AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 46 PERTEMUAN TAK TERDUGA


__ADS_3

    Patria duduk di kursi kebesarannya sambil terus membolak-balikkan berkas yang ada di depannya. Kepalanya terus tertunduk membaca setiap kalimat yang tertera di setiap lembaran kertas yang di pegangannya.


   Tak berapa lama setelah Patria sampai di kantornya sekretaris Jeje pun tiba. Setelah menyiapkan berkas yang harus di tandatangani oleh Patria Jeje pun menemui bosnya itu.


Tok..tok..tok


Jeje mengetok pintu sebelum masuk keruang kerja Patria.


"Masuk.." Patria berkata dengan kepala masih menunduk.


"Maaf pak, saya mau mengantarkan dokumen yang harus bapak tandatangani," ucap Jeje setelah masuk keruang tersebut. "Baik Je, oh iya jam berapa orang dari perusahaan Prima Jaya  itu akan tiba?" tanya Patria. "Mungkin sebentar lagi, karena pertemuan di laksanakan pada pul 09 pagi pak," jawab Jeje.


Patria melirik jam tangannya sesaat.


"Ini masih jam 08 ;30 . Nanti jika sudah tiba tolong segera kabari saya ya." ujar Patria. "Baik pak,saya permisi dulu." Pamit Jeje dan meninggalkan ruangan Patria. Patria pun melanjutkan memeriksa dokumen yang baru saja di serahkan oleh sekretarisnya.


    Jam sembilan kurang sepuluh menit, Jeje memberi tahukan lewat sambungan telepon bahwa pihak dari perusahaan Prima Jaya telah tibah dan saat ini sedang berada di ruang pertemuan. Patria pun segera bersiap menuju ruang tempat pertemuan tersebut.


    Pertemuan kali ini untuk membahas tentang kerjasama kedua perusahaan. Untuk itu Patria ingin melewatkan kesempatan ini begitu saja. Perusahaan Prima Jaya adalah salah satu perusahaan yang sedang berkembang pesat saat ini. 


     Perusahaan Prima Jaya sempat mengalami permasalahan yang sangat pelik. Dimana salah satu karyawan perusahaan tersebut membawa kabur uang perusahaan, hingga perusahaan itu di ambang kebangkrutan. Karena kepiawaiannya pemimpin perusahaan, akhirnya Prima Jaya bisa bangkit kembali dan bahkan bisa berkembang pesat. Hanya butuh satu tahun perusahaan Prima Jaya kembali bangkit 


    Setibanya di dalam ruangan tersebut Patria langsung menyapa tamunya. 


"Selamat pagi dan selamat datang di perusahaan kami," sapa Patria. "Terimakasih pak Patria Sigara," hawab salah satu orang dari Prima Jaya. Dan mata Patria langsung tertuju kepada sumber suara tersebut. Pasalnya Patria merasa bahwa suara itu tidak asing baginya.

__ADS_1


    Mata Patria terpaku memandang sosok pemilik suara tersebut. "Bukankah pria itu adalah pria yang bertemu dengannya di toilet?" Patria bermonolog sendiri. "Anda...?" ujar Patria Sambil menatap wajah orang tersebut. "Iya, ini saya pak Patria, Kita bertemu kembali. Tapi kali ini kita bertemu di tempat yang berbeda, setidaknya bukan di dalam toilet," jawab pria tersebut sambil tersenyum.


   Pria itu pun langsung mengulurkan tangannya untuk secara langsung memperkenalkan dirinya. "Saya Gafin Atmajaya pimpinan dari perusahaan Prima Jaya."  Patria pun menyambut uluran tangan tersebut. Ada rasa tak nyaman di hati Patria. Tapi di sini Patria harus bersikap profesional. "Saya Patria CEO dari ECO company," ucap Patria.


    Untuk menghilangkan kekakuan yang terjadi saat itu Gafin pun mengutarakan maksud kedatangannya di perusahaan Patria murni untuk menjalin hubungan kerjasama. Bukan untuk membahas tentang permasalahan yang pernah di singgung oleh Gafin pada saat itu. ketika mereka berdua, Patria dan Gafin bertemu di toilet umum.


     Setelah suasananya mencair, mereka pun langsung membahasa tentang kerjasama antara kedua perusahaan. Proposal yang di ajukan oleh perusahaan Gafin di setujui oleh Patria selaku CEO ECO company.


      Setelah selesai melakukan pertemuan tersebut, Gafin kembali mengulurkan tangannya kepada Patria sebagai ungkapan terima kasih karena telah menerima kerja sama tersebut.


"Pak Patria terimakasih atas kerja samanya," ujar Gafin. "Terimakasih kembali, semoga kerja sama ini bisa berjalan dengan lancar.," sambut Patria. "Maaf pak Gafin, apakah saat ini anda memilih waktu untuk berbicara dengan saya?" sambung Patria lagi.


   Gafin yang mengerti maksud dari perkataan Patria pun langsung menyetujui permintaan Patria. "Tentu saya memiliki waktu untuk anda pak Patria," jawab Gafin memastikan. "Baik pak Gafin, silahkan mampir ke ruangan saya. Di sana kita bisa lebih leluasa untuk berbicara," tawar Patria. Dan Gafin pun langsung menyetujuinya.


    Setelah memberikan instruksi kepada anak buahnya, Gafin mengikuti langkah Patria menuju ruang kerja dari Patria.


    Patria pun langsung meminta Jeje sekretarisnya untuk menyiapkan minuman yang dipesan oleh Gafin. Tak berapa lama kemudian Jeje masuk sambil membawa dua cangkir teh di atas nampan. Setelah meletakkan minuman tersebut Jeje  pun pamit keluar. Setelah itu Patria langsung mempersilahkan tamunya untuk menikmati teh tersebut.


   Tanpa basa-basi lagi Patria langsung mengutarakan maksud dari undangannya ke pada Gafin untuk berbicara dengannya.


"Baik pak Gafin, saya langsung ke intinya saja. Jujur saya ingin menanyakan tentang maksud dari perkataan anda saat itu?" ujar Patria.


   Namun tanpa menjawab pertanyaan Patria Gafin justru menanyakan tentang keadaan istri dari Patria.


"Bagaimana kabar istri anda pak Patria, ibu Agreta?" tanya Gafin.

__ADS_1


Patria yang mendengar ucapan Gafin  yang menanyakan tentang istrinya langsung beraksi. Tatapan mata Patria menjadi penuh sidik ke arah tamunya.


"Pak Patria jangan salah paham, saya mengenal istri anda karena acara amal yang sering di hadiri oleh istri saya." Ucap Gafin menerangkan.


"Oh ya?" balas Patria dengan nada ragu.


"Itu benar Pak Patria. Di yayasan kasih tempat istri saya sering melakukan kegiatan amal, di sanalah saya mengenal istri anda. Dan secara kebetulan istri anda merupakan salah satu pendonor tetap di yayasan tersebut." Gafin kembali menjelaskan bagaimana dia mengenal Agreta istri dari Patria.


     Patria teringat akan ucap Siska waktu itu, jika Agreta sering melakukan kegiatan amal di sebuah yayasan. Dan yayasan tersebut adalah yayasan kasih.


Patria pun percaya dengan ucapan Gafin.  "Kabar istri saya baik," jawab Patria.."Pak Patria anda adalah pria yang beruntung bisa memiliki wanita yang tidak hanya cantik dari penampilannya saja, akan tetapi anda memilih seorang istri yang berhati mulia." Puji Gafin untuk Patria. 


"Terimakasih atas pujiannya," balas Patria sambil tersenyum. Ada rasa banga dalam hatinya Patria.


"Pak Patria, jagalah istri anda dengan baik." Pesan Gafin kepada Patria.


"Pak Gafin tak perlu mengingatkan saya soal itu, tentu saja saya akan menjaga istri saya dengan baik." Jawab Patria tegas. "Pak Patria,saya sebenarnya mengetahui kalau anda adalah suami dari ibu Agreta, itu di karena istri anda sering kali menyebut nama anda sebagai suaminya." Sekali lagi Gafin mengungkapkan ke kekagumannya terhadap Agreta.


   Hati Patria semakin merasa senang, karena meskipun dirinya tak pernah datang ke acara amal di yayasan kasih ternyata istri tercintanya sering kali menyebut namanya. Hari Patria semakin percaya bahwa istrinya Agreta adalah istri yang setia. 


    Setiap kalimat yang terucap dari mulut Gafin merupakan pujian untuk Agreta. Istri dari Patria.


"Pak Patria,saya mengerti mengapa anda mengajak saya untuk berbicara dua mata di ruang kerja anda." sambung Gafin. "Sekali lagi maaf pak Patria, apakah anda masih berhubungan dengan wanita itu?" tanya Gafin spontan.


Patria terdiam sejenak mendengar ucapan dari Gafin. "Apakah Anda  benar-benar mengenal Anggie?" tanya Patria, sambil menatap Gafin  dengan kedua alisnya telah menyatu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2