
Setibanya di mall yang di tujuh Patrai dan Agreta turun dari mobil tepat di depan lobby mall tersebut. Agreta merasa senang hari ini bisa menikmati kegiatan di luar rumah walaupun hanya sebentar saja.
Dengan tangan saling bergandengan Patria dan Agreta memasuki mall tersebut.
"Kamu mau beli sesuatu Geta?" tawar Patria.
"Aku cuma pingin liat-liat aja, boleh?" ucap Agreta.
"Boleh,tapi jika kamu menginginkan sesuatu bilang ya," Patria.
Agreta pun menganggukkan kepalanya. Tangan Agreta terus memeluk lengan suaminya seolah takut ketinggalan. Patria dan Agreta menyusuri setiap lorong yang ada dalam mall, sesekali Patria memandangi Agreta.
Tiba-tiba langkah Agreta terhenti, matanya tertuju pada satu titik. Ada Senyum kecil terbingkai dengan indahnya di bibir Agreta. Dan Patria pun menyadari itu. Mata Patria ikut memandangi titik dimana arah mata istrinya.
"Sayang kamu mau mampir ke situ?" tanya Patria.
"Boleh?" tanya Agreta sambil menatap Patria penuh harap.
"Tentu saja boleh, ayo," Patria menujuh ke tempat yang di pandangi oleh Agreta.
Mereka berdua segera masuk ke dalam sebuah butik dan di sambut dengan ramah oleh penjaga toko tersebut.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" sapa pegawai butik.
Agreta dengan antusias segera menujuh ke sebuah gaun yang terpajang di badan sebuah boneka manekin. Sebuah gaun yang sudah menarik perhatian Agreta.
"Mba saya boleh coba yang ini?" tanya Agreta sambil memegangi gaun tersebut.
"Tentu saja boleh, sebentar ya saya ambilkan yang baru," tutur pegawai butik itu dan segera menuju ke gudang penyimpanan.
Tak berapa lama kemudian pegawai butik itu kembali sambil membawa sebuah gaun yang sama persis yang di inginkan Agreta. Tapi sebelum mengambil gaun tersebut Agreta menatap Patria suaminya dan bertanya,
__ADS_1
"Aku boleh beli yang ini?"
"Apa pun itu kamu boleh membelinya," jawab Patria. Patria saat ini hanya ingin membuat istrinya bahagia, apa pun keinginan Agreta selama itu masih bisa di penuhinya maka Patria akan mengiyakan. Dengan cara ini Patria berusaha untuk menebus kesalahannya, meskipun itu tidak pernah sepadan jika di bandingkan dengan rasa sakit yang di alami Agreta.
Mendapatkan persetujuan dari Patria, Agreta segera meraih gaun yang di berikan penjaga toko dan langsung menuju ruang pas mencoba baju tersebut.
Dengan malu-malu Agreta ke luar dari ruang pas menujuh ke tempat Patria.
"Pat, bagus nggak?" Agreta bertanya meminta pendapat suaminya.
Patria terdiam mematung sejenak memandangi Agreta. Gaun itu terlihat sangat pas di tubuh istrinya. Sebuah gaun yang sederhana berwarna kuning gading menyatu dengan kulit Agreta yang putih bersih. Ada hiasan bunga-bunga kecil di bagian bawahnya, dengan potongan leher yang tidak terlalu rendah sehingga tidak memarkan kemulusan dada Agreta tapi itu sudah cukup membuat Agreta terlihat sangat mempesona.
"Sayang bagus nggak? kalau tidak cocok aku cari yang lain," ucap Agreta yang melihat Patria terdiam.
"Itu bagus sangat cocok untuk mu," puji Patria setelah sadar dari lamunannya.
"Beneran nih?" Sekali lagi Agreta meminta kepastian.
Sementara itu di tempat yang tak jauh dari tempat Patria dan Agreta berada ada sepasang mata yang mengawasi mereka dengan perasaan marah dan iri. Dan pemilik mata itu tak lain adalah Anggie.
Moodnya Anggie yang sedari kemarin buruk kini semakin terpuruk. Hatinya terasa panas dan sakit menyaksikan kemesraan suami istri tersebut. Tangan Anggie sudah terkepal erat memegangi ujung bajunya. Terbersit niat buruk dalam pikirannya saat itu juga. Anggie bertekad melakukan sesuatu terhadap Agreta meskipun saat ini mereka berada dalam mall. Anggie tak peduli akan sisi tv yang merekam tingkah lakunya.Keinginannya saat ini adalah ingin membuat Agreta celaka.
Diam-diam Anggie mengikuti kemana pun Patria dan Agreta melangkah. Anggie mencari kesempatan yang tepat untuk melakukan aksinya. Dia tidak peduli dengan status Agreta yang notabene merupakan istri sah dari Patria. Anggie ingin merebut dan memisahkan Agreta dengan Patria apa pun caranya.
Sementara itu Patria yang belum menyadari kehadiran Anggie yang sedang mengawasi mereka, tetap berjalan santai sambil menggenggam tangan istrinya.
"Geta ini sudah waktunya untuk makan siang," Patria mengingatkan Agreta setelah melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang.
"Kita mau makan apa?" tanya Agreta setelah mendengar ucapan Patria.
"Terserah kamu,tapi jangan makan cepat saji, ' balas Patria.
__ADS_1
Agreta pun langsung memilih untuk makan siang mereka di restoran Nusantara. Di sana ada banyak menu sayur dan ikan yang baru saja di masak.
Langsung Patria terhenti setelah mendengar bunyi handphone miliknya berbunyi. Patria segera merai benda pipi itu dan mengecek siapa yang menelponnya. Setelah membaca nama yang tertera di layar handphone miliknya Patria segera menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
"Ya Jeje," ucap Patria menerima panggilan tersebut.
"Siang pak, apakah bapak tidak kekantor hari ini?" Jeje.
"Mungkin nanti setelah saya selesai mengantarkan istri saya, saya baru kekantor," Patria.
Sementara obrolan Patria dan Sekretarisnya berlangsung, Agreta meminta ijin kepada Patria untuk lebih dulu menujuh restoran yang sudah mereka sepakat tadi. Dan dengan bahasa isyarat Patria pun menyetujui permintaan Agreta. Karena letak restoran tersebut sudah tidak jauh dari posisi mereka berada saat ini makanya Patria mengijinkan.
Tak jauh dari posisi Agreta Anggie mencari kesempatan yang tepat untuk melakukan aksinya, dia tidak peduli dengan status Agreta yang notabene merupakan istri sah dari Patria. Anggie ingin merebut dan memisahkan Agreta dengan Patria apa pun caranya.
Sementara obrolan Patria dan Sekretarisnya berlangsung, Agreta meminta ijin kepada Patria untuk lebih dulu menujuh restoran yang sudah mereka sepakat tadi. Dan dengan bahasa isyarat Patria pun menyetujui permintaan Agreta. Letak restoran tersebut sudah tidak jauh dari posisi mereka berada saat ini makanya Patria mengijinkan.
Dengan pengawasan mata Patria Agreta melangkah ke restoran tersebut. Percakapan Patria dan Sekretarisnya terus berlanjut sampai tanpa sengaja mata Patria menangkap sosok bayangan seorang wanita yang sedang mengikuti langkah Agreta istrinya.
Bayangan wanita itu sangat di kenali oleh Patria. Tubuh Patria menegang otaknya bekerja keras. Patria Kembali teringat akan pesan dari Gafin tentang sosok wanita itu.
"DIA ADALAH WANITA NEKAT BISA BERBUAT APA SAJA DEMI MENDAPATKAN KEINGINANNYA, JAGA ISTRI MU JAGA KESELAMATANNYA." Kalimat ini membuat Patria langsung mematikan handphone miliknya tanpa peduli sekretarisnya masih berbicara dan langsung menuju ke tempat Agreta berada dengan langkah kaki berlari. Dalam hatinya Patria berdoa, "Tuhan tolong jaga istri ku."
Anggie yang melihat Agreta berjalan sendiri tanpa di temani oleh Patria segera menyusulnya. Anggie mencoba mengejar Agreta dari belakang tapi langkahnya terhenti sebelum berhasil meraih Agreta. Agreta telah lebih dulu memasuki pintu restoran, dan itu sukses membuat Anggie merasa kesal. Anggie tidak ingin menyakiti Agreta di dalam restoran bukan? Karena itu terlalu banyak saksi yang melihatnya dan itu sangat tidak baik untuk Anggie.
Anggie pun segera berbalik arah mencari tempat persembunyian untuk bisa kembali mengawasi Patria dan Agreta.
"Ihh kenapa wanita itu selalu saja beruntung? menyebalkan sekali." Anggie mengumpat dalam hatinya. Anggie tidak sadar jika apa yang di lakukan olehnya saat ini sudah di ketahui oleh Patria.
Bersambung
__ADS_1