
Di sebuah padang rumput yang sangat luas Agreta duduk di bangku taman seorang diri.Agreta terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang ia kenakan, wajahnya sangat bersi dan bersinar. Agreta duduk sendirian seperti sedang menunggu seseorang untuk datang menemuinya.
Patria yang melihat istrinya duduk seorang diri segera menghampirinya.
"Sayang, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Patria sambil menyentuh pundak Agreta dari belakang. Agreta segera memalingkan kepalanya menatap Patria. Agreta tersenyum menyambut kedatangan suaminya.
"Geta sayang,sedang apa kamu disini?" tanya Patria sekali lagi karena belum mendapatkan jawaban dari Agreta. Agreta segera berdiri dari duduknya dan berdiri berhadapan langsung dengan Patria. "Aku sedang menunggu seseorang." ujar Agreta.
"Siapa?" tanya Patria penasaran.
"Dia seseorang yang belum sempat berkenalan dengan mu." jawab Agreta sambil tersenyum.
Tidak berapa lama kemudian seorang anak kecil menghampiri mereka berdua dan langsung menggenggam tangan Agreta. Patria memandangi gadis kecil itu, wajahnya sangat bersih dan berambut pajang yang di biarkan tergerai, bola matanya memancarkan kedamaian.Patria sempat terpana melihat gadis kecil itu.
"Ibu sudah waktunya untuk pergi." ajak gadis kecil itu memanggil Agreta.
Patria merasa binggung dengan ucapan anak itu, dia pun langsung memandangi Agreta seakan meminta penjelasan.
"Dia adalah anak kita Patria." Ujar Agreta. Menjawab arti tatapan mata Patria.
Patria terdiam dalam otak nya berusaha mencerna ucapan istrinya. Belum sempat Patria berkata-kata anak kecil itu kembali memanggil Agreta.
"Ibu ini sudah waktunya kita harus pergi." sekali lagi gadis kecil itu mengingatkan Agreta. Agreta tersenyum lembut memandangi Patria..
"Sayang.,kami pamit dulu ya." ujar Agreta berpamitan dengan Patria.
"Kamu mau kemana?" tanya Patria dengan nada panik. "Kami harus segera pergi!" jawab Agreta lagi tanpa memberikan jawaban akan pertanyaan Patria.
"Tidak.... jangan pergi!" Patria memohon.
Tapi Agreta dan gadis kecil itu membalikkan badan dan langsung melangkah pergi meninggalkan Patria sendiri.
"Tidak Geta jangan pergi,....aku mohon jangan tinggalkan aku!" sekali lagi Patria memohon. Tapi Agreta dan gadis kecil itu terus melangkah pergi.
"Geta.... sayang jangan pergi!" Patria berteriak sekeras mungkin.
"Pat.... Patria....bangun...."
Patria merasa pipinya sedang di tepuk oleh seseorang orang.dia pun membuka matanya dan melihat Anggie sedang memegangi wajah nya.
"Haahhh.... Patria tersadar dari mimpinya.
"Kamu mimpi buruk ya." ujar Anggie sambil menyodorkan segelas air putih kepada Patria.
__ADS_1
"Iya, syukur itu hanya mimpi." ujar Patria.
"Aku harus pulang sekarang " Patria segera berdiri dan merapikan pakaian yang sedikit berantakan.
"Kamu mau balik ke apartemen mu?" tanya Anggie ingin tahu kemana arah pulang yang di maksud Patria.
"Pulang ke rumah ku." ujar Patria.
"Kamu ingin bertemu dengan istri mu?" tanya Anggie lagi untuk memastikan.
"Ya..." jawab Patria sambil berdiri melangkah menujuh pintu keluar.
"Patria apakah kamu yakin ingin bertemu dengan perempuan j..l@..g itu..! perempuan yang sudah mengkhianati mu?" kata Anggie dengan nada ketidak keikhlasannya. Patria yang mendengar ucapan Anggie langsung membalikkan badannya dan..
"Aggghhh.....
Suara Anggie yang tercekik.
"Jangan pernah menyebut istri ku dengan sebutan yang tak pantas, kamu mengerti" Patria mencekik leher Anggie sampai wajah Anggie berubah menjadi merah seperti kepiting rebus.
"Dari mana kamu tahu istri ku berselingkuh?" tanya Patria penuh sidik. "Selama ini saya tidak pernah menceritakan padamu." Sekali lagi Patria berkata dan tangannya masih memegang leher Anggie.
"Aku...aakkku cuma menebaknya" ujar Anggie dengan nada terbata-bata.,ada rasa takut dalam hatinya.
Patria langsung menghapuskan tubuh Anggie kelantai.Anggie yang terlepas dari tangan Patria langsung terbatuk-batuk.dadanya naik turun dengan cepat. Anggie menghirup udara dengan cepat mengisi paru-parunya yang kehabisan udara.
"Patria.... Pat maafkan aku!" Anggie berteriak memanggil Patria yang terus melangkah pergi meninggalkannya. Patria jujur saja tidak bisa menerima ucapan Anggie terhadap istrinya.patria tidak akan bisa menerima siapa pun yang menghina istrinya. Agreta.
Patria terus melangkah pergi tidak menghiraukan panggilan dan teriakan Anggie.
Ada rasa marah dalam hati Anggie.usaha pendekatannya selama ini ternyata belum membuahkan hasil.Tapi bukan hanya kemarahan dan dirinya ada rasa takut tiba-tiba masuk ke dalam hatinya.Anggie takut Patri tahu apa yang sudah ia lakukan selama ini.
Rasa sakit di lehernya meskipun meninggalkan jejak merah mampu mengalahkan rasa sakit di hatinya.
"Sial kenapa jadi begini?
Apa yang harus aku lakukan?
Bagaimana ini?!" Anggie terus merancau.Anggie bolak-balik dalam ruangan apartemen bak setrikaan.
"Tenang Anggie Patria pasti kembali!" ujar Anggie pada dirinya. Anggie menggambil minum di atas meja di dapurnya dan langsung meminumnya sampai tandas.
Tidak berapa lama kemudian tubuhnya mulai terasa panas.ada getaran aneh dalam dirinya.seketika Anggie teringat akan sesuatu,
__ADS_1
"Mati aku." ujarnya.
"Sial aku lupa minuman ini seharusnya untuk Patria." umpat Anggie yang telah meminum air yang sudah di taburi obat olehnya.Senjata makan tuan.
Segera Anggie berlari menujuh kamar mandi tentunya untuk berendam lagi di bathtub berisi air dingin.berharap efek obat itu akan berkurang.
Setelah meninggal apartemen milik Anggie dia pun memacu mobilnya menuju arah rumah.
Hatinya begitu gelisah mengingat kembali tentang mimpinya.
Jam menunjukkan pukul empat sore.Patria sampai di rumahnya.
Setelah pak satpam membukakan pintu pagarnya Patria segera masuk dan memarkirkan mobilnya di garasi.
Di garasi Patria melihat mobil istrinya ada terparkir.Patria berpikir jika istrinya berarti berada dalam rumah tidak kemana-mana.
Patria segera masuk kedalam rumah.pandangan matanya menelusuri setiap sisi rumah.mencari penghuninya.lebih tepatnya Patria sedang mencari sosok Agreta istrinya.
Di lantai bawah Patria tidak menemukan sosok yang di maksud langsung menaiki tangga menujuh lantai dua dan langsung menujuh ke kamarnya. Patria memandangi tempat tidur. Tempat tidurnya terlihat sangat rapi seolah-olah tidak pernah di gunakan.
"Geta..... Geta...!"
Patria memanggil istrinya.Patria mencoba mencari di dalam kamar mandi tapi tidak menemukannya.
Patria kembali turun ke lantai bawah mencari istrinya.
Setelah berkeliling rumah Patria baru menyadari bahwa rumahnya sangat sepi.Mbo Nem dan Yeyen pembantu rumahnya juga tidak berada dalam rumah.
Patria mencoba berpikiran positif.
Mungkin Agreta mbo Nem dan Yeyen sedang berbelanja.
Patria kembali ke dalam kamarnya dan langsung menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih.badanya sudah terasa lengket dan gerah.
Setelah mandi dan berganti pakaian.Patria turun lagi ke lantai bawah menuju dapur untuk membuat kopi untuk dirinya.
Patria merasa sangat sepi benar-benar sepi.
Setelah kopinya jadi Patria segera menujuh ruang keluarga untuk menonton televisi.
Bersambung
Terimakasih masih setia membaca novel ku 🙏
__ADS_1
terimakasih untuk likenya 👍🏻
hatinya ❤️dan juga mawar serta favoritnya 💓