
Mereka berdua pun menikmati sore sambil menyeruput kopi masing-masing tak lupa menikmati pisang goreng.
Plak...plak..plak ..
Suara tepukan tangan mulai berbunyi,tanda nyamuk mulai menyerang mangsa untuk di hisap darahnya. "Den, disini mulai banyak nyamuk,kalo Aden tidak keberatan mau mampir tempat saya?" pak Mun menawarkan diri.
"Nanti saya ngerepotin pak," jawab Patria.menolak karena sungkan "Tapi kalo kita masih duduk di sini bisa habis darah kita hisap vampir vampir kecil ini," ujar pak Mun. Patria terkekeh mendengar jawaban pak Mun. "Kalo aden mau ayo,di rumah cuma ada saya dan istri saya aja nggak ada orang lain lagi," ujar pak Mun berusaha menipis keraguan Patria.
Setelah mendengar ucapan pak Mun Patria menyetujui usulan tersebut.
"Mobil saya gimana pak?" Patria bertanya karena tidak mungkin meninggalkan mobilnya di pinggir jalan begitu saja. "Di bawah aja den,nanti di ujung sana ada jalan mobilnya lewat situ aja," pak Mun menjelaskan kondisi jalan yang agak tersembunyi. "Ok pak Mun.Ayo naik mobil saya aja sekalian biar saya nggak kesasar kerumahnya," tawar Patria karena masih binggung letak jalan yang di maksud.
"Wah jadi naik mobil bagus nih." ujar pak Mun. "Tapi ngga papa mobilnya kalo saya ikutan?" pak Mun berceloteh.
"Nggak lah pak.,yuk nyamuknya serem banget nih," balas Patria sambil terkekeh.
Patria dan pak Mun langsung menujuh rumah tempat tinggal pak Mun.halaman rumah pak Mun ternyata cukup luas.rumahnya sederhana tapi terlihat nyaman itulah pemikiran Patria setelah melihat rumah pria yang baru saja dikenalnya.
Setelah sampai pak Mun langsung turun dan berseru memanggil istrinya.
"Buk....buk....kita ada tamu nih!," pak Mun langsung mencari istrinya kedalam rumah. "Eh...pak kok baru pulang?,tamu siapa?" Istri pak Mun langsung keluar dari dapur rumah sambil bertanya.
"Ini ada orang kota bu...kasian!" ujar pak Mun menjelaskan ke istrinya sambil berbisik. "Ayo masuk den.Maaf rumah saya kecil dan sederhana." Pak Mun mempersilahkan Patria untuk masuk ke dalam rumahnya. Patria pun ikut masuk bersama pak .
"Kenalkan ini istri saya." Pak Mun memperkenalkan istrinya pada Patria.
"Saya Patria bu,maaf sudah mengganggu." Patria memperkenalkan dirinya.
"Panggil saya bun Mun aja den,.jangan sungkan ya." Bu Mun mengucapkan kalimat itu dengan senyum ramah.
Rumah pak Mun memang kecil dan sederhana tapi sangat nyaman di dalamnya.entah mengapa ada rasa hangat dalam hatinya setelah memasuki rumah itu
__ADS_1
Ada rasa damai dan tenang di dalam hati Patria.
Patria duduk di salah satu kursi yang terbuat dari kayu.meskipun di alasi busa tapi tidak se empuk sofa di rumahnya, Patria tetap merasa senang.
"Den nanti makan malam nya di sini aja ya, tapi maaf makanannya makanan sederhana, cuma ada sayur asem sama ikan asin sama sambel terasi." Pak Mun menawarkan.
"Iya pak,wah jadi beneran ngerepotin nih pak," ujar Patria sambil tersenyum.
"Pak makan yuk,ajak makan den Patria nya sekalian." Panggil buk Mun, setelah makanan sudah siap tersaji di atas meja makan.
Pak mun dan Patria langsung menuju ruang makan. Aroma masakan bu Mun sampai ke hidung Patria perutnya pun langsung berdendang kriuk...kruk..tanda lapar sudah menyerang.Patria tertunduk malu.sedangkang pak Mun dan istrinya hanya tersenyum simpul.
"Ayo .dimakan Den, kasian cacingnya udah nggak tahan," ujar pak Mun mencairkan suasana hati Patria yang sudah tertunduk malu. Meskipun makanan sederhana tapi membuat Patria makan banyak sampai nambah.
Setelah menyelesaikan makan malam.pak mun dan Patria duduk di teras rumah untuk bersantai sejenak.
"Den nanti nginap di sini aja ya,udah malam. Takut kenapa-napa di jalan," tawar pak Mun.
"kamarnya uda di siapin sama istri saya." Pak Mun merasa khawatir jika di biarkan Patria berkendara di malam hari apa lagi pak Mun tahu suana hati Patria sedang tidak baik.
'Den kalo aden mau berbagi cerita dengan saya, saya siap mendengarkan tapi kalo aden belum siap tapi jika tidak ingin bercerita tak apa," ujar pak Mun panjang lebar.
Patria terdiam sejenak, kemudian dengan suara lirih Patria berkata.
"istri saya selingkuh pak." Dengan kepala tertunduk Patria menahan air matanya.dia tidak ingin terlihat cengeng.dan entah mengapa Patria bisa berbagi cerita dengan orang yang baru saja di kenalnya.
Pak Mun yang mendengar ucapan Patria menari nafas dalam.
"Apakah aden yakin akan hal itu?" Dan Pak Mun bertanya.
Patria kembali terdiam.
__ADS_1
"Jika aden tidak yakin kenapa menyiksa diri seperti ini?" tutur pak Mun.
"Saya punya buktinya pak Mun," jawab Patria sambil mengalihkan pandangannya jauh entah kemana.
"Apakah aden sudah bertanya kepada istrinya aden tentang hal ini?" Pak Mun bertanya lagi .
"Istri saya tidak mengakuinya," ucap Patria lagi.
"Apa aden sudah menunjukkan bukti yang aden punya." Lagi pak Mun bertanya. Hanya gelengan kepala ke kiri dan ke kanan yang Patria memberikan jawabannya.
"Maaf ya den bukan maksud saya menggurui tapi jika aden sendiri tidak yakin kalo istrinya berselingkuh kenapa aden menyiksa diri seperti ini?" Pak mun mencoba menyelami perasaan Patria.
"Apakah aden sudah memberikan kesempatan kepada istrinya untuk menjelaskan tentang tuduhan aden?" Pak Mun kembali bertanya.
Patria kembali menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Pak Mun kembali menarik nafas panjang.
"Den,.disini aden menyiksa diri sampai seninya, dan istri aden pun mungkin sedang ikut tersiksa dengan permasalahan ini." Sekali lagi pak Mun mencoba menjadi penengah." Saya tidak kenal dengan istrinya aden tapi di sini istrinya pun menurut saya butuh di berikan kesempatan untuk memberikan penjelasan atau sekedar membela diri." Pak Mun menasehati Patria panjang lebar.
"Apakah aden punya musuh.atau ada orang yang tidak menyukai aden atau istrinya?" Pak Mun kembali bertanya.
"Tidak ada pak. Saya tidak memiliki musuh begitupun istri saya," ujar Patria dengan yakin.
"Musuh itu terkadang tidak terlihat," ujar pak Mun. "Musuh yang terlihat bisa dengan sangat mudah kita kalahkan tapi musuh yang tersembunyi itu yang sulit di hadapi," sambungan pak Mun.
Patria terkejut dengan ucapan pak Mun barusan.kalimat panjang itu seolah menyentil hatinya. Patria kaget dalam hatinya pak Mun orang yang sederhana tapi mampu berpikir sejauh itu,.sedang dia Patria?"
"Sudah malam den..masuk yuk, istirahat.Jangan kelamaan duduk di luar entar di bawa kabur sama nyamuk." Pak Mun membuyarkan lamunan Patria yang entah itu apa. Mereka pun masuk kedalam rumah,pak Mun langsung ke kamarnya sedangkan Patria masuk juga ikut masuk ke kamar yang sudah di siapkan.
Di dalam kamar Patria sulit memejamkan matanya.patria masih terngiang-ngiang di kepalanya tentang ucapan pak Mun yang terakhir.
__ADS_1
Hampir subuh Patria baru bisa tertidur.
Bersambung...