
Patria melepaskan genggamannya dari tangan Agreta. Mengusap wajahnya dengan kasar.
Agreta menangis terisak-isak.
Si mbo hanya bisa melihat pertengkaran tuanya dan jarak jauh mbo ikut mengasih melihat Agreta di perlakukan kasar oleh tuannya,mbo percaya bahwa tidak mungkin sang nyonya berselingkuh.tapi mbo Nem tidak bisa berbuat apa-apa.
"Di mana kekurangan ku Agreta,,apa salahku hingga kamu tega melakukan itu padaku?" kembali Patria berujar dengan pertanyaan beruntun.
"Aku tidak pernah mengkhianatimu, aku tidak pernah berselingkuh dengan siapa pun,itu semua fitnah!!" jawab Agreta disela-sela tangisnya.
"Patria...aku hanya mencintai mu, hanya kamu yang aku cinta!" Agreta berusaha meyakinkan suaminya.ia mencobah meraih tangan Patria untuk meyakinkan suaminya.
Patria yang merasa tangganya di sentuh oleh istrinya langsung menghempaskan tangan Agreta dengan sangat kuat.Agreta yang tidak siap membuat ia terpental kebelakang.
"Ahhhg.....!"
Agreta meringis kesakitan.Ia merasakan sakit di bagian perutnya akibat terbentur sudut kursi yang terbuat dari kayu.
Agreta sekali lagi meringis menahan sara sakitnya.tapi ia mencoba mengabaikan rasa sakit itu.
Agreta mencoba sekali lagi meraih tangan suaminya tapi lagi-lagi Patria menghempaskan tangannya dan kali ini Agreta tersungkur ke lantai.Agreta tak kuat lagi berdiri.Agreta hanya bisa menangis.
Patria bukannya tersentuh dengan tangisan sang istri justru semakin emosi, dengan suara lantang Patria berkata,
"Aku tidak sudi di sentuh oleh wanita murahan seperti mu!" setelah mengatakan kalimat itu dia pun langsung melangkah pergi meninggalkan Agreta menangis di lantai rumah.
Tapi sebelum Patria mencapai pintu rumah dia mendengarkan perkataan istrinya. "Patria aku bersumpah bahwa aku hanya mencintai mu, aku tidak pernah berselingkuh... AKU tidak pernah mengkhianatimu .AKU SANGAT MENCINTAIMU!" kalimatnya panjang yang di ucapkan Agreta. Patria terdiam sebentar tapi tidak membalikkan badannya,hanya terdiam sesaat habis itu kembali melangkah pergi meninggalkan rumah.tapi sebelum mencapai pintu mobil Patria sempat mendengarkan erangan kesakitan sang istri tapi Patria tidak memperdulikannya. Patria langsung melaju dengan mobilnya tanpa peduli erangan kesakitan sang istri yang dia dengar tadi.
Ego dan kemarahannya melampaui rasa pedulinya.Patria berusaha menepis kata-kata sang istri yang menggangu isi kepalanya bahwa ia tidak pernah berselingkuh.
Sementara itu di rumah Agreta terus mengerang kesakitan.perutnya terasa sangat sakit. Tiba-tiba Agreta merasakan cairan yang agak panas dan ada aroma amis keluar dari selangkangannya.Agreta menyentuh cairan itu.Dan
Ahhgggg..
Agreta terkejut melihat tangan dan lantai tempat ia duduk sudah menjadi berwarna merah.Darah. Darah segar baru saja keluar dari tubuhnya.
"Mbo,mbo!" panggil Agreta dengan suaranya yang sedikit tersendat karena Agreta menahan rasa sakit yang semakin menjadi memanggil mbo Nem.
"Ya non, mbo di sini!"
si mbo langsung menghampiri majikan nya dengan langkah Setega berlari.
__ADS_1
"Ya Tuhan non,non berdarah!"mbo panik melihat Agreta mengeluarkan darah segar dan terus mengalir keluar
"Mbo ,handphone saya tolong hubungi dr Freya!" Agreta meminta mbo menelpon sahabatnya dengan suara yang mulai melemah, wajahnya terlihat pucat.
"Baik non." dengan sigap si mbo langsung meraih handphone Agreta dan menghubungi nama yang di sebutkan sang nyonya.
"Halo Geta." terdengar suara sapaan dari telphon tersebut.
"Maaf bu saya mbo Nem pembantu nya non Agreta." mbo Nem menjelaskan siapa dirinya.
'Bu tolong non Agreta berdarah, darahnya sangat banyak." si mbo menjelaskan maksudnya menghubungi beliau. Freya terkejut mendengarkan perkataan si mbo.
"Mbo Agreta di mana sekarang? tolong berikan telponnya kepada Agreta." ujar Freya dan si mbo langsung memberikan handphone ke Agreta.
"Sakit Feya, perutku sakit."
Agreta langsung mengatakan apa yang ia rasakan saat itu.
"Aku segera ke sana, kamu harus tahan sebentar ya.,yang kuat!"
"Mbo Nem tolong alamat rumah nya." Freya langsung bertanya ke si mbo setelah handphone beralih ke tangan mbo Nem.
Freya langsung memutuskan panggilan setelah mendapat alamat dan langsung mematikan panggilan tersebut tanpa persetujuan terlebih dahulu.freya berlari dari ruangannya langsung menghubungi supir ambulans rumah sakit.karena Freya masih di rumah sakit menunggu suaminya selesai praktek.
"Non yang kuat ya!" Mbo berusaha menenangkan Agreta.
Lima belas menit kemudian terdengar suara sirene mobil ambulans memasuki halaman rumah Agreta.
"Ambulans sudah datang non, yang kuat non,mbo disini." si mbo berusaha menghibur dan memberikan kekuatan kepada Agreta. Agreta tersenyum tipis wajahnya semakin terlihat pucat dan tubuh nya semakin melemah.Agreta menggenggam tangan si mbo dengan kuat seolah menjadi tempat ia mendapatkan kekuatan.
Setelah tiba di kediaman Agreta Freya langsung masuk kedalam rumah karena pintu rumah tidak tertutup alias terbuka lebar.
"Geta, aku sudah datang!"
Ucap Freya sambil mencari posisi Agreta berada.
"Disini bu, non Agreta ada disini di ruang tengah!." mbo langsung memberikan arahan agar Freya segera menemukan Agreta.
Dengan setengah berlari Freya masuk keruang tengah dan alangkah terkejutnya ia setelah melihat kondisi tubuh sahabatnya itu.
"Ya Tuhan ,Geta, apa yang terjadi?" Freya langsung menghampiri sahabatnya yang sudah semakin lemah dan pucat.
__ADS_1
Dan tanpa menunggu jawaban Agreta Freya segera memeriksa kondisi tubuh Agreta. "Geta kamu, kamu.!"
Freya lebih terkejut lagi setelah tahu kondisi tubuh sahabatnya.
"Tolong, selamat kan bayi ku!,
Feya bayiku!." dengan suaranya yang pelan Agreta meminta.
"Ha....?"
Hanya kata itu yang keluar dari bibir si mbo.Mbo Nem terkejut mendengar perkataan sang nyonya mudanya.
Setelah memeriksa kondisi Agreta, Freya langsung memerintahkan agar perawat yang sedari tadi diam untuk memindahkan Agreta ke mobil ambulans.
"Mbo,suaminya kemana?" tanya Freya setelah Agreta di pindahkan ke dalam ambulans. Dengan tatapan binggung si mbo hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, Freya langsung mengerti.
"Mbo ikut ke rumah sakit ya." Freya meminta mbo Nem untuk ikut.
"Baik bu."mbo Nem mengiyakan.
Di mobil ambulans mbo beberapa kali terlihat mengetik sesuatu dan juga beberapa kali mencoba menghubungi seseorang tapi tampaknya tidak membuahkan hasil.
Di tubuh Agreta sudah terpasang selang oksigen dan infus.ia pun sudah mendapatkan suntikan obat hingga rasa sakitnya sedikit berkurang.
Sebelum tiba di rumah sakit Freya sudah lebih dulu menghubungi suaminya menjelaskan kondisi tubuh sahabatnya. Freya pun menghubungi Siska. Siska terkejut mendengar perkataan Freya dan langsung bergegas ke rumah sakit olan tempat Agreta di bawah.
Sesampainya di rumah sakit Agreta langsung di bawah ke ruang tindakan di sana dr Fadi sudah menunggu.
Dr Gilang i adalah suami dari Freya.
Setelah beberapa saat kemudian dokter Gilang keluarga dari ruangan
"Keluarga pasien!." tanya sang dokter
"Saya mbo Nem, pembantu rumah Non Agreta." mbo Nem langsung berdiri menghampiri dr Gilang.
"Suaminya kemana?" dokter Gilang bertanya sambil alisnya mengkerut.
Freya yang sadar akan kondisi saat itu langsung bertanya
"Ada apa?"
__ADS_1
Bersambung