
"Kamu baunya aneh," ujjar Agreta sambil terus menutupi hidungnya dengan kedua tangannya.
"Aneh bagaimana maksudnya? Aku baru saja mandi Geta sayang," balas Patria. Patria merasa tak terima dengan apa yang di ucapkan oleh istrinya yang mengatakan bahwa dirinya berbau aneh. Patria mencobah mengabaikan perkataan Agreta mencoba mendekati Agreta lagi dan hal itu membuat Agreta tiba-tiba kembali merasa mual. Patria terdiam tak berani lagi mendekati istrinya.
Drama yang terjadi antara Patria dan Agreta pagi ini di saksikan oleh ketua orangnya. Sontak saja melihat putrinya mereka yang tiba-tiba ingin muntah langsung merasa khawatir.
"Annya kamu sakit,? mungkin karena kecapean," ucap pak Mun. Bu Mun pun segera mengambil minyak angin untuk di gosokkan ke tubuh Agreta.
Agreta yang mencium aroma khas minyak angin pun kembali merasakan mual. Agreta segera menuju ke kamar mandi untuk bersiap untuk untuk mengeluarkan isi perutnya.
Patria pak Mun dan juga istrinya menjadi cemas melihat Agreta yang mendadak sakit. Patria takut jika Agreta sakit di karenakan sakit Agreta yang dulu kambu. Patria langsung teringat akan Freya. Dengan perasaan cemas Patria segera menghubungi Freya.
Tut Tut
Bunyi nada tersambung ke telpon yang di tujuh.
"Ya Patria," terdengar suara jawaban dari balik telpon milik Patria.
"Freya Geta sakit!" ujar Patria langsung tanpa basa-basi.
"Ha...kok bisa, sekarang aku segera ke rumah," ucap Freya yang ikut cemas.
"Tapi kami saat ini ada di rumahnya orang tua Geta," balas Patria.
"Kalian ada di daerah mana,? Berikan alamatnya," balas Freya. Patria pun segera membagi alamat tempat tinggal mertuanya lewat sebuah aplikasi pesan.
Setelah melihat alamat yang di berikan Patria Freya pun langsung mengirimkan pesan kepada Patria yang mengatakan bahwa Freya dan suaminya Gilang segera menuju ke sana. Kebetulan Freya dan Gilang sedang cuti saat ini. Freya tak lupa menghubungi Siska untuk mengajak Siska bertemu dengan Agreta dan keluarganya.
Siska yang mendapatkan kabar jika Agreta jatuh sakit membuat hatinya merasa cemas.
"Awas aja kamu Patria, jika Geta sakit karena ulah mu, aku tidak akan pernah memaafkan mu!" ujar Siska dalam hatinya. Siska pun langsung meminta Dean suaminya untuk mengantarkan dirinya untuk mengunjungi Agreta.
Sementara menunggu kedatangan Freya dan suaminya,Patria terlihat sangat gelisah. Beberapa kali Patria mencoba untuk menghampiri Agreta tapi hal itu justru membuat Agreta kembali mual.Akhirnya acara sarapan bersama hari ini tidak berjalan dengan semestinya.
"Geta sayang, kalau begitu aku duduk di teras aja ya!" ujar Patria setelah gagal berkali-kali mendekati istrinya.
"Tidak boleh, kamu harus menemani ku di sini. Tapi tidak boleh deket-deket, kamu bau aneh," jawab Agreta tegas.
__ADS_1
"Bau aneh bagaimana? Aku tuh baru habis mandi dan menggunakan parfum yang biasa aku pakai Geta," ujar Patria, dengan raut wajahnya yang memelas.
Agreta pun membalas ucapan Patria dengan tatapan tajam, Agreta terlihat kesal setelah mendengar perkataannya di bantah oleh Patria.
Deg...
Jantung Patria terasa ada yang menyentil.
"Aish... sejak kapan Agreta menjadi galak seperti ini,?" ucap Patria dalam hatinya, setelah mendapatkan tatapan tajam Agreta.
Kejadian ini tak luput dari pengamatan dari bu Mun,ibu dari Agreta.
"Pak rasanya ada yang aneh dengan Annya," ujar bu Mun, setelah pak Mun duduk berdua dengan suaminya.
"Aneh bagaimana,?" tanya pak Mun, penasaran.
"Coba perhatikan pak, ketika ibu sama bapak deketin Annya, Annya baik-baik saja. Tapi ketika Annya di deketin sama Patria Annya langsung mual," cerita bu Mun.
"Terus apanya yang aneh?" Pak Mun bertanya kembali.
"Pak kita berdua tidak menggunakan parfum seperti den Patria dan Annya juga mual setelah mencium aroma minyak angin," ucap bu Mun memberikan kode.
"Pak ingat nggak waktu ibu mengandung Annya dulu,?" tanya bu Mun mengingatkan suaminya.
Pak Mun terdiam sejenak mencobah mengingat kembali masa istrinya mengandung Annya putrinya dulu. Seketika mata pak Mun pun terbuka lebar setelah berhasil mengingat kejadian dulu.
"Maksudnya ibu putri kita saat ini sedang hamil?" Pak Mun mencobah menebak.
"Sepertinya begitu, tapi kita lihat nanti setelah Annya diperiksa dokter," ucap bu Mun. Pak Mun dan istrinya sungguh sangat senang jika apa yang mereka duga benar adanya.
Setelah mendapatkan petunjuk dari istrinya, pak Mun menghampiri Patria.
"Den Patria, coba aden mandi lagi dan setelah mandi jangan pakai parfum apapun," ujar pak Mun memberikan saran. Hal ini jelas membuat Patria merasa binggung.
"Tapi pak saya baru saja mandi tadi," jawab Patrai.
"Sudah aden mandi dulu lagi dan ingat jangan pakai parfum setelah mandi." Pak Mun mengulangi perkataanya. Patria dengan patuh mengikuti saran dari ayah mertuanya.
__ADS_1
Setelah selesai mandi Patria pun mengikuti saran dari ayah mertuanya agar tidak menggunakan parfum. Dan anehnya Agreta justru tidak merasa mual setelah Patria kembali mendekati dirinya. Patria pun merasa ganjel dengan peristiwa ini.
"Sakit macam apa ini, kok aneh!" ujar Patria dalam hatinya.
Patria tersadar setelah mengingat jika saat ini bukan hanya Freya dan Gilang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah mertuanya, tapi ada juga Siska dan Dean. Patria langsung menemui mertuanya yang sedang duduk di ruang depan.
"Pak bu maaf, tapi saat ini temanya Agreta sedang dalam perjalanan kesini," ujar Patria.
"Bukannya dokter yang mau kesini?" tanya pak Mun dengan polosnya.
"Iya temannya Agreta ya seorang dokter. Ada kemungkinan mereka datang bersama-sama dan juga mungkin mereka akan menginap di sini," tutur Patria memberikan penjelasan.
"Oh... memang ada beberapa orang yang datang?" tanya pak Mun.
"Mungkin ada empat orang pak bu," ucap Patria sungkan.
"Ya sudah nanti ibu akan siapkan kamar untuk mereka," jawab bu Mun bersemangat. Pak Mun dan istrinya merasa sekali lagi merasa bahagia, rumah yang dulu sepi kini akan menjadi ramai dengan kedatangan sahabat dari putrinya.
Di kesempatan ini pak Mun dan istrinya ingin mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat putrinya karena sudah bersedia memberikan perhatian dan bantuan kepada anak mereka selama mereka terpisah.
Yang di tunggu akhirnya pun tiba. Setelah memberikan salam dan memperkenalkan dirinya dan suaminya Freya mohon ijin untuk memeriksa Agreta yang kini sedang berada dalam kamarnya.
"Geta ini aku Feya," ucap Freya setelah berdiri di depan pintu kamar Agreta.
Agreta yang mendengar suara Freya langsung berdiri dari tempat tidurnya dan langsung membukakan pintu. Agreta langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Feya...kok ada disini,?" ujar Agreta terkejut.
"Tadi Patria bilang kamu sakit, makanannya aku sama Gilang langsung kesini," jawab Freya.
"Aku baik-baik saja, Patria aja yang panikan!" Balas Agreta.
"Sebaiknya saya periksa dulu ya Geta sayang, ingat kamu itu pernah sakit," tutur Freya sambil menggiring Agreta untuk masuk ke dalam kamarnya.
Freya pun langsung menyiapkan peralatan kedokterannya untuk memeriksa Agreta. Setelah beberapa saat Freya memeriksa kondisi Agreta matanya langsung terbuka lebar menatap wajah sahabatnya itu.
"Ada apa Feya, jangan buat aku cemas," ucap Agreta setelah melihat perubahan raut wajah sahabatnya itu.
__ADS_1
Freya tak menjawab pertanyaan dari Agreta tapi justru Freya langsung keluar kamar dan memanggil suaminya Gilang.
Bersambung