
"Saya bukan hanya mengenalnya, tapi saya sangat mengenalnya pak Patria," jawab Gafin memastikan. "Jika Anda benar-benar mengenal Anggie tolong katakan pada saya siapa wanita ini?" tanya Patria penasaran. "Anggie adalah mantan istri saya!." jawab Gafin dengan nada tegas. Patria pun terkejut mendengar jawaban Gafin.
"Ha...!"
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Patria sangking kagetnya. "Ya Pak Patria, wanita itu adalah mantan istri saya." Sekali lagi Gafin menegaskan siapa Anggie.
Patria masih terdiam shock mendengar pengakuan Gafin. "Pak Patria, maaf jika saya ikut campur dengan urusan pribadi Anda,.saya mengingatkan anda karena saya mengenal istri anda yaitu ibu Agreta." Kembali Gafin menjelaskan isi hatinya yang pernah memperingatkan Patria soal Anggie. "Pak Patria apa yang saya lakukan saat itu karena saya tidak ingin anda menyesal nantinya." Gafin mengatakan maksud hatinya.
"Anda sedang tidak bercanda kan?" Sekali lagi Patria bertanya untuk memastikan bahwa Gafin tidak berbohong. "Pak Patria jika anda berfikir bahwa saya berbohong, saya akan tunjukkan bukti bahwa apa yang katakan itu benar adanya. Jika anda ingin melihat bukti itu saya undang pak Patria untuk datang ke kantor saya, karena semua bukti tentang perkataan saya semua saya simpan di kantor saya," Gafin mencoba meyakinkan Patria. "Apa anda tidak keberatan jika saya mendatangi kantor pak Gafin?" tanya Patria ragu.
"Saya justru merasa terhormat jika pak Patria Sudi mampir ke tempat saya," jawab Gafin sambil tersenyum.
"Baiklah.." jawab Patria langsung menerima tawaran tersebut.
Patria pun langsung menghubungi Jeje sekretarisnya untuk menanyakan jadwal Patria hari ini. Kebetulan hari ini Patria tidak ada meeting. Jadi Patria bisa meninggalkan kantornya. Patria dan Gafin pun segera pergi ke tempat yang mereka sepakat sebelumnya. Yaitu mendatangi kantor milik Gafin.
Tak butuh waktu lama Patria dan Gafin tiba di gedung tempat Gafin mendirikan perusahaannya. Kedatangan Patria dan Gafin secara bersamaan mengundang perhatian para karyawan. Para karyawan yang kebetulan berada di lobby kantor tersebut langsung menghentikan aktivitas mereka hanya untuk melihat ke arah Patria dan Gafin. Terutama mata kaum hawa seolah-olah terhipnotis oleh kedatangan mereka berdua.
Sedangkan Patria memandang karyawan di perusahaan Gafin mengerutkan alisnya. Terutama karyawan wanitanya, penampilan mereka sungguh mengganggu penglihatan Patria.
__ADS_1
Perubahan raut wajah Patria terlihat jelas oleh Gafin. Mata Gafin pun ikut melihat kearah pandangan Patria. Dan Gafin langsung mengerti mengapa wajah Patria terlihat tidak nyaman.
"Maaf pak Patria, kantor saya tidak semegah perusahaan anda," ucap Gafin. "Bukan masalah mega atau tidaknya, tapi apakah semua karyawan wanita anda semuanya berpenampilan seperti itu?" tanya Patria langsung pada intinya. Pertanyaan Patria ini membuat Gafin pun merasa tidak enak hati.
Memang benar penampilan karyawan Patria terlihat sangat berbeda, terutama untuk karyawan wanitanya. Di perusahaan ECO Company jangan pernah berharap bisa melihat karyawan wanitanya memakai pakaian seksi atau minim. Sedangkan di perusahaan Prima Jaya hampir rata-rata karyawan wanitanya yang di lihat Patria mengenakkan pakaian kekurangan bahan.
Sebenarnya di perusahaan ECO Company tidak ada aturan tentang seragam atau baju yang di kenakan karyawan wanitanya. Tapi aturan ini tercipta dengan sendirinya. Karena dulu pernah ada suatu kejadian yang membuat karyawan wanitanya tidak berani lagi menggunakan pakaian minimalis.
Dulu ada sebuah kejadian dimana Patria pernah murka ketika melihat salah satu karyawan wanitanya menggunakan pakaian yang sangat kekurangan bahan. Tanpa perasaan Patria langsung membentak karyawan tersebut di depan banyak orang. Dengan kalimat pedas Patria memarahi karyawan tersebut.
"Kamu pikir kantor ku ini tempat untuk jual diri, ha? Jika kamu ingin bekerja di perusahaan ini bekerjalah secara profesional. Bukan mengandalkan bentuk tubuh mu. Satu lagi jika kamu tidak bisa menerima ucapan saya silahkan mengundurkan diri dari perusahaan saya." Inilah kalimat pedas yang di ucapkan Patria. Dan sejak saat itu tak ada satupun karyawan wanitanya berani berpenampilan seksi lagi di kantornya.
Ting....
Bunyi lift tanda lantai yang di tujuh telah sampai. Pintu lift pun terbuka. Kedatangan Patria dan Gafin pun di sambut oleh sekretarisnya Gafin. Lagi-lagi Patria merasa terganggu dengan penampilan sekretarisnya Gafin. Gafin yang menyadari hal itu langsung memberikan kode kepada sekretarisnya untuk segera menyingkir dari hadapan mereka. Sekretaris Gafin merasa binggung kenapa dirinya di suruh menyingkir oleh bosnya.
Setelah tiba di pintu masuk ruangan Gafin, Gafin pun segera mempersilakan Patria untuk masuk.
"Silahkan duduk pak Patria,maaf ruang saya tidak senyaman ruangan kantor anda," ucap Gafin merenda.
__ADS_1
"Ini bukan masalah buat saya," jawab Patria. "Baik pak Patria, sebelum lanjut ke inti permasalahan apa Patria ingin minum sesuatu?" tawar Gafin kepada Patria sebagai bentuk pelayanan tuan rumah yang baik. "Terimakasih, kalau boleh saya minta air putih saja," ucap Patria.
Gafin pun langsung meminta sekretarisnya untuk menyiapkan minuman tersebut. Setelah air minum di antara kan oleh sekretarisnya,Gafin langsung mengeluarkan satu kotak berukuran sedang dari salah satu laci meja kerjanya.
"Pak Patria, anda pasti sudah tidak sabar untuk melihat bukti yang saya miliki." Gafin berucap dengan sedikit tersenyum. Patria pun membalas ucapan Gafin dengan senyuman.
Gafin segera mengeluarkan bukti pernikahan antara dirinya dengan Anggie. Bukan hanya berbentuk foto pernikahan tapi juga surat cerai antara Gafin dan Anggie. "Pak Patria silahkan anda lihat dan amati baik-baik foto-foto ini," ucap Gafin. Patria pun langsung mengarahkan matanya pada lembaran-lembaran foto yang di suguhkan padanya. Patra tercengang dengan apa yang di lihatnya saat ini. Jika tidak melihat bukti ini Patria bisa saja tidak percaya, tapi kenyataan yang di lihatnya berbanding terbalik dengan pengakuan Anggie pada Patria.
Mata Patria terhenti pada sebuah bingkai foto kecil yang ada sebuah gambar gadis kecil yang sedang di pelukan oleh seorang wanita.
"Dia adalah putri kecil ku," tutur Gafin setelah melihat arah mata Patria.
Wajah Patria berubah sendu setelah mendengar pengakuan Gafin. Ada rasa bersalah dan menyesal kembali menyapa Patria. Senyum kecut terbingkai di bibir Patria.
"Putriku adalah hasil pernikahan ku dengan Anggie." Kembali Gafin mengungkapkan kebenaran. Dan Patria kembali terdiam. Patria menatap penuh tanya kenapa Gafin seolah meminta penjelasan lebih lagi.
"Baik pak Patria, saya akan menceritakan secara detail bagaimana saya berkenalan sampai saya menikah dengan Anggie dan bagaimana kami bercerai," ungkap Gafin lagi. Patria pun langsung merubah posisi duduknya, mencari posisi nyaman untuk mendengar pengakuan dari Gafin.
Bersambung
__ADS_1