
PERINGATAN DAN NASEHAT
Melihat Patria yang terdiam Gafin pun segera bertanya kepada Patria.
"Patria apakah kamu pernah menerima kiriman foto-foto seperti ini?"
Namun bukan jawaban yang di dapatkan oleh Gafin, tapi justru Gafin melihat Patria menarik nafas dalam-dalam. Dan Gafin pun sudah bisa menebak apa jawabannya. Gafin yakin bahwa Patria sudah pernah menerima foto-foto tersebut.
"Saya berharap rumah tangga kamu baik-baik saja," ucap Gafin tulus
"Rumah tangga ku hampir hancur," jawab Patria dengan tarikan nafas berat
"Benarkah?" tanya Gafin spontan.
"Ya,... karena foto-foto itu, saya berbuat kesalahan. Tapi sekarang semuanya baik-baik saja," tutur Patria.
"Syukurlah, jadi benar kamu menerima foto-foto seperti ini," ungkap Gafin sekali lagi. "Yang jadi pembedanya hanya wajah dari wanita tersebut telah berubah," jawab Patria .
"Tahukah kamu Patria, yang menjadi korban dari Anggie itu bukan hanya saya dan kamu. Tapi masih ada lagi yang lainnya." Gafin kembali menceritakan apa yang dia ketahui tentang Anggie.
Patria mendengar pernyataan Gafin mengerutkan dahinya. Sambil tersenyum tipis, Gafin kembali membeberkan apa saja yang sudah di lakukan oleh Anggie selama ini.
Gafin menceritakan sepak terjang Anggie dalam menjerat pria-pria incarannya. Dan semuanya memakai cara yang sama, yaitu memfitnah pasangan pria yang diinginkan oleh Anggie.
Gafin menceritakan semua sisi gelap mantan istrinya.
"Patria saya sudah mengatakan apa yang saya ketahui tentang Anggie dan saya juga sudah menunjukkan bukti-bukti yang saya punya. Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Gafin.
"Saya akan buat perhitungan dengan perempuan itu," ucap Patria dengan nada geram.
"Saya minta kamu jangan gegabah, karena wanita itu sangat licik. Tanpa bukti di tangan mu kamu tidak bisa menuntut pertanggung jawaban Anggie." Gafin menginginkan Patria.
"Apa yang harus saya lakukan sekarang?, Aku tidak mungkin hanya berdiam diri saja." Patria meminta saran kepada Gafin. "Jagalah istri kamu sebaik mungkin. Dan jangan pernah kamu menunjukkan pada Anggie bahwa kamu sudah mengetahui siapa dia sebenarnya karena itu akan membahayakan keselamatan istri kamu," tutur Gafin sekali lagi mengingatkan Patria.
__ADS_1
Patria menatap Gafin dengan sorot mata meminta penjelasan lebih lagi.
"Patria, Anggie itu wanita yang nekat, demi mendapatkan apa yang dia inginkan wanita ini bisa berbuat kriminal." Gafin berucap dengan nada penuh keyakinan.
"Patria saya mengatakan ini bukan untuk menakuti kamu, tapi supaya kamu tidak gegabah dalam mengambil keputusan," sambung Gafin lagi.
"Ya , saya bisa mengerti." Patria .
Ada kemarahan yang terlukis jelas di wajah Patria. Ingin rasanya Patria menghancurkan Anggie saat ini juga. Tapi Patrai harus bisa menahan amarahnya. Karena disisi lain Patrai tidak ingin langkah yang diambilnya justru akan membuat Agreta istrinya merasakan akibatnya.
Bagi Patrai cukup sudah kesalahan yang dilakukan olehnya yang membuat istrinya terluka. Patria tidak ingin merasakan hal yang sama lagi. Untuk itu Patria menuruti nasehat Gafin.
Patria berusaha bersikap setenang mungkin, tapi di dalam pikirannya Patria sedang merancang cara untuk membuat Anggie menderita.
"Patria maaf apakah kamu sudah menerima video yang seperti ini?" tanya Gafin sambil memperlihatkan gambar video dari layar komputernya.
Patria merapatkan pandangannya ke arah komputer milik Gafin.
"Apa maksudnya ini?" tanya Patria binggung. "Ini adalah video editan yang saya terima dari seseorang yang mengirimkan paket kepada saya. Tapi paket ini tidak memiliki nama pengirimnya," tutur Gafin.
"Apakah sekarang kamu sudah tahu siapa orang yang mengirimkan paket Vidio ini?" tanya Patria penasaran.
"Aku sudah tahu siapa pengirimnya, dia adalah Anggie." Gafin memberikan jawaban atas pertanyaan Patria.
"Apakah kamu belum mendapatkan kiriman video seperti ini?" Kembali Gafin bertanya.
"Saya tidak menerima video seperti ini, hanya beberapa lembar foto," jawab Patria. "Bersabarlah, mungkin sebentar lagi kamu akan mendapatkan kiriman video seperti ini," icap Gafin penuh keyakinan. "Percayalah Patria, urusan mu dengan Anggie belum selesai. Meskipun sekarang kamu sudah meninggalkannya dia tidak akan menyerah begitu saja, saya bisa pastikan bahwa dia akan melakukan segala cara untuk memisahkan mu dengan istrimu." Sambung Gafin lagi.
"Ini sungguh di luar dugaan ku, wanita yang terlihat sangat baik dan Anggun ternyata sanggup melakukan hal gila semacam ini," tutur Patria seolah tak percaya. "Ya, inilah Anggie yang sebenarnya." Gafin melanjutkan kalimatnya.Gafin menutup kalimatnya dengan senyum pahit.
"Patria maaf, jika saya boleh bertanya kearah sensitif apa boleh?" Gafin bertanya dengan ragu-ragu.
"Apa itu?" Patria justru balik bertanya kepada Gafin.
__ADS_1
"Apakah kamu pernah tidur dengannya?" Dengan nada berhati-hati Gafin melontarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
"Tidak, Saya tidak pernah menyentuh wanita itu," jawab Patria dengan tegas.
"Syukurlah," jawab Gafin dengan nada kelegaan. "Setidaknya kali ini wanita itu tidak bisa menuntut mu macam -macam. Wanita itu tidak memiliki alasan untuk menjeratmu masuk dalam permainannya," sambung Gafin.
Ada senyum tipis yang mengembang di bibirnya Patria. Patria kembali teringat pada saat Patria datang berkunjung ke apartemen miliknya Anggie. Anggie selalu menawarkan minuman padanya tapi tak sekalipun Patria menyentuhnya.
Ada perasaan bangga dalam hatinya Patria, Patria merasa bersyukur dalam keadaan yang tidak baik Patria mampu mengendalikan hawa nafsunya.
Setelah pembahasan antara Gafin dan Patria tentang Anggie selesai Patria, jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Waktunya untuk makan siang.
"Patria ini sudah waktunya untuk makan siang, mau makan siang bersama,? Itung-itung untuk merayakan kerja sama kita," tawar Gafin.
"Boleh," jawab Patria singkat. "Kita makan di luar, kebetulan di dekat sini ada restoran yang lumayan enak, ijin saya selaku tuan rumah untuk mentraktir kamu untuk makan siang," tutur Gafin sambil tersenyum.
Setelah mendapatkan kesepakatan bersama, Gafin dan Patria segera keluar dari ruangan kantor Gafin untuk menujuh tempat makan siang mereka.
Saat dalam perjalanan menuju ke restoran yang di maksud, Patria menyempatkan dirinya untuk menghubungi Agreta istrinya.
Patria ingin memastikan bahwa istrinya baik-baik saja di rumah, dan juga Patria mengingatkan Agreta agar tak lupa untuk makan dan minum obatnya.
Gafin yang mendengarkan obrolan Patria dengan Agreta mengerutkan keningnya. Setelah percakapan Patria selesai, Gafin memberanikan dirinya untuk bertanya soal keadaan istrinya Patria.
"Maaf Patria, apakah istri kamu sedang sakit?" Gafin. "Istri saya sempat sakit dan sekarang tinggal pemulihan saja.," jawab Patria. "Semoga cepat sembuh," ucap Gafin tulus. "Terimakasih atas doanya," balas Patria. "Maaf, kalau boleh saya tahu istrinya sakit apa?" Gafin penasaran dengan sakit Agreta.
"Istri saya mengalami keguguran dan pendarahan, dan itu semua karena kebodohan saya," ucap Patria dengan perasaan bersalah.
Gafin melihat perubahan raut wajah Patria, Gafin bisa merasakan kesedihan dan kemarahannya Patria secara bersamaan. Dalam hatinya, Gafin percaya bahwa apa yang di alami oleh Patria dan istrinya pasti berkaitan dengan ulahnya Anggie.
"Patria saya turut bersimpati atas apa yang terjadi," tutur Gafin menyampaikan rasa simpatinya.
Bersambung
__ADS_1