AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 66 YANG DI TUNGGU TAK JUGA DATANG


__ADS_3

     Setelah berdiri di depan cermin cukup lama Anggie memutuskan untuk mandi. Anggie segera menampung air hangat di dalam bathtub dan menambah sabun mandi khusus yang memberikan aroma bunga mawar.


     Hampir satu jam Anggie berendam dalam bathtub setelah merasa tubuhnya lebih rileks karena berendam tadi Anggie segera keluar dari kamar mandi dan menuju tempat lemari bajunya. Anggie menimang-nimang pakaian mana yang akan di kenakan, Anggie memutuskan memakai baju yang dulu pernah di belikan oleh Patria. Saat ini dia berpikir untuk berdandan secantik mungkin setiap saat. Karena bisa saja Patria datang kapan saja. Itu yang ada dalam benaknya Anggie.


      Hari semakin sore bahkan sang mentari kini hampir tenggelam. Anggie tetap menunggu Patria datang ke apartemen miliknya dengan sabar. Meskipun rasa bosan menunggu Patria  datang di hatinya tapi Anggie tidak bergeming Anggie masih tetap dengan keyakinannya. Patria pasti datang.


    Anggie kini merasa gelisah, hari sudah malam sampai detik ini jangankan datang, menghubungi Anggie pun tidak.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Anggie kini seperti setrikaan yang sedang menjalankan tugasnya Anggie bolak-balik di ruang tengah.


"Apa Patria belum melihat paket yang dikirim atau si Cokron yang berbohong?" Anggie memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Anggie mencobah menebak-nebak dalam pikiran. Tapi bukan mendapatkan ketenangan anggie justru semakin gelisah.


"Apa sebaiknya aku menelpon Cokron lagi untuk memastikan bahwa paket itu benar-benar sudah di antara?" Anggie bertanya dalam hatinya.Tanpa menunggu lama Anggie pun segera meraih benda yang biasanya di gunakan untuk berkomunikasi,. yaitu handphone miliknya. Dan segera menghubungi si Cokron. 


     Setelah mendengarkan nada sambung sebanyak dua kali, anggie bisa mendengarkan suara orang yang di hubungin nya.


"Ya Anggie," jawab Cokron, setelah menekan tombol hijau di hanphon miliknya. Sebenarnya Cokron ingin segera memblokir nomor Anggie tapi dia sadar jika Cokron melakukannya sekarang Anggie pasti akan menaruh curiga.


"Apakah benar kamu sudah menyerahkan amplop itu kepada Patria, seperti yang kamu katakan tadi?" tanya Anggie.


"Iya, saya sudah menyerahkan amplop itu langsung kepada Patria. Apakah kamu sedang meragukan ku sekarang Anggie?" Setelah memberikan jawaban atas pertanyaan Anggie, Cokron pun ikut balik bertanya.


Anggie tak menyangka jika dirinya mendapatkan pertanyaan balik oleh Cokron.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya untuk memastikan," jelas Anggie.


"Jadi sekarang kamu meragukan ku setelah sekian kali aku mengirimkan paket yang kau suruh begitu anggie?" balas Cokron. Dia harus pintar bermain drama dengan Anggie.


"Bukan begitu. Maksud saya, saya cumm..." Belum juga perkataan Anggie selesai, Cokron langsung memotong pembicaraan kata-kata Anggie.


"Jika kamu mencurigai ku dan sudah tidak lagi percaya dengan ucapan ku, sebaiknya mulai dari sekarang kamu tidak usah menghubungi ku lagi. Cari orang lain yang mau menjadi kurir pribadi mu!" balas Cokron dengan nada suara sedih seolah-olah dirinya kecewa.


"Bukan begitu, hanya saja.." Belum lagi selesai Anggie berbicara Cokron kembali memotong perkataan Anggie.


"Mulai sekarang kamu cari saja kurir yang lain,saya sudah tidak bisa menjadi kurir pribadi mu lagi," ucap Cokron, setelah itu Cokron pun memutuskan panggilan tersebut dengan menekan tombol merah di layar handphone miliknya.


    Anggie terbengong dengan sikap Cokron kepadanya, niat hati hanya ingin bertanya tapi justru hasil membuat Anggie kehilangan kurir kepercayaannya.


"Ya sudahlah, nanti aku cari orang baru lagi. Dengan uang pasti dengan cepat aku bisa mendapatkan pengganti si kurir tak tahu terimakasih itu." Ungkap Anggie.


     Setelah selesai bermonolog sendiri, Anggie melihat ke arah jam dinding yang ada dalam ruangan itu. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit.


"Sesibuk apa sie sebenarnya kamu Patria? Hinga sampai sekarang kamu belum juga menghubungi ku" ucap Anggie. Entah berapa banyak lagi yang melihat di dalam pikirannya Anggie. Tiba-tiba muncul sebuah pemikiran yang bisa menjadi sebuah jawaban atas semua pertanyaannya tadi.


"Apa mungkin Patria saat ini sedang berada di club HAVANI? Bisa jadi, Patria mungkin merasa tidak enak hati datang kesini karena sudah berbuat kasar padaku. Sebaiknya aku samperin Patria di sana," tutur Anggie lagi. Hati Anggie yang tadinya hampir putus asa kini berubah ceria kembali. Ada harapan yang terbersit dalam pikirannya.


      Anggie pun segera bersiap-siap untuk meluncur ke club HAVANI, tempat pertama kali Anggie bertemu dengan Patria. Anggie memilih baju yang akan dikenakannya. Anggie ingin terlihat menarik di hadapan Patria. Setelah menemukan baju yang menurutnya pas untuk itu, Anggie segera mengganti pakaiannya dan berdandan secantik mungkin.

__ADS_1


     Tapi setelah selesai berdandan Anggie terdiam sesaat,ada ragu yang menyapa hatinya. Pikirannya kembali terlintas kejadian yang menimpa dirinya beberapa hari yang lalu. Yaitu Anggie terbangun dengan mendapati pria asing di sampingnya. Anggie bergidik ngeri. 


"Kalau aku bertemu dengan pria gila itu lagi bagaimana,? Apa yang harus aku lakukan!" Anggie meragu.


"Tapi jika aku tidak datang ke sana aku tidak bisa bertemu dengan Patria." Anggie berada dalam dua pilihan yang sulit. 


"Datang...jangan.... datang.... jangan'." Anggie menimbang-nimbang apa keputusan yang tepat yang akan di pilihnya.


"Aku harus bertemu dengan Patria!" Akhirnya Anggie menetapkan hatinya untuk tetap datang ke club HAVANI. Meskipun dirinya sebenarnya masih trauma dengan kejadian waktu itu. Tapi demi mendapatkan Patria Anggie menepis ketakutannya dan rasa traumanya. 


     Kali ini Anggie memutuskan untuk tidak minum minuman yang mengandung alkohol,dia tidak ingin mabuk kali ini. Cukup datang  menemani Patria dan menikmati aluna musik yang hingar-bingar yang di mainkan oleh seorang DJ, sebenarnya lebih tepatnya menunggu Patria datang.


      Dengan penuh semangat dan percaya diri Anggie segera berangkat ke club HAVANI, hati Anggie penuh dengan harapan, hatinya seolah-olah di hiasi bunga-bunga cantik yang sedang bermekaran.


    Senyum bahagia mengembang dengan sangat indah di bibir Anggie, bibirnya  sudah di beri pewarna mencolok senada dengan pakaian yang dia kenakan. Warna pakaian yang di kenakan Anggie saat itu adalah berwarna merah.


    Tiba di club tersebut Anggie memarkirkan mobil miliknya dan segera masuk kedalam club HAVANI. Jam masih pukul sepuluh malam tapi para penikmat kehidupan malam sudah ramai menikmati waktu mereka.


     Mata Anggie segera mencari sosok pria yang ingin di temuin nya. Mata Anggie mencari ke segala penjuru tapi belum juga menemukan sosok yang di maksud. Ada rasa kecewa terbersit di hatinya Anggie,tapi kembali lagi Anggie mampu menghibur dirinya dengan beranggapan bahwa mungkin saja Patria belum saja datang saat ini.


      Karena Anggie belum menemukan Patria, Anggie segera mencari tempat duduk yang pas untuk di jadikan tempat yang nyaman menunggu Patria datang.


 Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2