AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 33 AGRETA SADAR


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Patria,hati Siska jauh lebih tenang.kekhawatirannya tentang Patria akan meninggalkan Agreta tidak benar adanya.Patria justru masih sangat mencintai sahabatnya itu. Setelah mendapatkan jawaban dari kerisauan hatinya Siska pun pamit pulang.


     Mbo Nem kini sudah kembali dari makan siangnya.sementara mbo Nem mengajak Agreta berbicara.patria kini sibuk dengan laptopnya,memeriksa setiap laporan yang dikirimkan oleh Jeje sekretarisnya lewat email.


  Setelah memeriksa semua kerjaannya patria beristirahat sejenak,pelan tapi pasti Patria tertidur.


Dalam tidurnya Patria bermimpi bertemu dengan Agreta dan juga gadis kecil itu. Patria hanya bisa melihat Agreta dari jarak yang tidak begitu jauh, Patria tidak bisa menghampiri Agreta.kakinya seolah terikat tak bisa bergerak maju. Patria berusaha memangil nama istrinya tapi Agreta tidak mendengarkan panggilannya.Agreta terlihat sangat bahagia berada di sana.Kebahagian Agreta terlihat dari raut wajahnya yang selalu tersenyum. Sampai pada saat Agreta tiba-tiba melangkah menjauh dari tempat Patria.Patria merasa takut melihat Agreta semakin menjauh.,dalam mimpinya Patria terus berteriak memanggil Agreta.


"Geta sayang kembali, jangan pergi!, Patria berteriak sambil memohon.


"Geta.... Geta...sayang....kembali..!"


GETAAAAAA..!"


Patria berteriak sekeras mungkin.


"Tuan....tuan bangun...." mbo Nem


menggoyahkan tubuh Patria yang masih terus memangil  istrinya.


"Tuan bangun!" sekali lagi mbo Nem mencoba membangunkan Patria.


"Getaaaaa!."


Patria terbangun dari mimpinya tapi masih menyebut nama istrinya.


Haaahhh..


Hembusan nafas Patria.


Patria sadar kalau tadi hanyalah bermimpi.


"Tuan mimpi buruk?" tanya mbo Nem sambil menyerahkan segelas air putih.


"Iya mbo, mimpinya serem.aku Patria.


"Itu hanya mimpi tuan, hanya bunga tidur" mbo Nem.


"Semoga semuanya baik-baik saja," ucap Patria penuh harap.


"Amin." jawab mbo Nem.


Hari sudah malam,mbo Nem sudah kembali pulang ke rumah,kini tinggal patria yang menemani Agreta. Dalam diam Patria terus memandangi wajah Agreta.kini Patria dilanda kerisauan.


Patria kini tidak yakin doa mana yang harus dia ucapkan, apakah dia harus meminta Tuhan untuk segera membangun istrinya dari tidurnya atau justru sebaliknya, memohon kepada Tuhan biarkan Agreta tetap tertidur.


Jika Agreta terbangun,itu artinya harus bersiap -siap menghadapi segala konsekuensi atas perbuatannya.Patria takut jika setelah Agreta sadar dan memilih untuk meninggalkannya. Tapi jika Agreta tetap tertidur Patria masih bisa tetap bersama dengan Agreta istrinya, meskipun dalam keadaan tak sadarkan diri.Egois memang.


Patria tertidur di kursi sampai Agreta sambil terus memegangi tangan Agreta.

__ADS_1


Pukul satu dini hari Patria tiba-tiba merasakan kalau tangganya ada yang menggerakkan.


Patria berusaha membuka matanya meskipun berat.Dengan nyawa yang masih belum menyatu mata Patria melihat tangan Agreta bergerak. Sontak saja hal itu membuat Patria tersadar dari kantuknya.


"Sayang....Geta...Geta....kamu bisa mendengarkan ku? ini aku Patria," Patria menggenggam tangan istrinya sambil menyebut namanya.


Secara perlahan Agreta membukakan matanya,hal pertama yang di lihatnya adalah wajah Patria.


"Pat ini kamu?" kalimat pertama yang di ucapkan Agreta setelah sadar.


"Iya ini aku sayang,kamu beneran sudah bangun?" ucap Patria seolah tak percaya. Agreta hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lemah.


"Apa yang kamu rasakan,apa ada yang sakit?,aku panggil dokter dulu ya." ucap Patria sambil menekan  salah satu tombol yang terletak di samping tempat tidur. Patria terus memegangi tangan istrinya takut Agreta tertidur lagi.


Patria mengecup kening istrinya dengan lembut dan penuh rasa rindu.


Tak berapa lama kemudian dokter dan perawat pun tiba di ruangan Agreta.


"Dok,istri saya sudah sadar." ucap Patria.


"Akhirnya,saya periksa dulu ya istrinya." ycap dokter meminta ijin kepada Patria.


Setelah dokter memberi Agreta dokter pun tersenyum puas,


"Kondisi pasien sangat baik,nanti besok pagi kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan, untuk memastikan kesehatan pasien." Ucap dokter tersebut pada Patria.


"Pak jika pasien haus berikan air hangat," dokter itu memberikan instruksi kepada Patria.


"Baik dok,sekali lagi terima." jawab Patria sambil tersenyum ramah.


Dokter itu pergi setelah selesai memeriksa kondisi Agreta, kembali keruang kerjanya.Ada rasa senang dalam hatinya.satu lagi pasien sembuh.Tidak sia-sia perjuangan dokter waktu itu untuk menyelam pasien.


"Sayang apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Patria lagi pada Agreta.


"Aku capek dan dan ngantuk " jawab Agreta dengan suaranya yang masih lemah.


"Kalo kamu merasa cape istirahat saja  dulu,aku ada di sini ngga kemana-mana.kalo butuh sesuatu panggil saya ya." ucap Patria sambil mengecup kening istrinya.


Agreta hanya tersenyum sambil kembali memejamkan matanya.


Agreta kembali tertidur tapi tidak dengan Patria, matanya terus memandangi wajah istrinya. Hatinya begitu senang karena istrinya sudah terbangun dari tidur panjangnya.tapi disisi lain ada kecemasan yang melanda hatinya.Pertanyaan yang sama masih saja berputar dan bersarang di hati Patria.


"Akankah Agreta memaafkannya?"


   Keesokan harinya Agreta terbangun, sinar wajahnya kini jauh lebih baik di bandingkan semalam.


"Pat aku haus." Agreta meminta minum karena tenggorokannya terasah kering.


Dengan sigap Patria mengambil air hangat untuk di berikan patria kepada Geta.

__ADS_1


"Setelah selesai minum, Agreta terdiam, ingatannya kembali pada kejadian saat dia bertengkar dengan Patria.


Buliran-bulian bening jatuh di sudut matanya.kembali Agreta merasakan sakit di dadanya.Dan Patria tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Agreta.,yang Patria lihat hanyalah air mata istrinya yang sudah mengalir.


"Sayang Geta ada apa,apa ada yang sakit? ,katakan padaku biar aku panggilkan dokter ya?" Kalimat pertanyaan keluar dari mulut Patria dengan nada khawatir.


"Aku tidak apa-apa Pat, hanya hati ku yang sakit." ucap Agreta dengan suara tangisnya..


"Maafkan aku," ucap Patria dengan nada penyesalan.


Agreta meletakkan tangan di atas perutnya.dengan suara lirih Agreta berkata,


"Aku tidak bisa menjaganya,aku sudah kehilangan anak kita....aku ..aku..." Hiks hiks  hiks Agreta tak mampu melanjutkan kata-katanya,tubuhnya bergetar menahan tangis.


"Bukan kamu yang salah Geta,aku yang salah,aku yang sudah terlalu bodoh tidak mempercayai apa yang  kamu katakan," ucap Patria yang kini ikut menangis.


Agreta mencoba menenangkan dirinya,dan Patria duduk di samping ranjang istrinya dengan kepala tertunduk.Hatinya terasa dihujani ribuan jarum. Perih melihat istrinya yang meratapi bayinya yang belum sempat di ketahui keberadaannya oleh Patria.


"Pat," Panggilan Agreta pada Patria.


Ada rasa tidak nyaman dalam hati Patria ketika Agreta hanya menyebut namanya dan terdiam untuk beberapa saat.


"Pat, apakah kamu masih mencintai ku.?" tanya Agreta dengan menatap wajah Patria.Agreta mencari kejujuran suaminya lewat sorot mata patria.


Patria terdiam,dia tidak menyangka jika Agreta akan berkata seperti itu.


"Patria apakah kamu masih menginginkan ku, untuk ada di samping mu?" sekali lagi Agreta bertanya. "jika kamu sudah tidak lagi mencintai ku...aku...." sambung Agreta lagi.


Belum selesai  Agreta berkata Patria langsung memeluk tubuh Agreta.


"Aku sangat mencintaimu,aku tidak akan pernah bisa melepaskan mu." ucap Patria.Jangan pernah berpikir bahwa aku akan pergi meninggalkan mu, sampai kapan pun aku akan selalu mencintaimu Geta." Sambungan Patria lagi, sambil mengusap jejak airmata yang masih tertinggal di pipi istrinya.


"Tapi,.." Agreta terdiam sesaat sebelum kalimat berikut dia ucapkan, Agreta menarik nafas panjang sambil mengumpulkan kekuatannya.


"Pat, bagaimana dengan wanita itu?" Akhirnya pertanyaan yang mengganjal di hati Agreta terucap.


"Dia., wanita itu hanya teman ku.Tidak lebih dari itu.aku hanya mencintai kamu Geta!" Patria menatap sendu istrinya.dalam hatinya patri berharap Agreta bisa dan mau memaafkannya.Ada perih yang di rasakan Patria,dia tahu istrinya benar-benar terluka akan sikapnya.


"Tapi waktu itu aku melihat dia begitu mesra dan maja pada mu," sambungan Agreta lagi.


"Sungguh aku sama wanita itu hanya berteman tidak lebih Geta,.aku tahu apa yang aku laku itu salah,aku mohon,maaf kan aku, Aku tidak akan mengulanginya lagi!" sekali lagi Patria memohon kepada Agreta untuk di maafkan.


"Kamu menuduh ku selingkuh dan kamu bilang ke aku kamu punya buktinya.Aku ingin melihatnya." ucap Agreta.


"Lupakan itu sayang,aku percaya bahwa kamu tidak pernah menduakan ku, semua itu hanyalah fitnah seseorang yang ingin memisahkan kita." Patria menjelaskan bukti yang di maksud Agreta.


Agreta dan Patria berbicara cukup lama, setiap pertanyaan Agreta ,Patria menjawab dengan berkata jujur,tapi masih satu hal yang mengganjal di hatinya.Apakah Agreta, istrinya bisa memaafkannya?!


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2