AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 80 HASIL TES


__ADS_3

Setelah selesai dengan urusan kantornya Patria segerah pergi menuju ke rumah sakit. Perasaan Patria selama dalam perjalanan bercampur aduk. Bayangan wajah pak Mun terlintas di kepalanya Patria, Patria merasa binggung jika ternyata hasil negatif, bagaimana cara  Patria untuk mengatakan kabar tersebut. 


    Butuh setengah jam untuk sampai ke rumah sakit, Patria segerah menuju ke ruang kerja dokter Freya. Benar saja Freya sudah menunggu kedatangan Patria. Di dalam ruangan tersebut juga ada dokter Gilang.


"Hi...apa saya bisa masuk sekarang,?" tanya Patria setelah masuk ke dalam ruangan Freya, yang secara kebetulan pintu ruangan Freya tidak di tutup.


"Masuk Patria," ucap Freya. "Silahkan duduk dulu, mau minum apa?" tawar Freya. "Terimakasih, air putih saja," jawab Patria.


     Freya pun menyiapkan air putih untuk Patria. Kebetulan di ruangan itu sudah ada tersedia minuman mineral dalam galon diatas di spenser.


"Bagaimana Patria apa sudah siap untuk mengetahui hasil tes DNA_nya?"  tanya Freya setelah selesai menyiapkan minuman untuk Patria.


"Ya saya siap," jawab Patria sambil merubah posisi duduknya.


"Saya akan hubungi dokter yang memeriksa kecocokan DNA nya," ucap dokter Gilang. Freya pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.


    Selama menunggu kedatangan dokter yang di maksud Patria terlihat sangat tegang.  "Tenang saja Patria, jika hasilnya negatif kami akan tetap merahasiakan hal ini dari Agreta," kata dokter Gilang. Patria pun hanya menjawab ucapan Dokter Gilang dengan senyum ala kadarnya. Patria gugup.


      Selang beberapa saat kemudian dokter yang di tunggu pun tiba. Ditangannya sudah ada amplop putih yang bertuliskan nama rumah sakit. Jantung Patria semakin berdebar kencang, pikirannya juga ikut berperang berusaha memikirkan tindakan apa selanjutnya yang akan di lakukan Patria.


"Silahkan duduk dok, maaf kami sudah merepotkan dokter," ucap Freya. "Terimakasih Dokter Freya, ini hanyalah bantuan kecil," balas dokter tersebut. Dokter itupun langsung duduk di kursi yang di siapkan oleh Freya.


     Setelah duduk dokter itu langsung menatap wajah Patria. "Apa sudah siap untuk mengetahui hasilnya?" tanya dokter itu.


"Siap dok," jawab Patria mantap.


Dokter itupun pun segera menyerahkan amplop putih yang di bawanya tadi kepada Patria.


     Dengan hati-hati Patria membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Sebuah kertas putih yang sudah tertera angka dan dan tulisan yang sangat panjang. Patria membacanya dengan sangat teliti. Setelah selesai raut wajah Patria terlihat sangat bahagia. 


"Ini beneran dok hasilnya?" tanya Patria.

__ADS_1


"Iya itu hasilnya," jawab dokter itu.


"Bolehkah saya melihat hasilny,a,?" tanya Freya kepada Patria.


  Patria pun segera memberikan hasil tes DNA itu kepada Freya. Freya dan Gilang pun langsung membaca hasil tes DNA yang di berikan Patria.


"Jadi keluarga Geta masih ada," ucap Freya setelah selesai melihat kertas putih itu. Patria menjawab pertanyaan Freya dengan anggukan kepala.


"Geta pasti senang jika mengetahui orang tuanya masih ada," tutur Freya dengan semangat. 


     Mendengar ucapan Freya raut wajah Patria langsung berubah senduh. 


"Ada apa Patria?" tanya Gilang, setelah melihat perubahan wajah Patria.


"Masalahnya aku beberapa kali pernah bertanya bahkan menawarkan Geta untuk mencari tahu tentang orang tuanya tapi Geta terlihat enggan untuk membahasnya." tutur Patria.


"Tapi kenapa,apa Geta tidak memberikan alasannya,?" tanya Freya binggung. "Geta tidak mengatakan apapun kepada ku," balas Patria. 


      Setelah selesai perbincangan antara Patria dan Freya juga Gilang, Patria pamit pulang. Patria tidak kembali lagi ke kantor di karenakan semua kerjaannya hari itu sudah selesai, jadi tak ada alasan bagi Patria untuk kembali ke kantor.


   Setibanya di rumah Patria segerah mencari keberadaan istrinya, sedang Agreta yang mendengar bunyi mesin mobil yang sangat di kenalnya pun segera turun ke lantai bawah mencari suaminya.


"Patria sayang, tumben jam segini kamu sudah pulang?" tanya Agreta sambil memeluk tubuh suaminya.


"Hari ini pekerjaanku sudah selesai jadi aku bisa pulang lebih cepat," jawab Patria sambil ikut memeluk tubuh istrinya.


      Di wajah Patria terlihat sangat bahagia tapi di dalam hati dan pikirannya Patria sedang bergejolak. Ada perang batin yang di rasakan oleh Patria. "Kamu sudah makan siang,?" tanya Patria pada Agreta.


"Belum, nanti kita makan sama-sama ya, mbo udah masakin makanan kesukaan mu!," ucap Agreta. 


"Baiklah,aku bersih-bersih badan dulu." ucap Patria sambil mengecup pucuk kepala Agreta.

__ADS_1


      Setelahnya Patria segerah menuju ke lantai dua tapi tidak langsung menuju ke kamar tapi menujuh ke ruang kerjanya. Patria menaruh amplop putih hasil tes DNA itu di laci meja kerjanya, setelah itu Patria langsung menuju ke kamar utama untuk bersih-bersih.


      Setelah selesai Patria Kembali turun kebawah dan langsung menuju ruang makan, di sana Agreta dan mbo Nem sedang menata meja makan. 


"Makan yuk," ajak Agreta. Patria segera duduk di kursi miliknya begitu juga dengan Agreta duduk di samping Patria.


      Patria terlihat bersemangat menikmati setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya, begitu pun dengan Agreta. Setelah selesai menyantap makanan siang, Agreta dan Patria duduk santai sejenak di ruang tengah untuk menikmati waktu bersama. 


    Tiba-tiba hanphon miliknya Patria berbunyi, sebuah panggilan masuk. Patria pun segera meraih handphone miliknya dari melihat siapa yang menghubunginya. Setelah membaca nama yang tertera di layar handphone miliknya Patria segera menjawab panggilan tersebut.


"Ya Jeje, ada apa,?" ucap Patria setelah menekan tombol berwarna hijau.


"Pak barusan saya mengirimkan laporan ke email bapak," ucap Jeje.


"Baiklah saya akan segera memeriksanya," balas Patria dan percakapan singkat itupun berakhir.


"Ada apa Patria,?" tanya Agreta.


"Jeje baru saja mengirimkan email ke aku, aku ingin segera mengeceknya," tutur Patria.


"Biar ku ambilkan laptopnya," tawar Agreta. Dan Patria tanpa berpikir lagi langsung mengiyakan tawaran Agreta.


Agreta pun langsung ke atas ke lantai dua menujuh ke ruang kerja Patria untuk mengambil laptop milik suaminya. Setibanya di ruang kerjanya Patria Agreta segera menuju ke meja kerja Patria.


Sebelum mengambil laptop Agreta melihat laci meja kerjanya Patria sedikit terbuka. Agreta berniat untuk menutup rapat laci tersebut, tapi gerakan tangannya terhenti setelah melihat amplop berwarna putih yang ada dalam laci. Dengan rasa penasaran Agreta segera meraih amplop tersebut, Agreta terkejut setelah membaca tulisan yang tertera di amplop.


"Rumah sakit,?" ucap Agreta dalam hatinya.Agreta pun segera membuka amplop tersebut dan membaca tulisan yang tertera dalam kertas putih tersebut.


     Agreta berdiri mematung setelah selesai membaca isi laporan rumah sakit. Entah apa yang di pikiran oleh Agreta saat ini, Agreta shock. 


Bersambung        

__ADS_1


__ADS_2