
Patria berlutut di samping tempat tidur Agreta.sambil memegang tangan istrinya patria memohon. "Geta,..saya mohon maafkan aku,aku janji tidak akan mengulanginya lagi!" "Patria bangun ," ucap Agreta. "Tidak,aku tidak akan bangun sebelum kamu memaafkan ku." balas Patria.
Sementara itu Siska, Freya, Dion dan Gio menatap binggung kearah Patria .Dan Agreta menjadi salah tingkah karena ulah suaminya. "Pat bangun jangan kaya gini," Agreta meminta. "Aku sudah bilang,aku tidak akan bangun sebelum kamu memaafkan aku Geta."
Patria tetap Keukeh dengan sikapnya.Patria bertekad tidak akan berdiri sebelum istrinya menerima permohonan maafnya.
"Patria bangun, malu tahu di liatin!" ucap Agreta berusaha membujuk Patria agar segera berdiri. "Aku tidak peduli dengan anggapan mereka, yang aku mau saat ini kamu mau memaafkan ku," pinta Patria memelas.
Siska, Freya Dion dan Gio, Gilang menyaksikan drama yang sedang terjadi dalam kebingungan. "Sebenarnya ada apa Patria, kenapa kamu bersikap seperti ini?" tanya Agreta yang merasa binggung dengan sikap Patria saat ini.
"Aku tidak ingin bercerai dengan mu Geta,aku sangat mencintaimu,sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau berpisah dari mu," ucap Patria, mengungkap kan perasaannya.
"Astaga Patria!" Agreta langsung memijat pelipisnya. Pusing. Kini Agreta memahami akan alasan Patria berlutut bukan hanya di hadapannya tapi juga ada para sahabat-sahabatnya.malu.
Patria yang melihat Agreta memijat pelipisnya langsung bereaksi.
"Apa yang sakit, kepalanya sakit aku pijitin ya," tawar Patria. "Aku panggilkan dokter ya." kata Patria panik.
"Pat ... Patria stop!!" Dengan suara meninggi Agreta meminta pada Patria.
Patria yang mendengar suara Agreta yang meninggi langsung terdiam.Wajahnya berubah warna. Pucat. Entah apa yang kini di rasakan oleh Patria. selama ini Patria belum pernah sekalipun dia mendengar ucapan Agreta bernada tinggi seperti tadi.
"Dasar bucin akut, benar-benar nggak ada obatnya," ucap Siska spontan.
Dan ucapan Siska ini sontak saja membuat pandangan mata Freya, Gilang Dion dan Gio langsung terarah padanya sambil melotot. Siska yang mendapatkan tatapan mata para sahabatnya langsung menundukkan kepalanya sambil menggembungkan kedua pipinya.
Agreta melihat suaminya terdiam membuat hatinya tak tega. Agreta menarik nafas panjang. "Patria siapa yang akan bercerai dari mu?" tanya Agreta sambil menatap Patria dengan wajah binggung.
Patria yang mendengar ucapan istrinya balik menatap binggung, dengan ragu-ragu Patria berucap
"Itu, pengacara!" "Pengacara?" Agreta balik bertanya karena belum mengerti maksud Patria. "Itu ..pengacara itu!" Patria langsung menunjuk orang yang di maksud. "Ya ampun maksud kamu Dion?" ucap Agreta seolah tak percaya. Patria hanya membalas pertanyaan Agreta dengan anggukan kepala.sontak saja jawaban Patria membuat seisi ruangan tertawa.
__ADS_1
Sedangkan Patria yang belum mengerti keadaan yang sebenarnya semakin binggung. "Patria...maaf aku,aku lupa mengatakan padamu bahwa Dion itu termasuk salah satu sahabat ku sewaktu sma dulu," ujar Agreta menjelaskan. "Maksudnya?" Patria kembali bertanya otaknya belum bekerja dengan baik. "Dion itu sahabat ku, sahabat nya Siska,juga sahabat nya Freya dan Gilang .kita ini satu kelompok." Kembali Agreta menjelaskan siapa Dion sebenarnya.
"Jadi Dion itu datang kesini bukan untuk mengurus perceraian kita?" Sekali lagi Patria bertanya untuk memastikan penjelasan yang barusan didengarnya tadi. "Bukan Patria," balas Agreta gemas. "Terimakasih sayang." Patria langsung memeluk istrinya.
Cup ...cup ...cup ..cup
Bunyi kecupan Patria menghujani wajah Agreta. "Patria sudah,malu di liatin." Wajah Agreta berubah menjadi merah karena malu. "Aku tidak peduli,aku kan mencium istri ku bukan istri orang!" Patria menjawab ucapan Agreta tanpa ada rasa malu.
Drama yang barusan terjadi antara patria dan Agreta membuat para sahabatnya tersenyum simpul.
Dan mata Patria langsung tertuju pada satu sosok yang menjadi rivalnya. Siapa lagi kalo bukan Siska. Patria mengerti arti dari senyuman Siska, tak lain dan tak bukan adalah mentertawakan dirinya.
Siska yang melihat tatapan patria segera menjulurkan lidahnya.
"Weeee....." Patria yang melihatnya langsung mengumpat dalam hati.
"Awas kau," ucap Patria sambil salah satu sudut bibirnya mencibir.
Patria dan Siska terdiam kaku tapi tidak dengan matanya.keduanya saling padang dengan mata melotot bulat sempurna. "Ya Tuhan kapan kedua orang ini bisa akur?" ucap Agreta dalam hatinya. Sedangkan di hati Patria ada kelegaan yang luar biasa.Ketakutannya selama ini tidak terjadi.
Setelah drama itu selesai masih ada hal lain yang mengganjal di hati Patria. Meskipun dia sudah tahu jika kedatangan Dion bukan untuk mengurus perceraian.tapi Patria sempat mendengar percakapan mereka dan itu membuat patria tidak tenang dan penasaran.
Dengan ragu-ragu Patria memberanikan diri untuk bertanya.dia ingin mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya. "Geta sayang, tadi kalian sedang membicarakan masalah apa? karena tadi aku sempat mendengar percakapan kalian sedang membahas dokumen,bukti?"
"Oh itu,kita sedang membahas tentang panti asuhan yang dulu aku tempati saat aku kecil dulu," jelas Agreta.
"Memang ada apa dengan panti asuhan itu," balas Patria. "Panti asuhan itu mau di gusur oleh seseorang yang mengaku sebagai pemiliknya," ucap Agreta.
"Sudah ada solusinya?" tanya Patria lagi. "Rencana mau di bawa ke jalur hukum," jawab Dion memotong pembicaraan antara Agreta dan Patria.
"Jikalau panti itu saya beli, apakah akan tetap di bawah ke jalur hukum,?" tanya Patria. "Kalau orang itu bersedia menerima uang pembelian panti, itu tentunya ada kemungkinan kasus tidak akan berlanjut di jalur hukum," jelas Dion lagi. "Bisakah kamu mengurusnya?" tanya Patria pada Dion. "Saya akan coba bernegosiasi dengan orang itu." Dion. "Segera beri tahu saya berapa yang dia minta,saya akan membayarnya. Tapi dengan perjanjian orang itu tidak akan pernah lagi mengungkit soal panti itu lagi." Patria memberikan syarat mutlak.
__ADS_1
"Baiklah segera saya urus.deal.masalah panti selesai." Dion.
Mata Patria kini terarah ke Gio. Tatapan membunuh. "Terus,..kamu ngapain ada di sini?" Pertanyaan Patria di tujukan langsung ke arah Gio dengan wajah sinis.
Gio mengerti tatapan Patria padanya, mengigat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Patria. Saat itu Gio sempat mengeluarkan kata-kata yang mengganggu hati Patria.
"Hei sabar, aku kesini buat ngasih undangan pernikahan ku buat Geta sama kamu," jawab Gio. "Maksudnya?!" Patria. "Minggu depan saya akan menikah." jelas Gio tak ingin Patria salah paham lagi ."Kata-kata mu waktu itu." Patria kembali bertanya. "Oh itu,aku hanya bercanda sekaligus ingin menguji mu seberapa besar cinta mu pada Geta," balas Gio sambil tersenyum. "Tapi sekarang sudah terjawab seberapa besar cinta yang kamu miliki untuk Agreta," sambung Gio lagi.
Setelah mendengar penjelasan Gio hatinya merasa lega.kekhawatirannya selama ini terbukti salah.
"Aku dan Geta memang pernah bertunangan,tapi karena kebodohan ku pertunangan itu akhirnya batal.Geta memilih berpisah dengan ku,dan kami berpisah secara baik-baik. kami memutuskan untuk menjadi sahabat," terang Gio .Gio tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi dengan Patria.
Patria mendengar pengakuan Gio langsung memandang Agreta.Tatapanya mencari kepastian. Agreta membalas tatapan Patria dengan senyuman dan anggukan kepala.dan Patria akhirnya bisa menerima pertemanan antara Gio dan Agreta. Alasan Patria menerima pertemanan Agreta dan Gio karena dia percaya bahwa Agreta tidak akan pernah menduakan hatinya.
Dan akhirnya kesalahpahaman itu pun berakhir.perasaan patria kini benar-benar merasa sangat tenang.dia tahu istrinya kini di kelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayanginya.tak ada keraguan sedikitpun yang tertinggal di hati Patria.
Satu hal yang Patria petik hari ini. Bahwa kita perlu memberikan waktu kepada seseorang untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi saat ini.Butuh keberanian lebih untuk menerima kenyataan. Satu lagi Patria semakin mengerti tentang maksud dari ucapan pak Mun waktu itu.
"Kita memiliki mata yang bisa melihat apa pun yang ingin kita lihat,tapi kita harus ingat bahwa apa yang di lihat dengan mata belum tentu itu sebuah kenyataan.dan kita memiliki telinga yang bisa mendengarkan apa pun yang kita inginkan tapi ingat juga apa yang kita dengar belum tentu itu adalah sebuah kebenaran.
Sekali lagi Patria mengucapkan terimakasih kasih dalam hatinya kepada pak Mun. Ada terbersit rindu Patria pada sosok laki-laki tua itu.
Patria berjanji dalam hatinya jika semua masalahnya telah terselesaikan secepatnya patria akan datang menemui mereka. Pak Mun dan istrinya. Sekalian memperkenalkan istrinya Agreta.
Pertemuan hari ini berakhir bahagia.patria bisa berbaur dengan sahabatnya Agreta.
Pembahasan berlanjut dengan Patria mendengarkan kisa bagaimana mana hubungan pertemanan antara Agreta Siska Freya Gilang dan Dion,Gio terjalin.
. Banyak kisah seru yang terjadi selama pertemanan mereka terjalin.sifat dari masing-masing orang ternya saling melengkapi pertemanan mereka. Mulai dari sifat Gilang yang dewasa, Freya yang menjadi penengah, Agreta dengan sifatnya yang lembut dan penuh kasih dan tentunya sebagai pelengkapnya adalah sikap. Siska yang tak bisa diam dan ajaib,sikap Siska yang lebih cenderung mengungkapkan perasaannya melalui tingkahnya..Dan sifat mereka semua nya menjadi suatu pengikat erat hubungan persahabatan mereka. Hubungan pertemanan mereka bukan hubungan pertemanan biasa, tapi lebih dari itu.mereka telah menjadi satu keluarga.meskipun tidak memiliki hubungan darah.
Pertemanan mereka tidak pernah memandang status yang mereka sandang.tidak pernah membedakan pertemanan mereka dari segi ekonomi.jika ada salah satu dari mereka yang kesulitan tanpa di minta mereka akan memberikan pertolongan. Saling bahu membahu memberikan bantuan termasuk masalah materi.
__ADS_1
Bersambung....