
Setelah kepergian Anggie dari dari restoran tersebut Rizal langsung mengirimkan pesan lagi kepada Patria, Rizal menyampaikan bahwa Anggie sudah benar-benar pergi. Patria yang membaca pesan dari Rizal tersensenyum puas. Sebenarnya bukan Patria tidak memperhatikan Anggie dari tempat duduknya,akan tetapi Patria memang sengaja menunjukkan sikap tidak kepeduliannya akan kehadiran Anggie.
Setelah selesai makan Patria dan Agreta memutuskan untuk pulang ke rumah, mereka juga tak lupa membelikan makanan untuk istrinya Rizal dan snack untuk putrinya.
Setibanya di rumah Agreta dan Patria segera membersihkan diri di kamar mandi. Setelahnya mereka berdua pun segera turun ke lantai bawah, di ruang tengah terdengar suara tawa yang begitu nyaring dari Puput, putri si sematawayangnya Rizal. Agreta segera bergegas menuju ruang tengah ingin melihat apa yang terjadi hingga gadis kecil itu bisa tertawa begitu kencangnya.
Rasa penasaran Agreta dan Patria akhirnya terjawab sudah, Agreta dan Patria bisa menyaksikan pemandangan yang langka sedang terjadi di depan mata mereka. Pasalnya Rizal kini sudah di dandani oleh putrinya Puput menjadi seorang wanita. Rambut Rizal sudah di kuncir dua wajahnya kini berubah menjadi putih karena tempelan bedak yang tebal dan tidak merata.
Tak ada lagi tampang sangar dari Rizal yang tersisa, tapi demi membuat putrinya bahagia Rizal rela melakukannya.kegiatan Rizal dan Puput terhenti setelah melihat kedatangan Patria dan Agreta.
"Maaf berisik ya," tanya Rizal.
"Ngga kok, justru kami senang rumah terasa ramai, ngga sepi," ucap Patria. Agreta pun mengangguk kepalanya menyetujui ucapan suaminya.
"Maaf tuan, waktu untuk sarapan. Makanan sudah siap," ucap mbo Nem, yang tiba-tiba muncul dari ruang makan.
"Ayo kita sarapan, nanti habis sarapan bagaimana kalau kita semua pergi ke taman?" kata Patria memberikan usulan.
"Aku setuju, aku juga udah lama nggak ke taman," balas Agreta. Agreta menyetujui usul dari Patria.
"Zal jangan lupa ajak istri dan anakmu." Ajak Patria pada Rizal.
Setelah selesai sarapan mereka pun bersiap untuk pergi ke taman. Letak taman itu memang tak begitu jauh dari tempat tinggal Patria. Terkadang Agreta dan Patria berolahraga di taman tersebut.
Setelah tiba di taman Patria dan dan Agreta segera berkeliling taman tersebut, sedangkan Rizal dan keluarga kecilnya bermain di sebuah tempat permainan yang ada di tempat tersebut.
__ADS_1
Tanpa Patria sadari kegiatan mereka sudah di pantau oleh seseorang dari tempat yang tidak begitu jauh mereka berada saat ini. Dan orang itu adalah Anggie.
Anggie duduk diam dalam mobilnya tapi matanya terus mengawasi setiap gerak-geriknya Agreta, Anggie sudah siap menjalankan niatnya untuk memisahkan Patria dari Agreta. Jika fitnah yang di berikan oleh Anggie kepada Agreta tidak mampu membuat Patria berpaling padanya,maka tekat Anggie adalah memisahkan Patria dengan Agreta dengan cara mengantarkan maut untuk Agreta.
Sementara itu Patria dan Agreta menikmati momen pagi itu penuh dengan kebahagiaan, Patria terus menggenggam tangan istrinya sambil berjalan-jalan santai menghirup udara segar.
Sementara itu Rizal meskipun dia sedang menemani istri dan anaknya tapi matanya tetap awas, Rizal selalu mencuri waktu untuk memperhatikan keadaan sekelilingnya. Mata Rizal memperhatikan beberapa mobil yang terparkir di tempat tersebut, tapi ada satu mobil yang menarik perhatiannya. Rasa curiga Rizal membuat dirinya meminta kepada istrinya untuk tidak keluar dari area permainan tersebut.Setelahnya Rizal mencoba mendekati mobil tersebut. Namun sebelumnya Rizal sudah terlebih dulu mengambil beberapa gambar foto mobil tersebut.
Dengan cara mengendap-endap Rizal berhasil mendekati mobil tersebut, meskipun tidak terlalu dekat tapi Rizal bisa yakin bila yang ada dalam mobil tersebut adalah Anggie.
Setelah yakin dengan apa yang di lihatnya, Rizal segera mengambil ponselnya miliknya untuk menghubungi Patria. Rizal memutuskan untuk hanya mengirimkan pesan singkat kepada Patria, untuk memberi tahukan bahwa Anggie berada di tempat tersebut.
Tapi di saat Rizal sedang mencoba menulis pesan di handphone miliknya, tiba-tiba mobil Anggie langsung menyala dan langsung melaju dengan kecepatan tinggi.
Anggie yang melihat keadaan bahwa peluang yang di tunggu-tunggunya telah tiba.
Tanpa pikir panjang lagi Anggie langsung tancap gas menuju ke arah Agreta. Anggie kini tak peduli jika dirinya tertangkap oleh polisi. Pikirannya yang sudah kalut dan putus asa mendorong Anggie untuk berbuat nekad.
Anggie merasa putus asa di karenakan sudah berhari-hari Anggie mengunjungi rumah-rumah mode tapi tak satupun yang bersedia menerimanya sebagai salah satu model di tempat tersebut. Di tambah lagi dengan penolakan Gafin yang tak ingin kembali bersama dengannya, bahkan putrinya pun hanya melihat kehadiran sudah merasa takut.
Anggie benar-benar merasa sendiri, sahabat satu-satunya juga sudah menjauh darinya. Di tengah ke putus Asahan jalan inilah yang di pilih oleh Anggie. Yaitu memisahkan Patria dari Agreta dengan cara mencoba menabrak Agreta.
Rizal terkejut dengan apa yang terjadi, mata Rizal kini langsung beralih pandangannya ke arah Patria dan Agreta berada. Tepat kearah mobil Anggie bergerak maju.
Sekuat tenaga Rizal berlari dan berteriak, sekeras mungkin Rizal memanggil Patria, berharap Patria bisa mendengarkan teriakannya.
__ADS_1
"Patria awas,....Patria Agreta awas....!" teriak Rizal.
Patria yang mendengar namanya di sebut langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut. Patria melihat gerakan tangan Rizal yang menunjuk ke arah mobil yang sedang melaju kencang ke arah Agreta berada. Dengan sigap Patria langsung menarik Agreta ke pinggir jalan,dan nyaris saja Agreta tertabrak.
Agreta terdiam dalam pelukan Patria, dirinya shock dengan apa yang baru saja terjadi. Kakinya langsung menjadi lemas.
Rizal segera menghampiri Patria dan Agreta. Sedangkan Patria langsung menenangkan hati Agreta. Patria segera mengecek apa ada yang terluka di tubuh istrinya.
Setelah Agreta kembali tenang, Patria langsung bertanya kepada Rizal.
"Zal, apakah mobil itu sengaja ingin menabrak Agreta atau apa?"
"Sepertinya kejadian ini memang sengaja. Dari tadi aku sudah mengawasi mobil itu," ucap Rizal.
"Apakah kamu tahu siapa pemilik mobil itu, karena jujur tadi aku tidak sempat memperhatikan plat nomor mobilnya," tutur Patria.
"Aku sudah mendapatkan foto mobil tersebut dan plat nomornya juga jelas terlihat," jawab Rizal.
"Coba sini aku lihat, mungkin aku kenal pemilik mobil tersebut." Patria meminta foto yang di maksud oleh Rizal.
"Mungkin kamu kenal dengan mobil yang tadi juga siapa pemilik mobil tersebut," jawab Rizal sambil menatap Patria.
"Maksudnya Zal?, Apa aku mengenal siapa orang itu?." tanya Patria penasaran.
"Saya yakin dia adalah Anggie," jawab tegas Rizal.
__ADS_1
"Kamu yakin Zal kalau yang barusan hampir menabrak Agreta itu Anggie?" tanya Patria tak percaya. Pasalnya sudah berulang kali Patria memperingati Anggie agar tidak menyakiti Agreta. Bahkan saat terakhir kalinya Patria memberikan peringatan kepada Anggie Patria mencekik leher Anggie hampir mati.
Bersambung