AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 60 SEBUAH PENGAKUAN


__ADS_3

"Masuk " Patria mempersilahkan sekretarisnya untuk masuk.


Jeje pun masuk tak lupa juga mengajak seseorang untuk ikut masuk.


Patria mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang di ajak oleh sekretarisnya supaya ikut masuk.


"Rizal..!" Seru Patria setelah melihat siapa yang datang. "Silahkan duduk  Zal, maaf sudah merepotkan mu," sambung Patria lagi.


"Kamu tidak pernah merepotkan ku Patria, aku justru yang masih berhutang banyak pada mu,"alas Rizal. Patria mendesis mendengarkan perkataan Rizal. "Kalau kamu masih menyingung masalah itu lagi aku tidak ingin bertemu dengan mu lagi," ancam Patria.


"Ok aku minta maaf," secepat kilat Rizal langsung menyadari jika ucapannya mengganggu Patria.


"Zal, kamu itu sudah ku anggap sebagai saudara dan sudah selayaknya saya sebagai saudara mu aku menolong mu. Jadi aku minta jangan lagi kau ungkit masalah itu," pinta Patria dengan raut wajah sedih.


"Aku minta maaf Patria,aku janji tidak akan mengungkitnya lagi. Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi hingga Agreta dalam bahaya!" Rizal mengalihkan arah pembicaraan mereka dan langsung bertanya kepada Patria.


"Semua ini karena kebodohan ku Zal, seandainya saja aku tidak masuk perangkap wanita itu masalah ini tidak akan pernah terjadi," ungkap Patria dan kembali menyalakan dirinya sendiri.


Patria menceritakan tentang apa saja yang sudah terjadi dalam rumah tangganya, mulai dari kiriman foto sampai Agreta masuk rumah sakit. Tidak ada satu pun bagian dari peristiwa itu di sembunyikan oleh Patria.


"Siapa wanita gila itu Patria?" tanya Rizal. Geram.


"Dia itu seorang model," tutur Patria sambil menunjukkan foto Anggie.


Rizal pun langsung melirik ke arah foto yang di tunjukkan oleh Patria. Dan seketika mata Rizal terbuka lebar, Rizal menatap foto Anggie dengan tatapan tak percaya. Patria melihat perubahan raut wajahnya Rizal pun heran.


"Wanita ini bukan hanya gila tapi sangat jahat dan sadis Patria!" Rizal mengucapkan kalimat itu dengan nada serius.

__ADS_1


"Kamu mengenalnya?" tanya Patria, sambil mengerutkan kedua alisnya.


"Ya, aku mengenalnya," jawaban tegas Rizal.


"Dari mana kau tahu kalau wanita ini jahat?" Sekali lagi Patria mengajukan pertanyaan.


"Wanita ini dulu pernah meminta ku untuk melakukan kejahatan, kau tau apa itu Patria? Dia meminta ku untuk menyiram air keras ke salah satu model yang merupakan rivalnya!." Rizal mengatakan dengan jujur tentang Anggie.


"Dan kamu melakukannya?" Patria langsung memotong kalimat Rizal. Ada rasa cemas di benak Patria, Patria tidak ingin orang yang sudah di anggapnya saudara terciduk oleh polisi karena berbuat kejahatan. Apa lagi itu bersangkutan dengan Anggie. Patria benar tidak rela.


"Aku tidak melakukannya Patria, aku menolak permintaannya. Aku dulu memang jahat tapi aku melakukannya karena terpaksa, aku hanya mencopet. Aku tidak tega jika harus melukai korban ku. Saat aku menganggur tidak punya pekerjaan sementara aku harus memberi makan dua orang yang ku cintai. Anak dan istri ku," Rizal menarik nafasnya dalam-dalam setelah mengatakan kalimat panjang itu.


Sementara Patria menari nafas lega, ke khawatirannya tidak terbukti.


"Apakah kamu tau kalau Anggie itu berhasil melukai wanita itu?" Patria semakin ingin tahu.


"Iya, saya tau. Dan saya pun mengenal siapa orang yang sudah melakukannya!" Rizal berucap dengan tegas.


"Orang yang melakukannya sudah meninggal dunia Patria. Seminggu sesudah peristiwa itu di saat terjadi penyidikan polisi dia meninggal karena menjadi korban tabrak lari." 


"Apa?" Patria terkejut mendengar perkataan Rizal.


"Gila...!" ucap Patria spontan.


"Apakah kamu punya bukti yang bisa menjerat wanita sialan itu?" Patria. 


"Orang yang melakukan itu adalah teman ku dan sebelum dia meninggal dia sempat menceritakan tentang kejadian itu. Saya punya bukti berupa rekaman suara dan dan vidio." Rizal mengakui bahwa dirinya menyimpan bukti kejahatan Anggie.

__ADS_1


"Kenapa pada saat itu kamu tidak memberikan bukti itu kepada polisi Zal?" Ada rasa sesal  di kata-kata Patria. Seandainya saja pada saat itu  Anggie bisa tertangkap peristiwa buruk yang menimpa istrinya tidak akan terjadi.


"Aku bukannya takut, tapi aku hanya ingin menjaga keselamatan keluarga kecilku. Aku sadar dan tau wanita itu bisa berbuat nekat. Dia sudah pernah mengancam ku waktu itu, saat aku menolak permintaannya." Dengan kepala tertunduk Rizal mengatakan alasannya. Patria bisa mengerti mengapa Rizal menutupi kejahatan Anggie, jika posisi Patria sama dengan Rizal saat itu Patria pun akan melakukan hal yang sama. Mungkin.


   Terkadang kejahatan terkubur di karenakan sebuah alasan, tapi tidak selamanya kebusukan yang di pendam akan terkubur selamanya. Aroma busuk pasti akan keluar dari lobang persembunyiannya. Sedalam apa pun kejahatan itu di kubur, pada akhirnya dia akan muncul ke permukaan dengan sendirinya. Dan hukuman dari kejahatan itu pasti akan jauh lebih berat lagi.


"Baiklah, saat ini juga aku mau kamu dan anak istri mu pindah ke tempat ku!" Perintah langsung di berikan oleh Patria.


"Tapp..." Belum lengkap kalimat penolakan Rizal langsung di potong oleh Patria,


"Tidak ada kata tapi, kamu tahu aku tidak suka di tolak. Saat ini kamu juga harus menjaga istri ku, itu artinya kamu juga menjaga keluarga mu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anak istri mu di saat kamu sedang menjaga Agreta. 


Rizal merasa tidak enak hati atas permintaan Patria, Rizal merasa sudah terlalu banyak Patria menolongnya. Tapi sebelum kalimat penolakan kembali keluar dari mulut Rizal,Patria langsung mengeluarkan kalimat ultimatum,


"Apa perlu saya menyeret paksa diri mu untuk pindah ke tempat ku?"


"Ais... kenapa sekarang dia jadi pemaksa sekali?" Rizal berkata dalam hati. Rizal tidak berani mengungkapkan secara langsung isi hatinya karena dia tahu Patria pasti akan melakukan ancamannya tadi, yaitu menyeret paksa dirinya dan anak istrinya untuk pindah. Kan sangat tidak lucu jika itu benar-benar terjadi apa kata dunia.


Patria yang melihat perubahan raut wajah Rizal langsung menunjukkan wajah galaknya.


"Sekarang kamu telpon istri mu dan  suruh  dia bersiap-siap.Bawa barang seadanya saja sisanya biar saya yang urus." Sekali lagi Patria mengeluarkan perintah.


"Dan satu lagi kamu tidak harus pulang, cukup tunggu di rumah ku saja. Biar anak istri mu orang ku yang akan menjemputnya," Sambung Patria lagi. Rizal pun hanya bisa diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun selain anggukan dari menyetujui permintaan Patria.


Rizal langsung menghubungi istrinya dan memintanya untuk melakukan seperti apa yang di suruh oleh Patria.


Sedangkan Patria menghubungi istrinya Agreta dan mengatakan kalau ada saudaranya yang akan tinggal bersama dengan mereka. Mendapatkan kabar itu Agreta sama sekali tidak menolak tapi justru merasa senang. Setidaknya ada ketambahan penghuni dalam rumahnya yang sangat luas.  Agreta sudah membayangkan rumah itu  sudah pasti akan bertambah ramai, apa lagi di tambah dengan kehadiran gadis kecil anak dari Rizal.

__ADS_1


Bersambung 


"Terimakasih kasih masih setia membaca novel ku ❤️🌹🙏"


__ADS_2