
Di ruang makan mbo Nem dan Yeyen sudah menata rapi semua hidangan di atas meja makan. kini hanya tinggal menunggu kedua majikan untuk turun dari lantai dua.
Di dalam kamar Patria masih terus memeluk tubuh istrinya, seolah takut melepaskannya. "Pat, sampai kapan kita berpelukan?" tanya Agreta. "Sampai selama-lamanya." balas Patria. "Tapi saat ini perut ku mulai lapar," balas Agreta. "Astaga, maaf sayang aku lupa," ucap Patria, sambil menepuk jidatnya.
Agreta tersenyum melihat ekspresi wajahnya Patria.
Pelukan itu kini berganti menjadi gandengan tangan. Tangan Patria bertaut erat dengan tangan istrinya. "Mbo Nem pasti sudah menunggu kita di bawah." kata Agreta. "Ya sepertinya begitu." Patria. Mereka berdua pun langsung turun ke bawah, tentunya masih bergandengan tangan menujuh tempat makan.
Mbo Nem dan Yeyen melihat kemesraan tuannya kini kembali tersenyum bahagia. Senyum bahagia yang hilang selama hampir satu bulan kini telah kembali. "Maaf tua,mau makan sekarang?." tanya mbo Nem setelah melihat Patria dan Agreta turun dari lantai dua. "Iya mbo istri ku sudah lapar," balas Patria sambil tersenyum menatap wajah Agreta. "Makanan sudah siap," mbo Nem.
Mereka pun segera menujuh ruang makan. "Wah..mbo,ini semua makanan kesukaan ku," ujar Agreta dengan nada gembira setelah melihat makan yang sudah tersaji di atas meja. "Iya non,kan mbo uda janji. Kalo non sembuh mbo akan masakin makanan kesukaan non." ucap mbo sambil tersenyum."Makasih ya mbo, makasih juga buat Yeyen." Balas Agreta. "Maafin saya ya mbo sudah buat mbo sama Yeyen kerepotan," sambung Agreta lagi dengan ketulusan hatinya. "Ngga papa non,itu sudah tugas kami," mbo Nem.
Patria dan Agreta segera duduk di kursi, tempat biasanya mereka tempati. Patria dan Agreta menikmati makan siang mereka dengan suasana hati yang penuh kebahagiaan.
Sementara mereka berdua menikmati makan siang, tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.
"Mbo itu siapa yang datang, tolong di liat dulu?" Patria." Baik tuanm" mbo Nem. Si mbo pun langsung bergegas menuju ke ruang depan untuk melihat siapa yang datang.
Setelah sempai di depan pintu masuk,mbo Nem segera membuka pintu sebelum pintu itu di ketuk .
"Non Siska," ucap mbo Nem setelah melihat siapa yang datang. "Siang mbo, Geta nya ada?" sapa Siska setelah melihat mbo Nem yang membukakan pintu. "Ada non, masuk dulu non. Itu non Geta sama tuan lagi makan," ujar mbo Nem. "Makasih ya mbo,saya langsung keruang makan." Siska.
Siska pun langsung menuju ruang makan. Siska sudah sering kali datang ke rumah Agreta sahabat nya ini. Jadi Siska sidah hafal betul letak ruang makan.
Mendengar derap langkah kaki menuju ruang makan Patria dan Agreta pun langsung memalingkan kepalanya menujuh asal suara kaki tersebut.
__ADS_1
"Geta, Maaf ya aku tadi pagi nggak sempat menjemput," kata Siska setelah melihat Agreta. "Ngga papa ska,kamu pasti lagi ngurusin Dean," balas Agreta.
"Duduk yuk, gabung makan siang." tawar Agreta pada Siska. Siska pun langsung duduk manis setelah menerima tawaran Agreta. Sedangkan Patria langsung berubah wajah menjadi dingin. Matanya terus menatap wajah Siska dengan mata yang membulat.
Siska yang menyadari kalau dirinya sedang di perhatikan oleh Patria, langsung menyapa Patria seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Hai Patria, silahkan lanjutkan makan siangnya," ujar Siska cuek. "Dasar Perusuh," Patria berkata dalam hatinya.
Sedangkan Agreta yang melihat tingkah suaminya dan sahabatnya Siska hanya tersenyum simpul. Mereka bertiga melahap makanan siang mereka dengan suasana riuh.
Setelah selesai makan,Patria dengan sigap langsung menyiapkan obat untuk di minum Agreta. Setelah selesai Patria,Agreta dan Siska menujuh raung tengah untuk bersantai sejenak. mereka bertiga asik mengobrol obrolan ringan.
Setelah beberapa saat kemudian terlihat Agreta mulai mengantuk, efek dari obat yang di minum oleh Agreta . Karena sudah beberapa kali menguap Patria pun langsung meminta istrinya untuk segera istirahat. "Istirahat ya, aku antar kamu ke kamar," ajak Patria pada Agreta."Iya," jawab Agreta." Maaf ya Ska, aku masuk duluan. Nggak papa kan ku tinggal?" ucap Agreta pada Siska. "Iya,tenang aja. Kamu memang masih butuh istirahat," balas Siska.
Patria pun langsung mengantar Agreta menujuh lantai dua, langsung menujuh ke kamar utama miliki Patria dan Agreta.
Selang beberapa saat kemudian terdengar suara dengkuran halus milik Agreta. Agreta sudah memasuki alam mimpinya. Patria memperhatikan sejenak wajah istrinya. Masih ada rasa getir di hati Patria,rasa sesal itu belum hilang sepenuhnya. Kembali Patria mengecup kepala istrinya sebelum meninggal Agreta yang sudah tertidur pulas.
Setelah Patria keluar dari kamarnya, Patria ingin mengambil air minum ke dapur. Patria langsung menyatukan kedua alisnya setelah melihat bahwa Siska masih setia duduk manis di ruang tengah."Belum pulang?" tanya Patria langsung pada Siska dengan nada cuek.
"Ihss ... segitunya...!" Bukannya Siska menjawab pertanyaan Patria justru memberikan cibiran.
Patria langsung menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Baru beberapa langkah Patria meninggalkan Siska, tiba-tiba Patria mendengar dirinya di panggil oleh Siska, "Patria...." panggil Siska. Patria pun langsung menghentikan langkahnya dan langsung membalikkan badannya menghadap Siska. "Boleh kita bicara sebentar?" tanya Siska dengan mimik wajah serius.
Patria yang melihat wajah Siska yang serius langsung mengerti pasti ada sesuatu yang hendak di sampaikan oleh Siska. Dua manusia yang biasanya beradu debat kini sedang akur.
Patria pun langsung mengambil posisi duduk berhadapan dengan Siska.
__ADS_1
"Ya..." ujar Patria.
"Pat ada ingin saya tanyakan ke kamu!." Ujar Siska dengan nada serius.
"Ada apa Ska?" tanya Patria pun penasaran. "Katanya mbo, pesan yang dikirimkan mbo dan saya waktu itu kamu tidak menerimanya. Apa benar begitu?" Ungkap Siska langsung pada intinya. Patria yang mendengar pertanyaan Siska membuatnya sedikit merasa kesal. Karena Patria berpikir bahwa Siska tidak mempercayainya.
"Itu benar Siska, aku tidak pernah menerima pesan yang dikirimkan oleh mbo," jawab Patria dengan nada kesal. "Bukan begitu Patria,tapi yang mengirimkan pesan pada mu bukan cuma mbo Nem saja. Tapi aku juga mengirimkan pesan padamu saat itu!" ujar Siska. Patria pun langsung menyatukan kedua alisnya dengan tatapan binggung. "Nomor telepon kamu tidak berubah kan Pat?" tanya Siska. "Nggak kok, Nomor ku masih sama!" balas Patria masih dengan tatapan binggung.
Siska mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu di layar handphone miliknya.
Ting....ting..
Bunyi suara handphone milik Patria. Patria pun langsung mengecek handphone miliknya. "Itu pesan dari aku, Patria. Aku hanya ingin memastikan bahwa pesan ku masuk di handphone milik mu," ujar Siska menjelaskan. "Patria, yang mengirimkan pesan padamu saat itu bukan hanya mbo saja, tapi aku juga." Sekali lagi Siska menjelaskan.
Patria masih terdiam mendengar penjelasan Siska. Siska pun langsung menunjukkan pesan yang dia kirim ke Patria saat itu. Patria membaca isi pesan Siska saat itu,pesan yang mengabarkan kondisi Agreta saat itu.
Patria langsung menggeleng-gelengkan kepalanya masih dengan wajah bingungnya.
"Sungguh,aku juga tidak menerima pesan yang kamu kirimkan Ska!" Ujar Patria.
"Pat maaf, buka aku menuduh kamu,tapi di sini menurut ku ada yang aneh di sini." Ungkap Siska.
"Maksudnya?" Tanya Patria masih binggung.
Bersambung
__ADS_1