AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 15 RASA YANG TERTINGGAL


__ADS_3

Flashback masih on


   Keesokan harinya Patria terkaget dia bangun agak kesiangan.jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi.


Setelah terkumpul nyawanya yang .tercerai berai oleh mimpi, Patria dengan malu-malu keluar dari kamarnya.


 "Selamat pagi pak Mun," Patria menyapa setelah melihat pak Mun sudah duduk di kursi ruang tamu. "Pagi juga Den, udah bangun toh, gimana tidurnya nyenyak tidak?" Pak Mun menanyakan kondisi tidurnya Patria.


"Tidur nyenyak pak buktinya saya bangun kesiangan," jawab Patria sambil tersenyum malu-malu.


"Syukur lah,ya uda cuci muka dulu habis itu kita sarapan," pak Mun berucap.


  Setelah mencuci muka Patria segera bergabung dengan pak Mun duduk di ruang tamu. "Kopi den." Istrinya pak Mun sudah menyuguhkan kopi dan gorengan di atas meja. "Sarapan ala kadarnya ya Den,tukang nasi uduk lagi nggak jualan." kata bu Mun kepada Patria. "Ini aja uda cukup bu,makasih banyak ya sudah izinin saya nginap di sini,di kasih makan pula," balas Patria. "Ga usah sungkan Den, kami justru senang ada Aden di dini." Pak Mun berkata jujur.


"Kalo aden ada waktu kapan saja Aden bisa datang kesini." tawar pak Mun dengan harap. "Baik pak asal jangan kapok saya ngerepotin," jawa Patria sambil terkekeh.


   Senyum bahagia Patria kembali terukir setelah hilang selama hampir sebulan ini. "Pak apa bapak tidak ke sawa hari ini?" Patria bertanya ke pak Mun. "Hari ini saya nggak ke sawa, anak buah saya uda ada di sana buat jaga," jawab pak Mun. "Aden punya punya rencana apa hari ini," sambung pak Mun. "Pulang pak,tapi nanti agak siangan. Nggak papa kan pak saya agak lamaan dikit disini.masih betah soalnya," ujar Patria.


"Kalo aden mau nginep disini lagi juga nggak papa."Sambung bu Mun dari ruang makan.


  Tiba tiba Patria teringat akan sesuatu.dia sibuk merogoh kantong celananya. "Waduh saya lupa handphone saya pak," ujar Patria tiba-tiba sedikit panik. "Coba liat di mobilnya den.Soalnya dari kemarin bapak liat aden nggak pegang handphon," usul pak Mun.


Patria pun segera keluar menuju mobilnya.bener saja handphone nya masih tertinggal di dalam mobil.


Patria segera kembali ke dalam rumah setelah mendapatkan apa yang dia cari.


"Ya  pak, habis baterai kayaknya,  Saya malah nggak bawa Chasan," ujar Patria.


"Mengecas pake punya banyak aja," pak Mun menyerahkan kabel Chasan.

__ADS_1


"Beda pak kabelnya," ujar Patria.


"Ya terus gimana den?.Pak Mun ikut binggung. "Nggak papa pak biar aja,jadi nggak berisik dan nggak mengganggu." Patria berucap. Patria ingin menikmati waktunya tanpa gangguan apa lagi dengan gangguan urusan kantor.


  Patria menikmati waktunya lebih lama lagi di rumah pak Mun.hatinya seolah tak ingin beranjak dari rumah itu.


Tiba-tiba mata Patria tertuju pada sebuah bingkai foto yang berada dalam lemari kaca. Patria memandangi foto itu.ada gambar gadis kecil yang sedang memeluk boneka kelinci di tangannya.ada rasa aneh dalam hatinya.sepetirnya dia mengenal gadis kecil itu tapi entah di mana. Pak Mun yang melihat Patria yang sedang memandangi foto itu langsung berkata.."Itu putri saya, namanya Annya." Pak Mun menjelaskan sebelum Patria bertanya.


"Sekarang tinggal di mana pak? Apakah sudah menikah dan tinggal dengan suaminya?" Patria bertanya lagi.


"Saat ini kami tidak tahu dia ada di mana," ujar bu Mun dengan wajah sedihnya. "Kami kehilangan dia sewaktu di stasiun kereta." Dengan suara lirih dan penuh kerinduan bu Mun mejelaskan bagaimana mereka kehilangan anak satu satunya. Patria terdiam dia tidak menyangka pak Mun dan istrinya memiliki rasa sakit karena kehilangan.


  Tak terasa waktu sudah pukul sepuluh pagi menjelang siang.waktunya Patria untuk pamit pulang.


"Saya pamit ya pak bu, makasih banyak sudah menerima saya di sini." Patria dengan enggan berpamitan.tapi sebelum Patria beranjak dari kursinya pak Mun menitipkan pesan pada Patria.


"Den kita memiliki mata,dan mata bisa melihat segalanya tapi ingat.Apa yang kita lihat itu belum tentu adalah kenyataannya.Kita punya telinga untuk mendengar apapun yang ingin kita dengar,tapi apa yang kita dengar itu  belum tentu adalah sebuah kebenaran." Nasehat pak Mun untuk Patria panjang lebar.supaya Patria tidak gegabah dalam mengambil keputusan.


 Patria setelah berpamitan langsung menujuh mobilnya.setelah mesin mobilnya menyala Patria melambaikan tangan kearah pak Mun dan istrinya.ada rasa enggan di hati Patria untuk meninggalkan rumah pak Mun.setelah mobilnya keluar dari halaman pak Mun ada rasa yang tertinggal di hati Patria.yairu rasa damai.


Patria memacu mobilnya kembali pulang ke sebuah tempat dengan segala keramaiannya.Dalam perjalanan pulang Patria mencobah memilah sahabat-sahabatnya.mencobah mencari terang mungkinkah diantara mereka ada yang coba bermain curang atau berusaha mengkhianatinya.. 


  Hati Patria sedikit harapan yang muncul tentang hubungannya dengan sang istri. Ada keraguan yang terkikis dalam hatinya Patria.


   Flashback off


  Matahari semakin meninggi Patria sudah pulang ke kediamannya tapi bukan pulang kerumahnya tapi ke apartemen.Patria masih ingin meyakinkan hatinya, mencobah mengumpulkan keberanian menghadapi kenyataan jika memang Agreta berselingkuh.dia siap untuk memaafkannya asalkan sang istri berjanji tidak akan pernah mengulanginya . setidaknya inilah yang ada di hati Patria.


   Patria memarkirkan mobilnya di tempat parkir apartemen tempat dia tinggali dan langsung menuju lobi.

__ADS_1


"Patria!." Suara seorang wanita memanggilnya ketika Patria baru saja masuk lobi apartemen. Patria langsung mencari arah suara yang memanggilnya. "Pat dari mana aja kamu,?" ujar wanita itu lagi.


"Hai,... kok kamu ada di sini Anggie?" tanya Patria tanpa menjawab pertanyaan Anggie. Wanita itu memang Anggie.Anggie sudah menunggu Patria selama 2 jam di lobby.


Ini di lakukan oleh Anggie karena sudah dari kemarin Patria tidak bisa di hubungi. Anggie takut jika Patria kembali kepada istrinya Agreta.


"Aku sudah nungguin kamu selama 2 jam.Mereka tidak mengijinkan ku ke apartemen mu." Anggie menjelaskan dengan nada suara mencari simpati dari Patria.


 Apartemen yang di tempati oleh Patria memang sangat ketat.tidak bisa sembarang tamu bisa masuk tanpa seijin dari sang pemilik apartemen.


"Mau ke atas?" ujar Patria mengajak Anggie ke apartemen tempat dia tinggali.


" Ayo."


Dengan senang hati Anggie mengiyakan ajakan Patria.yang artinya itu peluang untuknya. Patria dan Anggie langsung menuju lift. Patria langsung memencet nomor lantai yang di tujuh.Ting... pintu lift terbuka setelah mereka sampai di lantai tempat Patria tinggal


 Patria langsung memencet password kunci apartemennya .


Ceklek...


Bunyi pintu terbuka.


Patria langsung mengajak Anggie untuk masuk ke dalam.


"Sorry Anggie.Saya tinggal ya mau bersih-bersih badan dulu, dari pagi belum mandi." ujar Patria sambil mencium aroma tubuhnya. "Pat handphone kamu mati ya?" ujar Anggie sebelum Patria masuk kamar.


"Iya handphone aku habis baterai." jawab Patria sambil tersenyum.


"Pantesan nggak bisa di hubungi." Anggie menjelaskan.

__ADS_1


"Sini aku chase dulu handphonenya, kamu mandi dulu." Anggie menawarkan bantuannya. Patria yang tidak menaruh curiga kepada Anggie langsung menyerahkan handphone tanpa ragu.


Bersambung


__ADS_2