AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 82 KEMBALI PULANG


__ADS_3

Patria memeluk tubuh Agreta dengan erat, dengan sangat lembut Patria mengecup kepala istrinya.


"Tentu kamu bisa bertemu dengan mereka, saya yakin mereka pasti akan sangat senang jika bertemu dengan mereka," jawab Patria.


"Apakah ayah dan ibu sudah tahu kalau kamu sudah menemukan ku,?" tanya Agreta, Agreta masih dalam pelukan Patria.


"Belum, aku belum mengatakan bahwa aku sudah menemukan mu," jawab Patria.


"Pat...." Panggil Agreta. 


"Ya..Ada apa, apa, masih ada yang ingin kamu tanya Geta?" Patria sedikit melonggarkan pelukannya.


"Sejak kapan kamu tahu kalau aku ini anak dari ayah dan ibu?" tanya Agreta. Agreta sengaja menanyakan tentang surat hasil tes DNA tersebut.


"Aku baru saja mengetahuinya hari ini," jawab jujur Patria.


"Benarkah,?" tanya Agreta sambil menatap mata Patria, Agreta seakan mencari kejujuran suaminya lewat sinar mata Patria.


"Sungguh, baru hari ini aku mengetahuinya. Coba kamu lihat tanggal yang tertera di surat itu," tutur Patria.


     Agreta pun segera mengambil kembali surat hasil tes DNA tersebut. Agreta mencari tanggal yang tertera di surat itu. Kini Agreta yakin jika suaminya tidak berbohong setelah melihat tanggal yang tertera di surat tersebut.


"Patria aku ingin bertemu dengan orang tua ku, apa boleh?" tanya Agreta ragu. 


"Tentu sayang, kamu bisa bertemu dengan mereka. Aku yang akan mengantarkan mu bertemu dengan mereka," ucap Patria yakin.


"Benar boleh? Kalau begitu aku ingin bertemu dengan mereka sekarang!" ujar Agreta.


"Sekarang?" tanya Patria, Patria kaget mendengar perkataan Agreta.


"Iya sekarang,tapi jika kamu tidak bisa biar supir yang mengantar ku. Bagaimana?" Agreta bertanya sekaligus memberikan usulan.


    Patria menatap Agreta tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Patria langsung melirik ke arah jam tangannya yang masih terpasang lengannya.


"Tapi ini mau sore Geta, kita nanti bisa tiba di sana sudah malam," jelas Patria.

__ADS_1


"Tapi aku ingin bertemu dengan ayah dan ibu sekarang," ujar Agreta dengan wajah memohon.


    Patria yang belum pernah melihat Agreta meminta akhirnya luluh juga hatinya.


"Baiklah, tapi kita akan menginap di sana, ayo kita siap-siap nanti keburu tambah sore." Ajak Patria.


    Dengan hati yang gembira Agreta pun segera menujuh ke kamar tidur utama untuk segera bersiap-siap. Agreta tak lupa menyiapkan beberapa potong baju untuk di bawah.


     Setelah selesai bersiap-siap Patria segerah menenteng koper kecil yang sudah di siapkan oleh Agreta tadi. Sedangkan Agreta dengan wajah yang berseri mengikuti langkah Patria menujuh ke mobilnya yang akan di gunakan Patria dan Agreta menuju ke ruang orang tua Agreta.


Dalam perjalanan menuju ke rumah pak Mun dan istrinya Agreta beberapa kali terlihat gelisah tapi berbeda dengan sinar matanya, Agreta terlibat sangat antusias ingin bertemu dengan kedua orang tuanya. Ada rindu yang terus mengganggu pikiran dan hati Agreta. Rasa rindu yang sudah bertahun-tahun  di pendam oleh Agreta kini akan segera terobati.


      Sementara itu di rumah pak Mun dan istrinya saat ini sedang duduk berdua di teras depan  rumah mereka. Pak Mun terlihat gelisah, pak Mun beberapa kali merubah posisi duduknya. 


"Ada apa pak, dari tadi kok kelihatan gelisah?" tanya bu Mun setelah melihat suaminya yang tak tenang.


"Bu tolong buatkan bapak kopi ya," kata pak Mun, Pak mun mengalihkan perhatian istrinya dengan meminta agar di buatkan kopi.


    Dengan patuh bu Mun segera menuju ke dapur untuk membuatkan kopi permintaan suaminya. Setelah selesai membuatkan kopi, bu Mun pun segera mengantarkan kopi tersebut kepada suaminya.


"Pak ada apa toh, dari tadi kok kaya gelisah gitu?" tanya bu Mun lagi.


"Oh itu bu, padi kita banyak di serang burung," kata pak Mun. Pak Mun jelas berbohong.


"Oh,...ya sudah tambah orang aja lagi buat jaga sawah pak, kan sebentar lagi akan panen biar sekalian nambah orang untuk bantu kita untuk panen nanti," ucap bu Mun memberikan saran.


"Sebaiknya begitu, untung ada ibu yang ingetin bapak," tutur pak Mun.


     Sesungguhnya bukan masalah panen padi dan perkara burung yang menyerang sawah yang sedang di pikirkan oleh pak Mun, tapi pak Mun sedang gelisah menunggu kabar dari Patria. Pak Mun tahu kalau hari ini hadil tes DNA yang di lakukan oleh Patria akan keluar hari ini.


Pak Mun dan istrinya sempat berbicara sesaat sebelum bu Mun menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk makan malam mereka berdua.


"ibu masak dulu ya, udah sore," tutur bu Mun.


"Iya bu, bapak akan tunggu di sini saja," balas pak Mun.Bu Mun pun segera berdiri dari duduknya dan menujuh dapur untuk memasak.

__ADS_1


        Sejam kemudian bu Mun pun selesai memasak. Bu Mun menghampiri suaminya yang masih duduk di teras depan.


"Pak,... bapak mau makan dulu atau mandi dulu?" tanya bu Mun pada suaminya setelah selesai menyiapkan makanan di atas meja makan.


"Bapak mandi dulu, habis itu baru makan," jawab pak Mun, setelah itu pak Mun pun langsung menuju ke kamar mandi untuk mandi. 


      Setelah selesai mandi dan berganti pakaian pak Mun pun segera bergabung dengan istrinya yang sudah menggunakannya di meja makan.


"Bu coba ada Den Patria pasti rame rasanya," kata pak Mun di selah-selah makanya.


" Iya ya pak, ibu jadi kangen sama den Patria," balas bu Mun. Setelah mengucapkan kalimat itu pak Mun dan istrinya terdiam tak ada yang melanjutkan obrolan tersebut. Pak Mun dan bu Mun sedang sibuk dengan pikirannya yang sedang berandai-andai. 


     Di selah-selah pak Mun dan bu Mun menikmati makan malam mereka tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumah mereka. Pak Mun dan istrinya pun saling pandang, tatapan mata mereka berdua seolah saling bertanya siapa yang datang.


     Tanpa menunggu lebih lama lagi pak Mun segera berdiri dari duduknya dan melangkah menuju ke arah depan rumah, yang di susul oleh bu Mun di belakangnya.


    Pak Mun dan bu Mun penasaran kira-kira siapa yang datang bertamu malam-malam begini.


Tatapan Pak Mun langsung tertuju pada sebuah mobil yang berusaha di parkiran oleh pemilik mobil.


"Den Patria!" Spontan pak Mun mengucapkan kata itu setelah melihat mobil tersebut. Pak mun sudah hafal betul dengan warna dan plat nomor mobilnya Patria. Bu Mun pun terkejut melihat siapa yang datang.


     Pak Mun dan istrinya berdiri di teras rumah menunggu Patria turun dari dalam mobil. Tapi bukannya Patria yang pertama kali di lihat oleh pak Mun dan istrinya keluar dari dalam mobil melainkan seorang wanita yang cantik justru pertama kali turun dari dalam mobil tersebut.


     Hati pak Mun dan istrinya pun bertanya-tanya, siapakah wanita itu. Apakah istrinya Patria atau bukan.


Bersambung...


#Terimakasih sudah mampir ke novel ku.


terimakasih kasih juga untuk dukungannya


makasih untuk likenya 👍


hadiahnya 🎁

__ADS_1


juga makasih banyak untuk hatinya dan juga bintang 🌟 nya


__ADS_2