
Setelah menyerahkan handphone kepada Anggie untuk di chas Patria pun langsung menuju ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi untuk mandi tentunya.
Anggie langsung mencolok kan kabel Chasan ke handphone Patria.
Memang handphone Patria mati total karena kehabisan baterai.
Anggie duduk manis menunggu Patria selesai mandi.tapi itu tidak berlangsung lama.ada yang mengusik hatinya.
Di pandangnya handphone Patria,ada rasa penasaran tentang isi handphone tersebut.Dengan langkah kaki setengah berjinjit Anggie menghampiri handphone tersebut.fengan sangat hati-hati dan jantung berdebar kencang Anggie memberanikan diri membuka handphone Patria.
Dan...
Handphone Patria berhasil di buka karena handphone tidak memiliki kunci keamanan.jadi dengan bebas Anggie bisa mengotak-atik isi handphone tersebut. Ada banyak pesan yang masuk terutama dari nama mbo Nem (rumah). tanpa pikir panjang Anggie langsung menghapus isi pesan tersebut sebelum di baca. Tak sampai di situ aja Anggie pun mengecek kontak telepon masuk sekali lagi Anggie langsung menghapus panggilan dengan nama yang sama . "Mbo Nem rumah"
Setelah selesai melakukan aksinya Anggie langsung mematikan handphone tersebut untuk menutupi kecurigaan Anggie kembali duduk tenang tapi tidak dengan hatinya yang sedang ikut lomba lari dak dik duk ser, takut aksinya di ketahui oleh Patria.
Setelah beberapa lama kemudian Patria keluarga dari kamarnya dengan tubuhnya yang lebih segar dan wangi tentunya. Patria hanya menggunakan celana pendek selutut berwarna hitam dipadupadankan dengan kaos berwarna cream.membuat Patria semakin keren.
Waktu menunjukkan jam makan siang.jam 11:30. "Mau makan siang nggak?" tanya Anggie.
"Ayo!, Aku juga udah mulai lapar." ujar Patria. "Makan di luar yuk." ajak Anggie
__ADS_1
"Aku masih cape,badanku masih terasa pegal habis nyetir jauh." jawab Patria. "Kamu bisa masak nggak?" timpal Patria lagi. "Aku pesan makanan online aja ya." usul Anggie.Karena sesungguhnya Anggie memang tidak bisa memasak. "Ya sudah kamu pesan apa aja aku yang bayar." Patria menyetujui usulan Anggie.
. Anggie pun dengan senang hati memesan makanan kesukaannya.tak lupa Anggie juga mesan makan yang di inginkan oleh Patria.
Setengah jam kemudian pesan mereka pun datang. Patria dan Anggie menikmati makan siang mereka dengan lahap. Setelah menyelesaikan makan siang.Patria dan Anggie duduk ngobrol di ruang tamu.
Setelah obrolan mereka selesai ada rasa jenuh yang di rasakan Anggie.Ia bosan hanya duduk diam dalam ruangan besar itu.Apa lagi di dinding ruangan itu masih terpajang sebuah pigura foto pernikahan Patria dan Agreta. Foto pernikahan mereka masih setia menggantung di dinding apartemen itu. Dan bukan hanya foto pernikahan itu aja yang mengisi dan menghiasi ruang tersebut masih ada bingkai -bingkai yang berukuran kecil masih menghiasi lemari kaca miliki Patria. Senyum bahagia Agreta dan Patria saling berpelukan tergambar jelas dari setiap foto tersebut dan hal itu membuat Anggie jengah dan merasa tak nyaman.
Ada rasa iri dan benci dalam hatinya.
Namun hal ini di tutup rapat dalam hatinya, karena Anggie tidak ingin Patria tahu niat hatinya. "Pat jalan yuk,kemana kek." ajak Anggie, karena sudah mulai bosan berdiam diri dalam apartemen Patria. "Aku masih cape Anggie,aku malas keluar.,aku masih ingin istirahat." Patria menolak ajakan Anggie dengan alasan lelah. Anggie yang mendapatkan penolakan itu sedikit kesal.tapi ia menyembunyikan rasa itu dalam hatinya. "Ya udah kamu istirahat dulu,nanti malam kamu temenin aku ke tempat biasa ya." Maksud adalah club malam." usul Anggie lagi masih dengan mengajak Patria untuk keluar dari apartemen. "Aku juga rasa nggak bisa Anggie.Besok kerjaan ku di kantor pasti menumpuk." ujar Patria.
"Saat ini aku benar-benar ingin istirahat biar besok badanku benar-benar fit untuk kerja." tolak Patria lagi dengan penjelasan panjang. Terang saja Anggie yang mendapatkan dua kali penolakan oleh Patria sangat kesal dan kecewa.
Tapi Anggie tidak menunjukkan rasa kesalnya itu sekali lagi rasa kecewanya di simpan dalam hatinya.
Dengan senyum palsunya Anggie berkata. "Ok kamu istirahat aja yang banyak,biar kamu fit buat kerja besok. Aku ngerti kamu kecapean." Anggie berucap seolah menerima penolakan dari Patria.
Waktu terasa panjang dan membosankan untuk Anggie yang tetap berada di apartemen Patria.Anggie masih betah bersama dengan Patria tapi tidak dengan kakinya yang sudah jenuh berdiam diri tidak melakukan kegiatan apapun selain duduk
Matahari hari mulai tenggelam jam sudah menunjukan pukul 17:27 sore hari.Anggie tak beranjak juga dari Apartemen Patria. Patria mulai merasa tak nyaman Anggie berlama-lama di Apartemennya.
__ADS_1
"Anggie ini sudah sore kamu belum mau pulang dulu.?" ujar Patria mengusulkan.Setengah mengusir lebih tepatnya. "Kamu ngusir aku ya Pat?" ujar Anggie yang sedikit tersinggung karena merasa di usir. "Bukan gitu ,tapi nggak baik juga kamu terlalu lama di sini, apa lagi sampai menginap.Apa nanti kata tetangga." Patria beralasan.
"Baiklah aku mengerti kalo itu alasannya kamu." jawab Anggie dengan nada kecewa, padahal Anggie sudah berharap bisa menikmati malam bersama Patria.tapi keinginan itu hanya dalam angannya saja.
Bukan hanya hatinya yang tak rela untuk pergi meninggalkan apartemen Patria kakinya pun ikutan merasa berat untuk melangkah.
"Tapi nanti kalo kamu udah nggak sibuk, kamu janji ajak aku jalan-jalan ya.Shoping gitu." usul Anggie meminta supaya Patria berjanji. "Baiklah aku janji, kalo kerjaan di kantor sudah beres aku ajak kamu shoping." Patria berjanji setengah hati.
Setelah berpamitan pulang dengan Patria. Anggie segera pergi meninggalkan apartemen Patria.Anggie dengan hatinya yang sakit dan marah.hari ini tiga keinginannya tidak terwujud.dua kali ajakannya di tolak mentah-mentah oleh Patria dan secara tidak langsung dia juga di usir oleh Patria.Jengkelnya Anggie bukan kepalang.tapi Anggie tetap berusaha bersikap manis dan menjadi wanita yang pengertian.terpaksa mengerti karena keadaan. Anggie yakin sebentar lagi Patria pasti menjadi miliknya.
Hanya tinggal bersabar sedikit lagi.
Setelah Anggie pergi Patria kembali dengan rasa sepinya.Patria melangkah menghampiri sebuah foto berukuran kecil yang terpajang di salah satu sudut meja ruang itu. Patria memandangnya dengan tatapan rindu .Foto itu adalah gambar dari wajah Agreta sang istri yang sedang tersenyum bahagia.Patria keluar menuju teras tempat tinggalnya kini lebih tepatnya Patria berada di area balkon apartemennya.
Angin malam mulai menghembuskan hawa dinginnya.tapi Patria menikmati rasa itu. Patria meletakkan foto Agreta di dadanya mendekap erat seolah sedang memeluk sang istri dengan erat.
"Aku merindukan mu Geta" ucap lirih Patria dalam hatinya.
"Apakah kamu juga merindukan ku." Patria bergumam dengan nada sendu.
"Apa yang sedang kamu lakukan saat ini?" Patria bertanya dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung