AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 61 BERJALAN SESUAI RENCANA


__ADS_3

"Zal, jangan balik dulu, nanti pulang bareng aku aja," ajak Patria.


"Aku bisa apa? selain menyetujui permintaan mu Patria!" Jawab Rizal sambil tersenyum, Patria pun merasa senang. 


Sekali lagi Patria berhasil memaksakan kehendaknya pada Rizal. Sebenarnya bukan hanya kali saja Patria memaksakan keinginannya pada Rizal tapi sudah tak terhitung jumlahnya, dan Patria tak pernah bosan akan hal itu.


Sebenarnya Patria bukan tidak memiliki keluarga, Patria masih mempunyai paman dan bibi dari kedua orangtuanya. Tapi sayang Patria menyadari jika paman dan bibinya ingin dekat dengannya bukan karena menyayanginya tapi ada maksud lain. Yaitu ingin merebut harta warisan dari kedua orang tuanya. Patria yang mengetahui hal itu jelas saja kecewa dan memutuskan untuk menjaga jarak dengan mereka.


Ayah dan ibu dari Patria sudah meninggal dunia di karenakan kecelakaan pesawat saat Patria masih duduk di bangku kuliah.


"Rizal lapar ngga?" tiba-tiba Patria bertanya.


"Belum, nanti makan di rumah saja," jawab Rizal enteng. Keadaan sesungguhnya saat ini cacing-cacing yang berada di perut Rizal sudah menutut jatah makan siang, tapi Rizal berhasil memaksa para cacing untuk bersabar dan tidak menjerit apa lagi sampai berdemo.


Sesudah mendengarkan jawaban Rizal Patria kembali menundukkan kepalanya kembali fokus pada lembaran-lembaran kertas di atas meja kerjanya. Sementara itu Rizal dengan setia duduk manis, menunggu Patria sambil memainkan game online di handphone miliknya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh menit, waktunya jam kerja Patria usai. Lembaran map dan kertas yang tadinya menumpuk di meja Patria kini sudah menghilang.


"Ayo kita pulang," ucap Patria setelah menutup map terakhir.


"Ha..? udah selesai kerjanya?" Rizal terkejut mendengar ajakan Patria. Rizal melihat meja kerja Patria yang tadinya banyak tumpukan map dan kertas kini sudah tersusun rapi siap di ambil oleh Jeje.


"Mau pulang atau masih betah di sini?" Sekali lagi Patria bertanya, setelah melihat Rizal yang masih terdiam.


"Ayo pulang!" Dengan semangat empat lima Rizal menjawab. Patria jadi tertawa melihat tingkah Rizal.


Patria dan Rizal keluar bersama dari kantor Patria. Tapi sebelum turun, Patria menghampiri sekretarisnya itu.


"Je, semua laporan sudah saya periksa dan sudah di tandatangani. Kamu tinggal ambil di ruangan saya," kata Patria.


"Baik pak," jawab Jeje singkat.


Rizal sudah menunggu Patria di depan pintu lift terlebih dahulu. Mereka berdua pun langsung masuk kedalam lift setelah pintu lift terbuka.

__ADS_1


Di dalam lift tiba-tiba terdengar suara aneh, 


Krruk Kruk


Sungguh Rizal ingin sembunyi saat ini, cacing-cacing di dalam perut Rizal kali ini bukan hanya menjerit tapi sudah berdemo, dan kali ini sukses membuat Rizal malu. Kepala Rizal langsung tertunduk dalam sedangkan tangannya meremas perutnya seolah sedang menghukum para cacing yang berdemo tadi.


"Tak bisakah kalian bekerja sama dengan ku sekali ini aja?" umpat Rizal pada cacing yang menghuni perutnya.


Patria berusaha menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah Rizal.


"Kita mampir ke restoran dulu sebelum pulang," tutur Patria.


Rizal hanya diam tak berani lagi untuk menolak. Rizal tak mungkin lagi berbohong dengan alasan belum lapar, sudah pasti Patria tidak akan percaya.


setiba di parkiran Patria dan Rizal langsung masuk ke dalam mobil tersebut.Tujuannya pertama mereka bukan rumah tapi tempat makan. Setelah membeli makanan mereka berdua pun segera berbalik ke rumah.


Rizal meminta agar makanannya di bungkus saja dengan alasan biar cepat sampai di rumah.


Malam itu makan malam mereka penuh dengan kegembiraan.


Sebelum Patria dan Rizal beristirahat rahat, mereka berdua sempat berbincang sejenak.


"Pat apa yang akan kamu katakan pada Agreta jika Agreta tahu aku kini menjadi pengawalnya?"tanya Rizal.


"Aku akan berterus terang kepada istri ku," jawab Patria.


"Aku ingin Agreta juga waspada akan keadaan sekitarnya. Aku akan mengatakan semua nya tanpa ada yang di tutupi," sambung Patria lagi.


"Baiklah, sekarang mari kita tidur dan istirahat," jawab Rizal.


Di apartemennya Anggie.


Saat ini Anggie sedang berbicara di telepon dengan seseorang.

__ADS_1


"Bagaimana sudah selesai semuanya?" tanya Anggie.


"Sudah, barangnya akan segera saya antar," jawab orang di balik telpon.


"Aku tunggu, masalah bayarannya, mau kes atau transfer?" Anggie 


"Saya minta kes," jawab orang itu lagi.


Setelah bersepakat Anggie segera menyiapkan sisa uang pembayaran yang sudah di janjikan. Sambil tersenyum jahat Anggie memasukkan sejumlah uang ke dalam sebuah amplop. "Agreta ini akhir dari bahagia mu." Anggie berucap dalam hatinya dengan penuh percaya diri.


Tiga puluh menit kemudian orang yang di tunggu-tunggu Anggie pun tiba. Tanpa perlu berbasa-basi lagi orang itu pun langsung menyerahkan hadil kerjanya kepada Anggie.


"Ini pesanan mu, dan mana bayaran ku?" kata orang itu langsung pada intinya.


"Aku cek dulu hasilnya, kalau aku puas uangnya langsung bisa kamu bawa pulang," jawab Anggie tak ingin gegabah.


Sesudah melihat hasil kerja orang itu Anggie segera menyerahkan apa yang sudah dijanjikannya pada orang tersebut. Yaitu uang sisa pembayaran untuk mengedit foto dan membuat sebuah vidio pendek. Anggie tersenyum bahagia setelah menonton video yang baru saja di terimanya tadi. Anggie merasa bahwa kali ini dia akan berhasil memisahkan Patria dengan istrinya. Selama ini cara yang di gunakan Anggie untuk melancarkan niatnya selalu berhasil tidak pernah gagal. Dan kali ini juga Anggie percaya diri. Malam ini Anggie bisa tidur dengan nyenyak, bahkan Anggie memejamkan matanya sambil tersenyum bahagia.


Keesokan harinya Anggie bangunan pagi-pagi sekali. Hari ini tampak begitu berbeda, wajah Anggie terlihat begitu ceria. Bahkan Anggie sempat bersenandung kecil. Anggie segera menghubungi seseorang yang yang sebelumnya sudah pernah menjadi perantaranya untuk mengirimkan barang kepada seseorang. 


"Aku punya tugas lagi untuk mu, cepat kesini!" Anggie langsung memberikan perintah setelah panggilannya di terima oleh orang tersebut.


"Baiklah." Orang itu pun mengiyakan permintaan Anggie dan langsung memutuskan panggilan tersebut dan langsung bersiap menujuh ke tempat Anggie. Tanpa perlu menunggu Anggie memberanikan alamatnya, orang itu langsung meluncur ke Apartemennya Anggie.


Sambil menunggui kedatangan orang tersebut Anggie menyiapkan sarapan paginya berupa segelas susu coklat panas dan roti gandum di olesi selai strawberry. Anggie menikmati sarapan paginya dengan senyuman yang terlukis indah di wajahnya. Bukannya hanya bibirnya yang tersenyum tapi juga hatinya kini ikut merasakan kebahagiaan. Anggie merasa kemenangan telak sudah menjadi miliknya. 


Selang waktu satu jam orang yang di tunggu oleh Anggie pun tiba.


Anggie segera membukakan pintu apartemen miliknya dan mempersilahkan tamunya untuk masuk.


 


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2