AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 64 KURIR


__ADS_3

"Selamat pagi pak,apa betul anda adalah kurir yang mengirimkan paket untuk bos kami?" tanya pak Dimar.


"Iya betul," awab kurir itu. Hatinya mulai di landa kebingungan, pasalnya dia melihat penjagaan di lobby tempat dia berada sekarang security-nya sudah bertambah jumlahnya dua kali lipat.


"Boleh saya lihat dokumennya?" Sekali lagi Pak Dimar bertanya.


"Tidak bisa, dokumen ini sangat penting.Hanya bos kalian lah yang bisa menyentuhnya,ya paling tidak sekretarisnya yang datang mengambilnya langsung," ucap kurir itu mulai merasa was-was.


"Kalau begitu silahkan bapak ikut dengan kami!" Pak Dimar mempersilahkan kurir itu untuk ikut dengannya ke ruang keamanan.


"Saya mau di bawa kemana?" tanya kurir itu sudah benar-benar merasa panik, hari ini tidak seperti bisa pikir kurir tersebut. Biasanya jika dia membawa dokumen sekretarisnya Patria yang datang mengambilnya, tapi kali ini justru dia di giring ke ruang keamanan oleh para petugas.


"Silahkan bapak ikuti saya." Pak Dimar mengucapkan kalimat itu sambil terus menatap kurir itu dengan tatapan tajam.


    Dengan langkah berat kurir itu mengikuti perkataan pak Dimas. Sementara berjalan menujuh ruang security kurir itu memandangi seluruh penjuru lobby, dia berpikir untuk kabur. Tapi sayang celahnya untuk bisa kabur tertutup rapat, para petugas keamanan sudah berada di mana-mana.


"Mati aku, bagaimana ini?" Kurir itu bermonolog sendiri dalam hatinya.


  Setelah sampai di ruangan keamanan pak Dimar mempersilahkan kurir itu untuk duduk.


"Silahkan duduk pak," cap pak Dimar dengan raut wajah yang tidak ada senyuman sama sekali.


"Terimakasih," balas kurir itu sambil mendaratkan bokongnya di sebuah kursi kayu yang ada di ruangan tersebut.


  Setelahnya pak Dimas menghubungi Jeje sekretaris bosnya.


"Halo Jeje saya pak Dimar, apakah pak Patria-nya sudah sampai di kantor?" tanya pak Dimar.


"Selamat pagi juga pak Dimar,saat ini pak Patrai belum sampai. Tapi beliau sedang dalam perjalanan kesini,ada apa pak? Ada yang bisa saya bantu?" balas Jeje.

__ADS_1


"Ini mba kurirnya sudah ada," ucap pak Dimar.


"Tolong di tahan dulu ya pak,saya akan segera menginformasikan hal ini dengan pak Patria," balas Jeje.


"Baik,':nalas pak Dimar singkat dan langsung memutuskan obrolan mereka.


   Di dalam ruangan itu kurir tersebut mulai gelisah, duduknya pun sudah tak tenang. Ingin rasanya dia menghubungi Anggie saat ini untuk menceritakan kejadian yang dia alami saat ini. Tapi niatnya di urungkan, kurir itu merasa dirinya sedang di awasi dengan sangat ketat. Para security yang ada dalam ruangan itu terus menatap kearah dirinya.


"Apa yang harus saya lakukan sekarang,? Jika di tanya siapa pengirim paket ini apa yang harus saya jawab? Haruskah saya mengaku atau berbohong?" Kembali kurir itu bertanya dalam hatinya.


     Dalam kegelisahannya yang teramat sangat menyiksa hatinya kurir itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan kasar,


Huhf..


Mendengar hembusan nafas dari kurir tersebut security yang duduk tak jauh dari kurir tersebut langsung memalingkan wajahnya menatap kembali ke arah kurir itu.


"Ada apa,? tanya security itu.


"Apakah tidak bisa saya titipkan saja dokumen ini,? saya harus segerah pergi. Saya masih harus mengantarkan kiriman berikutnya." Kurir itu mencoba untuk bernegosiasi.


"Tidak bisa, bukankah anda sendiri yang meminta untuk mengantarkan dokumen itu langsung ke atasan kami?" tutur security itu.


"Tapi pak saat ini saya sudah terlambat untuk mengirimkan paket berikutnya, saya titipkan saja ya pak dokumennya ke bapak. Biar saya bisa melanjutkan tugas saya." Sekali lagi kurir itu mencari celah agar bisa segerah pergi.


"Sebentar lagi bos kami akan segera tiba, bersabarlah. Asal kau tahu bos kami itu orangnya sangat RAMAH." Tutur security itu sambil menekan  kata ramah pada kata-katanya.


Mendengar ucapan security itu sontak saja kurir itu semakin merasa ketakutan. Dia mengerti apa yang di maksud dengan kata RAMAH yang di ucapkan tadi.


    Patria yang sudah mendapatkan kabar dari sekretarisnya bahwa kurir yang di tunggu sudah berada di kantornya segera bergegas menuju ruang kerjanya setelah tiba di gedung kantor miliknya.

__ADS_1


"Selamat pagi pak Patria," sapa Jeje setelah melihat kedatangan bosnya 


"Pagi Je, tolong segera hubungi security dan suruh kurir itu di bawa ke ruang saya!" Perintah Patria. "Baik pak," balas Jeje. Dan Jeje pun langsung mengerjakan perintah Patria.


      Patria segera masuk keruang kerjanya. Patria duduk di kursi kebesarannya sambil mengetuk-ngetuk meja kerja dengan jari-jarinya.


Tuk Tuk Tuk


Bunyi suara meja yang di ketuk. Patria menunggu sambil memasang  wajah  dingin.


Interogasi pun di mulai


    Selang beberapa menit kemudian, Jeje masuk setelah mendapatkan ijin dari Patria untuk masuk. Jeje tidak masuk sendiri di, belakangnya sudah ada dua orang security dan tentunya si kurir.


"Pak ini orangnya, kurir yang sudah mengirimkan dokumen ke bapak," kata security.


Mata Patria langsung menatap kurir itu tanpa berkedip.elihat tatapan Patria bulu kuduk kurir itu langsung berdiri, kakinya mulai gemetar sangking takutnya.


"Mana dokumen yang ingin kamu berikan kepada saya?" tanya Patria dengan nada suara tegas 


"Ini pak." Kurir itu menyerahkan amplop berwarna coklat ke Patria dengan tangan gemetar.


"Ya ampun SERAMA INIKAH pak Patria, tapi kenapa tampangnya lebih seram dari harimau betina yang sedang menjaga anaknya?" Kata kurir itu dalam hatinya. Mana berani kurir itu mengatakan isi kepalanya ke Patria langsung itu namanya cari mati.


    Patria segera mengambil amplop coklat itu dan langsung mengeluarkan isinya. Dalam amplop tersebut terdapat beberapa lembar foto dan sebuah flash disk berwarna silver berukuran kecil.


Patria memandangi foto-foto tersebut dengan memicingkan kedua matanya. Setelahnya Patria mengangkat kepalanya dan kembali menatap kurir itu sambil menyeringai,salah satu bibir Patria tersangka keatas. Jelas senyum devil terbingkai di sana. Melihat senyuman Patria yang seperti itu membuat orang-orang yang satu ruangan dengan Patria langsung bergidik ngeri, mereka adalah Jeje security dan juga si kurir.


    Untuk pertama kali Jeje dan dua security itu melihat tampang Patria yang menyeramkan seperti ini, jika hanya melihat emosi bosnya yang marah itu sudah hal yang lumrah bagi mereka, tapi kali ini kemarahan Patria bosnya tergambar dengan jelas. Nyali mereka pun segera menciut. Kalau si kurir jangan di tanya, saat ini bukan hanya tangannya saja yang bergetar tapi seluruh badannya pun ikut gemetaran karena ketakutan.

__ADS_1


"Sekarang katakan padaku siapa yang sudah menyuruh mu untuk mengirimkan ini kepada saya?" tanya Patria pada si kurir sambil mengangkat lembaran foto yang baru saja di lihatnya.


Bersambung 


__ADS_2