
Keesokan harinya seperti biasa mbo Nem datang membawa sarapan pagi dan juga baju kantor untuk patria.setelah sarapan Patria menyempatkan diri untuk menemani Agreta istrinya untuk menjalani terapi terakhirnya.Kesehatan Agreta mulai pulih kembali.
Meskipun demikian Patria tidak bisa merasa tenang seutuhnya.patria masih memikirkan tentang pengacara yang datang menemui Agreta kemarin. Patria berusaha bersikap biasa saja di hadapan Agreta meskipun hatinya di landa perang batin.
Setelah selesai menemani Agreta untuk cek up,dan untuk mengetahui perkembangan kesehatan Agreta Patria langsung bersiap-siap untuk ke kantor.tentunya dengan hati yang galau.apa lagi setelah tahu ada seorang pengacara yang datang menemui Agreta.Hati Patria tentunya semakin tak menentu.
Patria berangkat ke kantornya tapi seperti biasa Patria menitipkan Agreta pada mbo Nem. Badan Patria memang berbeda di kantor tapi tidak hati dan pikirannya, semuanya tertinggi di rumah saki. Lebih tepatnya hati dan pikiran Patria tertuju pada Agreta. Mulai memikirkan apa yang sedang di lakukan Agreta, apakah pengacara itu akan datang kembali?
"Aish.... Ucap Patria sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.Patria benar tidak bisa konsentrasi pada pekerjaannya saat ini.
Ingin rasanya Patria segera kembali ke rumah sakit tapi apa daya hari ini ada jadwal pertemuan dengan para pemegang saham.dan tentunya Patria tidak bisa meninggalkan rapat tersebut.
Lamunan Patria buyar setelah tiba-tiba pintu rumah kerja patria di ketuk seseorang dari luar.
Tok...tok..tok Bunyi pintu di ketok.
"Pak maaf saya Jeje," suara dari luar Jeje meminta ijin untuk masuk.
"Iya Je, silahkan masuk." valas Patria.
Setelah mendapatkan ijin dari Patria Jeje pun langsung masuk ke ruang kerja bosnya. "Maaf pak saya hanya ingin menyampaikan bahwa rapat lima menit lagi akan segera di mulai," ucap Jeje mengingatkan Patria.
"Baik Jeje, terimakasih sudah mengingatkan saya, saya segera ke ruang rapat sekarang,"jawab Patria.
"Oh Je, semua laporan keuangan sudah kamu persiapkan?" tanya Patria.
"Sudah pak.ini laporannya," balas Jeje, sambil menyerahkan dokumen yang di maksud Patria. "Kita ke ruang meeting sekarang," perintah Patria pada Jeje.
"Baik pak," Jeje. Jeje pun segera mengekor di belakang Patria.
Patria dan Jeje sekretarisnya langsung menujuh ruang rapat.
Setelah sampai di ruang rapat Patria melihat semua anggota pemegang saham sudah duduk menunggunya.
Tanpa ada basa-basi lagi Patria segera memulai rapat tersebut. Rapat kali ini membahas tentang perkembangan perusahaan, laporan keuangan, membahas tentang proyek yang sedang berjalan,dan masih ada pembahasan lain nya.
Konsentrasi Patria tidak sepenuhnya terpusat pada rapat yang sedang di hadirnya. Pikirannya bercabang antara rapat dan hubungannya dengan sang istri yang masih belum ada perubahan.
__ADS_1
Rapat kali ini berlangsung sangat lama,hanya berhenti sebentar untuk istirahat makan siang, kemudian di lanjutkan lagi dengan pembahasan lainnya. Sempat terjadi adu argumen di dalam rapat tersebut.Adu argumen terjadi setelah membahas tentang proyek kedepannya dan langkah-langkah apa saja yang harus di ambil.Pikiran Patria benar-benar terkuras,dia merasa sangat lelah.
Rapat terus berlanjut sampai pukul empat sore. Semua anggota pemegang saham merasa puas dengan hasil rapat kali ini.bukan hanya hasil rapat saja yang membuat mereka puas tapi cara kerja Patria.Mereka pun memberikan kata-kata pujian untuk hasil kerja Patria.
Rapat akhirnya usai, Patria memutuskan untuk segera kembali ke rumah sakit.Hatinya benar-benar tidak bisa tenang.
Patria pusing memikirkan mantan tunangan istrinya yang tiba-tiba kembali pada saat hubungannya dengan Agreta sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, yang juga secara terang-terangan mengatakan bersedia menggantikan posisi Patria,di tambah lagi dengan kedatangan seorang pengacara yang datang menemui istrinya.Hati Patria benar-benar merasa sangat kacau.
Patria langsung berpamitan dengan jeje setelah keluar dari ruangan kantor nya.Dan Jeje harus tetap lembur hari ini untuk menyimpan dokumen yang diperlukan esok harinya. "Jeje saya pulang dulu ya,kamu jika bisa bawa saja kerjaannya ke rumah dan kerjakan di rumah saja," usul Patria. "Baik pak," balas Jeje. "Jeje,orang yang mengirimkan paket tanpa nama waktu itu apa sudah ketemu?" tanya Patria. "Belum pak, orang itu belum mengantarkan paket lagi.tapi saya selalu mengingat petugas security dan reception untuk selalu memantau kedatangan orang tersebut," jelas Jeje.
"Baiklah terimakasih.Segera hubungi saya jika orang tersebut datang kembali." Kembali Patria mengingatkan Jeje. "Baik pak." balas Jeje lagi.
Setelah itu Patria segera menujuh lift turun ke lantai satu tempat mobilnya terparkir. Lantai satu mulai terlihat sepi karena sebagian karyawan sudah kembali pulang usai bekerja.
Patria melaju dengan mobilnya menuju rumah sakit.jalanan menujuh ke rumah sakit agak sedikit tersendat.maklum saja masih termasuk jam pulang kerja.
Setelah satu jam berkendara Patria tiba di rumah sakit. Dengan mengayunkan langkahnya patria segera menuju keruang Agreta.masih di lorong rumah sakit menuju tempat Agreta .
Patria terdiam sejenak setelah melihat sosok yang baru saja di kenalnya kemarin memasuki ruangan istrinya.
Hati Patria langsung nelangsa.Patria menjadi ragu apakah dia akan masuk kedalam ruangan istrinya atau justru bersembunyi untuk sesaat.
Akhirnya Patria memutuskan untuk mampir ke kantin rumah sakit, tujuannya untuk mencari makanan atau minuman yang dapat merendahkan kegalauan hatinya.
Sesampainya di kantin Patria langsung memesan minuman coklat panas dan beberapa cemilan.Patria mencari tempat duduk yang kira-kira bisa membuat Patria merasa nyaman.
Tiba-tiba mata menangkap sosok yang sangat di dikenalinya.
"Mbo,! kok mbo ada di sini?" Patria langsung menghampiri tanya mbo Nem sambil bertanya. "Tuan," balas mbo Nem. Mbo Nem terkejut dengan kedatangan Patria di kantin.
"Kok mbo ada di sini bukannya bersama dengan Agreta?" sekali lagi Patria bertanya pada wanita paruh baya itu.mbo Nem. "Itu tuan ruangan non Agreta penuh," mbo Nem beralasan.
"Penuh? memang ada siapa saja yang ada di dalam?" tanya Patria penasaran .
"Itu tuan ada non Siska, dokter Freya, dokter Gilang dan juga ada temennya non yang bernama Gio,"ucap mbo Nem.
"Gio? jadi Gio mantannya Geta juga ada di sana," Patria bermonolog sendiri.
__ADS_1
Mbo Nem tidak menyebutkan nama Dion karena pas waktu ke kantin Dion memang belum datang.Jadi hanya Patria lah yang melihat kedatangan Dion keruang Agreta.
Tanpa menunggu lebih lama lagi Patria segera berdiri dari duduknya dan langsung pergi begitu saja. Minuman yang di pesan Patria di tinggalkan begitu saja tanpa menyentuhnya sedikit pun.
Mbo Nem yang melihat sikap Patria berusaha memanggil tuannya tapi tidak di hiraukan oleh Patria,mbo Nem pun langsung segera menyusul tuanya keruang Agreta.
Setelah sampai di depan pintu masuk ruangan Agreta patria membuka pintu tersebut secara perlahan-lahan.Tujuannya Patria ingin mendengar percakapan yang terjadi di sana.
Dengan jantung yang berdetak kencang dan hati yang gelisah Patria mendengarkan percakapan dari ruangan tersebut. "Memang kamu punya buktinya?" suara Gio.
"Aku punya barang buktinya,berupa foto dan vidio," ucap Siska. "Bisa kamu serahkan pada saya buktinya?" tanya Dion. "Bisa,sekarang juga saya bisa menyerahkan bukti -bukti itu," ujar Siska.
"Nanti saya juga akan membantu menyerahkan beberapa dokumen untuk memperkuat bukti yang di berikan Siska." timpal dokter Freya.
Patria yang mendengarkan obrolan tersebut membuat hatinya merasa sangat sedih. Pikirannya menjadi sangat kacau. "Tidak,aku tidak ingin bercerai dari Agreta., aku tidak akan menyetujuinya,.aku harus melakukan sesuatu." Tekat Patria dalam hatinya.
Tanpa perlu berpikir lagi, Patria segera menuju ke tempat Agreta.
Setibanya di sisi Agreta, Patria langsung berlutut.sambil berkata,
"Aku mohon maafkan aku."
Bersambung...
__ADS_1