
Agreta menatap lembar kertas itu seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di bacanya.
Sementara itu di lantai bawah Patria menunggu Agreta, beberapa kali Patria menatap ke arah tangga berharap Agreta segera turun. Lima belas menit sudah Patria menunggu tapi Agreta belum juga turun ke bawah, Patria mulai merasa curiga.
Tanpa berpikir panjang lagi Patria segera menuju ke tempat ruang kerjanya. Setibanya di depan pintu masuk ruangan kerjanya Patria ragu-ragu untuk melangkah masuk. Patria takut dengan pemikirannya sendiri.
"Masuk... jangan.... masuk... jangan..." Patria sedang menimbang-nimbang apa yang akan di lakukannya saat ini.
Patria sempat menunggu beberapa saat di depan pintu, tapi Agreta belum juga keluar dari ruangan Patria. Akhirnya Patria memilih untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
Benar saja apa yang di khawatir oleh Patria terjadi. Patria melihat istrinya sedang berdiri mematung dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan. Patria bisa melihat di tangan Agreta sudah ada amplop putih dan isinya. Amplop putih yang baru saja di simpan oleh Patria.
"Sayang...Geta, ada apa,?" tanya Patria berpura-pura tidak mengerti.
"Apa ini,?" tanya Agreta dengan tatapan dingin ke arah Patria.
Deg...
Jantung Patria tersentak.
"Itu...itu...." Hanya kata-kata itu yang bisa terucap dari mulut Patria. Patria merasa gugup sekarang.
"Apa maksudnya ini Patria?" Agreta Kembali bertanya sambil mengangkat tangannya yang masih memegang amplop putih.
"Aku....aku minta maaf Geta, tapi aku tak bermaksud untuk merahasiakannya. Sungguh!" ucap Patria dengan wajah memelas.
"Kenapa kamu lakukan ini, kenapa kamu mencari mereka,?" tanya Agreta, ada kemarahan dan rasa kecewa yang keluar dari nada suara Agreta.
"Aku tidak mencari mereka tapi aku tidak sengaja bertemu dengan orang tuamu Geta," ujar Patria. Patria menolak jika dirinya di tuduh.
"Katakan pada ku apa alasannya kamu diam-diam melakukan tes DNA ini?" Agreta masih terus mengajukan pertanyaan kepada Patria.
"Aku hanya ingin membuktikan tentang apa yang aku lihat," jawab Patria, sambil menatap sendu kearah Agreta.
"Jika kamu sudah tidak bisa menerima ku lagi sebagai orang yang di besarkan di panti asuhan tak apa, lepaskan aku," ucap Agreta, buliran bening kini mulai mengalir dari sudut matanya.
__ADS_1
Patria yang melihat Agreta menangis langsung menghampiri dan memeluk tubuh Agreta.
"Bukan seperti itu, aku minta maaf. Aku tidak tahu kamu akan merasa sesedih ini Geta," ucap Patria.
"Tapi kenapa kamu lakukan ini, apa alasannya,?" tanya Agreta, di selah-selah tangisnya Agreta meminta penjelasan.
"Aku sungguh tidak sengaja bertemu dengan ayah dan ibu," tutur Patria, berharap Agreta percaya dengan apa yang diucapkannya.
"Kamu bisa memangil mereka dengan sebutan ayah dan ibu dengan bebas, sedangkan aku tidak bisa," ucap Agreta, tangisnya pun semakin keras. Ada rasa tak terima dengan apa yang terjadi, Agreta iri pada Patria karena bisa memanggil orang tuanya dengan sebutan ayah ibu.
"Tapi kenapa kamu tidak bisa memanggil mereka ayah dan ibu,? Kamu bisa memanggil mereka juga dengan sebutan ayah dan ibu Geta," tutur Patria, Patria merasa binggung dengan ucapan Agreta barusan.
"Itu tidak mungkin," balas Agreta. Ada kesedihan yang dalam yang di rasakan oleh Agreta.
"Tapi kenapa tidak bisa,? Mereka sangat menyayangi mu," ucap Patria, sambil menatap wajah Agreta.
"Mereka tidak menginginkan ku, itu sebabnya aku tinggal di panti asuhan," ujar Agreta. Kepalanya Agreta pun tertunduk setelah mengatakan kalimat tersebut.
"Maksudnya,?" tanya Patria semakin binggung.
"Kamu salah Geta, bukan seperti itu kejadian!" Balas Patria.
"Tapi itulah yang terjadi dan itu kenyataannya," ucap Agreta Keukeh dengan pendapatnya.
"Dari mana kamu tahu jika ayah dan ibu membuang mu,?" tanya Patria.
"Itulah yang di katakan oleh orang yang membawa ku ke panti asuhan," jawab Agreta tegas. Air matanya kini berhenti mengalir.
"Geta sayang, jika mereka tidak menyayangimu tidak mungkin mereka mencari mu sampai sepuluh tahun, dan tidak mungkin sampai saat ini mereka menyimpan foto- foto mu," tutur Patria.
"Tidak mungkin," ucap Agreta, Agreta masih dengan pemikirannya.
"Tapi itu memang benar Geta, aku lihat sendiri foto kamu masih terpasang di dinding dan kamar kamu pun masih terawat dengan baik. Aku bahkan tidur di kamar mu," ucap Patria panjang lebar berusaha mengusir pikiran buruk Agreta.
"Kalau memang benar mereka menyayangi ku kenapa aku berada di panti asuhan?" tanya Agreta. Agreta ragu akan perkataan Patria.
__ADS_1
"Waktu itu ibu kecopetan dan ayah berusaha mengejar copet itu dan tanpa di sadari kamu sudah lepas dari pengawasan ibu saat itu. Ayah dan ibu berusaha mencari mu tapi tidak menemukan mu saat itu. Mereka sempat lapor ke polisi atas kehilangan dirimu tapi tidak membuahkan hasil." Patria mengatakan apa yang dia tahu. Patria menyampaikan apa yang sudah di ceritakan oleh pak Mun, kejadian saat pak Mun dan istrinya kehilangan Agreta.
Agreta terdiam setelah mendengar penjelasan Patria. Agreta mencobah mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh suaminya.
Tangis Agreta benar-benar sudah reda tapi di hati Agreta ada rasa yang bergejolak antara perca dengan ucapan Patria atau justru memilih untuk tetap dengan perkataan orang yang yang membawa dirinya ke panti asuhan.
"Mungkin orang itu tidak tahu kejadian yang sebenarnya makanya orang itu mengatakan bahwa kamu di buang." Patria melanjutkan kata-katanya.
Agreta kini berada dalam dilema, mana yang harus di percayanya saat ini.
"Pat bagaimana kamu bisa bertemu dengan mereka?" Tiba-tiba Agreta bertanya ingin menyelidiki lebih banyak lagi.
"Kamu ingat, waktu itu aku pernah cerita bahwa aku di tolong oleh sepasang suami-istri waktu itu,?" ucap Patria. Agreta pun mengangguk kepalanya memberikan isyarat bahwa Agreta masih ingat dengan cerita Patria waktu itu.
"Aku bertemu dengan ayah dan ibu ya waktu itu, ayahlah yang sudah menolong dan menasehati ku saat itu," ujar Patria.
"Benarkah?" Spontan Agreta bertanya.
"Iya itu memang benar Geta," jawab Patria.
"Tapi bagaimana kamu bisa berpikir bahwa aku anak dari mereka?" Agreta pun bertanya mengapa Patria bisa berpikir bahwa Agreta adalah putri dari sepasang suami-istri tersebut.
"Waktu itu aku lihat ada foto anak kecil yang ada dalam lemari, aku merasa bahwa aku pernah bertemu dengannya tapi tidak tahu di mana." Patria menceritakan awal pertama kali Patria melihat foto kecil Agreta.
"Pat... Apakah mereka masih merindukan ku?" tanya Agreta ragu-ragu.
"Mereka masih sangat merindukan mu, aku jamin akan hal itu!" ucap Patria tanpa ragu.
"Tapi bagaimana jika ternyata mereka berbohong pada mu tentang diri ku?" Agreta bertanya lagi karena masih merasa ragu.
"Itu tidak mungkin sayang, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana mereka memandangi foto mu dengan rasa rindu," tutur Patria lagi.
"Jika benar demikian bolehkah aku bertemu dengan mereka?" tanya Agreta sambil menatap penuh harap kepada Patria.
Bersambung
__ADS_1