AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 34 PATRIA DAN SISKA


__ADS_3

    Seperti kemarin-kemarin mbo datang ke rumah sakit di antaran oleh supir,mbo Nem tiba pukul setengah tujuh pagi.tak lupa membawakan sarapan dan pakaian patria.


    Setelah sampai di depan ruangan Agreta  Mbo Nem membuka pintu secara perlahan-lahan takut jika tuannya masih tidur. Perlahan tapi pasti mbo Nem melangkah masuk dan,


"Non!."pekik  mbo Nem.Mbo  terkejut melihat nyonya mudanya kini sedang menatapnya.


"Non sudah sadar!." tanya mbo seolah tak percaya .Dengan  hati masih tak percaya mbo langsung menghampiri majikannya dengan tangis bahagia.


"Mbo..." panggilan Agreta.


"Non, semua orang sangat khawatir dengan non,tuan 


 Patria,non Siska dan juga dokter Freya.


Tahu ngga non ,non Siska dokter Freya menangis melihat kondisi non waktu itu" Si mbo bercerita panjang. Agreta mendengar kan sambil tersenyum simpul. "Tapi ya non,ada satu lagi," ucap mbo Nem sambil melirik Patria.


"Apa itu mbo?" tanya Agreta penasaran.


"Itu non,non pasti tidak percaya,tuan Patria berkali-kali menangis." ucap mbo dengan sedikit berbisik.


"Oh ya beneran itu mbo, Patria menangis?" Agreta justru balik bertanya tak percaya. Belum sempat mbo Nem menjawab pertanyaan Agreta Patria langsung menatap mbo nem dengan tatapan mata melotot. Jelas Patria malu jika ketahuan menangis.hancur harga diri Patria di hadapan sang istri.


 Agreta hanya tertawa melihat tingkah Patria yang berubah menjadi salah tingkah.mbo Nem terdunduk bisu, tidak berani menatap tuanya."Mbo, sarapan saya mana?" Patria memangil mbo yang hanya berdiri diam di samping istrinya.Patria sengaja memanggil mbo nem agar obrolan Agreta dan mbo Nem segera berakhir.


Dengan sigap mbo Nem langsung menyerahkan kota makan yang berisi nasih goreng putih,telur mata sapi dan suwiran daging ayam.


"Ini tuan sarapannya," mbo Nem menyerahkan kotak makan tersebut dengan kepala tertunduk.takut melihat tatapan mata Patria.


"Mbo ya, benar-benar ngga bisa menjaga rahasia!," ucap Patria, setelah menerima sarapan paginya.


"Maaf tuan,saya keceplosan." cicit mbo Nem. Agreta hanya bisa tertawa melihat interaksi antara Patria dan pembantu kesayangan mereka.mbo Nem.


"Baik, Saya akan memaafkan mbo tapi dengan syarat." tawar Patria.


"Apa itu tuan?" mbo Nem langsung bertanya dengan hati bimbang, takutnya Patria akan memberikan tugas yang sulit.


"Syaratnya mbo harus bawakan aku sarapan pagi dengan menu sup iga buatan mbo." Patria tersenyum senang.


Haaaahhhh.


Bunyi hembusan nafas mbo Nem.lega.


"Kenapa mbo?" tanya Agreta setelah melihat kelegaan di wajah mbo Nem.


"Itu non, saya pikir syarat yang tuan berikan adalah pekerjaan yang sulit." Mbo nem menceritakan kegelisahannya.


"Mbo, mbo,mana bisa saya menyuruh mbo melakukan pekerjaan berat,kami itu sangat menyayangi mbo,mbo itu sudah seperti keluarga buat saya dan Geta," ucap.Patria.


"Makasih tuan ,makasih non," ucap mbo nem terharu.


Patria menghabiskan sarapannya sampai tuntas,.tak ada sebutir nasi yang tersisa. "Pat,kamu nggak ke kantor?" tanya Agreta, pasalnya jam sudah menunjukkan pukul 08:30 pagi. Dan Patria tidak terlihat bersiap-siap untuk berangkat kerja.


"Aku tidak kekantor, tapi nanti Jeje yang kesini membawa berkas-berkas yang harus saya cek dan perlu saya tandatangani." Patria.


"Oh...


Bibir Agreta membulat mengucapkan kata itu.


Tak lama kemudian dokter dan beberapa perawat masuk ke ruang Agreta.


"Maaf pak patria kami akan melakukan pengecekan terhadap istri anda , untuk memastikan bahwa istri anda baik-baik saja," terang dokter itu.

__ADS_1


"Baik dok,"Jmjawab Patria.


Para perawat pun segera memindahkan posisi Agreta di atas tempat tidur yang baru di bawa para perawat tadi.


Agreta di bawa keruang pemeriksaan  dan patria ikut menemani.


Setelah selesai pemeriksaan Patria menghampiri dokter yang menangani Agreta. "Dok bagaimana hasilnya?" tanya Patria. "Semuanya baik,istri pak Patria hanya perlu sedikit terapi saja."jawab dokter. "Terapinya juga ngga berat," sambung dokter itu lagi.


Pemeriksaan Agreta berjalan dengan lancar, Agreta pun di bawa kembali  menujuh ruangannya. Masih di lorong rumah sakit menuju ruang Agreta Siska sudah menunggu dengan tak sabar.


Ketika Siska melihat Agreta, Siska pun langsung berteriak.


"GETAAAA..!"


Patria yang melihat siapa yang berteriak dalam hatinya langsung berkata, "Perusuh sudah datang,,habis aku!"


Sedangkan Siska dengan setengah berlari menghampiri sahabatnya itu.


"Ska jangan teriak ini rumah sakit bukan di kebun,dan jangan berlari nanti kamu jatuh," ujar Freya.Feya mengingatkan  Siska layaknya seorang anak kecil yang sedang di nasehati.


Tapi apakah Siska mendengarkan nasehat itu?.Tentu saja tidak.Hatinya terlalu senang melihat Agreta yang sudah sadar.


"Geta aku kangen kamu." ucap Siska sambil memeluk tubuh Agreta yang masih terbaring. "Ska kita masuk dulu ya,Kasian susternya." Agreta berkata di samping kuping siska.


"Eh iya, maaf sus." Siska tersenyum malu.


Setelah sampai di ruangan Agreta,mulut Siska pun mulai berceloteh, seperti burung beo yang tak di berikan makanan.


"Geta jangan pernah lakukan hal ini lagi ya,kau tahu kami semua,aku Feya, Gilang mbo Nem juga ketakutan.kami semuanya hampir terkena serangan jantung." ucap Siska.


"Maaf,aku tidak akan melakukannya lagi.".janji Agreta.


"Tahu ngga sie kamu Geta,saya, Feya mbo Nem dan Gilang menagis melihat kondisi mu saat itu." Siska terdiam sejenak seolah sedang berpikir.,matanya tiba-tiba langsung melirik Patria.Dan Patria yang melihat lirikan Siska langsung merasa tak nyaman.


"Sial."


Umpat Patria dalam hatinya, setelah mendengar ucapan Siska.


Dengan mata yang membulat dan bibi yang di monyong kan Siska menujuk kearah Patria.


"Thu.yang itu thu orangnya," ucap Siska lagi sambil menujuk orang yang di maksud dengan bibirnya yang sudah maju.


Ingin rasanya Patria menarik bibir monyong Siska sampai lepas,tapi apa daya Patria tidak bisa melakukannya.


"Aku mau ke kantin,mau cari makan." ucap Patria tiba-tiba.Sesungguhnya Patria ingin menghindar dari Siska


"Aku titip cemilan." tanpa rasa sungkan Siska berucap,


"Tidak mau!." Patria.


"Titip cemilan titik." Siska.


"Aku tidak membuka jasa titip." Patria dengan mata melotot.


"Pokoknya bawakan aku cemill.. "


Belum selesai Siska berucap langsung di potong oleh Agreta.


"Kapan kalian berdua akan akur?" Pertanyaan ini di tujukan kepada Patria dan Siska.


"TIDAK AKAN PERNAH!."

__ADS_1


Ucap Patria dan Siska secara bersamaan dengan nada suara sama tingginya.


Agreta hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Patria dan Siska.Ini bukan hal baru buat Agreta,sudah seringkali Agreta mendapati Siska dan suaminya berdebat.Sekecil apapun masalahnya mereka pasti akan terlibat adu mulut tapi bukan bertengkar tentunya.


Sedangkan Freya yang baru pertama kali terlihat interaksi antara Patria dan Siska terbengong-bengong.tak habis pikir.


"Ya ampun kompak sekali kalian berdua!." Freya tiba-tiba berkata.


"Dia yang mengcopy ucapan ku." Siska.


"Enak saja kamu tuh yang lebih dulu membaca pikiranku!." Balas Patria.


Patria dan Siska memang seperti tom dan jeri jika sudah bertemu.Tapi memang seperti ini cara Siska dan Patria berkomunikasi,meskipun sering terlibat adu mulut Patria dan Siska tidak pernah menyimpan rasa marah.


"Stop!." Pasien ku bisa kumat lagi jika melihat kalian berdua terus beradu mulut disini." ucap Freya dengan nada sedikit geram.


"Maaf...."


Sekali lagi Patria dan Siska berucap kata yang sama secara bersamaan.


Agreta dan Freya tersenyum melihat kompaknya jawaban yang diberikan Patria dan Siska.


"Aku ke kantin." Patria.


"Titipan ku jangan lupa" Siska 


"Ngga janji" Balas Patria sambil melangkah pergi.


Setelah patria pergi Freya pun langsung menegur Siska.


"Ska,kamu tuh sudah nikah, kapan kamu bisa bersikap dewasa jangan kaya anak kecil." "Tapi Patria lebih dulu cari gara-gara." tutur Siska membela diri.


"Ska memang suamimu tidak protes melihat tingkah mu seperti ini?" tanya Freya. "Nggak tuh,dia enjoy aja.Dean lebih suka melihat ku bersikap apa adanya bukan seperti kehidupan para modelnya yang hidupnya penuh kepalsuan." Siska memberikan jawaban.


"Syukurlah suami mu bisa menerima mu apa adanya,menerimamu dengan tingkah mu  yang terkadang ajaib," balas Freya.


"Tapi kamu tetap sayang aku kan Feya." Cicit Siska dengan wajah di buat seimut mungkin. Terang saja melihat tingkah Siska membuat Freya dan Agreta tertawa.


"Ska, tanpa mu hari ku sepi," ucap Agreta dari tempat tidurnya.


"Aku juga Ska.,tanpa mu dunia ku tidak berwarna," timpal Freya.


"Oh, kalian memang sahabat terbaik ku,tidak percuma aku bertemu dengan kalian," ucap Siska penuh ketulusan.


Mereka bertiga pun saling berpelukan.


Setelah berpelukan beberapa saat Freya pun pamit.tugasnya sebagai seorang dokter telah memanggil.


"Aku balik kerja dulu ya, pasien ku sudah ngantri," pamit Freya. "Satu lagi buat kamu Geta cepat sembuh dan jangan lupa minum obatnya," pesan Freya.


"Baik bu dokter."jawab Agreta Mereka bertiga pun kembali tertawa bersama.


Setelah Freya pergi, Siska dan Agreta melanjutkan obrolan mereka berdua.


Siska bercerita apa saja yang terjadi saat Agreta tak sadarkan diri.mulai mereka Freya Gilang Siska dan mbo Nem yang sedih dan panik, bagaimana Patria setelah tahu Agreta keguguran sampai Patria tahu bahwa Agreta tak sadarkan diri yang membuat Patria menangis berkali-kali.


Bukan tentang itu saja Siska pun menceritakan tentang bukti perselingkuhan Agreta yang di miliki patria.ternya itu semua adalah fitrah.


  Meskipun ada kelegaan dalam hati Agreta setelah mendengar cerita siska tapi jauh di sudut hatinya masih menyimpan rasa sakit atas perlakuan patria kepadanya yang menyebabkan Agreta kehilangan anaknya,anak yang sudah dinantinya.Bukti cinta Agreta terhadap Patria.


 

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2