AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 84 DEG DEGAN


__ADS_3

Saat ini hati Patria di landa kegalauan, pasalnya Patria pernah curhat ke pak Mun tentang rumah tangganya dan Patria juga sudah menceritakan tentang kesalahan yang sudah dia perbuat kepada istrinya. Patria takut jika karena hal itu pak Mun tidak bisa menerima kehadirannya sebagai seorang menantu.


     Pak Mun yang menunggu penjelasan dari Patria perihal kedatangannya yang hanya berdua bersama putrinya, membuat hati pak Mun tak nyaman.


"Den sekarang telpon istrinya biar bapak yang menjelaskan pada istrinya biar tidak terjadi kesalahpahaman antara aden dengan Annya." Ucap pak Mun memberikan saran pada Patria.


     Mendengar perkataan pak Mun sontak saja membuat Patria semakin binggung bagaimana menjawab perkataan pak Mun. Tapi Patria tidak memilih alasan lagi Patria menutupi tentang statusnya sebagai suami dari Agreta.


"Pak sebenarnya Agreta itu istri saya." Akhirnya sebuah pengakuan keluar juga dari mulut Patria.


"Maksudnya...?" tanya pak Mun, pak Mun merasa binggung dengan ucapan Patria begitu juga dengan bu Mun.


"Pak bu sebenarnya Annya putri bapak sama ibu itu adalah istri saya," jelas Patria takut-takut. Patria menunggu reaksi berikutnya dari pak Mun dan istrinya setelah mengakui siapa dirinya.


     Pengakuan Jujur Patria membuat pak Mun dan istrinya terkejut.


"Maksudnya Aden, Annya adalah istrinya Aden begitu,?" dengan rasa penasaran pak Mun Kembali bertanya dengan mengulangi ucapan Patria.


"Iya pak, saya ini menantu bapak sama ibu.l," akuh Patria. Jantung Patria bekerja dua kali lipat dari biasanya, Patria takut jika kehadirannya sebagai menantu akan di tolak oleh pak Mun dan istrinya.


      Sedangkan pak Mun yang kembali mendengar pengakuan dari Patria langsung merasa bahagia. 


"Aden nggak lagi becanda kan,?" dengan sinar mata penuh harap pak Mun berucap.


"Beneran pak, saya ini menantu bapak sama ibu," Patria mengulangi perkataannya untuk meyakinkan pak Mun dan bu Mun. Dan Agreta pun ikut membenarkan perkataan Patria.


"Iya benar pak bu Annya adalah istrinya Patria," tutur Agreta menjelaskan.

__ADS_1


"Jadi beneran aden menantu bapak,? ya ampun Den bapak senang sekali dengarnya," ucap pak Mun sambil tersenyum bahagia begitu juga dengan bu Mun.


"Jadi bapa tidak marah pada saya karena pernah nyakitin hati Agreta?" tanya Patria ragu-ragu.


"Saat ini kalian berdua sudah berbaikan, tak ada lagi yang perlu di bahasa. Yang terpenting jadikan itu sebagai pelajaran hidup," ucap pak Mun menasehati Patria.


     Kebahagiaan yang tercipta saat itu sungguh membuat semuanya larut perasaan masing-masing, terutama hati dari pak Mun dan istrinya. Anaknya kini telah kembali pulang kerumahnya juga sudah Sekaligus membawa menantu yang telah mereka kenal sebelumnya. Sungguh kebahagiaan yang di rasakan pak Mun dan istrinya  sulit untuk di jelaskan lewat kata-kata.


     Mereka pun larut dalam perbincangan hangat. Agreta menceritakan bagaimana dirinya tinggal dulu di panti asuhan, Agreta juga menceritakan bahwa dirinya juga memiliki sahabat-sahabat yang sangat menyanyikannya. Tak lupa Agreta juga bercerita awal mula pertemuannya dengan Patria sampai mereka berdua akhirnya menikah.


     Pak Mun dan istrinya mendengar cerita dari Agreta dengan seksama. Ada rasa sedih bercampur haru mendengarkan cerita putrinya. Tapi jauh di dalam hati pak Mun dan bu Mun mereka sangat bersyukur karena Annya putrinya ternyata di kelilingi oleh orang-orang yang baik hati dan sangat menyayanginya. Meskipun putrinya terpisah dari mereka tapi Annya tidak kekurangan kasih sayang.


    Di tengah-tengah perbincangan tersebut, tiba-tiba terdengar suara aneh.


Kriuk


Kriuk Kira-kira begitu bunyi suara tersebut.


"Ya ampun Den, Aden pasti sudah lapar. Belum pada makan kan,?" ucap bu Mun. 


  Patria dan Agreta pun kompak menjawab pertanyaan bu Mun bersamaan.


"Iya, kami belum sempat makan tadi." 


"Bagaimana ini, ibu tadi cuma masak sedikit," ujar bu Mun panik.


"Di sini apa ada yang jual makanan atau restoran gitu bu,?" tanya Patria. Jujur saja Patria sudah sangat merasa lapar saat ini.

__ADS_1


"Ada sie Den, tapi agak jauh dari sini," jawab pak Mun.


"Kita kesana aja. Sekalian bapak sama ibu juga harus ikut," ujar Patria.


"Ayah sama ibu ikut ya, ini pertama kalinya kita bisa makan bareng," timpal Agreta meminta agar orang tuanya tidak menolak ajakan Patria.


"Baiklah, kalau begitu bapak sama ibu siapa-siap dulu." Pak Mun pun langsung mengiyakan ajakan Patria sekaligus memenuhi keinginan putrinya. 


       Mereka semua pun berangkat ke restoran yang sudah di tunjuk oleh pak Mun. Setelah tiba di restoran mereka semua langsung memesan makanan yang mereka inginkan. Tak butuh waktu lama makanan yang mereka pesan pun tiba, mereka pun langsung menikmati makanannya dengan hati yang penuh kebahagiaan. Di selah-selah menikmati makan kembali Agreta berbagi cerita tentang hidupnya selama jauh dari orang tuanya. Dengan antusias Agreta menceritakan tentang sahabat-sahabatnya itu.


      Setelah selesai makan mereka semua pun segera kembali pulang ke rumah. Tapi kali ini Agreta tertidur di dalam mobil. Agreta tertidur sambil memeluk lengan ibunya dengan erat. 


    Setibanya di rumah Agreta di bangunkan oleh ibunya, bu Mun meminta Agreta agar segera masuk ke dalam rumah dan melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.


      Agreta pun segera masuk kedalam rumah dan menujuh ke kamar ibu dan ayahnya.


"Patria kali ini kamu tidur sendiri dulu ya, aku mau tidur sama ayah dan ibu. Aku masih kangen dengan mereka," ucap Agreta. Meskipun hati Patria merasa berat tapi Patria bisa menerima hal itu. Patria mengerti bahwa istrinya masih ingin merasakan pelukan hangat dari orang tuanya yang dulu sempat menghilang. Pak Mun dan bu Mun tidak keberatan akan hal itu karena mereka pun masih ingin menikmati waktu bersama dengan Agreta. Hitung-hitung sebagai penebus waktu yang terlewatkan.


       Keesokan harinya Patria terbangun karena mendengar suara tawa dari Agreta. Baru kali ini Patria mendengarkan suara tawa dari istrinya yang begitu kencang. Patria segerah bangun dan langsung keluar dari kamarnya.


"Sayang sudah bangun,? mandi dulu gie baru kita sarapan barengan," ucap Agreta setelah melihat suaminya keluar kamar.


   Patria pun dengan patuh mengikuti saran dari Agreta. Setelah selesai mandi seperti biasanya Patria berganti pakaian tak lupa menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Setelah selesai Patria segera keluar dan langsung menuju ke arah istrinya berada. 


Belum juga Patria duduk di samping Agreta, Agreta segera menutup hidungnya dengan kedua tangannya.


"Stop, jangan maju lagi," ujar Agreta kepada Patria. Hal itu sontak saja membuat Patria merasa binggung. 

__ADS_1


"Ada apa sayang?" tanya Patria merasa binggung.


Bersambung


__ADS_2