
"Jadi kamu beneran berhenti menjadi asisten ku?" tanya Anggie tak percaya.
"Ya, saya berhenti. Saya cape menghadapi sikap mu dan kata-kata mu yang kasar," balas sang mantan asisten.
"Kalau kamu berhenti siapa yang akan mengurus ku?" tanya Anggie mulai panik. Selama dua tahun ini sang asistennya Anggie lah yang mengurus segala keperluan Anggie, dan Anggie sudah terbiasa akan hal itu.
"Itu bukan urusan ku, silahkan kamu cari asisten lainnya yang mau mengurusi diri mu," balas asisten tersebut dengan nada tak peduli.
"Jadi ini balasan yang kamu berikan padaku? dasar Jongos tak tahu diri!" umpat Anggie. Bukan hanya frustasi yang di rasakan oleh Anggie saat ini tapi juga kecewa, oleh karena itu Anggie meluapkan perasaan dengan emosinya yaitu kembali berkata kasar dan memaki mantan asistennya itu.
"Masa bodoh," jawab asisten itu dengan santai tak terpancing oleh emosinya Anggie. Setelah mengatakan itu dia pun segera mematikan panggilan tersebut dan juga sekaligus langsung memblokir nomor telepon Anggie.
Egrr..
Anggie mengerang marah sampai rahangnya tertutup rapat dan menegang, tangganya menggenggam stir mobil dengan sangat kencang seolah-olah ingin meremasnya sampai remuk. Anggie menarik nafasnya dalam-dalam mencoba meredamkan emosinya.
Setelah agak tenang Anggie menyalakan mesin mobil siap meninggalkan Doble A. Tujuannya adalah kembali ke tempat huniannya yang nyaman yaitu apartemen.
Malam ini Anggie ingin ke club havani tapi dia takut dan masih trauma jika Kembali harus bertemu dengan pria yang semalam tidur dengannya.Jadi hari ini Anggie mengurang diri.
Keesokan harinya di tempat yang berbeda. Patria tengah bersiap-siap untuk mengantarkan istrinya Agreta ke rumah sakit untuk kontrol. Patria sengaja menyempatkan waktunya untuk menemani Agreta karena Patria ingin tahu secara langsung perkembangan kesehatan istrinya.
"Sayang udah siap?" tanya Patria kepada Agreta.
"Iya ,aku sudah siap.Ayo jalan," balas Agreta sambil menggandeng tangan Patria. Patria dan Agreta keluar dari kamar sambil tersenyum bahagia.
"Mbo kami jalan dulu ya," pamit Patria.
"Baik tuan, semoga non udah sudah benar-benar sehat," doa tulus mbo Nem.
Setelahnya pasangan yang sedang berbahagia itu menujuh mobil Masih sama seperti dulu, Patria selalu membukakan pintu untuk Agreta sebelum dirinya masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Hari ini Patria sengaja meminta sopirnya untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit, Patria masih ingin duduk di samping istrinya. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, keadaan jalan raya saat itu ramai lancar.
Setelah tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai di rumah sakit oloam,tempat Agreta di rawat. Patria dan Agreta segera menuju ruang dokter Freya, dimana sebelumnya mereka sudah membuat janji terlebih dahulu jadi Agreta tak perlu lagi untuk mengantri panjang dan lama.
"Halo Geta," sapa dokter Freya setelah melihat siapa pasien berikutnya.
"Halo Feya," balas Agreta. Mereka berdua pun saling berpelukan sesaat sebelum pemeriksaan.
"Bagaimana kabarmu? Apa ada yang di rasa?" tanya dokter Freya setelah Agreta duduk di kursi pasien.
"Ngga ada, aku merasa lebih baik Feya," jawab Agreta jujur.
"Sekarang naik ke tempat tidur," Freya mempersilahkan sahabatnya itu naik ke tempat tidur pasien untuk pengecekan.
Agreta menuruti permintaan Freya. Setelahnya Freya segera melakukan tugasnya sebagai dokter untuk memeriksa kondisi pasiennya. Setelah melakukan beberapa pengecekan dokter Freya pun tersenyum puas.
"Geta, perkembangan kesehatan mu sangat baik. Tapi kamu harus tetap ingat untuk menjaga kesehatan mu," tutur dokter Freya mengingatkan Agreta.
Sementara itu Patria masih terus memperhatikan dan mendengarkan anjuran dari Freya untuk terus menjaga kesehatan istrinya. Patria tersenyum melihat interaksi antara istrinya dan dokter Freya.
"Geta ternyata kamu memiliki sahabat-sahabat yang hebat," ucap Patria dalam hatinya.Sesudah memeriksa keadaan Agreta, dokter Freya pun langsung menulis resep obat untuk di konsumsi oleh Agreta.
"Ini resepnya jangan lupa di tebus ya, satu lagi jangan lupa di minum Geta," dokter Freya memberikan ultimatum kepada Agreta.
"Iya Feya sayang, tapi hari ini apakah aku boleh jalan-jalan?" tanya Agreta kepada Freya. Sesungguhnya Agreta mulai merasa bosan terus tinggal dalam rumah tanpa ada kegiatan. Makanya Agreta meminta saran dari Freya sebagai dokternya.
"Boleh, tapi ingat jangan terlalu cape apa lagi sampai memaksakan diri. Dan satu lagi harus ada yang menjagamu," setelah mengucapkan kalimat itu Freya langsung memandangi Patria.
Patria mendapati dirinya di tatap oleh Freya langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Apa sudah selesai?" tanya Patria.
__ADS_1
"Sudah, ingat ya Patria jangan buat pasien ku ini kecapean dulu dan ingat makanan harus di jaga ." kembali Freya mengingatkan Patria dan Agreta.
"Ini resepnya," sambung Freya lagi sambil mengarahkan catatan kecil yang berisi daftar obat yang harus di minum oleh Agreta.
Setelah baik Agreta dan Patria segera berpamitan dengan Freya. Mereka tidak bisa mengobrol lebih lama lagi di karenakan pasien dari dokter Freya sudah mengantri panjang.
"Makasih banyak ya Freya," ucap Patria sebelum meninggal ruangan tersebut. Freya pun membalas ucapan itu dengan senyuman.
Patria menebus obat di apotik rumah sakit tersebut sebelum pulang ke rumah. Sedangkan Agreta duduk manis menunggu suaminya selesai mengambil resep obatnya. Setelah mendapatkan obatnya Patria segera mengajak Agreta untuk menujuh mobil. Mereka berdua sudah di tunggu oleh supir pribadinya di depan lobby rumah sakit.
Dalam perjalanan pulang ke rumah tiba-tiba Agreta meminta ijin kepada Patria untuk mampir sebentar di sebuah mall yang letaknya searah dengan jalan pulang ke rumah.
"Pat, mampir yuk ke mall," pinta Agreta dengan nada manja.
"Sayang kamu itu belum boleh cape," Patria mencoba menolak ajakan istrinya. Bukan pelit tapi Patria ingat akan pesan Freya. Dokter istrinya.
"Tapi kan tadi kata Freya boleh, aku janji ngga akan lama-lama di sana. Aku bosan terus tinggal di dalam rumah," sekali lagi Agreta meminta sambil menunjukkan wajah memelas-nya. Kalau sudah begi bisa di pastikan Patria tidak akan tega menolak permintaan Agreta. Tapi sebelumnya Patria mengajukan syarat kepada Agreta.
"Baiklah,tapi kamu harus ingat tidak boleh cape, dan jika sudah mulai merasa cape kamu janji untuk segera istirahat."
"Ok," jawab Agreta singkat sambil memberikan kecupan kecil di pipinya Patria. Patria pun mendapatkan kecupan itu langsung merangkul bahu istri dan menyandarkan kepalanya di bahu Patria.
Sang supir yang melihat tuannya hanya tersenyum simpul. "Akhirnya, semoga selalu bahagia dan ngga ada lagi kejadian yang aneh-aneh," ucap sopir itu dalam hatinya.
Kembali ke Anggie.
Di dalam apartemen miliknya Anggie mulai merasa bosan. Sedari tadi pagi Anggie hanya berbaring di tempat tidur tanpa melakukan kegiatan apapun. Kalau untuk urusan membersihkan apartemen miliknya Anggie sudah membayar orang untuk melakukan bersih-bersih.
Di karenakan rasa bosannya terus menderanya Anggie memutuskan untuk mengunjungi salah satu mall yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Bersambung
__ADS_1