AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 59 PENJAGA UNTUK AGRETA


__ADS_3

Dengan jantung berdebar kencang Patria menyusul istrinya Agreta. Saat ini Patria benar-benar tidak menyangka jika melihat Anggie di saat ini, di tambah lagi dengan mata kepalanya sendiri Patria melihat bagaimana mana Anggie mencoba mengejar Agreta. Jangan di tanya bagaimana tampang Patria, sudah pasti sangatlah menyeramkan. Mata Patria menjadi merah karena menahan amarahnya bukan hanya itu jari-jarinya berubah menjadi putih sangking kerasnya Patria mengepalkan tangannya.


Patria sedikit bernafas lega setelah melihat Agreta lebih dulu masuk kedalam restoran dan juga melihat Anggie memilih menjauh tidak mengejar Agreta lagi. Tapi bukan berarti Patria diam saja. Patria mencoba mengejar Anggie ingin memberikan pelajaran kepadanya. Tapi sayang setelah berusaha mengejarnya Patria tidak menemukan Anggie. Sadar jika dirinya sudah kehilangan Anggie Patria segerah balik menujuh restoran tempat Agreta berada. Patria tidak ingin meninggalkan istrinya sendirian terlalu lama.


Setelah kejadian ini membuat Patria sadar jika Agreta sedang terancam keselamatannya seperti yang pernah di katakan oleh Gafin waktu itu.


Setibanya di restoran Patria segera menghargai Agreta yang sudah duduk manis menunggunya.


"Pat kok lama?" tanya Agreta.


Patria mencobah tersenyum mendengar pertanyaan Agreta.


"Patria kamu kenapa ? ada apa, kenapa wajahmu terlihat tegang?" Agreta memberikan pertanyaan berondong kepada Patria.


Patria bukan menjawab pertanyaan Agreta tapi justru mengalihkan perhatian Agreta dengan bertambahnya,


"Sudah pesan makanan?"


"Pat kamu kenapa?" Sekali lagi Agreta bertanya.Agreta tidak terpengaruh dengan ucapan suaminya.


Dengan menarik nafas panjang Patria berkata,


"Tadi Jeje memberi tahukan bahwa ada sedikit masalah di kantor." Jelas Patria berbohong. Ini di lakukan Patria karena tidak ingin membuat Agreta cemas.


"Ya udah,kamu kekantor aja. Biar aku dian..." Perkataan Agreta langsung di potong oleh Patria.

__ADS_1


"Tidak, sekarang kamu makan dulu ya Geta. Ini sudah mau lewat jam makan siang mu."  Belum selesai Agreta berbicara Patria langsung menolak permintaan Agreta.


"Aku tadi sudah pesan makanan.Tapi beneran ngga papa kalau kerjaan kamu di tinggal?" Lagi Agreta mengajukan pertanyaan yang sama.


"Tenang saja ngga usah khawatir, bukan masalah yang serius banget." Patria memberikan penjelasan kepada Agreta supaya tidak khawatir. Pembicaraan mereka terhenti setelah pelayan restoran membawakan makanan yang sudah di pesan oleh Agreta.


Setelahnya Agreta dan Patria segera menikmati makan siang mereka.


Setelah selesai Agreta minta kepada Patria untuk segera pulang, dengan alasan ingin segera istirahat karena sudah mulai merasa lelah. Sebenarnya itu hanya alasan saja karena Agreta tahu dan sadar bahwa Patria harus segera kembali ke kantor.


Patria segera mengantar Agreta pulang ke rumah. Dan sesampai di rumah Patria langsung meminta kepada istrinya untuk segera istirahat dan jangan keluar rumah lagi. 


Karena kejadian di mall tadi Patria kini berubah menjadi over protective kepada Agreta. Bukan tanpa alasan Patria melakukan hal ini, ini juga di lakukan Patria untuk menjaga keamanan Agreta.


Setelah memastikan bahwa Agreta beristirahat Patria segera pergi menujuh ke kantornya. Tapi sebelum berangkat Patria sudah memberikan pesan kepada mbo Nem dan Yeyen tak lupa juga satpam yang berjaga di pintu depan.Patria berpesan untuk tidak membiarkan orang asing masuk kedalam rumah apa pun alasannya. Untuk satpam Patria meminta untuk lebih waspada lagi, jika ada hal yang mencurigakan Patria meminta kepada satpam untuk segera menghubunginya kapan pun.


Dalam perjalanan Patria terus berpikir, bukan masalah kantor atau kerjaannya tapi apa yang bisa di lakukannya untuk menjaga agar Agreta tidak tersentuh oleh Anggie. Patria teringat akan seseorang yang pernah menawarkan jasanya untuk menjadi bodyguardnya Patria waktu itu. Mungkin ini saat yang tepat bagi Patria untuk menggunakan jasanya.


Tiba di kantor Patria segerah menghubungi orang tersebut.Patria meraih handphone miliknya dan mengetik nama orang yang ingin dihubunginya. Setelah terdengar nada sambung tak lama kemudian di susul oleh suara orang dari benda pipih itu.


"Halo Patria," sapa orang itu.


"Rizal aku butuh bantuan mu," Patria tanpa basa-basi langsung mengutarakan maksud hatinya.


"Ada apa? siapa yang mencoba mengganggu mu?" Dua pertanyaan langsung di ucapkan oleh Rizal. 

__ADS_1


Rizal adalah orang yang dulu pernah di tolong oleh Patria. Mereka berdua bertemu secara tidak sengaja di sebuah klinik kecil. Saat itu Rizal sedang mengantarkan anaknya untuk berobat. Anaknya Rizal adalah korban tabrak lari, kondisi Rizal saat itu tidak memiliki uang sama sekali dan Patria yang ada di tempat itu merasa iba dengannya. Tanpa banyak berkomentar Patria langsung melunasi seluruh biaya pengobatan anaknya Rizal. Sejak saat itu Rizal berjanji jika suatu saat Patria membutuhkannya Rizal siap untuk menolongnya kapan saja.


"Patria, apakah semuanya baik-baik saja?" Sekali lagi Rizal bertanya menanyakan keadaan Patria.


"Semuanya baik-baik saja, tapi keselamatan istri ku dalam bahaya,"  balas Patria.


"Siapa yang berusaha menyakiti istri mu? apakah orang saingan bisnis mu?" Rizal penasaran.


"Bukan, tapi ada perempuan gila yang mencoba menyakitinya," Patria berkata dengan sedikit nada meninggi karena kembali teringat akan Anggie.


"Kamu di mana sekarang, jika di kantor saya akan segerah menemui mu " Rizal pun langsung menyanggupi permintaan Patria tanpa perlu Patria bertanya lagi. 


Selagi menunggu kedatangan Rizal di kantornya Patria kembali berkutat dengan tumpukan dokumen yang sudah sekretarisnya letakkan di atas meja kerjanya.


Ingatan Patria kembali terlintas oleh foto-foto yang di kirimkan oleh seseorang kepadanya dan sampai saat ini Patria belum mendapatkan kabar apakah kurir yang mengirimkan paket tersebut. Seandainya saat ini pekerjaan Patria tidak menumpuk dan sedang tidak menunggu Rizal ingin rasanya Patria segerah pulang menemani istri di rumah. Dengan begitu Patria akan jauh lebih merasa tenang.


Tumpukan map dan kertas di meja Patria kini sudah berkurang, Patria mencoba merenggangkan badannya yang terasa kaku. Karena sedari tadi posisi badannya sedikit membungkuk. Sekilas Patria melirik je arah jam tangannya yang mahal. 


"Kemana Rizal, kok belum nyampe juga?" Patria berbicara pada dirinya sendiri. Sudah hampir satu jam Patria menunggu tapi orang yang di tunggu belum juga menampakkan dirinya di hadapan Patria.


Sebelum Patria melanjutkan kerjaannya Patria menghubungi Sekretarisnya untuk meminta agar segera mengantar orang yang bernama Rizal ke ruangannya jika Rizal sudah tiba. Patria tidak ingin jika Rizal harus menunggu di lobby kantor. 


Selang beberapa menit kemudian terdengar ketukan pintu dari luar di ruang Patria.


Tok.. Tok..

__ADS_1


"Permisi pak saya Jeje," ujar Jeje dari balik pintu. Jika tidak ada kata " masuk" dari bosnya Jeje tidak akan pernah masuk di ruangan Patria.


Bersambung 


__ADS_2