
b"Aku tidak akan pernah membayar mu titik," awab Anggie tegas menolak.
"Oh ya?Jadi kamu menolak untuk membayar ku. Baiklah tak apa," jawab pria itu enteng. "Tapi...." Pria itu menggantung kalimatnya sambil mengambil handphone miliknya dari saku celana dan memperlihatkan foto yang ada dalam handphone miliknya.
"Lihat ini nona , jika kamu menolak memberikan bayarannya saya pastikan foto-foto ini dan vidio tentang semalam akan saya sebar di media sosial." Sambil tersenyum Pria itu mengancam Anggie.
"Gila,saya akan laporkan kamu ke polisi!" Anggie tak takut dengan ancaman tersebut justru balik mengancam.
"Apakah kamu punya bukti bahwa saya yang memperkosa mu? Di video ini jelas terlihat kamulah yang lebih aktif berada di atas tubuhku," balas pria itu sambil menatap Anggie dengan tatapan kemenangan. "Cepat bayar sekarang!" Bentak pria itu hingga membuat Anggie terperanjat sangking kagetnya.
Anggie terdiam otaknya terasa membeku tak mampu untuk berpikir. Tubuhnya menjadi kaku anggie meremas kencang selimut yang menutupi tubuhnya.
"Bayar cepat!" Sekali lagi pria itu meminta bayarannya dengan kembali membentak Anggie.
Dan Anggie pun langsung tersadar dari kebisuannya. "Dasar laki-laki brengsek," maki Anggie sambil menatap penuh kemurkaan.
"Aku brengsek? Hei nona kamu itu jauh lebih brengsek dari diri ku," balas pria itu. "Brengseknya saya, kamu jauh lebih parah. Setidaknya saya tidak pernah memfitnah orang apa lagi sampai membuat orang sampai cacat seumur hidup," sambung pria itu dengan sengit
"Apa maksud dari perkataan mu?" tanya Anggie curiga.
"Sudahlah, cepat mana uangnya. Saya tidak betah berlama-lama dekat dengan mu perempuan berisik dan bawel," tutur pria itu lagi.
"Keluar...!" seru Anggie menyuruh pria tersebut untuk keluar sambil jari telunjuknya menujuk kearah pintu kamar."Sudah ku katakan,saya tidak akan pergi sebelum kamu membayar ku." ucap pria itu mulai kesal.
"Tunggu di depan, saya akan membayar mu," jawab Anggie cepat, karena dia sudah tidak ingin berdebat lagi. Keinginan Anggie saat ini biar pria itu segera pergi.
"Jangan coba-coba dengan ku, aku pastikan kamu akan menyesal." Ancam pria itu sambil melangkah pergi keluar dari kamar.
Setelah pria itu keluar Anggie langsung mengerang kesal dan marah. Ingin rasanya Anggie berteriak sekeras mungkin, tapi urung dilakukannya karena Anggie takut pria itu masuk kembali dan berbuat nekat pada dirinya.
Secepat kilat Anggie langsung memakai baju yang asal-asalan di ambilnya dari dalam lemari. Setelahnya Anggie mengambil dompet miliknya dan melangkahkan keluar kamar untuk memenuhi permintaan pria itu yaitu membayarnya.
__ADS_1
Setelah keluar dari kamarnya Anggie segera menyodorkan lembaran uang kertas kepada pria tersebut.
"Ini bayaran mu, hapus foto dan video itu sekarang." Perintah Anggie.
Pria itu segera menyambar dengan cepat uang pemberian Anggie dan langsung menghitungnya di depan Anggie.
"Cuma segini, kamu bercanda ya? Kurang!" ucap pria itu setelah menghitung jumlah uang tersebut.
Anggie pun mengeluarkan beberapa lembaran uang dari dompetnya sambil merenggut kesal dan memberikan uang itu kepada pria itu.
"Terimakasih," ucap pria itu setelah menerima uang pemberiannya Anggie sambil tersenyum sumringah. Dia pun segera berbalik badan dan langsung melangkah hendak pergi.
"Hei berhenti," ucap Anggie mencegah agar pria itu berhenti.
"Apa lagi, masih mau ku layani lagi?" Tanya pria itu setelah menghentikan langkahnya dan menatap Anggie sambil mengedipkan salah satu matanya.
"Gila..." tutur Anggie. "Cepat hapus foto dan vidio itu," sambung Anggie lagi memerintah.
Anggie yang sadar bahwa foto dan video tersebut belum di hapus segera mengejar pria itu. Anggie berusaha mengambil ponsel milik pria tersebut, sayangnya bukan sebelum mendapatkan handphone tersebut tangganya justru di cekal sangat kuat oleh pria itu.
"Sudah ku katakan tadi, akan aku pikirkan menyimpannya atau menghapusnya." Pria itu berkata sambil memasang wajah yang sangar.
Dan Anggie terdiam tak berani lagi melanjutkan aksinya untuk merebut ponsel milik orang itu. Nyali Anggie menciut setelah menatap tampang garang pria itu. Melihat Anggie yang terdiam orang itu mendorong Anggie sampai terjerembab ke lantai.
Sebelum melangkah pergi pria itu memberikan peringatan kepada Anggie dengan bahasa isyarat menyuruh Anggie agar diam. Setelahnya dengan langkah penuh percaya diri pria itu pergi meninggalkan Anggie.
Dan Anggie hanya bisa menatap punggung pria itu sambil menangis.
"Brengsek...
"Sial....
__ADS_1
Umpat Anggie sambil terus menangis meratapi kemalangan dirinya.
Setelah puas menangis dan meratapi dirinya Anggie segera bangun dari lantai dan segera menuju ke kamar dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Kembali Anggie menumpahkan cairan bening dari kedua matanya. Kali ini Anggie merasa benar-benar merasa sangat tak berdaya. Berkali-kali Anggie menggosokkan sabun mandi ke tubuhnya berharap agar sabun itu mampu menghapus jejak sentuhan dari pria itu.
Anggie menggosok tubuhnya dengan sabun mandi sampai kemerahan. Hati Anggie benar-benar sangat marah dan putus asa saat ini.
"Seandainya saja wanita sialan itu sudah melepaskan Patria, tidak mungkin hal ini menimpa ku." Geram Anggie menyalakan Agreta.
Anggie tak sadar bahwa apa yang di alaminya saat ini semua di karenakan tingkah lakunya dan sikapnya yang boleh di di katakan adalah sebuah kebodohannya sendiri.
Anggie menangis sampai matanya bekak, hidungnya memerah, dan Anggie keluar dari kamar mandinya setelah kulit jari-jarinya berubah warna menjadi putih dan keriput. Setelahnya Anggie menggigil kedinginan.
Masih mengunakan jubah mandi Anggie melihat arah tempat tidurnya, dia segerah menarik selimut seprai dan melepaskan semua sarung bantal yang terpasang. Anggie memasukkan semuanya ke dalam kantong plastik yang di ambilnya di dapur dan membawa kantong plastik tersebut ke tempat sampah. Anggie membuang semua seprai sarung bantal dan selimut yang di gunakan semalam.
Anggie tak sudi menggunakan lagi barang-barang tersebut.Anggie merasa jijik. Setelahnya Anggie menuju ruang tengah. Anggie merebahkan dirinya di salah satu sofa panjang.
Saat ini Anggie tidak hanya merasakan rasa sakit di hatinya tapi juga terhina. Kemarahan kembali menghampiri pikiran dan hati Anggie.
"ini semua salah mu Agreta, akan ku balas rasa sakit ku padamu. Kamu harus merasakan penderitaan yang aku rasakan saat ini," kembali Anggie menyalakan Agreta.
Sungguh tak bisa di mengerti akan kebencian Anggie terhadap Agreta. Sesungguhnya Agreta tak pernah bertemu bahkan tak mengenal Anggie, dan tak pernah tahu siapa Anggie. Semua kemarahan Anggie terhadap Agreta di karenakan Anggie tak bisa merebut Patria dan memisahkan Agreta dari Patria.
Anggie merasakan bukan hanya hatinya yang sakit, tapi kepalanya pun terasa pening, Anggie memejamkan matanya. Mungkin karena lelehan karena menagis Anggie pun tertidur di sofa.
Bersambung
__ADS_1