AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 21 GELISAH


__ADS_3

Hari ini Patria bangun dengan kondisi tubuhnya yang kurang baik.semalam Patria hampir tidak  bisa memejamkan matanya untuk istirahat.


  Di kapala Patria selalu teringat akan perkataan pria asing itu.bukan hanya perkataan itu saja yang terus terngiang di kepalanya tapi perkataan istrinya waktu itu. Agreta pernah mengatakan bahwa ia tidak pernah mengkhianati Patria. Patria juga teringat nasehat pak Mun.


   Dengan langkah berat Patria menujuh kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat ke kantor.


Hari ini Patria harus menghadiri rapat penting.jadi Patria harus datang dan tidak bisa di wakili.


   Hari ini Patria seperti biasanya memesan sarapannya lewat OB kantor.  Sebenarnya Patria kangen akan sarapan buatan sang istri,tapi karena permasalahan yang ini Patria terpaksa menahan diri untuk pulang.


Setelah selesai sarapan Patria kembali di sibukkan oleh tumpukan dokumen yang harus di periksa dan di tanda tanganinya. Patria teringat akan bukti perselingkuhan sang istri yang masih di simpannya di laci meja kerjanya.


  Patria mengambilnya dan mulai memandangi lembaran foto itu satu per satu secara intens. Terbesit di kepalanya ingin mengetahui siapa orang yang mengirimkan foto -foto tersebut kepadanya..Apa maksud dari orang tersebut,apakah hanya ingin membantu Patria.atau justru ingin menghancurkan rumah tangganya.


Patria menarik nafas panjang dan dalam kemudian memasukkan kembali lembaran foto itu kedalam amplop coklat besar dan kembali menyimpannya ketempat semula.


"Jeje, tolong minta kepada security dan reception untuk datang ke ruang saya sekarang juga saya tunggu." Patria memberikan perintah kepada Jeje sekretarisnya lewat sambungan telepon.


"Baik pak." jawab Jeje singkat.


Setelah mendapat perintah dari Patria Jeje pun langsung menghubungi kepala security dan resepsionis untuk segera datang ke ruangan bos-nya.Patria.


Tok ..tok..tok.


Pintu ruangan Patria di ketuk oleh Jeje.


"Masuk." ujar Patria


Jeje masuk kedalam ruangan bersama dengan kepala security dan resepsionis.


"Pagi pak..." salam resepsionis dan kepala security bersamaan.


"Pagi, silakan duduk." ujar Patria sambil menunjuk kursi sofa yang ada di ruangannya. Mereka pun langsung duduk di sofa setelah Patria duduk terlebih dahulu. "Kamu masih ingat orang yang mengantarkan dokumen untuk saya tapi tanpa nama pengirimnya?" tanya Patria langsung kepada reception. "Saya masih ingat pak wajah nya." jawabannya.


"Baik .Pak tolong periksa cctv.di ingat baik-baik wajahnya. Dan jika orang itu datang lagi segera hubungi saya." Patria memberikan perintah.

__ADS_1


"Baik pak." kepala security mengiyakan.


"Satu lagi,jangan biarkan dia pergi sebelum bertemu dengan saya" ujar Patria lagi.


"Baik pak." jawab security itu lagi.


"Dan kamu " Patria mengarah kepada resepsionis. "Jika orang itu datang jangan lupa untuk segera menghubungi security."


"Baik pak saya akan melaksanakannya."


  Setelah menerima perintah dari Patria mereka pun langsung menujuh tempat kerja masing-masing. Dan Patria kembali ke meja kerjanya.sambil memegang foto Agreta Patria berucap dengan nada penuh kegeraman.


"Jika benar bahwa Agreta adalah korban dari fitnah dari seseorang, saya pastikan akan menemukan orang nya!,saya berjanji akan membuat dia akan membayar mahal, dia akan ku buat menyesal pernah bertemu dengan ku." Janji Patria.


  Di tempat lain Anggie yang sedang melaksanakan photo shoot tiba-tiba tubuhnya merinding.ada rasa takut menyelinap ke dalam hatinya.


Ada perasaan gusar yang tidak ia mengerti.


"Ada apa ini?" Anggie bertanya dalam hatinya. "Anggie. ada apa?" tanya fotografer pada Anggie karena melihat raut wajah Anggie yang tiba-tiba berubah.


"Ah..." Anggie sedikit kaget. "Maaf,mungkin aku kelelahan." ujarnya. "Boleh istirahat sebentar." Anggie meminta ijin untuk rileks sebentar supaya bisa konsentrasi kembali.


Anggie langsung menuju keluar ruangan mencari udara segar.Anggie mencoba menenangkan hatinya yang tiba-tiba gusar.hati Anggie merasa tidak tenang ia merasa ada sesuatu yang sedang mengancamnya tapi ia tidak tahu itu apa.


  Hari ini Patria memutuskan untuk makan siang di kantornya saja untuk itu Patria meminta sekretaris nya Jeje untuk memesankan makanan untuknya.


Patria ingin segera menyelesaikan dokumen - dokumen yang bertumpu di meja kerjanya sebelum rapat nanti.


   Setelah makan siang Patria menghadiri rapat direksi untuk proyek baru.dan rapat itu berjalan dengan mulus tidak ada kendala.jadi rapat bisa selesai lebih cepat dari perkiraan Patria sebelumnya.


  Setelah rapat selesai Patria kembali keruang kantornya, karena kerjaannya sudah selesai Patria duduk termenung dalam ruangannya.Patria memandangi bingkai foto kecil yang terdapat foto dian dan istrinya.ada rasa rindu dalam hatinya.rindu yang di perendamnya selama seminggu ini. Biasanya Patria akan sedikit terhibur jika ada pesan Agreta yang masuk meski  itu hanya untuk menanyakan kabarnya atau hanya sekedar mengingatkan Patria agar tidak lupa untuk makan.


  Tapi ini sudah seminggu bahkan lebih Patria tidak mendapatkan telpon ataupun pesan dari Agreta.


Rasa gusar itu datang lagi menyelimuti hati Patria. Ada keinginan dalam hatinya untuk menghubungi Anggie istrinya tapi takut jika Agreta menolak panggilan teleponnya.

__ADS_1


  Sungguh sebuah dilema buat Patria.di satu sisi ada rindu yang terus memanggilnya untuk pulang.tapi di sisi lain ada rasa  takut apa yang pikiran oleh Patria benar adanya.Patria sesungguhnya lebih takut menerima kenyataan jika istrinya Agreta lebih memilih meninggalkannya.


  Saat ini semua pekerjaan Patria sudah selesai.dia tidak tahu harus berbuat apa.saat itu jam baru saja menunjukkan pukul tiga sore.belum waktu jam pulang kantor.tapi Patria merasa bosan jika terus berdiam diri di dalam ruangan kantornya.


  Jika sudah bosan begini akhirnya Patria memutuskan untuk menghubungi Anggie.


"Halo Anggie.,apa kamu masih sibuk?" Patria menghubungi Anggie lewat telepon genggamnya. "Aku baru saja selesai pemotretan." Anggie. "Bisa temenin aku, aku lagi bosan." ujar Patria.


"Ok,jemput aku boleh, mobilku di pake temen ku." balas Anggie.ini adalah trik Anggie untuk pamer ke Furre dan Yuke bahwa ia sudah berhasil menguasai Patria. "Ok ,Sherlock ya." Patria bersedia menjemput Anggie.


  Jelas ini yang diinginkan oleh Anggie, ia bersorak kegirangan.hatinya yang tadinya gusar kini berganti rasa kepuasan. Anggie saat ini ingin melaksanakan apa yang sudah di rencanakan jauh-jauh hari yaitu menjebak Patria dengan menggunakan obat.


   Di dalam mobilnya setelah menjembatani Anggie Patria lebih banyak diam tidak seperti biasanya. Di dalam mobil suasana sunyi sepi Dan Anggie merasakannya.


"Pat kamu kenapa ,kok dari tadi kamu diam saja?" Akhirnya Anggie memberanikan diri untuk bertanya.


"Ah...aku baik-baik saja " Patria


"Kamu lagi ada masalah di kantor?" Anggie bertanya lagi karena merasa tidak puas dengan jawaban dari Patria


"Mungkin aku kecapean lagi." Ujar Patria. "Semalam saya kurang tidur." Patria . "Oh kalo gitu kita pulang ke apartemen aku aja,nanti kamu'bisa istirahat dulu di sana." tawar Anggie.khawatir dengan kondisi Patria


"Ok.


Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya Patria.


  Mobil Patria pun langsung di arahkan menuju ke apartemen Anggie.


Setelah sampai di apartemen  mereka berdua langsung menuju ke unit apartemen miliknya Anggie.


  Jauh di dalam hatinya Anggie sudah menyusun rencana licik untuk menjerat Patria supaya menginap di Apartemen miliknya.


    Setelah masuk kedalam Anggie langsung mempersilahkan Patria untuk duduk di sofa yang terletak di ruang tamu.sedangkan Anggie segera menuju kamar untuk bersih-bersih.


  Sepeninggal Anggie Patria mengambil posisi nyaman menurutnya untuk merebah tubuh sejenak.

__ADS_1


  Di dalam kamar mandinya Anggie merendamkan diri kedalam bathtub dengan air hangat untuk merilekskan tubuhnya yang juga merasa lelah setelah pemotretan tadi.


 Bersambung


__ADS_2