
Siska semakin penasaran apa yang di lakukan oleh Patria saat kejadian hari itu. "Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu waktu itu?" tanya Siska. "Lebih tepatnya di hari dimana kamu dan Geta habis bertengkar?" lanjut Siska. "Waktu itu aku mengendarai mobil tanpa arah,aku memang mendengar bunyi telphon ku berkali-kali. Tapi aku mengabaikannya karena jujur saja pikirku saat itu sangat kacau.," Patria .
Siska pun mendengarkan cerita Patria dengan seksama. "Terus!" tanya Siska penasaran. "Aku bertemu dengan seseorang yang baik hati,aku pun sempat menginap di rumahnya. Keesokan harinya aku baru ingat handphone ku." Cerita Patria.
Siska masih terdiam mendengarkan cerita Patria. "Pas aku lihat handphone aku udah mati kehabisan baterai. Pas mau di chas ternyata aku lupa bawa Chasan-nya. Pas balik ke apartemen baru handphone ku bisa di chas." Jelas Patria panjang lebar. "Apa ada yang terlewat dari cerita mu Pat?" tanya Siaka masih penasaran. Patria mencobah mengingat kembali apa yang terjadi saat itu. "Ngga ada kayanya cuma segitu,pas handphone sudah selesai di chas aku langsung mengecek handphone. Dan ya nggak ada pesan yang masuk dari kamu atau pun mbo Nem.Hanya ada pesan dari sekretaris saya dan urusan kantor lainnya." Patria.
"Apa ada orang lain yang menyentuh handphone punya mu?" tanya Siska, karena Siska masih belum puas dengan penjelasan Patria.
Patria berusaha mengingat apa saja yang terjadi saat itu.
Deg...
Hati Patria tersentak. Patria baru ingat pada saat itu yang membantunya untuk mengecas handphone miliknya adalah Anggie."Anggie?" ucap Patria dalam hatinya. Patria tidak mengatakan pada Siska siapa yang sudah mengecas handphone miliknya,dengan alasan agar Siska tidak kembali mempertanyakan hubungannya dengan Anggie. "Nggak ada ,nggak ada orang lain yang menyentuh handphone milik saya." Jawab Patria. "Kamu yakin Patria?" tanya Siska penuh sidik."Yakin Ska.," jawab Patria dengan tegas. Patria berbohong. "Kamu yakin jika perempuan itu tidak pernah menyentuh handphone milik mu Patria?" Siska bertanya sekali lagi kepada Patria dengan sorot mata tajam. "Astaga, ini manusia kenapa sekarang mirip detektif!?" Patria berkata dalam hatinya. "Tidak Ska,aku yakin soal itu." Patria sekali lagi berbohong. Sebisa mungkin Patria bersikap se-biasa mungkin di hadapan Siska. Meskipun di dalam hatinya sedang bergemuruh. "Ya sudah, hanya itu yang ingin aku ketahui. Tapi Pat, coba kamu ingat baik-baik mungkin saja ada orang lain yang menyentuh handphone milik mu tanpa sepengetahuan kamu," ujar Siska. "Jujur saja aku masih merasa ada yang ganjil disini, jika memang pesan yang ku kirimkan waktu itu bermasalah mestinya pesan yang ku kirimkan tadi juga masih bermasalah," sambung Siska lagi.
Patria terdiam mendengarkan ucapan Siska, akan tetapi Patria tetap memutuskan untuk merahasiakan siapa orang yang sudah menyentuh handphone miliknya. "Aku akan coba lagi mengingat hal apa yang terlewati pada saat itu," balas Patria berusaha meyakinkan Siska. "Ya sudah Patria, saya pamit pulang dulu. Salam buat Geta ya." Siska pamit hendak pulang.
__ADS_1
"Iya nanti saya sampaikan," jawab Patria.
Dengan kepala yang masih diisi oleh rasa penasaran Siska pergi meninggalkan rumah Patria.
Dan Patria pun sedikit merasa lega karena Siska tak lagi menginterogasinya. Patria cemas jika Siska tahu kalau ternyata Anggie pernah datang ke apartemen miliknya. Patria yakin jika sampai Siska tahu Anggie pernah datang ke apartemen itu pasti akan di ketahui oleh Agreta juga Dan Patria tidak menginginkan hal itu.
Sepeninggal Siska otak Patria justru sedang bekerja keras mencoba mengingat kembali siapa saja yang sudah menyentuh handphone miliknya selain Anggie. Tapi sayang Patria yakin hanya Anggie lah orang satu-satunya yang sudah menyentuh handphonenya pada saat itu.
Patria bimbang dengan pemikirannya. Pasalnya jika memang benar Anggie lah yang sudah menghapus pesan yang di kirimkan mbo Nem dan Siska, Patria tidak menemukan alasan apapun hingga membuat Anggie berbuat seperti itu.
Kepala Patria semakin pusing. Patria duduk di kursi di ruang tengah sambil menyenderkan kepalanya. Tangannya pun ikut memijat kepalanya untuk mengurangi rasa sakit di kepala.
Mbo Nem yang melihat kegelisahan tuannya, mencoba untuk menawarkan minuman penyejuk. "Maaf tuan, apa tuan ingin minum sesuatu?" tanya mbo Nem yang sudah berdiri tidak jauh dari Patria. "Ya ampun mbo,saya kaget!." ujar Patria yang tersentak karena kehadiran mbo Nem. "Maaf tuan saya nggak sengaja membuat tuan terkejut," jawab mbo Nem sambil tersenyum kecil. "Tuan mau saya bikini sesuatu atau mau minuman dingin?" Tawar mbo Nem lagi.
"Iya mbo saya mau, tolong buatin saya jus jeruk." Patria. "Baik tuan saya buatkan." Mbo Nem.
__ADS_1
Mbo Nem segera menujuh dapur untuk menyiapkan minuman yang sudah di minta oleh Patria.
Sementara itu Patria masih berkutat dengan pikirannya. "Jika memang benar Anggie yang menghapus pesan itu, untuk apa dia melakukannya?,apa untungnya bagi Anggie dengan menghapus pesan itu? Kenapa dia melakukannya?" Pertanyaan ini terus-menerus berputar di benak Patria.
Pusat pikiran Patria terputus oleh bunyi telphon milik Patria. Patria segera mengeluarkan benda pipih itu dati saku celananya. Setelah Patria nama yang tertera di layar handphone miliknya Patria pun langsung langsung menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut. "Ya Jeje.." "Selamat siang pak," sapa Jeje dari balik telpon. "Maaf pak,saya hanya mengingatkan kepada bapak kalau besok ada pertemuan dengan pihak dari perusahaan Prima Jaya untuk membahas tentang kerjasama." Jeje. "Baik,besok saya akan ke kantor. Kira-kira jam berapa jadwal pertemuan itu?" Patria berucap.
"Besok pagi jam sembilan pak," balas Jeje. "Tolong siapkan berkas-berkasnya biar besok pagi saya bisa memeriksanya kembali sebelum pertemuan." Perintah Patria.
"Bak pak" jawab Jeje menutup pembicaraan tersebut. Patria memasukkan ponselnya ke saku celananya. "Tuan ini minumnya," mbo Nem memberikan minuman yang tadi di minta Patria. "Makasih mbo, saya bawa ke kamar aja." Patria langsung mengambil gelas yang berisi jus buatan mbo Nem dan membawanya ke lantai dua menuju ke kamar tidur utama.
Setibanya di dalam kamar Patria memperhatikan sejenak wajah istrinya Agreta yang masih tertidur lelap. Patria meletakkan minuman yang di bawanya tadi dan duduk di samping tempat tidur. Patria membelai wajah istrinya dengan sangat lembut, membenarkan rambut Agreta yang menutupi wajahnya.
Sebelum ikut berbaring di samping istrinya, Patria meneguk habis just buatan mbo Nem sampai tandas. Patria memeluk tubuh istrinya dan segera ikut masuk kedalam alam mimpi.
Bersambung.
__ADS_1