
Seperti yang sudah di sepakati bersama Anggie dan Yuke bertemu di sebuah taman. Yuke agak kesusahan mencari Anggie di taman tersebut di karenakan penampilan Anggie yang sudah sangat berbeda.
"Yuke," sapa Anggie dari belakang.
"Anggie?" Yuke menatap sahabatnya itu seolah tak percaya.
"Maafkan aku harus melibatkan mu, tapi aku sudah tidak tahu lagi kepada siapa aku harus minta tolong," ucap Anggie kepada Yuke.
"Kita duduk dulu ya," usul Yuke. Mereka berdua pun memilih untuk duduk di bangku taman yang agak jauh dari keramaian orang.
"Anggie, kenapa jadi begini?" tanya Yuke menyesali apa yang sudah di lakukan oleh Anggie.
"Aku menyesal Yuke,tapi aku tak kembali" ungkap Anggie sambil menundukkan kepalanya.
"Anggie aku sudah pernah menasehati mu, bahkan berkali-kali aku mengingatkan mu. Jauhi Patria tapi kamu tak pernah mendengarnya!" ucap Yuke.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan saat ini, karir yang kamu bangun dengan susah payah hancur semuanya." dambung Yuke lagi.
Anggie hanya bisa menundukkan kepalanya, ada rasa sesal di hatinya, menyesal tidak mendengarkan nasehat sahabatnya itu. Anggie menyesal dengan kesombongan yang di milikinya.
"Anggie, saran saya kamu serahkan diri ke kantor polisi ya," tutur Yuke.
"Tapi aku takut Yuke, di penjara itu pasti nggak enak rasanya," jawab Anggie.
"Tapi sampai kapan kamu akan bersembunyi?, jika kamu menyerahkan diri ke kepolisian hukuman mu pasti akan berkurang. Tapi jika kamu terus sembunyi hukuman mu akan semakin berat," tutur Yuke mencoba menasehati Anggie.
"Tapi Yuke aku belum siap," balas Anggie.
__ADS_1
"Kamu tahu, saat ini bukan cuma polisi yang mencari mu tapi juga orang-orangnya Patria juga ikut mencari mu. Jika polisi yang menentukan mu itu jauh lebih baik. Tapi jika orang Patria yang menentukan mu lebih dulu aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada mu nanti Anggie. Pikirkan ini." Yuke memberikan pendapatnya.
Apa yang baru saja di katakan oleh Yuke membuat Anggie semakin ketakutan. Anggie takut jika dirinya tertangkap oleh orang-orang suruhan Patria. Anggie tidak bisa membayangkan apa yang akan di lakukan oleh Patria kepadanya.
"Yuke aku ingin ke luar negeri, bisakah kamu membelikan aku tiket?" ucap Anggie. Anggie ingin kabur keluar negeri, Anggie berharap Yuke mau dan bisa membantunya untuk kabur dari jeratan hukum.
"Apa, keluar negeri?" yanya Yuke tak percaya dengan ucapan Anggie barusan.
"Ya, aku ingin keluar negeri saja," jawab Anggie yakin.
"Dan kamu meminta aku yang membelikan tiketnya?, Apa kamu tahu usul mu ini akan menjerumuskan ku dalam bahaya?" balas Yuke tak percaya dengan usul Anggie.
"Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa bebas Yuke," tutur Anggie berharap.
"Tidak!, Kamu tahu Anggie aku masih punya keluarga yang harus aku biayai. Masih ada adik-adik ku yang harus aku sekolahkan. Jika aku ketangkap karena menolong mu bagaimana dengan keluarga ku?" tolak Yuke akan usul Anggie.
"Aku harus bagaimana sekarang?" yanya Anggie.
"Serahkan diri mu ke kepolisian, dan jangan bertindak bodoh lagi," tutur Yuke.
"Tapi.... " Belum selesai kata-kata Anggie langsung di potong oleh Yuke.
"Apa kamu mau anak buah Patria yang menangkap mu lebih dulu?, Asal kamu tahu Patria sudah tahu kalau kamulah yang sudah memfitnah istrinya Agreta. Dan asal kamu tahu juga gara-gara perbuatan mu istrinya sempat koma di rumah sakitu" ucap Yuke menceritakan apa yang dia tahu. Anggie terdiam, rasa ketakutannya kini semakin bertambah. Di kepala Anggie terbayang akan sikap Patria yang sedang murka. Tubuh Anggie langsung gemetaran saking takutnya.
Yuke menceritakan apa yang dia ketahui kepada Anggie, bukan untuk menakuti Anggie. Tapi agar Anggie tidak lagi membuat keputusan yang salah. Semakin lama Anggie bersembunyi maka hukumnya akan semakin berat, bukan hanya itu jika Anggie berhasil di tangkap lebih dulu oleh Patria Yuke tidak tahu apa yang akan terjadi kepada sahabatnya ini.
Sebuah dilema yang harus di hadapi oleh Anggie, bertahan dalam persembunyiannya yang entah sampai kapan akan berakhir dan hidup dalam bayangan-bayang ketakutan atau memilih menyerahkan diri yang sudah pasti akan membuat dirinya hidup dalam penjara yang entah berapa lama Anggie akan hidup terkurung dan diasingkan dari dunia luar.
__ADS_1
Pilihan yang sangat berat untuk seorang Anggie, tapi Anggie harus membuat keputusan. Anggie tidak mungkin memaksakan keinginannya untuk pergi keluar negeri dengan mempertaruhkan masa depan sahabatnya, saat ini hanya Yuke lah yang masih terus bersama dengan Anggie. Sementara teman-teman lainnya telah pergi menghilang entah kemana. Hanya Yuke lah yang tanpa henti menasehati Anggie dan tidak meninggalkan Anggie seorang diri saat dirinya dalam masalah.
Sementara Anggie sedang berpikir apa yang akan di lakukan olehnya saat ini, tiba-tiba Yuke langsung memeluk tubuh Anggie seolah-olah sedang menutupi wajahnya Anggie.
"Yuke lepas aku tidak bisa bernafas," ucap Anggie, Anggie terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Yuke.
"Diam sebentar saja, sepertinya anak buahnya Patria ada di sini," jawab Yuke sambil terus memeluk tubuh Anggie.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Anggie. Tubuhnya kini mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Diam dan pikirkan keputusan apa yang akan kamu ambil sekarang," tutur Yuke. Yuke pun mulai merasa takut.
Sementara itu orang-orang suruhan Patria kini semakin mendekat ke arah Anggie dan Yuke, untuk saat ini mereka hanya mencari keberadaan Anggie tapi mereka tidak tahu kalau Anggie sudah merubah tampilannya.
Untuk sementara Anggie dan Yuke masih bisa berpura-pura. Tapi sampai kapan mereka bisa berputar-putar?.
Setelah keadaan mulai aman Yuke melepaskan pelukannya terhadap Anggie, Yuke memegang tangan Anggie dengan erat. Yuke menatap dalam ke arah mata Anggie. Dan memberikan pilihan terhadap Anggie.
"Anggie aku tahu ini berat untuk mu, tapi saat ini kamu harus mengambil keputusan. Tetap bersembunyi dengan resiko tertangkap oleh Patria, yang kamu tahu itu sangat tidak baik untuk mu, atau menyerahkan diri ke kepolisian yang pastinya kamu di penjara tapi itu jauh lebih aman ketimbang berada di tangan Patria," tutur Yuke.
"Yuke apa kah kamu akan tetap menjadi sahabat ku jika aku aku dalam penjara?" Tanya Anggie, airmata Anggie kini mulai mengalir membasahi pipinya.
"Anggie percaya bahwa aku akan selalu menjadi sahabat mu, aku tidak akan meninggalkan mu sendiri. Jika kamu dalam penjara aku akan selalu mengunjungi mu," balas Yuke, Yuke pun kini ikut merasakan ketakutan Anggie.
"Benarkah kamu berjanji untuk selalu menjadi sahabat ku Yuke?" yanya Anggie di selah-selah tangisnya.
"Aku janji Anggie, jika kamu menyerahkan diri aku akan selalu mengunjungi mu di penjara" balas Yuke tulus.
__ADS_1
Bersambung