
Pagi ini seperti biasa dokter akan memeriksa perkembangan Agreta.
Dengan wajah tersenyum dokter itu memberikan penjelasan perkembangan kesehatan Agreta. "Pak Patria ada kabar baik untuk mu,besok istri anda sudah bisa pulang.' "Benarkah dok istri saya sudah bisa pulang?" tanya Patria masih tak percaya. "Iya, besok bu Agreta sudah bisa pulang.Hanya tinggal menunggu hasil pemeriksaan nanti sore." Dokter jaga. "Dokter yakin istri saya sudah tidak apa-apa?" Patria kembali mengulangi pertanyaannya.
"Kita tinggal liat hasil pemeriksaan nanti sore,jika hasilnya baik maka istri anda benar-benar sudah bisa pulang ke rumah," dokter itu memberikan penjelasan lebih lengkap lagi.
Hati Patria sangat senang, karena istrinya Agreta sudah di perbolehkan pulang ke rumah. "Denger sayang,besok kamu sudah bisa pulang!." Patria. "Iya besok aku sudah bisa pulang.Udah nggak sabar pingin pulang," ujar Agreta.
Agreta pun ikut tersenyum bahagia. "Terimakasih dok sudah merawat istri saya," ucap Patria tulus.
"Sama-sama pak Patria.Tolong di jaga istrinya.Dan satu lagi kalau sudah pulang jangan lupa untuk kontrol ya." Dokter. "Baik dok, sekali lagi terimakasih." Patria kembali mengucapkan rasa terima kasihnya.
Dokter pun pergi meninggalkan Agreta dan Patria menujuh ke tempat pasien lainnya. "Denger sayang, akhirnya kamu sudah bisa pulang.Nanti sebelum pulang saya akan minta mbo Nem dan Yeyen untuk membersikan rumah,biar kamu nya lebih nyaman." Patria.
Agreta menjawabi perkataan Patria dengan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Sedangkan mbo Nem dan Yeyen yang mendapatkan kabar bahwa nona mudanya akan pulang, hatinya mbo Nem sangat bahagia.
Begitu juga dengan sahabatnya Agreta.Mereka menyabut tak kalah bahagianya setelah tahu Agreta sudah di perbolehkan pulang ke rumah.
Setelah urusan Agreta selesai Patria segera berangkat kerja
Hari ini wajah Patria terlihat sangat bahagia.Ada senyum yang terus mengembang di bibirnya.
__ADS_1
Jeje sekretarisnya melihat raut wajah bosnya juga ikut tersenyum.
Pasalnya sudah hampi satu bulan ini wajah bosnya ini terlihat sangar dan mengerikan.Meskipun terkadang wajah sendu dan lelah di Patria tak jarang ikut juga tampak,tapi hanya Jeje yang bisa melihatnya.
Patria menyelesaikan tugas kantornya dengan cepat.Setelah mengecek semua dokumen dan laporan anak buahnya.Patria memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.
Ada rindu yang memanggil Patria agar segera bertemu dengan istrinya.Rindu yang sempat terhempas karena kebodohan nya,rindu yang terpenjara karena egonya dan rindu yang sempat terluka karena fitnah seseorang.
Keesokan harinya Patria dengan sigap mempersiapkan kepulangan istrinya.Hasil pemeriksaan kemarin dan tadi pagi menunjukkan bahwa Agreta benar-benar sudah di ijinkan untuk pulang. "Selamat ya bu sudah bisa pulang ke rumah,tapi ingat jangan lupa di minum obatnya dengan teratur sampai habis.Dan satu lagi jangan lupa untuk kontrol," pesan dokter yang memeriksa Agreta . "Baik dok, terimakasih atas pertolongannya." Patria. "Sekali lagi makasih banyak ya dok." Agreta juga ikut mengucapkan rasa terimakasihnya.
Setelah semua urusan rumah sakit terselesaikan Patria dan mbo Nem langsung membawa Agreta untuk segera pulang.
Sebelum datang ke rumah sakit sebelumnya mbo Nem sudah terlebih dahulu mempersiapkan kejutan untuk majikannya. Mbo Nem di bantu Yeyen mempersiapkan masakan kesukaan nona mudanya.
Dengan sangat hati-hati Patria memacu mobilnya dengan kecepatan sedang . Patria ingin Agreta merasa nyaman.
Setibanya di rumah, dengan sangat hati-hati Patria menggendong istrinya untuk turun dari mobil.Meskipun Agreta sudah mengatakan bahwa dia bisa berjalan sendiri,tapi Patria tetap saja menggendongnya.Alasan di berikan Patria tidak ingin istrinya merasa lelah.
Yeyen yang melihat tuannya datang langsung membuka pintu tanpa di minta.Sendangkan mbo Nem menurunkan barang-barang Agreta dari bagasi mobil.Setelah sampai di dalam ruangan,mata Agreta mengabsen setiap inci ruangan tersebut Ada rasa rindu dalam hatinya,rindu kehangatan dan keceriaan yang dulu pernah dia rasakan.
Tiba-tiba mata Agreta merasa ada yang kurang dari ruangan itu.
Patria yang melihat perubahan raut wajah istrinya pun langsung bertanya,
__ADS_1
"Sayang ada apa?." "Pat kursi yang di situ kemana?" tanya Agreta setelah menyadari ada sebuah kursi yang hilang. "Kursi itu sudah di buang,aku tak ingin melihatnya lagi," jawab Patria.
"Kenapa?" kembali Agreta bertanya,mencari tahu alasan mengapa Patria menyingkirkan kursi itu. Patria menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Agreta. "Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kamu meringis kesakitan setelah terkena kursi itu," ucap Patria memberikan alasan mengapa kursi itu di disingkirkannya. Agreta tersenyum tapi ada guratan kesedihan di matanya. Dan Patria bisa melihat itu.
"Maafkan aku." Hanya dua kata itu yang terucap oleh Patria.
Agreta masih mengingat kejadian waktu itu, ada sedikit trauma yang dia rasakan. Agreta mengerti alasan mengapa kursi itu di singkirkan, bukan hanya Agreta yang merasakan kesedihan itu tapi Patria juga.
"Sayang mau kemana?" tanya Patria setelah melihat Agreta bangun dari duduknya. "Ke kamar,aku mau bersih-bersih badan dulu dan ganti baju. Nggak enak rasanya masih tercium bau rumah sakit," jawab Agreta. "Aku temenin kamu ke kamar." Tanpa menunggu persetujuan Patria langsung memapah istrinya ke kamar. Menujuh lantai dua rumahnya.
Setelah sampai di dalam kamar Agreta segera menuju kamar mandi. Sedangkan Patria menyiapkan keperluan Agreta. Menyiapkan pakaian ganti untuk istrinya.
Setelah selesai melakukan ritual bersih-bersihnya, Agreta tersenyum melihat ternyata Patria sudah menyiapkan keperluannya."Makasih Pat," ucap Agreta. "Tak perlu berterima kasih Geta,kamu sering melakukannya untuk ku. Sekarang biar aku yang melakukannya untuk mu," balas Patria sambil tersenyum menggoda.
Senyum itu kembali terukir di wajah Agreta. Sebuah senyum untuk Patria. Senyuman yang lama menghilang dari mata Patria. "Terimakasih." Patria berucap. "Terimakasih untuk apa?".Agreta bertanya karena tak mengerti maksud dari perkataan Patria. "Terimakasih karena sudah memberikan aku senyuman mu. Kau tahu Geta aku sangat merindukan senyum mu." Patria mengungkapkan isi hatinya.
Mbo Nem dan Yeyen ikut merasakan kebahagiaan kembalinya kembalinya nona mereka ke rumah. Dan bukan hanya itu, kebahagiaan lainnya adalah melihat tuannya kembali akur. Tak ada lagi pertengkaran.
Kesalahpahaman itu sudah di selesaikan. Keceriaan rumah itu kini kembali lagi, setelah hampir sebulan menghilang.
Dengan suasana hati yang senang, mbo Nem dan Yeyen tenga sibuk di dapur, menyiapkan menu makanan siang untuk tuannya.
Mbo Nem menyiapkan makanan kesukaan Agreta, seperti janji yang di ucapkan mbo Nem sewaktu Agreta masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
Bersambung