AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 86 AKHIR BAHAGIA


__ADS_3

Patria yang melihat Freya keluar dari kamar istrinya pun langsung menghampirinya.


"Freya bagaimana keadaan Geta,?" tanya Patria dengan perasaan cemas.


Tapi lagi-lagi Freya tak menjawab pertanyaan Patria juga. Freya segera menghampiri suaminya Gilang dan langsung menarik Gilang untuk segera masuk kedalam kamar Agreta.


     Apa yang di lakukan oleh Freya menimbulkan kecurigaan yang semakin dalam. Rasa cemas kini menghantui perasaan Patria dan juga pak Mun dan istrinya.


     Freya segera meminta Gilang untuk memeriksa Agreta. Dengan menggunakan perlengkapan kedokteran istrinya Agreta dengan patuh membiarkan dirinya di periksa oleh Gilang.


     Setelah memeriksa beberapa saat dengan menggunakan alat kedokteran Gilang pun mencoba memeriksa denyut nadi Agreta. Senyum bahagia langsung membingkai wajah Gilang, Freya pun langsung mengerti arti senyuman suaminya.


    Sementara Agreta menatap binggung kearah Freya dan Gilang. 


"Gilang sebenarnya aku sakit apa?" tanya Agreta.


"Kamu baik-baik saja, tenang saja," Balas Gilang. Freya segera keluar dari kamar Agreta dan menghampiri Patria.


"Patria selamat ya, sebentar lagi kamu akan menjadi ayah," tutur Freya sambil tersenyum bahagia.


     Mendengarkan ucapan dari Freya Patria terkejut, kedua alisnya langsung terangkat keatas dan kedua matanya langsung terbuka lebar. Patria terdiam beberapa saat karena shock mendapati bahwa istrinya saat ini tengah mengandung.


"Patria....!" panggil Freya.


"Ha...ya..." Hanya kata itu yang bisa di ucapkan oleh Patria karena masih shock. "Patria , Geta sedang hamil," ucap Freya lagi.


     Patria yang kembali mendengar perkataan Freya pun langsung sumringah, wajah bahagia kini langsung terpancar di wajahnya Patria. Begitu juga dengan pak Mun dan istrinya. Rasa bahagia mereka kini benar-benar terasa sempurna. Anak mereka telah kembali samvil membawa menantu,kini lengkapi oleh kehadiran calon cucu mereka.


"Ayah ibu aku sekarang akan menjadi ayah!" seru Patria bersemangat. Patria langsung memeluk tubuh dari kedua mertuanya. Patria menangis haru.


     Setelah menumpahkan kegembiraannya Patria langsung menuju ke kamar untuk menemui Agreta.


"Sayang terimakasih kasih ya, sebentar lagi kita akan menjadi ayah dan ib,u," ucap Patria sambil mendekap tubuh Agreta.


"Jadi aku nggak lagi sakit,? tanya Agreta untuk memastikan pendengarannya masih berfungsi normal.


"Iya sayang, sekarang kamu lagi hamil!" Tutur Patria meyakinkan Agreta. 


"Beneran aku hamil?" Sekali lagi Agreta bertanya dan kali ini pertanyaannya Agreta langsung di tujukan kepada Gilang. Dengan tatapan mata penuh harap Agreta menunggu jawaban sahabatnya itu. Sambil tersenyum Gilang menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Patria.

__ADS_1


      Agreta pun langsung melaksanakan tangannya di atas perutnya yang masih rata. Di usapnya perutnya dengan perlahan. Ucapan syukur pun terlontar dari mulut Agreta.


Pak Mun dan bu Mun ikut masuk kedalam kamar. Ucap selamat dan beberapa nasehat langsung di ucapkan oleh ibu Agreta. Guna untuk mengingatkan Agreta bahwa ibu hamil itu tidak boleh bersikap sembarangan ada makhluk kecil kini di dalam rahim Agreta. Patria pun mendapatkan nasehat yang sama oleh pak Mun.


       Setelah selesai dengan drama yang ada di dalam kamar, tiba-tiba terdengar suara mesin mobil memasuki pekarangan rumah pak Mun. Pak mun pun langsung beranjak dari dalam kamar hendak melihat siapa yang datang.


    Dari dalam mobil keluar seorang perempuan yang seumuran dengan Agreta putrinya. Pak Mun langsung bisa menebak bahwa yang datang ini juga merupakan sahabat dari putrinya.


     Dengan langkah setengah berlari Siska langsung menghampiri pak Mun dan memperkenalkan dirinya dan juga Dean suaminya. Pak Mun langsung mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam rumah.


     Mata Siska langsung mencari keberadaan Agreta setelah berada dalam rumah.


"Pak Geta-nya ada di mana,? Geta sakit apa?" Pertanyaan beruntun langsung di ucapkan oleh Siska kepada pak Mun. 


"Maksudnya Annya?" Pak Mun malah balik bertanya kepada Siska. 


"Annya  itu ya Geta Siska," ucap Patria yang tiba-tiba muncul dari balik pintu di susul Gilang.


"Oh....." Hanya kata itu yang lolos dari mulut Siska. Setelahnya Siska pun tersadar dari kebingungannya dan langsung menghampiri Patria 


     Dengan membabi-buta Siska langsung memukul Patria.


"Aduh....". Patria meringis. "Geta baik-baik saja," sambung Patria.


"Tapi kata Feya Geta sakit, kamu apakan Geta kali ini,? Jika Geta kenapa-napa aku tidak akan mau memaafkan mu lagi Patria!" ancam Siska.


    Sambil mengelus bagian lengannya yang tadi di pukuli oleh Siska, Patria mengajak Siska untuk bertemu dengan Agreta.


"Geta....!" seru Siska.


"Ska kamu juga datang,?" ucap Agreta terkejut melihat kedatangan Siska.


"Kamu sakit apa, apa ini karena perbuatan Patria?" tanya Siska serius.


"Aku baik-baik saja Ska, aku lagi hamil," jawab Agreta dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Itu berarti aku akan punya ponakan!" seru Siska yang ikut merasakan kebahagiaan.


       Setelah berbicara sebentar dalam kamar Siska dan Agreta keluar kamar bersamaan. Agreta kembali memperkenalkan sahabat-sahabatnya kepada kedua orang tuanya. Mereka semua pun terlibat perbincangan hangat hingga tibalah jam untuk makan siang.

__ADS_1


     Patria sudah meminta kepada ibu mertuanya untuk tidak usah memasak, karena Patria tidak ingin merepotkan bu Mun. Patria sudah meminta seseorang untuk membeli makanan di restoran yang di datangi Patria semalam. 


     Setelah selesai menikmati makan siang, Agreta Freya dan Siska pun pamit untuk istirahat, sedangkan kalau laki-lakinya lanjut berbicara di ruang tengah.


     Pukul jam empat sore waktunya untuk menikmati teh bersama. Bu mun menggoreng pisang sedangkan Freya membuatkan teh dan kopi. Sedangkan Siska duduk manis menemani Agreta.


       Sore yang indah, terjadi keriuhan di teras rumah pak Mun. Pasalnya terjadi pertengkaran antara Siska dan Patria. Mereka berdua berebutan untuk mengambil pisang goreng terakhir. Keduanya tidak ada yang ingin mengalah. Keributan ini disaksikan langsung oleh orang tua Agreta. 


"Tenang bu, mereka berdua memang seperti itu," ujar Agreta menjelaskan tentang Patria dan Siska yang sulit untuk akur. kedua orang tua Agreta hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku menantunya dan tamunya.


      Melihat kebahagiaan yang tercipta saat itu bu Mun berbisik di telinga suaminya.


"Pak anak kita sudah kembali,tapi kali ini anak kita bukan hanya satu tapi sudah bertambah banyak." 


"Iya bu, bapak sangat merasa bersyukur dan sangat senang," balas pak Mun.


"Penantian kita berbuah manis ya pak. Tuhan mengantikan kesedihan kita dengan kebahagiaan yang sulit di ucapkan dengan kata-kata," tutur bu Mun. Pak Mun mengiyakan perkataan istrinya dengan tersensenyum lebar.


      Hari-hari terus berlalu bahkan berganti bulan. Saat yang di nantikan pun tiba. Agreta melahirkan seorang anak perempuan lewat proses normal. Kebahagiaan Patria Dan Agreta semakin terasah sempurna. Siska dan Freya pun kini dalam kondisi hamil mudah. 


      Hubungan pertemanan antara Freya Agreta dan Siska semakin dalam. Mereka bukan lagi sebagai sahabat tapi sudah menjadi satu keluarga. Pak Mun dan istrinya juga sudah di anggap sebagai orang tua bagi sahabat-sahabatnya Agreta.


     Agreta pernah mengunjungi Anggie di dalam penjara, Anggie pun berkali-kali mengucapkan kata permohonan maaf kepada Agreta dan dengan lapang dada Agreta bersedia memaafkan Anggie setelah melihat kesungguhan Anggie untuk berubah.


      Butuh hati yang besar untuk bisa berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan orang lain. Semuanya itu tergantung dari pilihan kita sendiri.


 Tamat.


#Terimakasih sudah dengan setia membaca novel pertama ku.


#Terimakasih juga untuk dukungan dan masukannya.


# Terimakasih banyak untuk ❤️👍🎁 serta comennya. 


Sampai bertemu dengan karya berikutnya. 


"CINTA SETELAH LUPA"


Salam cinta dari author ❤️🙏🌹

__ADS_1


__ADS_2