AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 78 MENYERAHKAN SAMPEL


__ADS_3

Setibanya di ruang depan bu wajah wanita paruh baya itu terlihat begitu ceria.


"Den Patria...!" Seru bu Mun. "Kapan aden datang, kenapa ga kasih kabar lebih dulu?" ucap bu Mun. Patria pun segerah menghampiri bu Mun dengan posisi kedua tangan terbuka lebar. Bu Mun pun langsung mendekap Patria erat, bun serasa memeluk anaknya sendiri.


"Aku sengaja tidak member kabar lebih dulu, karena aku ingin buat kejutan," jawab Patria sambil membalas pelukan bu Mun. Sedangkan pak Mun memandangi Patria dan istrinya sambil ikutan tersensenyum bahagia.


"Aden sudah makan?" tanya bu Mun setelah pelukan itu lepas.


"Sudah bu, tadi makan sama bapak di sawah," tutur Patria.


"Aden nginap kan, nggak langsung balik Jakarta?" Sekali lagi bu Mun bertanya.


"Iya, saya nginap bu." Ujar Patria lagi.


"Kalo gitu ibu lanjut masak dulu ya, habis itu kita makan malam sama-sama," ucap bu Mun. Patria membalas ucapan bu Mun dengan anggukan kepala keatas kebawah.


     Sementara bu Mun kembali kedalam dapur melanjutkan kegiatan memasaknya, pak Mun dan Patria duduk-duduk santai di teras rumah.


"Den kabar istri sehat?" tanya pak Mun membuka obrolan dengan Patria.


"Baik pak, saya juga mau berterimakasih kepada pak Mun. Karena nasehat dari bapak rumah tangga ku bisa terselamatkan, meskipun istri saya sempat di rawat di rumah sakit," ujar Patria. Ingatan Patria kembali mengingat peristiwa yang menyediakan itu, perasaan bersalah Kembali menyentuh hatinya. Wajah Patria berubah sendu. 


"Istrinya sakit apa den,? kalau boleh bapak tahu," tanya pak Mun.


"Istri saya pendarahan dan kami kehilangan calon bayi kami," ucap Patria, sesungguhnya Patria ingin menangis saat ini, Patria masih belum bisa menerima kenyataan bahwa karena kebodohannya Patria dan Agreta kehilangan calon bayi mereka.


"Ya ampun den sekarang bagaimana apa semua sudah baik-baik saja?" Lagi pak Mun bertanya.


"Semuanya sudah baik-baik saja sekarang, istri saya sudah memaafkan ku ." Balas Patria sambil tersenyum getir 


"Syukurlah, tapi kenapa istrinya tidak di bawah kesini,? biar saya bisa kenalan dengan istrinya aden," ucap pak Mun.

__ADS_1


"Saya janji pak istri saya pasti akan saya bawa kesini bertemu dengan pak Mun dan bu Mun," kata Patria dengan suara meyakinkan.


      Tak terasa hari mulai malam, matahari kini sudah mulai tenggelam.


"Aden mandi dulu, nanti habis mandi kita makan malam bersama." Usul pak Mun.


"Baik pak saya permisi dulu, mau mandi." Patria pun menyetujui usulan pak Mun. Dengan segera Patria masuk kedalam rumah dan bersiap-siap untuk mandi.


     Setelah Patria selesai mandi kini giliran pak Mun yang mandi. Karena kamar mandi di rumah pak Mun hanya satu mereka harus bergantian untuk menggunakan kamar mandi tersebut. Benar saja setelah selesai pak Mun mandi, bu Mun pun langsung memanggil suaminya dan Patria untuk makan malam. Hidangan makan malam mereka sudah tertata rapi di atas meja makan.


"Wah..aku bisa makan banyak lagi nih b," kata Patria, setelah melihat menu makan malam tersebut. Patria segera mengambil posisi duduk di depan meja makan.


"Makan yang banyak den, biar sehat dan kuat," sambung pak Mun. Bu Mun tersensenyum senang melihat Patria bisa menikmati makan yang sudah di siapkan nya.


Malam ini Patria benar-benar bisa menikmati menu makan malamnya, Patria bahkan sampai nambah dua piring. Setelah perutnya terisi sangat penuh Patria menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi.


"Makasih banyak ya bu, hari ini saya sangat kenyang," ucap Patria sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit sangking penuhnya.


     Setelah selesai merapikan meja makan bu Mun pun langsung merapikan kamar tidur yang akan di gunakan oleh Patria. Sebuah kamar yang dulu merupakan kamar putri kecil mereka. Putri pak Mun dan bu Mun.


     Hari semakin malam Patria dan pak Mun yang sedang asik mengobrol santai kini mulai merasa ngantuk, bahkan Patria dan pak Mun sudah beberapa kali menguap karena rasa kantuk mulai hinggap di mata'Patria dan pak Mun. 


"Den tidur yuk, sudah sangat malam. Aden juga pasti sudah sangat lelah." Ujar pak Mun.


"Iya pak, saya juga sudah mulai mengantuk ini. Oh ya pak jangan lupa soal sempel rambut pak Mun sama ibu, besok saya akan langsung bawa ke Jakarta," tutur Patria.


"Iya Den, besok pagi nanti saya kasih," jawab pak Mun.


    Setelah percakapan itu selesai Baik Patria dan pak Mun segera masuk ke dalam rumah menuju ke kamar masing-masing untuk segera istirahat.


Keesokan harinya Patria bangun pagi dan mendapati pak Mun kini tengah duduk di teras rumah sambil menyeruput secangkir kopi panas di temani pisang goreng hasil buatan bu Mun.

__ADS_1


"Sudah bangun Den," sapa pak Mun.


"Selamat pagi pak," balas Patria.


"Ayo sarapan,tapi cuma ada pisang goreng sama kopi. Tapi kalau aden mau nasih uduk nanti di belikan sama istri saya," ucap pak Mun.


"Tidak usah beli pak, pisang goreng sama kopi sudah pasangan yang pas, saya cuci muka sama gosok gigi dulu," kata Patria. Setelah itu Patria segera ke kamar dan untuk melakukan ritual bersih-bersih pagi hari, cuci muka dan gosok gigi. Untuk urusan mandi nanti agak siang dikit baru Patria mandi.


      Selesai bersih-bersihnya Patria kembali ke teras depan untuk menikmati secangkir kopi kampung dan di temani pisang goreng buatan bu Mun. 


"Pak ibu mana?" tanya Patria sambil celingak-celinguk mencari keberadaan bu Mun.


"Ibu lagi ke tukang sayur Den, oh iya ini sampel rambut istri saya dan saya." kata pak Mun sambil menyerahkan beberapa helai rambut yang sudah ada dalam kantong plastik bening berukuran sedang. 


"Saya terima ya pak, semoga hasilnya nanti tidak mengecewakan kita semua," ucap Patria sambil menerima kantong plastik yang di berikan oleh pak Mun.


"Nanti aden pulang siang atau besok?" Tanya pak Mun.


"Siangan aja pak, saya harus segera memberikan sampel ini ke rumah sakit. Makin cepat di berikan semakin cepat kita tahu hasilnya," jawab Patria.


"Tapi nanti sebelum pulang makan siang dulu ya!" tawar pak Mun.


"Tentu saja pak, saya tidak ingin kelaparan di jalan." Kelakar Patria. Pak Mun pun tersenyum mendengar ucapan Patria."Saya simpan dulu ini ya pak, takut ke buru ibu pulang, nanti ibu liat pasti akan bertanya." Patria meminta ijin untuk masuk ke dalam kamar guna menyimpan sampel rambut yang di berikan oleh pak Mun.


Benar saja tak lama setelah Patria masuk kedalam kamar bu Mun kembali dengan membawa kantong plastik berisi hasil belajarnya di tukang sayur.


      


Bersambung


 

__ADS_1


       


__ADS_2