AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 26 MENEMANI AGRETA


__ADS_3

Saat aku ini mereka harus bisa menjaga kesehatan jangan sampai kelelahan dan jatuh sakit agar bisa menjaga Agreta tentunya. Setelah menelpon mbo Nem patria menuju ke kamar mandi yang ada di ruang rawat Agreta untuk membersihkan wajahnya.sekedar cuci muka.


   Sejam kemudian mbo Nem tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke tempat majikannya di rawat.mbo nem juga membawa apa yang sudah di pesankan oleh Patria.baju dan perlengkapan mandi dan tentunya sarapan paginya tuannya. Patria.


     Setelah sampai di kamar Agreta mbo Nem langsung memberikan tuannya.


"Tua ini pesanan  yang tuan minta." Mbo Nem "Makasih ya mbo,sarapan saya apa mbo?" tanya Patria tang menilai merasakan lapar di perutnya.


"Mbo buatkan nasih goreng sama telur mata sapi." ucap mbo sambil menyerahkan kotak makan di tangannya. "Makasih ya mbo,saya sarapan dulu,mbo sudah sarapan?" tanya Patria lagi 


"Sudah tuan." jawab Mbo Nem.


   Patria langsung mengambil kotak makan yang di berikan si mbo. patria langsung menakan nasih goreng pemberian mbo Nem.


    Setelah selesai sarapan Patria kembali duduk di samping Agreta.Patria memijit tangan Agreta dengan lembut sambil mengajak Agreta berbicara.kalimat yang selalu terucap dari mulutnya Patria adalah rasa rindu dan penyesalannya. Berkali-kali ucapan permintaan maaf keluar dari bibirnya Patria.Mbo Nem yang hanya terdiam menyaksikan semuanya.


   Tak lama kemudian terdengar pintu kamar agreta terbuka,


"Selamat pagi," sapa orang yang baru saja masuk. "Selamat pagi dok" ucap Patria. "Saya akan memeriksa pasien sebentar." jawab orang baru saja masuk, dia adalah dokter jaga yang bertugas pagi ini.


setelah memeriksa kondisi pasien dokter itu pun langsung tersenyum. Patria yang melihat garis senyum dokter itupun menjadi penasaran. "Dok,bagaimana kondisinya istri saya?" tanya Patria penasaran.


"Kondisi pasien semakin membaik, saya doakan semoga istrinya cepat sembuh." Dokter itu memberikan harapan baru kepada patria.

__ADS_1


Setelah selesai dokter itupun pamit melanjutkan tugasnya memeriksa kondisi pasien lainnya.


 Sepeninggal dokter itu patria bertanya kepada mbo Nem. "Mbo,selama ini siapa saja yang sudah menjenguk istri saya?"


"Yang datang menjenguk nona hanya non Siska terkadang suaminya pak Dean juga ikut,kalo dokter Freya hampir setiap saat dokter Gilang juga ikut membesuk non Agreta." Mbo Nem menjawab pertanyaan Patria dengan beberapa penjelasan. "Jadi dokter Freya juga ikut membesuk istri saya mbo?" tanya Patria lagi untuk memastikan.


"Iya tuan.Ternyata dokter Freya dan dokter Gilang itu adalah sahabat baik  dari non Agreta sejak dulu,itu yang mbo tahu tuan," mbo Nem memberikan jawaban atas pertanyaan Patria.


"Dokter Gilang?seperti apa orang nya mbo?" Patria penasaran dengan sosok dokter Gilang.


"Orangnya ramah dan baik tuan,justru dokter Gilang yang menangani non Agreta waktu itu." ucap mbo lagi.


    Patria semakin penasaran dengan sosok dokter Gilang ini.dan mbo Nem melihat perubahan raut wajah Patria mbo Nem langsung mengerti apa yang sedang ada dalam hati tuanya itu.


"Tuan dokter Gilang itu suaminya dokter Freya.dan dokter Gilang juga sudah berteman dengan non Agreta dari mereka masih sekolah dulu." ucap mbo Nem memberikan penjelasan tanpa di minta oleh Patria.


"Oh jadi begitu." jawab Patria lega.


"Tapi mbo apa cuma mereka yang datang menjenguk istri saya? mbo yakin hanya mereka nggak ada orang lain lagi kan?" Penuh sidik patria bertanya lagi.


"Nggak tuan,hanya mereka yang datang menjenguk nona Agreta." Mbo Nem menjawab dengan penuh keyakinan.


"Mbo mau pulang sekarang atau nanti?" Patria bertanya lagi untuk mengalihkan topik pembicaraannya dengan mbo tadi.

__ADS_1


"Tuan maaf,ijin kan saya menemani non Agreta.. Ucap mbo meminta persetujuan Patria. "Masalah rumah Yeyen sudah bisa mengatasinya di bantu oleh yang lainnya." Mbo Nem menambahkan penjelasannya. "Baik mbo,kalo gitu saya istirahat sebentar ya mbo. Nanti kita gantian jaganya." ucap patria lagi.


"Baik tuan,tapi apa tuan tidak kekantor hari ini?" Tanya mbo Nem yang melihat tuannya sedang mengambilnya posisi tidur di atas sofa panjang. "Saya sudah menyiapkan baju kantor jika tuan ingin kekantor." ujar mbo Nem lagi sambil menunjuk satu tas kecil yang dibawahnya tadi. "Nggak mbo, saya ingin menemani istri saya saat ini." Jawab Patria lagi. Patria merasa berat jika harus meninggalkan istrinya saat ini.apa lagi dia baru saja mengetahui kondisi patria ingin menebus waktu yang sudah di lewatinya dengan menjaga istrinya saat ini. "Baik tuan silakan istirahat saya yang menjaga non." Ucap mbo.Mbo Nem juga melihat garis hitam di matra Patria mbo Nem yakin kalo tuanya tidak tidur dengan benar semalam.


    Sebelum istirahat Patria lebih dulu menghubungi Jeje sekretaris nya itu lewat telepon genggamnya.


"Halo Je, hari ini saya tidak kekantor, saya sedang menemani istri saya di rumah sakit.Nanti kalo ada dokumen penting yang harus saya tandatangani kamu segera bawa ke sini ke rumah sakit " Ucap Patria memberikan perintah kepada Jeje.


Jeje yang mendengar kalau istri bosnya sedang sakit terkejut. "Baik pak, semoga ibu Agreta segera sembuh ya pak." Doa tulus Jeje terucap.Jeje mengenai sosok istri bosnya ini adalah orang yang rama dan baik hati.


  Setelah memberikan petunjuk kepada Jeje sekretarisnya itu Patria menutup panggilan telepon itu dan langsung memposisikan dirinya untuk istirahat tidur di sofa.


  Mbo Nem langsung duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Agreta.Setelah itu Mbo Nem langsung duduk di kursi yang berbeda di samping ranjang Agreta.secara perlahan-lahan mbo Nem mulai memijit tangan Agreta.


"Non cepat bangun ya tuan sudah kembali pulang," mbo Nem mengajak Agreta untuk bercerita.


"Non, sekarang tuan sangat perhatian sama non,mbo juga udah pingin liat non tersenyum lagi kaya dulu," mbo Nem sambil terus memijit tangan Agreta agar otot-otot nya tidak menjadi kaku. Mbo Nem melakukan itu semua atas dasar nasehat dari dokter.


"Non,tuan saat ini sangat kasihan tuan sempat menangis melihat non kaya gini." Si mbo terus bercerita seolah-olah Agreta mendengarkan ucapannya mbo Nem. "Non cepat bangun ya,mbo janji kalo non udah bangun nanti mbo bikinin makanan kesukaan non yang banyak." Mbo Nem masih terus berceloteh panjang lebar.


Patria tertidur tapi tidak tenang itu terlihat dari gerakan tubuhnya yang tidak bisa diam.bayangan istrinya dan gadis kecil yang pernah datang dalam mimpi patria kembali hadir dalam mimpi patria.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2