AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 77 RINDU YANG TEROBATI


__ADS_3

Tanpa ragu Patria menerima piring pemberian pak Mun, tanpa malu juga Patria segera menyendok nasih dari dalam rantang dan memindahkan isinya ke dalam piring miliknya. Pak Mun sama sekali tidak keberatan dengan tingkah Patria justru pak Mun merasa senang, karena itu artinya Patria sudah tidak merasa sungkan lagi kepadanya.


     Hari itu Patria dan pak Mun menikmati makan siang mereka dengan suasana hati yang bahagia. Patria kembali memakan masakan bu Mun dengan lahapnya. Menu makanan siang yang sederhana namun mampu membuat Patria makan banyak.


    Setelah selesai menikmati makan siang pak Mun dan Patria merapikan rantangan bekas mereka pakai. 


Patria terdiam arah mata Patria terus memandangi sawah. Pak Mun diam-diam memperhatikan setiap gerak-gerik Patria. Pak Mun merasa saat ini Patria sedang gelisah.


"Aden baik-baik saja?" Tiba-tiba pak Mun bertanya.


"Iya aku baik pak Mun." Jawab Patria tapi arah pandangan mata Patrai masih menatap lurus ke arah sawah.


"Kalau istrinya aden apa kabarnya, masalah aden sudah selesaikan?" Pak Mun kembali bertanya kepada Patria.


"Istri ku baik pak Mun, masalah diantara kami sudah selesai dan semuanya baik-baik saja sekarang," balas Patria lagi.


"Terus apa yang membuat Aden gelisah?" tanya pak Mun. Bak seorang cenayang pak Mun bisa membaca pikiran Patria.


"Maafkan saya pak Mun," ucap Patria.


Pak Mun langsung mengerutkan alisnya dan menatap Patria dengan tatapan binggung.


"Ada apa Den, kenapa aden minta maaf?" tanya pak Mun lagi.


"Pak maafkan saya jika apa yang akan saya lakukan saat ini mungkin akan membuat hati pak Mun merasa sedih," tutur Patria lagi.


Dan pak Mun semakin merasa binggung dengan apa yang di ucapkan oleh Patria.


"Ada apa sebenarnya den,? Jangan buat saya merasa takut dan cemas. Katakan saja apa yang ingin kamu lakukan," kata pak Mun.


"Pak Mun,.."  Patria diam sesaat dan menghirup nafas panjang sebelum melanjutkan Kalimat.


"Apakah pak Mun masih berharap bisa bertemu dengan putrinya pak Mun?" tanya Patria ragu-ragu. 

__ADS_1


"Setiap saat Den, saya dan istri saya selalu merindukan putri kami,di setiap doa kami,kami selalu menyebutkan nama putri kami Annya," ucap pak Mun, ada rasa rindu amat terasah dari setiap kata yang di ucapkan oleh pak Mun, dan ada rasa getir yang dirasakan oleh pak Mun dalam setiap kata yang diucapkannya.


"Tapi kenapa Aden menanyakan tentang putri saya?" tanya pak Mun merasa penasaran.


"Pak Mun maafkan saya jika saya salah, tapi aku lakukan ini karena.."  Patria menggantung kalimatnya.


"Apa pun itu saya akan menerimanya dengan ikhlas. Tapi katakan ada sebenarnya!" Pak Mun meminta penjelasan tentang apa maksud dari perkataan Patria.


    Untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang maksud dari perkataan Patria, Patria mengeluarkan handphone miliknya dari dalam saku celananya. Patria segera memencet sebuah tombol untuk menunjukkan beberapa foto yang ada dalam handphone tersebut. 


    Patria segerah menunjukkan betapa foto yang di milikinya kepada pak Mun. Dan pak Mun terkejut dengan apa yang saja di lihatnya.


"Annya putri ku," ucap pak Mun sambil terus memandangi foto yang ada dalam handphone miliknya Patria.


"Bapak kenal dengan anak ini?" tanya Patria penasaran.


"Ini Annya putri kecil ku," ucap pak Mun dengan penuh percaya diri.


"Saya sakin, ini putri kecil ku. Tapi dari mana aden bisa menemukan foto-foto ini,? Karena setahu saya kami tidak pernah mengambil foto Annya di tempat seperti ini," tutur pak Mun.


"Aku mendapatkannya dari seseorang." jawab Patria. Patria masih merahasiakan kalau foto itu adalah milik istrinya Agreta.


"Pak Mun jika ini benar putri bapak, apakah bapak mau bertemu dengannya?" tanya Patria ragu-ragu.


"Saya mau den, saya sama istri saya sudah pasti ingin bertemu dengannya," jawab pak Mun antusias.


"Tapi pak maaf sebelumnya, untuk memastikan bahwa ini benar-benar putri pak Mun apakah bapak mau melakukan tes DNA? Ini hanya untuk membuktikan bahwa perkiraan kita tidak salah." Patria mengajukan saran kepada pak Mun, dengan tujuan agar supaya pak Mun dan Patria memiliki bukti bahwa gadis kecil yang ada dalam foto tersebut benar-benar adalah anak dari pak Mun dan istrinya.


"Iya Den saya siap untuk melakukan tes DNA itu," ucap pak Mun dengan semangat.


"Tapi jika hasilnya tidak sesuai dengan perkiraan kita bagaimana pak Mun?" kata Patria. Patria tidak ingin memberikan harapan yang terlalu tinggi kepada pak Mun karena takut akan hasil akhirnya. Patria takut jika hasil tes DNA ternyata membuktikan sebaliknya yang akan membuat pak Mun kecewa. 


"Apa pun hasilnya nanti, saya siap den. Setidaknya kita sudah berusaha melakukan yang terbaik. Jika hasilnya nanti membuktikan bahwa itu bukan putri saya, saya tidak apa-apa," jawab pak Mun. Pak Mun berusaha tersenyum setelah mengucapkan kalimat tersebut.  Ada rasa getir di rasakan oleh Patria setelah mendengar ucapan pak Mun.

__ADS_1


"Pak Mun, bagaimana kalau hal ini kita rahasiakan dulu dari istri pak Mun? Takut nanti ibu kepikiran dan berharap lebih." Sekali lagi Patria memberikan saran kepada pak Mun.


"Itu ide yang baik, kapan tes DNA itu di lakukan?" tanya pak Mun kembali antusias.


"Nanti setelah saya balik ke Jakarta, tapi nanti saya minta beberapa helai rambut milik pak Mun sama istrinya," ucap Patria.


"Soal itu tidak masalah, pasti akan saya berikan," jawab pak Mun dengan nada suara penuh keyakinan.


"Kita sudah sepakat ya pak, tapi sampai kapan kita akan duduk di sini?" ucap Patria. 


"Aden nginap kan?" tanya pak Mun. Ada harapan dalam hatinya pak Mun Patria mau kembali bermalam di rumahnya.


"Boleh saya nginap lagi pak?" Patria justru balik bertanya kepada pak Mun.


"Boleh den, sangat boleh," jawab pak Mun sambil tersenyum bahagia.


"Kalau sekarang kita pulang ke rumah boleh? Saya takut di bawah kabur sama nyamuk yang ada di sini," ujar Patria sambil terkekeh.


"Ayo den kita pulang. Istri saya pasti sangat senang melihat kedatangan aden," balas pak Mun sambil bersiap-siap untuk pulang ke rumah.


Saat itu hari memang mulai sore, matahari kini sudah mulai condong ke arah barat. Patria dan pak Mun pun pulang ke rumah pak Mun dengan mobil Patria. 


Setelah tiba di halaman rumah pak Mun,Patria memarkirkan mobilnya. Sementara itu pak Mun dengan wajah sumringah segera masuk ke dalam rumah.


"Bu...bu...ibu..!" Panggil pak Mun.


"Iya pak, ibu di dapur," jawab bu Mun.


"Ini loh bu kita ada kedatangan tamu!" Seru pak Mun sambil menuju ke arah dapur.


"Siapa pak?" tanya bu Mun penasaran. Bu Mun belum melihat kedatangan Patria. "Ayo liat dulu siapa yang datang, ibu pasti kaget," ujar pak Mun. Bu Mun pun mengikuti saran dari suaminya. Dengan perasaan penasaran bu Mun segera menuju ke ruang depan, ruang tamu lebih tepatnya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2