
Setelah selesai berganti pakaian Agreta duduk di salah satu sisi tempat tidur, kepalanya di senderan tempat tidur. Agreta membuka laci meja kecil yang terletak di samping ranjang.
Agreta hendak menggambil benda pipih miliknya untuk menghubungi sahabatnya Siska.
Tanpa sengaja tangan Agreta menyentuh sebuah benda kecil yang ada dalam laci tersebut. Agreta segera mengambilnya. Dan kembali wajah sedihnya Agreta terukir di wajahnya. Buliran-bulian bening kini telah menggantung di pelupuk matanya. Agreta menggenggam kotak kecil itu dengan erat dan meletakkannya di dadanya Ada rasa rindu dan rasa sakit kini kembali menyentuh di hatinya. Sebuah rasa yang begitu pedih. Patria melihat airmata istrinya langsung menghampiri Agreta. "Ada apa, apa yang sakit?" Patria bertanya dengan cemas.
Tanpa berkata-kata Agreta menyerahkan kotak kecil yang baru saja diambilnya kepada Patria. Patria menerima kotak kecil itu sambil memandangi Agreta seolah meminta penjelasan.
"Bukalah," pinta Agreta. Patria langsung menuruti perkataan Agreta. Kotak kecil berwarna pink yang di beri hiasan pita kecil di atasnya di buka Patria. Mata Patria langsung mengerti mengapa istrinya menangis tadi. Kotak kecil itu berisi benda pipih kecil bergaris dua, sebuah benda yang menunjukkan hasil tes kehamilan Agreta. Hati Patria terasa tersayat ada luka tak berdarah yang kini dia rasakan. Patria sekali lagi berlutut di hadapan istrinya dan meminta maaf,Dengan posisi kepala tertunduk sambil menggenggam erat tangan Agreta. "Maafkan aku, karena kebodohan ku kita kehilangan anak kita." Patria. "Aku sudah memaafkan mu Patria," jawab Agreta. "Aku hanya...." Hiks...hiks. Suara tangisnya pun pecah.
Agreta tak mampu melanjutkan kalimatnya. Dan Patria langsung memeluk tubuh istrinya. Membelai kepalanya dengan lembut. Patria pun ikut menagis. "Ternyata sesakit ini rasanya mengetahui anak kita telah pergi,bagaimana dengan perasaanmu waktu itu Geta? pasti lebih sakit dari yang aku rasakan saat ini. Bagaimana cara agar aku bisa menebus rasa sakit mu,dan bagaimana cara agar aku bisa menyembuhkan luka di hatimu?" Patria membatin.
Setelah Agreta lebih tenang Patria mengendorkan pelukannya. Patria menghapus jejak airmata yang masih tertinggal di pipi Agreta. "Sayang, sejak kapan kamu tahu kalau kamu sedang hamil?" tanya Patria dengan hati-hati sambil menatap wajah Agreta.
__ADS_1
"Aku tahu sedang hamil di hari kita bertengkar, waktu itu aku ingin membuat kejutan untuk mu. Tapi saat kamu pulang,kamu sudah dalam keadaan marah,jadi aku tidak bisa mengatakan pada mu saat itu," cerita Agreta sambil menarik nafas dalam-dalam. "Aku juga tidak bisa mengatakan padamu saat itu, karena kamu menuduh ku berselingkuh. Aku takut kamu akan semakin membenciku," lanjut Agreta memberikan alasan mengapa dia tidak bisa memberitahukan kehamilannya kepada Patria.
Patria kembali teringat tentang hari di mana dia pulang ke rumah dengan hati yang penuh amarah, dan emosi sudah menguasainya. Patria kembali menyesalinya. "Patria apakah kau ingin tahu mengapa aku bisa memaafkan mu, meskipun hati ku masih terasa sakit?" Agreta bertanya sambil memandang wajah Patria. Patria langsung menganggukkan kepalanya ke atas kebawa. "Saat itu anak kita meminta ku untuk kembali padamu, karena saat itu dia melihat kamu sedang di rantai oleh seseorang dan kamu berteriak kesakitan. Dan anak kita meminta ku untuk kembali dan melepaskan rantai itu." Agreta menceritakan tentang mimpinya selama dia tertidur.
"Apakah anak itu seorang gadis kecil?" tanya Patria penasaran. "Dari mana kamu mengetahuinya Pat?" Bukannya menjawab pertanyaan Patria Agreta justru balik bertanya. "Aku pernah memimpin kan kamu dan gadis kecil itu." balas Patria. "Benarkah?" Agreta bertanya seolah tak percaya dengan ucapan Patria. "Ya, aku bermimpi di sebuah padang rumput kamu sedang menunggu seseorang dan ternyata yang kau tunggu adalah anak gadis kecil itu. Di dalam mimpiku dia memangil mu dengan sebutan ibu. Dan kamu memperkenalkan dia sebagai anak kita," ujar Patria dengan kepala kembali tertunduk. "Dan di dalam mimpiku sekali lagi aku melihat kamu dan gadis kecil itu sedang bermain bersama,tapi aku tidak bisa menghampiri kalian karena kaki ku tak bisa di gerakan. Aku hanya bisa berteriak menyebut nama mu." Kembali Patria menceritakan tentang mimpinya.
Agreta tertegun mendengar cerita Patria.Semua yang Patria ucapkan benar-benar sama persis seperti dalam mimpinya. "Apakah hanya permintaan dari putri kita yang bisa membuat kembali?" tanya Patria. "Masih ada alasan yang lagi." ucap Agreta. "Bolehkah aku mengetahuinya?" Kembali Patria bertanya. "Anak kita berjanji,bila sudah waktunya dia akan kembali pada kita," Agreta mengatakan janji putrinya. Janji putrinya yang terucap saat Agreta masih dalam tidurnya. "Aku janji jika Tuhan mengijinkan dia kembali, aku akan membuatnya menjadi anak yang paling bahagia," janji Patria kepada Agreta.
"Sekali lagi aku minta maaf, maaf kan kesalahan pria bodoh ini," ucap Patria. "Jika kamu pria bodoh,aku tidak mungkin mau menerima cinta mu dan menikah dengan mu Patria," balas Agreta. Dan mereka berdua pun tertawa bersama,meskipun masih ada jejak kesedihan dan rasa kehilangan di hati Patria dan Agreta.
"Terimakasih untuk semuanya.Terimakasih sudah memaafkan ku dan terimakasih masih bertahan hidup untuk ku," ucap Patria sambil mengecup kening istrinya.
Agreta membalas ucapan Patria dengan mempererat pelukannya. "Kau tahu,jika aku kehilanganmu aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidup ku. Tanpa mu Geta di hidupku, aku akan kehilangan arah," sambung Patria lagi.
__ADS_1
Patria kini merasakan cinta yang sempat hilang kini telah kembali. Cinta yang pergi kini kembali kepada pemilik hati yang sesungguhnya. Tak ada lagi ragu yang terukir, meskipun luka itu masih ada.
Dalam hati Patria berjanji tidak akan pernah lagi meragukan cinta dan kesetiaan istrinya. Cukup sudah pelajaran yang di dapatnya kali ini. Sebuah pelajaran yang sangat berharga. Sebuah pelajaran yang harus di tebus dengan harga yang sangat mahal. Yaitu dengan luka hati istrinya dan juga kehilangan anaknya.
Cukup sekali dia. Patria. Melihat luka di hati istrinya. Luka yang sangat menyakiti hati Agreta, bahkan Patria hampir kehilangan orang yang paling di cintanya. Wanita satu-satunya yang mampu menyentuh hati Patria. Seorang wanita yang mampu membuat Patria berkali-kali meneteskan airmata, dan wanita satu-satunya yang bisa membuat dia berlutut untuk memohon. Dan Agreta adalah wanita yang juga mampu membuat seorang Patria Sigara menyingkirkan harga dirinya.
Saat itu Patria dan Agreta saling berjanji untuk memulai semuanya dari awal lagi. Mencobah berdamai dengan rasa perih itu,belajar mengikhlaskan yang telah pergi.
Cinta sejatinya tidak hanya mengajarkan tentang rasa bahagia. Cinta juga mampu memberikan pelajaran tentang arti sebuah ketulusan dan kesetiaan Cinta juga mampu membuat mu tertawa bahagia ,menagis bahagia. Tapi cinta juga mampu membuat mu menangis tersedu bahkan mampu membuat mu merasakan perihnya luka.
Dan kini ikatan cinta Patria dan Agreta semakin kuat. Tak kan ada lagi tempat untuk sebuah keraguan.
__ADS_1
Bersambung