
Setibanya di restoran yang tujuh Patria dan Gafin segera mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka berdua tempati. Mereka sengaja memilih tempat duduk yang berada di pojokan karena bukan hanya untuk menikmati makan siang semata tapi juga untuk melanjutkan obrolan mereka yang tertunda.
Patria dan Gafin lebih memilih duduk di salah satu sudut restoran tersebut. Pelayan restoran segera datang ke tempat Patria dan Gafin tempati memberikan daftar menu restoran tersebut.
Untuk sesaat Patria mau pun Gafin memfokuskan diri pada lembaran kertas yang bergambarkan menu makanan yang tersedia di restoran tersebut.
Setelah memilih dan memesan makanan dan minuman mereka pilih kembali melanjutkan obrolan mereka tentang Anggie.
"Patria apakah kamu baik-baik saja?" tanya Gafin spontan. Gafin melihat sikap Patria yang terlihat sedikit berubah.
"Aku baik," jawab Patria sambil tersenyum tipis.
Gafin pun langsung diam, tak ingin melanjutkan pertanyaannya. Tak berapa lama kemudian makanan yang mereka pesan pun tiba Pelayan restoran menata makanan di atas meja. Patria dan Gafin menikmati makan siang mereka dalam diam.
Tapi sejujurnya jauh di dalam pikirannya Patria sedang bekerja keras mencoba mencari cara untuk membalas perbuatan Anggie tanpa harus melibatkan dirinya, apa lagi sampai melukai hati Agreta istrinya.
Dan di dalam hatinya Patria ada rasa yang kembali memanggilnya. Yaitu rasa bersalah yang semakin kuat dan semakin menghukumnya.
Patria Kembali teringat bagaimana wajah istrinya ketika tiba di rumah saat kembali dari rumah sakit. Ada lukisan luka yang tergambar di sinar mata Agreta, bukan hanya itu dalam tidur istrinya Patria sempat mendengarkan tangis Agreta ketika mengigau. Suara tangis yang sangat lirih dan suara itu terus saja terngiang di telinga Patria.
Patria tahu meskipun istrinya sudah memaafkan kesalahannya tapi Patria tahu dan sadar, luka yang telah di torehkan di hati Agreta belumlah sembuh. Ada luka yang tak berdarah dan tak terlihat yang masih menganga di hati Agreta.
Acara makan siang Patrai dan Gafin pun selesai. "Terimakasih Gafin untuk makan siangnya," ucap Patria.
"Sama-sama Patria," jawab Gafin.
"Baiklah, rasanya saya harus kembali ke kantor." Ucap Patria, sekaligus ingin pamit Kembali kekantor.
"Patria jagalah istrinya dengan baik." tutur Gafin kembali mengingatkan Patria. "Saya pasti menjaga istri saya Gafin." Balas Patria."Maksud saya, bukan hanya menjaga hati istri anda tapi juga kamu Patria harus bisa menjaga keselamatan istri anda," ucap Gafin sambil menatap wajah Patria dengan tatapan serius.
"Maksudnya?" tanya Patria.
__ADS_1
"Saya takut wanita itu akan mencelakai istri mu Patria," ucap Gafin dengan nada serius. "Senekat itukah wanita itu?" Patria bertanya. "Ya, saya yakin bahwa Anggie tidak akan tinggal diam. Dia tidak akan pernah merasa puas jika keinginannya tidak terpenuhi," timpal Gafin lagi. "Terimakasih sudah mengingatkan saya. Saya akan mengingatnya," balas Patria tegas .
Setelah selesai berbicara baik Patria mampu Gafin kembali ke kantor mereka masing-masing Setelah tiba di kantor Patria kembar fokus pada pekerjaannya. Patria kembali melanjutkan pekerjaannya. Setelah selesai memeriksa dan menandatangani beberapa dokumen, Patria melirik jam tangannya. Jam menunjukkan pukul dua lewat lima menit. Patria berpikir terlalu cepat untuk pulang ke rumah.
Saat ini Patria masih belum siap untuk pulang ke rumah, hatinya belum benar-benar tenang. Patria teringat akan Dean suami dari Siska. Patria ingat bahwa Anggie merupakan salah satu model yang bernaung dibawah rumah mode milik Dean. Patria pun langsung menghubungi Dean melalui handphone pribadi miliknya.
Tut...tut..
Bunyi nada tersambung ke nomor yang di tuju.
Dean melihat layar handphonenya sebelum menerima panggilan tersebut. Dengan alis yang mengkerut Dean bertanya dalam hatinya.."Patria? tumben dia menghubungi saya." Dean pun menjawab panggilan telepon tersebut.
"Halo Patria.." Sapa Dean dari balik telpon miliknya.
Halo Dean, maaf saya mengganggu. Apakah kamu sedang sibuk?" tanya Patria.
"Kebetulan hari ini saya baru saja keluar dari kantor mau balik ke rumah. Ada apa Patria?" tanya Dean.
"Bisa, sekarang kamu ada di mana?, Biar saya yang samperi," tutur Dean menerima permintaan Patria.
"Baiklah aku ke kantor kamu sekarang." balas Dean. Dan pembicaraan telepon telpon itu berakhir.
Sambil menunggu kedatangan Dean di kantornya, Patria tak lupa memberitahukan kepada Jeje sekretarisnya bahwa saat ini dia sedang menunggu kedatangan Dean. Ini di lakukan Patria agar setelah Dean sampai di kantornya Dean bisa langsung menuju ruang kerjanya.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Dean pun tiba. Dean langsung di arahkan menuju keruang kerja Patria.
Tok.. tok..tok .
Pintu masuk ruangan Patria di ketuk dari luar.
"Masuk..!" Perintah Patria.
__ADS_1
Jeje sekretaris Patria masuk bersama dengan Dean. "Dean silahkan masuk, dan Jeje tolong buatkan minuman untuk kami," sekali lagi Patria memberikan perintah kepada Jeje.
"Baik pak." Jeje.
Setelah itu Jeje segera meninggalkan ruang kerja bosnya langsung menuju ke pantry untuk membuatkan minuman untuk bosnya dan tamu yang baru saja tiba.
Sementara itu di ruangan Patria. Patria langsung meminta Dean untuk duduk di sofa yang terletak di ruangan Patria.
"Silahkan duduk, terimakasih sudah mampir ke kantor saya." Ucap Patria.
" Sama-sama Patria, oh iya ada apa kamu menghubungi ku," tanya Dean langsung pada intinya setelah mendaratkan pantatnya di atas sofa yang empuk. Pasalnya Dean merasa pasti ada sesuatu yang mendesak sehingga Patria memintanya untuk bertemu. Dan Dean bukanlah tipe orang yang suka berbasa-basi, untuk itu dia langsung bertanya pada intinya.
"Baik saya langsung pada intinya saja," Balas Patria.
"Apakah Anggie masih menjadi salah satu model yang bernaung di bawah kantor milik mu?" Tanya Patria.
"Ya, sampai saat ini masih. Tapi mulai bulan depan hubungan kontrak kerja sama dengan Anggie akan berakhir. Ada apa Patria?" Jawab Dean di iringi tanya.
"Apakah kontrak itu akan di perpanjang?" Patria Kembali bertanya tanpa menjawab pertanyaan Dean.
"Tidak, kontrak itu tidak akan di perpanjang. Ada apa Patria, kenapa kamu menanyakan tentang ini?" Dean kembali bertanya. Dean merasa penasaran dengan sikap Patria.
"Baguslah, Dean kamu tahu apa yang sudah terjadi padaku dan Geta. Semua itu karena ulah dari Anggie!," balas Patria dengan nada bicara menahan kegeraman.
"Kamu yakin Patria kalau kejadian itu karena ulah dari Anggie ?" tanya Dean tak percaya. Dean terkejut dengan apa yang baru saja di katakan oleh Patria.
"Saya yakin. Saya baru saja bertemu dengan orang yang memiliki hubungan masa lalu dengan Anggie ," Patria menjawab pertanyaan Dean dengan nada yakin.
"Oh ya,? Tapi bagaimana bisa kamu bertemu dengan orang itu,siapa dia dan apa hubungannya dengan Anggie?" Pertanyaan berondong di ucapkan Dean saking terkejut dan penasaran.
Dan Patria pun menceritakan bagaimana Patria bertemu dengan orang itu, siapa sebenarnya Anggie dan apa hubungannya dengan orang yang baru saja di temui oleh Patria.
__ADS_1
Bersambung