AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 6 DIA TAK KEMBALI


__ADS_3

Setelah melihat penampilan wanita itu Patria mengucapkan kalimat pedas .


"Benar-benar kekurangan bahan kain kayanya yang jual baju." ujar Patria tak kalah sengit.


     Si wanita yang mendengar ucapan Patria wajahnya langsung memerah.tapi dia rak mau menyerah begitu aja.dia pun langsung berkata ,"Setidaknya hidupku tidak bermasalah." ucap wanita ini tanpa pikir panjang.


     Dan kalimat ini sukses memancing Patria.dengan senyum kecut Patria berkata,"Siapa yang lagi yang bermasalah?" Patria mencobah menutupi gundah hatinya dengan berbohong. "Hei, di wajahnya tertulis dengan sangat jelas  bahwa kamu sedang dalam masalah!." ucap wanita itu, dan itu mampu membuat Patria terdiam.


"Sudahlah,nikmati saja waktu yang kamu miliki saat ini,karena masih ada hari esok untuk menyelesaikannya!." ucap wanita ini dengan tersenyum menggoda. Patria pun ikut tersenyum mendengar ucapan wanita itu 


Akhirnya Patria dan wanita itu berhenti tidak saling menyindir lagi.


     Sambil mengulurkan tangannya wanita ini memperkenalkan dirinya


"Aku Anggie,boleh kenalan?" ucap Anggie dengan ramahnya 


"Aku Patria." Patria menjabat tangan Anggie sebagai pelengkap perkenalan mereka. Patria dan Anggie akhirnya terus mengobrol dengan asyik nya.bahkan Patria beberapa kali tertawa lebar seolah terlepas dari kekusutan pikiran dan kegalauan hatinya.


      Tak terasa waktu sudah menunjuk pukul 02.30 dini hari. Patria yang melirik jam .Patria sadar dia harus segera kembali. "Aku harus pulang sekarang." ucap Patria di selah obrolannya dengan Anggie. Anggie yang tak mau melepaskan mangsanya langsung berkata.."Baru jam segini masak udah mo balik..bentar lagi lah!" tutur Anggie yang tak rela Patria pergi.


"Besok ada meeting penting di kantor jadi saya harus masuk kerja." Ujar Patria menjelaskan.


Ooo...

__ADS_1


Anggie cuma bisa mengucapkan kata itu sambil memonyongkan bibirnya yang menor.


"Kamu mau tetap di sini atau mau pulang? klo mau pulang biar saya anterin sekalian!" kata Paria menawarkan diri pada Anggie.


     Anggie yang mendapatkan angin segar pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan.jangan di sia-siakan.


"Aku juga mau pulang kalo gitu besok ada pemotretan" jawab Anggie 


"Ya uda kita pulang bareng,tapi kamu bawah mobil nggak ga?" tanya patria pada Anggie 


"Nggak kok,tadi aku kesini bareng temen.tapi nanti aku pamit sama temenku jadi ya kamu anterin aku." ujar Anggie memastikan tawaran Patria tidak berubah. Setelah Anggie berpamitan kepada temannya mereka berdua pun langsung menujuh tempat parkiran.tempar mobil Patria terparkir.


     Jadilah Patria mengantar Anggie pulang yang ternya jarak apartemen Anggie dan Patria tidaklah jauh.hanya berbeda beberapa blok saja. Dalam perjalanan pulang Patria dan Anggie saling bertukar cerita tentang kegiatan yang melakukan sehari-harinya. Tak  lupa Patria pun mengatakan tentang status nya yang sudah beristri.tapi  tidak menceritakan permasalahan nya.Patria merasa tak pantas menceritakan tentang permasalahan pada orang lain,apa lagi kepada orang yang baru di kenalnya.


Anggie yang mendengar pengakuan Patria hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.tanpa di ceritakan oleh Patria Anggie  sebenarnya sudah tahu tentangnya.tapi memilih untuk pura-pura tidak tahu.


     Dengan sedikit tenaga yang di miliki Agreta mencobah mencari keberadaan suaminya di dalam kamarnya.tapi Agreta tidak menemukan suaminya.meskipun sudah mencari sampai ke kamar mandi. Dengan langkah gontai Agreta keluar kamar menuju dapur yang berada di lantai satu.Agreta berharap menemukan Patria sang suami berada di sana 


     Setelah sampai di dapur Agreta terlihat murung karena tidak menemukan Patria.


"Mbo Nem, apakah Patria tidak pulang semalam?" Tanya Agreta pada mbo Nem yang kebetulan berada di dapur sedang menyiapkan makanan untuk Agreta. "Iya non..bapak tidak pulang semalam." Jawab mbo Nem dengan wajah sedih memandang nyonya yang  terlihat sangat kasihan.


     Agreta menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskan nya dengan kasar.dadanya terasa sesak butiran- butiran bening kini kembali mulai membasahi pipi Agreta.hatinya terasa sakit.hatinya sakit atas tuduhan sang suami terhadapnya.

__ADS_1


Berselingkuh.."


Agreta merasa sangat sedih karena rumah tangga nya dalam masalah.


"Non... sarapan dulu biar non ada tenaganya,non harus minum obat badannya belum sembuh benar." ucap mbo Nem kepada Agreta yang sedari tadi tidak menyentuh makanan nya.


"Non yang sabar ya" Mbo Nem mencobah menghibur Nyonya mudahnya.


    Agreta hanya bisa makan beberapa suap saja.makannya terasa hambar.Agreta  kehilangan semangatnya. Agreta yang selalu tersenyum ceria tapi hari ini senyum itu hilang entah kemana berganti wajah sendu.matanya yang selalu memancarkan kegembiraan dan semangat kini berganti dengan derai airmata hampir tanpa henti.


     Agreta kembali ke kamar tidurnya di temani mbo Nem,karena mbo Nem takut terjadi sesuatu kepada Agreta. Sesampainya di dalam kamar Agreta langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur besarnya.dengan posisi meringkuk.Agreta menggambil ponselnya yang dia letakan di atas meja kecil.Sambil berharap sang suami menghubunginya. Agreta kembali terdunduk setelah mengecek ponselnya tak ada pesan yang masuk ataupun telpon dari Patria.


     Dengan suara lirih Agreta bertanya kepada mbo Nem." Mbo di mana kesalahan ku,? kenapa ini terjadi padaku mbo!." sambil tersedu Agreta menumpahkan isi hatinya.


"Non, setiap rumah tangga pasti ada ujiannya, ini ujian buat non dan tuan.yang penting non harus kuat." Ucap mbo Nem mencoba memberikan kekuatan pada Agreta.


"Tapi mbo.,aku di tuduh selingkuh oleh Patria apa yang harus aku lakukan mbo?" Hiks.. hiks...Agreta semakin merasa sakit hatinya.


"Non harus sembuh dulu,harus kuat pasti ada cara buat non membuktikan pada tuan kalo non tidak berselingkuh seperti yang di tuduhkan tuan." Mbo Nem mengingatkan Agreta agar jangan patah semangat.


     Seharian Agreta hanya tinggal di dalam kamarnya,makan pun tinggal di bawakan mbo Nem kedalam kamar.saat ini Agreta tidak ada semangat untuk melakukan apapun.


 . Sementara di tempat yang berbeda di sebuah gedung yang tinggi Patria di sibukkan dengan kerjaannya yang menumpuk. Patria mengecek setiap dokumen yang diperlukan untuk rapat dengan dewan direksi.rapat hari  ini sangat penting tidak bisa di wakilkan oleh sekretaris nya. karena rapat kali ini  akan membahas soal proyek baru yang akan segera di laksanakan hanya tinggal menunggu hasil rapat hari ini.

__ADS_1


  Meskipun sulit untuk Patria, Patria mencoba fokus pada pekerjaannya meskipun hati dan pikirannya sedang dilanda kekalutan. Disela-sela kesibukannya Patria masih sempat melihat foto istrinya yang tersenyum cerah di layar phonselnya.sejujurnya Patria merindukan sang istri tapi rasa kecewa dan amarah menahannya untuk tidak menghubungi Agreta.istri yang sangat di dicintainya


Bersambung.


__ADS_2