
Setelah kopinya jadi Patria segera menujuh ruang keluarga untuk menonton televisi.pikirnya sambil menunggu istrinya pulang.
Setengah jam kemudiannya patria mendengar pintu rumah di buka.setelah itu ada suara langkah kaki seseorang yang memasuki rumah.
"Tuan...." mbo Nem sedikit terkejut setelah melihat tuannya sudah kembali. Mbo Nem baru saja kembali dari rumah sakit habis menjaga Agreta.dan Yeyen kini sedang menggantikan si mbo.
"Mbo habis dari mana?" tanya Patria
"Itu tuan saya habis dari rumah sakit." jawab mbo Nem dengan kepala tertunduk. "Sekarang mbo mandi bersih -bersih dulu kan baru habis dari rumah sakit banyak virusnya!" Patria.
"Baik tuan,saya kebelakang dulu." Pamit mbo. Dalam hatinya mbo Nem ada rasa sedih,ternyata tuan sudah benar-benar tidak peduli dengan non Agreta..ucap mbo dalam hatinya.mbo Nem menarik nafas panjang.
"Oh ya mbo,nanti tolong buatkan saya sup ya buat makan malam." Ujar Patria lagi "Baik tuan." jawab si mbo dan langsung menuju ke arah belakang menuju kamarnya.
Setelah mandi mbo Nem langsung menujuh dapur untuk menyiapkan makanan yang sudah di pesan oleh Patria. Masakan mbo sudah tertata di meja makan.
Setelah selesai memasak mbo Nem segera memberi tahukan pada Patria
"Tuan sup nya sudah matang, apa tuan ingin makan sekarang?" tanya mbo Nem. "Iya mbo saya sudah lapar dan kangen masakan Mbo," Patria langsung berdiri melangkah menujuh ke ruang makan.
Patria duduk di kursi yang biasanya dia tempati.Patria mulai mengisi piringnya dengan nasih putih yang asap masih mengebul. "Mbo.aku kangen sekali masakan mbo." ujarnya sambil tersenyum. Mbo Nem hanya membalas ucapan Patria dengan senyum dan anggukan kepala.
"Tetap enak seperti biasanya." ucap Patria setelah memasukan satu sendok sup kedalam mulutnya. "Makasih tuan." balas mbo Nem. "Oh ya mbo,istri saya kemana..jam segini belom pulang?" tanya patria sambil mengunyah makanan. "Itu tuan.non Agreta belum tahu kapan pulangnya." jawab mbo Nem sedikit binggung dengan pertanyaan tuanya. "Mbo tadi dari rumah sakit.mbo lagi sakit?" tanya Patria lagi. "Tidak tuan saya baik-baik saja." Mbo Nem. "Syukurlah,Yeyen kemana dari tadi nggak keliatan?" lanjut Patria bertanya. "Maaf tuan,tapi Yeyen lagi di rumah sakit " jawab mbo Nem.
"Yeyen sakit? sakit apa sampai di rawat di rumah sakit?" Patria kembali bertanya. "Yeyen baik-baik saja tuan,itu Yeyen lagi jaga..." Mbo Nem terdiam sejenak karena ragu.
"Apa ada keluarga mbo yang sedang sakit ?" potong Patria.
__ADS_1
"Tidak tuan." Mbo nem menjawab dengan cepat. "Mbo saya jadi bingung, mbo sama Yeyen baik-baik saja tapi ke rumah sakit,sekarang Yeyen juga masih di rumah sakit,ada apa ini Mbo?" Patria bertanya sekaligus penasaran apa yang di lakukan pembantunya di rumah sakit.
"Maaf tuan, tapi sebenarnya saya sama Yeyen bergantian menjaga nona Agreta" jawab mbo dengan nada terbata-bata karena takut bila tuanya marah.
Byuuuuuurrrr.....
Air minum yang baru saja masuk kedalam mulut Patria keluar menyembur lolos begitu saja dari mulutnya.
Huk...huk
Patria terbatuk-batuk mendengar jawabannya si mbo.
Dengan sigap mbo Nem kembali mengisi gelas Patria yang sudah kosong. Patria segera meminumnya sampai tandas. Patria mencoba menarik nafas dalam untuk menenangkan diri dari keterkejutannya tadi, setelah merasa lebih baik Patria bertanya kembali.
"Mbo, coba ulangi lagi yang barusan mbo katakan tadi."
"Maaf tuan,saya dan Yeyen bergantian menjaga non Agreta di rumah sakit."
Patria shock mendengar ucapan mbo Nem. Selera makan dan rasa laparnya langsung hilang begitu saja.dengan nada panik Patria kembali bertanya. "Mbo sejak kapan istri saya di rawat di rumah sakit?"
"Sudah seminggu lebih tuan."
Patria terdiam.Matanya menjadi bulat sempurna dengan mulut sedikit terbuka.
"Haaa.....Sudah seminggu lebih? Mbo kenapa nggak kasih tau saya?" Patria mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Tapi tuan, saya sudah mengirimkan pesan berkali-kali kepada tuan,saya juga sudah berusaha menelpon tuan saat itu
__ADS_1
"ujar mbo Nem menjelaskan karena tidak ingin di salahkan.
"Saya tidak menerima pesan itu mbo." Ujar Patria binggung." apa mbo tidak salah kirim?" Patria bertanya lagi untuk memastikan karena dia merasa bahwa Patria tidak pernah menerima pesanan dari si mbo.
"Tidak tuan." jawab mbo Nem.Saat itu juga mbo nem langsung mengeluarkan handphonenya dari saku baju dan menunjukkan bahwa saat itu mbo Nem sudah mengirimkan pesan kepada Patria,bahkan jejak panggilan telepon pun masih tersimpan di handphone si mbo. Patria langsung melihat isi pesan mbo Nem di handphone si mbo.
Patria yakin nomor yang dikirimkan pesan oleh mbo nem itu adalah nomornya tapi kenapa pesan itu tidak pernah masuk ke nomornya.
"Mbo sekarang kita ke rumah sakit, di rumah sakit mana istri saya di rawat?" Ujar Patria dan langsung berdiri dari kursinya.
"Di rumah sakit Oloan." jawab Mbo Nem.
"Sekarang kita ke sana,saya ganti baju dulu.Mbo siap-siap!" Patria langsung menujuh lantai dua rumahnya dan langsung ke kamar hanya untuk mengganti celana pendeknya menjadi celah jeans.
Ketika Patria turut dari lantai dua dia melihat mbo sudah menunggu di depan pintu rumah. Dengan langkah terburu-buru Patria segera masuk kedalam mobilnya di susul oleh mbo Nem.
Patria langsung memacu mobilnya menuju rumah sakit.di dalam mobil Patria dan mbo Nem sama-sama diam tidak ada yang mengeluarkan suara.patria sibuk dengan pikirannya dan juga perasaan yang kalut demikian juga dengan mbo nem.
Sesampainya di rumah sakit Patria dengan langkah tergesa-gesa menuju ruang tempat istrinya di rawat.sebelumnya Patria sempat bertanya kepada mbo Nem tempat ruangan Agreta di rawat
Sesampainya di depan pintu ruang rawat istrinya Patria menari nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya.
Dengan perlahan-lahan Patria mendorong pintu itu.setelah Patria masuk dia berpikir bahwa istrinya seperti sedang tidur dan Patria tidak ingin membangunkannya. Patria melihat selang infus dan oksigen dan masih ada alat medis lainnya terpasang di tubuh istrinya.ada rasa nyeri dalam hatinya.
Patria berfikir bahwa Agreta sedang tidur.dia pun langsung mengambil kursi dengan hati-hati dan langsung duduk di samping tempat tidur Agreta.Patria memandangi wajah Agreta yang terlihat pucat.ada rasa bersalah dalam hatinya.menyesal baru tahu bahwa istrinya sudah seminggu lebih berada di rumah sakit.Patria pelan-pelan dan sangat hati-hati menyentuh tangan sang sambil istri mengecup lembut takut jika Agreta terganggu tidurnya. Mbo Nem dan Yuyun melihat sikap dari Patria sangat terharu tapi mereka binggung bagaimana mengatakan kondisi sang nyonya mudanya.
Bersambung
__ADS_1