
Setelah beberapa lama Patria memperhatikan Agreta, Patria merasa ada yang janggal.pasalnya sedari tadi tidak ada pergerakan sedikit pun yang di tunjuk oleh Agreta. Patria memandangi istrinya lebih seksama lagi dan keraguannya semakin dalam.
"Mbo, kenapa istri saya dari tadi tidak ada pergerakan ya?" Patria mencoba mencari jawaban atas keraguannya. "Dari tadi saya perhatikan istri saya hanya diam saja." ujar Patria lagi.
"Tuan,maaf sebenarnya non Agreta." Mbo terdiam tidak berani melanjutkan kata-katanya. "Mbo ada apa dengan istri saya? ada apa dengannya?" Patria memalingkan kepalanya langsung menatap mbo Nem. "Tuan, sebenarnya non Agreta kondisinya saat ini sedang tidak sadarkan diri." Dengan kepala tertunduk mbo Nem mengucapkan kalimat itu.
"Mbo,mbo nggak lagi becanda kan?" ucap Patria berharap mbo salah bicara. "Mbo istri saya hanya sedang tidurkan karena obat yang di berikan dokter kan mbo?" Patria bertanya lagi hatinya menolak menerima pernyataan mbo Nem. "Tidak tuan tapi memang benar non Agreta kondisinya seperti itu." ujar mbo lagi dengan raut wajah sedih.
Seketika tubuh Patria merasa lemas, seolah-olah tidak memiliki kekuatan sama sekali.Patria langsung tersadar di sandaran kursinya. Perasaan bersalah,rasa sedih berkecamuk dalam hatinya Patria.dia benar-benar merasa telah mengabaikan istrinya. Buliran bening jatuh di sudut matanya Patria.Patria menangis mengetahui kondisi istrinya. Dadanya terasa sesak.
"Geta sayang maafkan aku." Patria menangis sambil menggenggam tangan sang istri.Berlali-kali menciumnya,berkali-kali juga terucap kata maaf dari bibir Patria.
"Sejak kapan mbo istri saya seperti ini?" Tanya Patria lagi di selah-selah tangisnya. "Sejak.." Belum selesai mbo Nem menjawab pintu kamar Agreta terbuka.
"Selamat malam." Freya Masuk bersama beberapa perawat di belakang nya. Freya masuk keruang Agreta untuk mengecek kondisi pasien.
Mata Freya langsung tertuju pada Patria. "Dengan pak Patria?" tanya Freya langsung menatap mata Patria. "Iya dok saya suaminya dari pasien." jawab Patria. "Kenalkan saya dokter Freya kebetulan dokter yang menangani pasien sedang bertugas di luar jadi saya yang menggantikan beliau."
Freya memperkenalkan dirinya sebagai seorang dokter bukan sebagai sahabatnya Agreta. "Permisi ya pak saya mau memeriksa kondisi pasien." Freya meminta ijin untuk mengecek Agreta.Patria menjawab dengan anggukan kepala.
Setelah memeriksa kondisi pasien dan mencatat di sebuah kertas laporan kesehatan.Freya langsung meminta Patria untuk berbicara dengannya di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Pak Patria bisa kita bicara sebentar." Ujar Freya. "Baik dok." jawab Patria langsung.Patria ingin mengetahui keadaan istrinya untuk itu dia langsung menyetujui perkataan dokter Freya.
Setelah itu Freya dan Patria langsung keluar dari ruangan Agreta dan langsung menuju ke ruang kerja Freya.
Setelah membuka pintu ruangannya Freya langsung meminta Patria untuk masuk. "Silahkan duduk pak Patria." ucap Freya mempersilahkan Patria untuk duduk. "Terimakasih dok." jawab Patria sambil duduk ke kursi yang di tunjuk oleh Freya. "Dok, bagaimana kondisi istri saya?" Patria langsung bertanya karena ingin mengetahui lebih lanjut tentang Agreta.
Freya menarik nafas dalam.jika Freya bukanlah seorang dokter saat ini mungkin sedari tadi Freya memaki pria yang saat ini sedang duduk di hadapannya. Sejujur Freya sedang menahan amarahnya lebih tepatnya amarahnya Freya di mulai sejak ia melihat Patria di ruangan Agreta.
"Baik pak Patria,saya langsung saja memberi tahukan kondisi pasien." Freya sekali lagi menarik nafasnya sambil berusaha mengontrol emosinya agar tidak meledak .
"Pak Patria sudah tahu kondisi istrinya saat ini? ya benar adanya kalo saat ini pasien dalam keadaan tidak sadarkan diri.Tapi kondisinya stabil." Ujar Freya.
Buuummm....
Seperti ada bom yang meledak dalam hatinya Patria. Patria terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh dokter.patria shock. "Hamil dok?" tanya Patria lagi.
"Ya.,Saat itu istri bapak sedang hamil mudah dan kami pihak rumah sakit meminta maaf karena tidak bisa menyelamatkan bayi anda." ujarnya Freya sambil menatap Patria karena ingin memastikan sikap Patria.
"Maksudnya dokter istri saya keguguran?" Patria bertanya dengan nada menolak kebenaran yang baru saja di terimanya. "Saya turut menyesal pak Patria atas kehilangannya,tapi penyebab utama pasien mengalami keguguran di karenakan perut pasien terbentur sesuatu sehingga rahimnya terluka yang menyebabkan pendarahan, "Sekali lagi kami pihak rumah sakit turut berdukacita atas musibah ini.Tapi ini keadaan sebelum pasien tidak sadarkan diri." Freya kembali lagi melanjutkan keterangan mengenai kondisi Agreta.
"Maksudnya dokter masih ada hal lainnya?" Patria bertanya dengan wajah tak percaya. "Iya." jawab Freya tegas.."Pasien sempat mengalami pendarahan hebat,yang membuat nyawa pasien sempat terancam.Dan bukan hanya itu saja pak patria, jantung pasien sempat berhenti berdetak sesaat" Ucap Freya sambil terus menatap patria lekat.Tanggannya Freya sudah terkepal erat di bawah meja kerjanya menahan emosi.
__ADS_1
Tubuh Patria bergetar seolah-olah habis tersambar petir.dia langsung mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.Patria tertunduk.matanya langsung mengeluarkan cairan bening. Patria menangis di hadapan Freya. Patria benar-benar merasa bersalah.,hatinya terasa sakit nafasnya tertahan terasa berat. Dalam hatinya patria memaki dirinya sendiri.menyalakan dirinya sendiri.
Patria mencoba fokus pada kondisi saat ini."Dok sekarang bagaimana kondisinya istri saya?" Kembali bertanya . "Kondisi pasien saat ini baik-baik saja, semuanya dalam keadaan normal" ucap Freya. "Kapan istri saya bisa sadar dok?" Patria. "Soal itu jujur pak Patria.,kami sebagai dokter hanya bisa melakukan yang terbaik.Tapi kapan pasien siuman hanya Tuhan dan pasien sendiri yang tahu" jawab Freya.
Patria perasaannya kembali terpukul setelah mendengar perkataan Freya.
"Bantu dengan doa agar pasien segera sadar,juga jika bisa pak Patria ajaklah pasien untuk bicara ini akan membantu merangsang otak nya untuk merespon." Freya memberikan penjelasan lagi.
"Baik dok, tolong berikan yang terbaik untuk istri saya, berapa pun biayanya saya akan membayarnya." ucap Patria memohon. "Apa masih ada lagi yang bisa saya lakukan?" Patria meminta arahan apa yang bisa dilakukannya.
"Bantu dengan doa dan ajaklah pasien untuk bercerita.Saat ini hanya itu yang bisa dilakukan." Freya menutup pembicaraannya dengan Patria.
"Baik dok terima kasih,jika ada yang bisa saya lakukan tolong beritahu saya" Patria. "Baik." jawab Freya.
Patria meninggalkan ruangan dokter Freya dengan kepala tertunduk dan langkah gontai.berkali-kali patria merutuki dirinya sendiri.
Setelah sampai di ruang Agreta Patria langsung duduk di kursi di samping ranjang istrinya. "Geta sayang,maafkan aku,tolong bangun jangan seperti ini,aku janji tidak akan marah lagi." Patria menangis memohon sambil memegang tangan Agreta yang dingin.
Mbo Nem dan Yeyen ikut merasakan kesedihan tuanya.pemikiran mbo Nem tentang tuanya sudah tidak peduli dengan nyonya nya terkikis setelah melihat betapa terlukanya patria saat ini.
Bersambung
__ADS_1