdua. Tapi kamu tidak usah khawatir lagi aku tidak akan pernah lagi meragukan cinta mu." Patria memeluk tubuh istrinya erat.
Setelah pelukan itu lepas Agreta kembali bertanya,
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan Patria?"
"Saat ini aku sedang mengumpulkan bukti-bukti kejahatannya, dan aku juga sudah menyelidiki siapa dia sebenarnya. Saat ini aku hanya minta kamu untuk berhati-hati, jangan keluar rumah tanpa di dampingi oleh siapapun apalagi tanpa Rizal. Menurut informasi yang aku dapatkan wanita itu sangat nekat,buktinya kemarin dia hampir saja mencelakai mu," tutur Patria.
__ADS_1
"Benarkah wanita itu senekat itu? Itu sebabnya kemarin wajah mu terlihat sangat tegang?" Agreta terkejut mendengar perkataan Patria. Dan Patria hanya menganggukkan kepalanya membenarkan pernyataan Agreta.
Sungguh Agreta tidak menyangka ada wanita yang bisa berbuat nekat seperti itu, hanya demi mendapatkan hati suaminya wanita itu tega melukai orang lain. Agreta menggelengkan kepalanya seolah tak percaya.
Tidak ada pilihan lain buat Agreta selain menerima bahwa mulai saat ini dia tidak bisa bebas melakukan aktifitasnya. Demi keselamatannya dan juga ketenangan suaminya Agreta memutuskan untuk mengurangi kegiatan di luar rumah. Padahal Agreta sudah menyusun rencana untuk datang ke sebuah acara amal yang bulan kemarin tak sempat di hadirnya karena terbaring di rumah sakit.
Saat ini Agreta sedikit terhibur dengan kehadiran istri dari Rizal dan anaknya, setidaknya mengurangi rasa bosannya di dalam rumah. Ada kelegaan di hatinya Patria setelah menceritakan apa yang sedang terjadi saat ini. Sebelum berangkat Patria kembali meninggalkan pesan kepada orang rumah agar memperhatikan Agreta. Terutama Rizal yang sudah di tugaskan untuk menjaga istrinya.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh waktunya Patria berangkat kerja. Patria berpamitan pada Agreta seperti biasa sebelum berangkat Patria akan mencium kening istrinya. Agreta mengantarkan Patria sampai pintu depan.
Dalam perjalanan menuju ke kantor tiba-tiba kepala Patria terlintas kejadian kemarin waktu di mall. Kemarahan Patria kembali terpancing. Saat itu juga timbul niat dalam hati Patria untuk mendatangi Anggie di apartemen miliknya. Patria yakin jika saat ini Anggie masih berada di apartemennya.
Setelah sampai di apartemen milik Anggie Patria segerah menuju ke unit apartemen di mana Anggie tempati.
Patria segera memencet tombol yang terpasang di samping pintu.
Ting
Ting
Bunyi bel milik Anggie berbunyi. Anggie yang mendengarnya merasa heran. Saat ini dirinya sedang tidak menunggu siapa pun, memesan makanan pun tidak. Siapa kira-kira yang datang?, Anggie penasaran.
Dengan langkah tidak terburu-buru Anggie menghampiri pintu tersebut dan sebelum membukakan pintu Anggie mengecek siapa yang datang lewat lobang kecil yang sengaja di buat di pintu masuk.
Setelah melihat siapa yang datang Anggie sangat terkejut, ternyata yang datang adalah Patria. Anggie sangat bahagia menyambut kedatangan Patria. Hatinya sempat merasa gugup.
"Apakah Patria sudah mendapatkan kiriman itu?" tanya Anggie dalam hatinya. "Apa secepat ini?" Anggie meragu. Tapi Anggie secepat kilat menghempaskan keraguannya hatinya terlalu bersemangat melihat kedatangan Patria ke tempatnya saat ini.
"Aduh kenapa aku tidak berdandan tadi? kan kalau begini penampilan ku Patria pasti tidak akan suka." Anggie menggerutu sendiri.
Bersambung
__ADS_1