AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 63 AMARAH


__ADS_3

      Anggie segera merapikan dirinya sebentar sebelum membukakan pintu untuk Patria. Anggie menyisir rambutnya dengan menggunakan jari-jari tangan. Setelah merasa lebih rapi Anggie menyentuh handle pintu dengan perasaan gugup dan senang tentunya.


Cek klek


Pintu terbuka.


Anggie memasang wajah cerianya tak lupa senyum ikut mengembang indah di bibirnya.


"Hi Patria lama kita tidak berjumpa." sapa Anggie gugup. Patria masih diam berdiri sambil memasang wajah datarnya.


"Masuk Patria." Anggie mempersiapkan Patria untuk masuk.


   Baru beberapa langkah Patria masuk dengan sangat kasar Patria meraih tangan Anggie dan mencengkeramnya sangat kuat. Hal ini sontak saja membuat Anggie terkejut,dia tidak menyangka jika Patria bisa kembali berbuat kasar pada dirinya.


    Dengan perasaan cemas dan takut Anggie membalikkan badannya untuk bisa menatap Patria langsung.


"Sakit Patria, lepasin!" Anggie meringis kesakitan dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Patria.  Lengannya Anggie bisa terlepas, tapi dengan kasar pula Patria kembali meraih rahang Anggie dan meremasnya dengan kencang.


Dalam sekejap hati Anggie di landa rasa ketakutan. Dalam hatinya bertanya, "Apakah Patria sudah tahu kalau aku yang mengirimkan foto-foto itu?" Untuk mengetahui pasti, dengan suara bergetar Anggie berkata,


"Patria apa yang kamu lakukan, apa salahku?"


"Apa salah mu? Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan. Aku buka pria bodoh yang bisa kamu bodoh!" Dengan suara bergetar menahan amarahnya Patria mengatakan kata-kata tersebut.


Dengan bibir yang sudah mengerucut karena di rahangnya di remas oleh Patria Anggie bertanya lagi seolah-olah tak mengerti perkataan Patria.


"Apa maksud mu Patria?" Sesungguhnya Anggie sedang dalam amat ketakutan tapi dia berusaha untuk bersikap tenang.


"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang sudah kau coba lakukan pada istri ku kemarin?" ucap Patria..Anggie tertegun mendengar ucapan Patria, dia tidak menyangka jika aksinya kemarin ternyata di ketahui oleh Patria. Perasaan Anggie saat ini bercampur aduk rasanya,ada ketakutan kecemasan dan di sisi lain ada juga perasaan lega. Anggie merasa bahwa Patria belum tahu kalau dirinya lah yang sudah mengirimkan foto dan video tentang Agreta.


"Maaf Patria, aku hanya cemburu." Kata Anggie mengakui perasaannya, jujur.


Bukannya Patria terharu akan pengakuan Anggie tapi justru membuat Patria semakin berang. Tangan Patria yang tadinya hanya mencengkram dagunya Anggie kini berpindah ke lehernya Anggie. Mata Anggie langsung melotot wajahnya yang putih bersih kini berubah menjadi merah seperti buah tomat yang sudah matang.

__ADS_1


Anggie berusaha untuk menghirup udara untuk mengisi paru-parunya yang mulai kehabisan oksigen.


Anggie menyadari kondisinya saat ini sedang berada di ambang kematian, dia berpikir untuk melakukan sesuatu.


Tak ada yang bisa di lakukan Anggie selain berusaha untuk berbicara,


"Pattriaa aakku bisa mattii." Dengan suara terbata-bata akhirnya Anggie bisa mengucapkan kalimat itu.


Mendengar kata "MATI" Patria tersadar akan apa yang di lakukannya. Patria langsung melepaskan cengkeramannya dari leher Anggie.Tapi meskipun melepaskan tangannya dari leher Anggie  amarahnya belum juga reda.


Anggie segerah menghirup uda sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya. Setelah merasa lebih baik Anggie memberanikan diri untuk membentak Patria sambil berkata,


"Kau sudah gila ya! Demi wanita tak tahu diri itu kamu baru saja hampir membunuh ku!" 


Plak Plak


Bunyi tamparan.


Patria menampar Anggie setelah mendengar kata-kata yang di ucapkan Anggie. Mendapatkan tamparan sebanyak dua kali membuat Anggie terhenyak mudur dua langkah.


"Aku katakan sekali lagi sama kamu Anggie, sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa menandingi istri ku!" Patria mengatakan kalimat itu sambil menujuk wajah Anggie dengan jari telunjuknya.


"Jangan lagi menguji kesabaran ku Anggie,hari ini aku hampir membunuh mu tapi besok-besok aku bisa saja benar-benar membunuh mu!" Patria menyambung perkataannya. Anggie terdiam tak bisa lagi melawan,dia sadar jika saat ini dirinya masih memaksakan keinginannya Patria bisa saja semakin sulit untuk diraihnya.


     Hati Anggie semakin terasah sakit, berkali-kali diri di tolak oleh Patria.Berkali-kali juga Anggie menerima perlakuan kasar dari Patria nyatanya tidak menyurutkan keinginannya untuk memiliki Patria dan yang lebih parahnya lagi kebencian Anggie terhadap Agreta justru semakin bertambah.


    Dan sebelum pergi meninggalkan Anggie Patria sekali lagi memberikan peringatan kepada Anggie.


"Jangan pernah kamu menyentuh istri ku! Jika kamu masih berani berusaha menyentuh istri ku lagi, aku pastikan akan menghancurkan hidup mu! Ingat itu."  Setelah berkata demikian Patria pun pergi meninggalkan Anggie.


      Sedangkan Anggie kini menagis. Di selah-selah tangisnya dengan rahang mengeras dan tangannya yang terkepal erat dan sorot mata yang tajam Anggie justru bersumpah untuk menyakiti Agreta.  


Di kantor milik Patria.

__ADS_1


    Di depan pintu seorang kurir memasuki gedung itu sambil memegang map berwarna coklat. Dengan santainya dia menghampiri resepsionis yang sedang duduk di balik meja besar.


"Selamat pagi mba," salam dari orang tersebut. Dia adalah kurir yang di suruh Anggie.


"Selamat pagi juga pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis.


"Saya hanya mengirimkan paket mba," ucap kurir itu sambil menunjukkan map berwarna coklat yang sedang di pegangannya.


"Baik pak. Paket itu di kirim untuk siapa?" tanya resepsionis.


"Ini untuk bapak Patria Sigara," jawab kurir itu.


"Maaf pak siapa nama pengirimnya?" tanya resepsionis itu lagi.


"Saya rasa anda tidak perlu tahu siapa pengirimnya. Dokumen ini sangat penting dan rahasia!" tukas kurir itu mulai merasa tak nyaman. Resepsionis itu mulai merasa curiga dengan gerak-gerik si kurir. Dia pun teringat akan pesan dari Patria bosnya. Dia pun segera meminta kurir itu menunggu.


"Baik pak mohon tunggu sebentar, jika bapak mau silahkan duduk dulu karena saat ini pak Patria-nya belum datang." 


"Terimakasih,saya akan menunggu beliau saja," balas kurir itu.


    Setelah kurir itu pergi menjauh dari meja resepsionis, resepsionis itu pun segera menghubungi pihak security.


"Halo pak Damar, saya resepsionis meja depan. Saya ingin melaporkan bahwa orang yang di cari sama Pak Patria sudah datang." Pak Damar adalah kepala keamanan di kantor Patria. Setelah mendengar kabar itu pak Damar segera meminta resepsionis itu untuk mengawasi kurir tersebut.


"Baik saya segera ke sana, orangnya lagi apa?" tanya pak Dimas.


"Lagi menunggu di lobby pak," jawab resepsionis


"Baik kalau begitu,awasi jangan sampai dia curiga apa lagi sampai kabur. Saya akan menambah penjaga di pintu depan."


      Setelah selesai Pak Dimar pun langsung menuju lobby tak lupa meminta personil keamanan lainnya untuk berjaga di pintu depan dan pintu belakang mencegah kurir itu kabur.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2